Friday, September 3, 2010

Penjelasan atas MASALAH GELAR SAYID, Oleh Prof. Dr. HAMKA

Penjelasan atas MASALAH GELAR SAYID,
Oleh Prof. Dr. HAMKA



H. Rifai, seorang Indonesia beragama Islam yang tinggal di Florijn 211, Amsterdam, Nederland, pada tanggal 30 Desember 1974 telah mengirim surat kepada Menteri Agama H. A. Mukti Ali dimana ia mengajukan pertanyaan dan mohon penjelasan secukupnya mengenai beberapa hal.
Oleh Menteri Agama diserahkan kepada Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) untuk menjawabnya melalui PANJI MASYARAKAT, dengan pertimbangan agar masalahnya dapat diketahui umum dan manfaatnya lebih merata.
Melihat adanya korelasi dengan buku kami ini, dan setelah mendapat izin dari Saudara Rusydi Hamka, Pemimpin Redaksi/Penanggung-jawab Panji Masyarakat, maka apa yang kami kutip terbatas pada masalah tersebut dijudul saja.
Penulis
YANG pertama sekali hendaklah kita ketahui bahwa Nabi Muhammad s.a.w. tidaklah meninggalkan anak laki-laki. Anaknya yang laki-laki yaitu Qasim, Thaher, Thaib, dan Ibrahim meninggal di waktu kecil belaka. Sebagai seorang manusia berperasaan halus, beliau ingin mendapat anak laki-laki yang akan menyambung keturunan (nasab) beliau. Beliau hanya mempunyai anak-anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum dan Fathimah. Zainab memberinya seorang cucu perempuan. Itupun meninggal dalam sarat menyusu. Ruqayyah dan Ummu Kaltsum mati muda. Keduanya isteri Usman bin Affan, meninggal Ruqayyah berganti Ummu Kaltsum (ganti tikar). Ketiga anak perempuan inipun meninggal dahulu dari beliau.
Hanya Fathimah yang meninggal kemudian dari beliau dan hanya dia pula yang memberi beliau cucu laki-laki. Suami Fathimah adalah Ali Bin Abi Thalib. Abu Thalib adalah abang dari ayah Nabi dan yang mengasuh Nabi sejak usia 8 tahun. Cucu laki-laki itu adalah Hasan dan Husain. Maka dapatlah kita merasakan, Nabi sebagai seorang manusia mengharapkan anak-anak Fathimah inilah yang menyambung turunannya. Sebab itu sangatlah kasih sayang dan cinta beliau kepada cucu-cucu ini. Pernah beliau sedang ruku' si cucu masuk ke dalam kedua celah kakinya. Pernah sedang beliau sujud si cucu berkuda ke atas punggungnya. Pernah sedang beliau Khutbah, si cucu duduk ketingkat pertama tangga mimbar.
Al-Tarmidzi merawikan dari Usamah bin Zaid bahwa dia (Usamah) pernah melihat Hasan dan Husain berpeluk diatas kedua paha beliau. Lalu beliau s.a.w. berkata: "Kedua anak ini adalah anakku, anak dari anak perempuanku. Ya Tuhan. Aku sayang kepada keduanya".
* Lihat majalah tengah-bulanan "PANJI MASYARAKAT" No. 169/tahun ke-XVII – 15 Februari 1975 (=4 Shafar 1395 H.), halaman 37-38.
Dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Abi Bakrah bahwa Nabi pernah pula berkata tentang Hasan: "Anakku ini adalah SAYYID (Tuan); moga-moga Allah akan mendamaikan tersebab dia diantara dua golongan kaum Muslimin yang berselisih".
Nubuwat beliau itu tepat. Karena pada tahun 60 hijriah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Mu'awiyah, karena tidak suka melihat darah kaum Muslimin tertumpah. Sehingga tahun 60 itu dinamai "Tahun Persatuan". Pernah pula beliau berkata: "kedua anakku adalah SAYYID (Tuan) dari pemuda-pemuda di syurga kelak".
Barangkali ada yang bertanya: "Kalau begitu jelas bahwa Hasan dan Husain adalah cucunya, mengapa dikatakan anaknya?"
Ini adalah pemakaian bahasan pada orang Arab, atau bangsa-bangsa Semit. Didalam Al-Qur'an surat ke-12 (Yusuf) ayat 6 disebutkan bahwa Nabi Ya'kub mengharap moga-moga Allah menyempurnakan ni'matnya kepada puteranya Yusuf," sebagaimana telah disempurnakan-Nya ni'mat itu kepada kedua bapamu sebelumnya, yaitu Ibrahim dan Ishak". – Pada hal yang bapa, atau ayah dari Yusuf adalah Ya'kub. Ishak adalah neneknya dan Ibrahim adalah nenek ayaknya. Diayat 28 Yusuf berkata: "Bapa-bapaku Ibrahim dan Ishak dan Ya'kub". Artinya nenek-nenek moyang disebut bapa dan cucu cicit disebut anak-anak. Menghormati keinginan Nabi yang demikian, maka seluruh ummat Muhammad menghormat mereka. Tidakpun beliau anjurkan, namun kaum Quraisy umumnya dan Bani Hasyim dan keturunan Hasan dan Husain mendapat kehormatan istimewanya di hati kaum Muslimin.
BAGI ahlis-sunnah hormat dan penghargaan itu biasa saja. Keturunan Hasan dan Husain di panggilkan orang SAYYID; kalau untuk banyak SADAT. Sebab Nabi mengatakan "kedua anakku ini menjadi SAYYID (Tuan) dari pemuda-pemuda di syurga". Disetengah negri di sebut SYARIF, yang berarti orang mulia atau orang berbangsa; kalau banyak ASYRAF. Yang hormat berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain itu tidak pernah berdosa, dan kalau berbuat dosa segera diampuni Allah adalah ajaran (dari suatu aliran – Penulis) kaum Syi'ah yang berlebih¬lebihan. Apatah lagi di dalam Al-Qur'an, surat ke-33 "Al-Ahzab", ayat 30, Tuhan memperingatkan kepada isteri-isteri Nabi bahwa kalau mereka berbuat jahat, dosanya berlipat ganda dari dosa orang kebanyakan. Kalau begitu peringatan Tuhan kepada isteri¬isteri Nabi, niscaya demikian pula kepada mereka yang dianggap keturunanya.
MENJAWAB pertanyaan tentang benarkah Habib Ali Kwitang dan Habib Tanggul keturunan Rasulullah s.a.w.? Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air kita ini, sejak dari semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Indonesia dan Pilipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Penyebar Islam dan pembangun Kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif Kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam pernah Bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail jadi Raja di Aceh. Negri Pontianak pernah diperintah Bangsa Sayid Al-Qadri. Siak oleh keluarga bangsa Sayid bin Syahab. Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang sekarang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari keluarga Alaydrus. Kedudukan mereka di negeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka menjadi Ulama. Mereka datang dari Hadramautdari keturunan Isa Al-Muhajir dan Faqih Al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang banyak kita kenal adalah keluarga Alatas, Assagaf, Alkaf, Bafagih, Balfagih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, AlHaddad, bin Smith, bin Syahab, Alqadri, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al Jufri, Albar, Almussawa, Ghathmir, bin Aqil, Alhadi, Basyaiban, Bazar'ah, Bamakhramah, Ba'abud, Syaikhan, Azh-Zhahir, bin Yahya, dan lain-lain. Yang menurut keterangan Sayid Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab telah berkembang jadi 199 keluarga besar. Semuanya adalah dari 'Ubaidillah Bin Ahmad Bin Isa Al-Muhajir. Ahmad Bin Isa Al-Muhajir Illallah inilah yang berpindah dari Basrah ke Hadhramaut. Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad Bin Isa Al-Muhajir Bin Muhammad Al-Naqib bin 'Ali Al-Aridh Bin Ja'far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain As-Sibthi Bin Ali Bin Abi Thalib. As-Sabthi artinya cucu, karena Husain adalah anak Fathimah binti Rasulullah s.a.w.
Sesungguhnya yang terbanyak adalah keturunan Husain dari Hadhramaut itu, ada juga keturunan Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan Syarif-syarif Mekkah Abi Numay, tapi tidak sebanyak dari Hadhramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid, mereka dipanggil juga HABIB, di Jakarta dipanggilkan WAN. Di Sarawak dan Sabah disebut Tuanku. Di Pariaman (Sumatera Barat) disebut SIDI. Mereka telah tersebar diseluruh dunia. Di negeri-negeri besar sebagai Mesir, Baghdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan itu. Di saat sekarang umumnya telah mencapai 36-37-38 silsilah sampai ke Sayidina Ali dan Fathimah.
DALAM pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia, pihak Al-Irsyad yang menantang dominasi kaum Baalwi menganjurkan agar yang bukan keturunan Hasan dan Husain memakai juga titel Sayid dimuka namanya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Tetapi setelah keturunan Arab Indonesia bersatu, tidak pilih keturunan 'Alawy atau bukan, dengan pimpinan A.R. Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan "Al-Akh", artinya Saudara.
Maka baik Habib Tanggul di Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali Kwitang Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad Bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah ke Hadramaut itu, dan Ahmad Bin Isa tersebut adalah cucu tingkat ke-6 dari cucu Rasulullah Husain Bin Ali Bin Abi Thalib itu. Kepada keturunan-keturunan itu semuanya kita berlaku hormat, dan cinta, yaitu hormat dan cintanya orang Islam yang cerdas, yang tahu harga diri. Sehingga tidak diperbodoh oleh orang-orang yang menyalah gunakan keturunannya itu. Dan mengingat juga akan sabda Rasulullah s.a.w.: "Janganlah sampai orang lain datang kepadaku dengan amalnya, sedang kamu datang kepadaku dengan membawa nasab dan keturunan kamu". Dan pesan beliau pula kepada puteri kesayangannya, Fathimah Al-Batul, ibu dari cucu-cucu itu: "Hai Fathimah binti Muhammad. Beramallah kesayanganku. Tidaklah dapat aku, ayahmu menolongmu di hadapan Allah sedikitpun". Dan pernah beliau bersabda: "Walau anak kandungku sendiri, Fathimah, jika dia mencuri aku potong juga tangannya".
Sebab itu kita ulangilah seruan dari salah seorang ulama besar Alawy yang telah wafat di Jakarta ini, yaitu Sayid Muhammad Bin Abdurrahman Bin Syahab, agar generasi-generasi yang datang kemudian dari turunan 'Alawy memegang teguh Agama Islam, menjaga pusaka nenek-moyang, jangan sampai tenggelam kedalam peradaban Barat. Seruan beliau itupun akan tetap memelihara kecintaan dan hormat Ummat Muhammad kepada mereka.-


SUMBER BUKU :
Prof. H.S. Tharick Chehab (12 Rabi'ul-Awal 1395 H.), Asal-Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan, Dsb. Di Indonesia, JAKARTA

Saturday, June 12, 2010

Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw. - Penutup

PENUTUP

Download File


Dari ayat-ayat suci Al-Qur'anul-Karim, dari Hadits-hadits Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh para sahabat beliau, dan dari pendapat para Imamul-Mujtahidin serta para ulama; yang telah kami paparkan dalam buku ini, semuanya merupakan dalil-dalil syar'iy yang mendasar dan kuat tentang kewajipan setiap orang beriman mencintai dan menghormati ahlulbait Rasulullah s.a.w. beserta semua keturunan mereka, semata-mata demi kerana Allah dan Rasul-Nya.
Dari semua uraian yang terdapat di dalam buku ini pembaca dapat memperoleh pokok-pokok pengertian yang melandasi kewajipan mencintai dan menghormati ahlulbait Rasulullah s.a.w. dan keturunannya. Pokok-pokok pengertian itu ringkasnya sebagai berikut:
1. Rasulullah s.a.w. dan ahlulbaitnya berhak memperoleh ketaatan dan penghormatan dari ummatnya.
2. Rasulullah s.a.w. adalah pangkal kemuliaan dan kesucian ahlulbaitnya.
3. Beliau adalah wali bagi semua ahlulbait dan keturunannya.
4. Beliau s.a.w. adalah ayah (sesepuh) mereka.
5. Ummat Islam wajib mendahulukan mereka.
6. Ummat Islam harus mahu menimba ilmu dari mereka.
7. Apa yang membuat mereka tidak senang, membuat Rasulullah tidak senang.
8. Apa yang melegakan mereka melegakan Rasulullah s.a.w.
9. Hubungan nasab mereka dengan beliau s.a.w. tidak terputus pada hari kiamat.
10. Hubungan mereka dengan Rasulullah s.a.w. sebagai wasilah tidak terputus pada hari kiamat.
11. Hubungan kekerabatan dan kefamilian (mushaharah) antara mereka dengan Rasulullah s.a.w. tidak terputus pada hari kiamat.
12. Iman belum benar-benar masuk ke dalam hati seseorang hamba Allah sebelum ia mencintai ahlulbait demi kerana Allah dan kerana kekerabatan mereka dengan Rasulullah s.a.w.
13. Barangsiapa yang menghormati dan berbuat baik terhadap mereka, pada hari kiamat kelak ia akan memperoleh balasan baik dari Rasulullah s.a.w.
14. Setiap orang beriman wajib mencintai mereka atas dasar kecintaannya kepada Rasulullah s.a.w.
15. Orang terbaik di kalangan ummat Islam ialah yang paling besar kecintaan dan penghormatannya kepada ahlulbait Rasulullah s.a.w.
16. Seseorang di kalangan ummat Islam tidak akan memperoleh kebajikan di dunia dan di akhirat, kecuali jika ia mencintai mereka demi kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya.
17. Seyogyanya orang lebih menyukai hubungan persaudaraan dengan mereka daripada hubungan persaudaraannya dengan kaum kerabatnya sendiri.
18. Setiap Muslim wajib menyedari bahwa ahlulbait Rasulullah s.a.w. mempunyai hak yang amat besar atas dirinya.
19. Setiap Muslim wajib menghormati dan menjaga keselamatan mereka.
20. Barangsiapa mengganggu mereka bererti mengganggu Rasulullah s.a.w., dan orang yang mengganggu beliau s.a.w. bererti mengganggu Allah s.w.t.
21. Seorang Mu'min belum benar-benar beriman selagi ia belum mencintai Rasulullah s.a.w., dan ia belum mencintai Rasulullah s.a.w. selama belum mencintai ahlulbait beliau.
22. Mereka senantiasa bersama-sama dengan Al-Qur'an hingga saat mereka masuk syurga.
23. Orang yang memperoleh hidayat Ilahi ialah yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan ahlulbait Rasulullah s.a.w.
24. Orang yang tidak berpegang pada Al-Qur'an dan ahlulbait Rasulullah s.a.w. adalah sesat.
25. Rasulullah s.a.w. telah mengingatkan kita akan kewajipan kita terhadap Allah s.w.t. mengenai keharusan kita mencintai ahlulbait beliau s.a.w. dan mengenai keharusan kita menghormati mereka. Rasulullah s.a.w. mengaitkan kehormatan mereka dengan kehormatan beliau sendiri dan kehormatan agama Islam.
26. Barangsiapa mengindahkan kehormatan Rasulullah s.a.w. dan ahlulbaitnya, Allah s.w.t. akan memelihara keselamatan agama dan keduniaannya.
27. Barangsiapa yang tidak mengindahkan kehormatan Rasulullah s.a.w. dan kehormatan ahlulbait beliau, Allah s.w.t. tidak akan memelihara keselamatan agama dan keduniaannya.
28. Rasulullah s.a.w. telah mewasiatkan kepada kita supaya kita menyampaikan segala hal yang baik kepada ahlulbait beliau.
29. Rasulullah s.a.w. pada hari kiamat akan menggugat setiap orang yang mengurangi hak ahlulbait beliau, dan barangsiapa yang pada hari kiamat akan digugat oleh beliau s.a.w. ia akan masuk neraka.
30. Ahlulbait Rasulullah s.a.w. adalah hablullah (tali Allah) yang kita diperintah supaya teguh berpegang padanya, sebagaimana firman Allah: "Hendaklah kalian semuanya berpegang teguh pada tali Allah". (S. Aali Imran: 103).
31. Kita harus mengerti, bahwa ahlulbait Rasulullah s.a.w. adalah orang-orang yang menjadi sasaran irihati kerana mereka memperoleh limpahan kurnia Allah s.w.t.
32. Seorang hamba Allah belum benar-benar beriman selagi kecintaannya kepada ahlulbait Rasulullah s.a.w. belum melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri dan keluarganya.
33. Persahabatan setia dengan ahlulbait adalah hidayat yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya: "Aku adalah Maha Pengampun bagi siapa yang bertaubat, beriman dan berbuat kebajikan". (S. Thaa Haa: 82).
34. Allah s.w.t. sangat murka terhadap orang yang mengganggu ahlulbait Rasulullah s.a.w.
35. Barangsiapa mencintai dan menghormati mereka, Allah akan memanjangkan usianya dan melestarikan kurnia nikmat yang dilimpahkan kepadanya.
36. Barangsiapa yang membenci dan menghina mereka, Allah akan memendekkan usianya dan akan mencabut nikmat yang diberikan kepadanya, dan pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dalam keadaan bermuka hitam.
37. Manusia akan selalu mengikuti mereka dalam kebajikan mahupun dalam keburukan. Dengan kebaikan mereka manusia akan menjadi baik dan dengan kerosakan mereka manusia akan menjadi rosak.
Mengingat kesemuanya itu, sebagai penutup tulisan kami dalam buku ini, kami berseru agar kaum Muslimin tidak enggan membantu kesukaran para keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w., mahu belajar kepada mereka yang berilmu dan mengajar mereka yang kurang mendalam ilmunya. Kebaikan dan kesentosaan kaum Muslimin banyak kaitannya dengan kebaikan dan kesentosaan mereka. Mereka adalah bahtera keselamatan bagi kaum Muslimin, tak ubahnya dengan bintang-bintang di langit yang menjadi petunjuk jalan dalam perjalanan gelap di tengah samudera.
Beruntunglah orang-orang yang memelihara hubungan baik dengan ahlulbait, kaum kerabat Rasulullah s.a.w. dan keturunan mereka. Bahagialah orang-orang yang dengan syafaat Rasulullah s.a.w. akan memperoleh kebahagiaan hidup kekal di akhirat. Alangkah nikmatnya orang-orang yang dengan keridhoan Allah dan Rasul-Nya memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
Allaahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad wa 'alaa aali sayyidina Muhammad, wa sallim wardha 'an shahabat Rasullillahi ajma'in.
Amiin.
16 Rajab 1406
27 Maret 1986

Sumber : K.H Abdullah bin Nuh (1986), Buku Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw.

Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw. - BAB VII

BAB VII

KISAH TENTANG TAFSIR AYAT 32 S. FATHIR

Dalam kitab 'Uyunul-Akhbar' terdapat sebuah kisah tentang tafsir ayat 32 S. Fathir yang berbunyi sebagai berikut:

"Kemudian Kitab itu 'Al-Qur'an' Kami wariskan kepada orang-orang dari hamba Kami yang telah Kami pilih".

Pada suatu hari Imam 'Ali Ar-Ridha r.a. (seorang pemimpin terkemuka keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w.) menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh Khalifah Al-Ma'mun di Marwa. Dalam pertemuan tersebut hadir pula sejumlah ulama dari Iraq dan Khurasan. Mereka diminta oleh Khalifah Al-Ma'mun supaya menafsirkan ayat 32 S. Fathir tersebut di atas. Atas permintaan Khalifah Al-Ma'mun para ulama dari kedua daerah itu menerangkan, bahwa yang dimaksud kalimat 'orang-orang dari hamba Kami yang telah Kami sucikan' ialah ummat Islam seluruhnya. Imam Ar-Ridha tidak sependapat dengan para ulama yang hadir, kemudian menguraikan tafsir ayat suci tersebut seperti di bawah ini:

"Yang dimaksud dengan kalimat tersebut...", demikian kata Imam Ar-Ridha, '...ialah 'Al-Itrah At-Thahirah' ('Keturunan suci Rasulullah s.a.w.'). Sebab, kalau yang dimaksud kalimat tersebut 'seluruh ummat Islam' tentu semuanya akan menjadi penghuni syurga, padahal Allah telah berfirman lebih lanjut dalam ayat tersebut:

"Di antara mereka itu ada yang berlaku dzalim terhadap dirinya sendiri, ada yang sedang-sedang saja (muqtashid) dan ada pula yang lebih mendahului berbuat kebajikan seizin Allah. Yang demikian itu adalah kurnia yang amat besar".

Dalam ayat berikutnya Allah berfirman:

"Bagi mereka disediakan 'syurga Adn', mereka akan memasukinya dan di dalamnya mereka akan dihiasi dengan gelang-gelang emas..."

Jadi, yang mewarisi Kitab suci ialah Al-'Itrah At-Thahirah 'keluarga suci keturunan Rasulullah s.a.w.', bukan orang-orang selain mereka. Merekalah yang dimaksud oleh ayat:

"Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kotoran dari kalian, ahlulbait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya", dan mereka itu jugalah yang dimaksud oleh Rasulullah s.a.w. dengan sabdanya:

"Kutinggalkan kepada kalian dua bekal: Kitabullah dan itrahku, ahlulbaitku. Kedua-duanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di haudh (syurga). Maka perhatikanlah bagaimana kalian akan meneruskan kepemimpinanku mengenai dua hal itu".

Lebih jauh Imam Ar-Ridha menjelaskan:

"Mereka diharamkan menerima shadaqah (atau zakat), padahal orang-orang selain mereka tidak diharamkan. Kalian tentu telah mengetahui bahwa baik hak waris maupun kesucian berada di tangan orang-orang pilihan yang hidup di atas hidayat Ilahi, bukan di tangan orang-orang lainnya. Allah s.w.t. juga telah berfirman:

"...Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim, kemudian kepada keturunan dua orang Nabi itu kami berikan kenabian dan Kitab suci. Namun di antara mereka itu ada yang mengikuti hidayat dan banyak pula yang fasik". – S. Al-Hadid: 26.

Jadi jelaslah, bahawa warisan atas kenabian dan Kitab suci, diberikan Allah kepada orang-orang yang memperoleh hidayat, bukan kepada orang-orang fasik. Selain itu Allah juga telah menganugerahkan kelebihan dan keutamaan kepada keluarga suci jauh lebih banyak daripada yang dianugerahkan kepada orang lain. Allah berfirman:

"...Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi semua ummat dalam zamannya masing-masing, yaitu suatu keturunan yang sebagiannya berasal dari sebagian yang lain. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" – S. Aali Imran: 34.

"Apakah mereka itu dengki kepada orang-orang itu kerana kurnia yang telah diberikan Allah kepadanya? Sungguhlah bahwa Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim dan kepadanya telah Kami berikan kerajaan yang besar" (yakni kenabian turun temurun). (S. An-Nisa: 54)

Kemudian kepada seluruh kaum beriman Allah s.w.t. berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan Ulil Amri dari kalian". – S. An-Nisa: 59.

Yakni orang-orang yang hidup dikurniai hikmah kenabian dan Kitab suci, yaitu orang-orang yang menjadi sasaran kedengkian dan irihati mereka yang tidak beriman.

Mengenai keturunan suci mereka (Al-Itrah At-Thahirah), Allah s.w.t. telah menjelaskan pengertiannya melalui firman-Nya:

"Dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu (hai Muhammad) yang terdekat". – S. Asy-Syu'ara: 214.

"Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kotoran dari kalian, ahlulbait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya". – S. Al-Ahzab: 33.

"Barangsiapa yang membantahmu 'hai Muhammad' tentang kisah Isa setelah datang pengetahuan 'yang meyakinkan kepadmu', maka katakanlah kepada mereka: 'Marilah kita panggil (kumpulkan) anak-anak kami dan anak-anak kalian, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kalian, diri-diri kami dan diri-diri kalian; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah mohon supaya menimpakan laknat-Nya kepada orang-orang yang berdusta". (S. Aali Imran: 61).

Kemudian Rasulullah s.a.w. menampilkan 'Ali, Fatimah, Al-Hasan dam Al-Husein radhiyallahu 'anhum. Dengan demikian Rasulullah s.a.w. mengertikan kalimat 'diri-diri kami' dengan 'Ali r.a. Hal itu dipertegas lagi oleh sabda beliau ketika itu:

"Hendaknya Bani Wali'ah kaum Nasrani dan Najran mahu berhenti; jika tidak, maka akan kuutus kepada mereka seorang yang seperti diriku".

Yang dimaksud dengan 'seorang seperti diriku' ialah 'Ali bin Abi Thalib r.a. Itulah keistimewaan khusus yang tidak ada pada orang lain mana pun juga.

1. Perintah Rasulullah s.a.w. kepada para penghuni rumah dalam lingkungan masjid nabawiy supaya berpindah tempat tinggal, kecuali keluarga suci (Imam 'Ali r.a. dan keluarganya), sehingga banyak orang bertanya, termasuk 'Abbas paman Nabi: 'Ya Rasulullah, kenapa anda membiarkan 'Ali tinggal di tempat itu, sedangkan kami anda keluarkan'? Beliau menjawap: 'Aku tidak membiarkan dia dan mengeluarkan kalian, tetapi Allah-lah yang membiarkan dia dan mengeluarkan kalian'

Mengenai hal itu terdapat keterangan yang jelas, yaitu pertanyaan Rasulullah s.a.w. kepada 'Ali bin Abi Thalib r.a.:

"Kedudukanmu di sisiku sama dengan kedudukan Harun di sisi Musa, tetapi tidak ada Nabi lagi sesudahku'.

Firman Allah s.w.t. kepada Musa a.s. sejalan dengan pertanyaan Rasulullah s.a.w. kepada 'Ali r.a., yaitu firman-Nya:

"Dan telah Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: 'Hendaklah kalian berdua mengambil beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal kaummu, dan jadikanlah rumah-rumah kalian itu tempat beribadah". (S. Yunus: 87).

Dalam ayat-ayat tersebut di atas tampak jelas kedudukan Harun di sisi Musa dan kedudukan 'Ali bin Abi Thalib r.a. di sisi Muhammad Rasulullah s.a.w. Bersamaan dengan itu beliau s.a.w. sendiri telah menegaskan:

"Masjid ini – yakni yang boleh bertempat tinggal di lingkungan masjid nabawiy – tidak halal kecuali bagi Muhammad dan ahlulbaitnya".

2. Allah telah berfirman:

"Dan berikanlah kepada kaum kerabat hak mereka". (S. Al-Isra: 26).

Ayat tersebut merupakan kekhususan bagi ahlulbait Rasulullah s.a.w. Ketika ayat tersebut turun, Rasulullah s.a.w. berkata kepada puterinya, Fatimah r.a.:

"Itulah sebidang tanah di Fadak, yang tidak tergarap baik dengan menggunakan tenaga unta ataupun kuda. Tanah itu khusus bagiku, bukan untuk kaum Muslimin. Atas perintah Allah tahah itu kuberikan kepadamu, maka ambillah untukmu dan anak-anakmu".

Allah telah berfirman:

"Katakanlah (hai Muhammad); 'Aku tidak minta upah apa pun kepada kalian atas (da'wah Risalah) itu selain agar kalian berkasihsayang dalam kekeluargaan". (S. Asy-Syura: 23).

Ayat tersebut juga khusus bagi ahlulbait Rasulullah s.a.w., bukan bagi orang lain. Berkasihsayang dengan ahlulbait beliau s.a.w. adalah kewajipan yang ditetapkan Allah s.w.t. bagi segenap kaum Mu'minin. Setiap orang beriman yang berkasihsayang dengan ahlulbait Rasulullah s.a.w. dengan setulus hati ia akan dimasukkan ke dalam syurga. Mengenai itu Allah telah berfirman:

"Dan mereka yang beriman serta berbuat kebajikan akan berada di dalam taman-taman syurga. Di sisi Tuhan mereka akan memperoleh apa yang mereka ingini. Yang demikian itu adalah kurnia amat besar. Dengan kurnia itulah Allah menggembirakan para hamba-Nya yang beriman dan berbuat kebajikan. Katakanlah (hai Muhammad) 'Aku tidak minta upah apa pun kepada kalian atas (da'wah Risalah yang kusampaikan) itu selain agar kalian berkasihsayang di dalam kekeluargaan". (S. Asy-Syura: 22-23).

Ayat tersebut memberi penafsiran yang jelas, akan tetapi banyak orang yang tidak memenuhi permintaan beliau itu.

Abulhasan meriwayatkan sebuah Hadits yang didengar dari para orangtuanya dan berasal dari Amirul Mu'minin Imam 'Ali bin Abi Thalib r.a.; bahwasanya pada suatu hari sejumlah Muhajirin dan kaum Anshar bersepakat datang menghadap Rasulullah s.a.w. Dalam pertemuan dengan beliau itu mereka berkata: 'Ya Rasulullah, anda tentu memerlukan harta dan barang-barang untuk nafkah penghidupan anda sendiri dan untuk menjamu para utusan dari berbagai daerah yang datang menghadap anda. Ambillah harta dan kekayaan kami dan pergunakanlah menurut kamahuan anda atau simpanlah jika anda hendak menyimpannya'. Pada saat itu turunlah malaikat Jibril, lalu berkata kepada Rasulullah s.a.w.: 'Hai Muhammad, katakanlah: Aku tidak minta upah apa pun kepada kalian atas (da'wah Risalah yang kusampaikan) itu selain agar kalian berkasihsayang dalam kekeluargaan'. Beberapa orang munafik yang ada di dalam rombongan mereka itu berkata di antara mereka sendiri: 'Yang membuat Rasulullah tidak mahu menerima tawaran kami itu ialah kerana ia hendak mendesak kami supaya mencintai kaum kerabatnya setelah ia wafat. Itu adalah kebohongan yang sengaja dibuat-buat dalam pertemuan. Itu suatu kedustaan yang besar sekali'! Atas celotehan kaum munafik itu turunlah wahyu Ilahi :

"Bahkan mereka mengatakan: 'Dia (Muhammad) telah mengada-adakan kedustaan terhadap Allah!' Jika Allah menghendaki nescaya Dia mengunci-mati hatimu. Allah (berkuasa) menghapuskan yang batil dan membenarkan yang haq dengan kalimat-kalimat-Nya (Al-Qur'an). Sungguhlah, bahawa Allah Maha Mengetahui segala yang tersembunyi di dalam dada (hati)". (S. Asy-Syura: 24).

Setelah menerima wahyu tersebut Rasulullah s.a.w. mengutus seorang sahabat untuk menanyakan: Apakah benar ada orang yang berkata seperti itu?

Di antara rombongan yang pernah datang menghadap Rasulullah s.a.w. itu menjawap: Ada beberapa orang di antara kami yang berkata sekasar itu, dan kami sendiri sangat tidak menyukainya.

Utusan Rasulullah s.a.w. itu kemudian membacakan ayat tersebut di atas kepada mereka. Mereka menangis, kemudian turunlah firman Allah kepada Rasul-Nya:

"...Dialah Allah yang berkenan menerima taubat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kalian perbuat". (S. Asy-Syura: 25).

Demikian pula mengenai ketaatan, Allah telah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan ulil-amri dari kalian". (S. An-Nisa: 58).

"Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya tunduk kepada Allah". (S. Al-Ma'idah: 55).

Jelaslah, bahwa ketaatan kepada ahlulbait Rasulullah s.a.w. sekaitan dengan ketaatan kepada beliau s.a.w. dan kepada Allah; dan kepemimpinan mereka pun sekaitan dengan kepemimpinan beliau s.a.w. dan dengan kepemimpinan Allah s.w.t. Demikian pula hak mereka untuk menerima bagian (4% = Khumusul-khumus) dari ghanimah dan jarahan perang sekaitan dengan hak beliau s.a.w. untuk menerima bagian itu. Di luar itu Allah s.w.t. mengharamkan Rasulullah dan para ahlulbaitnya menerima shadaqah atau zakat. Mengenai hal itu Allah telah berfirman:

"Sesungguhnyalah, bahwa shadaqah (atau zakat) hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, orang-orang yang bekerja mengurus shadaqah (zakat), kaum muallaf (yang masih perlu dimantapkan (hatinya), untuk (memerdekakan) budak, untuk menolong orang-orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan jauh. (Semuanya itu) merupakan ketetapan yang diwajibkan Allah". (S. At-Taubah: 60).

3. Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa dalam Al-Qur'anul-Karim Allah s.w.t. telah berfirman:

"Dan perintahkanlah keluargamu supaya menegakkan shalat dan hendaknya engkau bersabar dalam mengerjakannya". (S. Tha Haa: 132).

Sebagai pelaksanaan perintah Allah itu Rasulullah s.a.w. sejak turunnya ayat tersebut, tiap hari selama sembilan bulan selalu singgah ke pintu rumah 'Ali dan Fatimah radhiyallahu 'anhuma pada saat-saat beliau hendak menunaikan shalat fardhu di masjid beliau lima kali sehari. Dari pintu rumah puterinya itu beliau selalu mengingatkan: 'As-Shalatu, yarhamukumullah!' ('Shalat ...semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian'). Bila mendengar itu Abul-Hasan (Imam 'Ali r.a.) selalu berucap: 'Al-hamdu lillah yang mengkhususkan kemuliaan besar kepada kami"!

Demikianlah uraian Imam Ar-Ridha r.a. dalam menjelaskan dalil-dalil dan hujjah-hujjah mengenai makna ayat 32 S. Fathir, yang berbunyi:

"Kemudian Kitab itu (Al-Qur'an) Kami wariskan kepada orang-orang dari hamba Kami yang telah kami pilih".

Dalam mengakhiri pertemuannya dengan para ulama itu Khalifah Al-Ma'mun berkata kepada Imam 'Ali Ar-Ridha r.a.: 'Semoga Allah membalas kalian, ahlulbait, dengan kebajikan sebesar-besarnya dari ummat ini!'

Sumber : K.H Abdullah bin Nuh (1986), Buku Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw.

Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw. - BAB VI

BAB VI

NASH-NASH HADITS "AL-KISA"

Sebagaimana telah kita ketahui dari uraian pada bahagian permulaan buku ini, Hadits 'Al-Kisa' mengandung dua pengertian pokok yang amat besar dan penting. Yaitu: (1) Pembuktian atau dalil tentang kesucian ahlulbait Rasulullah s.a.w.; dan (2) bahwa yang dimaksud 'ahlulbait' ialah Imam 'Ali r.a., Siti Fatimah r.a. dan kedua orang puteranya, Al-Hasan dan Al-Husein radhiyallahu 'anhuma.

Nash-nash Hadits tersebut diriwayatkan oleh berbagai sumber dan oleh banyak rawi (orang yang menyampaikan riwayat) dengan teks yang agak berlain-lainan, tetapi mempunyai makna yang sama. Di bawah ini kami kutipkan beberapa nash dari Hadits 'Al-Kisa':

"Aisyah r.a. berkata: Pada suatu pagi Rasulullah s.a.w. dengan mengenakan jubah terbuat dari bulu berwarna hitam keluar (dari hijr), kemudian datanglah Al-Hasan, lalu ia dimasukkan ke dalam jubah seraya berucap: "Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kotoran (rijsa) dari kalian, ahlulbait dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya".

(Dari Hadits Zakariya, dari Mush'ab bin Syaibah dan dari Shafiyyah binti Syaibah. Lihat Tafsir At-Thabariy 22/5).

"Ummu Salamah r.a. berkata: Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. berada di tempat kediamanku bersama 'Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein. Untuk mereka kubuatkan khazirah (makanan terbuat dari tepung dan daging). Setelah makan mereka tidur, kemudian oleh Rasulullah s.a.w. mereka diselimuti dengan kisa, atau kain sutera, seraya berucap: 'Ya Allah, mereka ahlulbaitku, hilangkanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya". (Dari Hadits Zaid, dari Syahr bin Hausyab. Lihat Tafsir At-Thabariy: 22/6).

"Abu Ammar berkata: Aku duduk di rumah Watsilah bin Al-Asqa bersama beberapa orang lain yang sedang membicarakan soal 'Ali r.a. dan mengecamnya. Ketika mereka berdiri (hendak meninggalkan tempat) Watsilah berkata: Duduklah, kalian hendak kuberitahu tentang orang yang kalian kecam itu. Di saat aku sedang berada di kediaman Rasulullah s.a.w. datanglah 'Ali, Fatimah, Hasan dan Husein. Beliau kemudian melemparkan kisanya kepada mereka seraya berucap: Ya Allah, mereka ahlulbait. Ya Allah, hilangkanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Aku bertanya: 'Ya Rasulullah, bagaimanakah diriku? Beliau menjawap: Dan engkau...! Watsilah selanjutnya berkata: Demi Allah, bagiku peristiwa itu merupakan kejadian yang sangat meyakinkan". (Dari Hadits Abu Nu'aim Al-Fadhl bin Dakkain yang mengatakan menerima Hadits itu dari Abdus-Salam bin Harb, dari Kaltsum Al-Muharibiy, berasal dari Abu Ammar. Lihat Tafsir At-Thabariy: 22/6).

"Ummu Salamah r.a. berkata: Ketika turun ayat 'Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kotoran dari kalian, ahlulbait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya'. Rasulullah s.a.w. memanggil 'Ali, Fatimah, Hasan dan Husein, kemudian beliau menyelimuti mereka dengan kisa buatan Khaibar seraya berucap: 'Ya Allah, mereka ahlulbaitku. Ya Allah, hilangkan kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah bertanya: 'Tidakkah aku termasuk mereka'? Rasulullah s.a.w. menjawap: 'Engkau berada di dalam kebajikan"?

(Dari Hadits Waki', dari Abdulhamid bin Bahram, dari Syahr bin Hausyab, dari Fudhail bin Marzuq, dari Athiyyah, dari Abu Sa'id Al-Khudriy, berasal dari Ummu Salamah r.a. Lihat tafsir At-Thabariy: 22/7).

"Ummu Salamah r.a. berkata; Fatimah datang kepada Rasulullah s.a.w. membawa sebuah kuali tembikar berisi ashidah (sejenis makanan terbuat dari tepung) yang baru dimasaknya. Kuali yang dialasi dengan baki itu kemudian diletakkan di hadapan beliau s.a.w. Beliau bertanya: 'Manakah kedua anakmu?' Fatimah menjawap: 'Di rumah'. Beliau berkata lagi: 'Panggilah mereka'. Fatimah lalu menemui 'Ali dan berkata: 'Datanglah menghadap Nabi s.a.w. bersama dua putera anda'. Ummu Salamah berkata lebih lanjut: 'Ketika Rasulullah s.a.w. melihat mereka datang, beliau mengambil kisa dari tempat tidur, kemudian dibentang, dan mereka diminta duduk di atasnya. Beliau lalu mengambil empat ujung kain kisa digabung menjadi satu dengan tangan kiri beliau di atas kepala mereka. Kemudian beliau mengangkat tangan kanannya sambil berdoa: 'Ya Allah, mereka adalah ahlulbait, hilangkanlah kotoran dari mereka dan sucikan mereka sesuci-sucinya".

(Hadits dari Zarbayi, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah r.a. dan berasal dari Ummu Salamah r.a. Lihat tafsir At-Thabariy: 22/7).

"Ummu Salamah r.a. mengatakan, bahwa ayat 'Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kotoran dari kalian, ahlulbait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya' turun ketika Rasulullah s.a.w. sedang berada di rumahnya. Ummu Salamah r.a. berkata: 'Ketika itu aku duduk di dekat pintu rumah. Kepada Rasulullah s.a.w. aku bertanya: 'Ya Rasulullah, apakah diriku termasuk ahlulbait'? Beliau menjawap: 'Engkau memperoleh kebajikan, engkau termasuk para isteri Nabi'. Ketika itu Rasulullah s.a.w., 'Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein berada di rumahku".

(Dari Hadits Ibnu Marzuq, dari Athiyyah, dari Abu Sa'id berasal dari isteri Nabi, Ummu Salamah r.a. Lihat tafsir At-Thabariy: 22/7).

"Abdullah bin Wahab bin Zam'ah mengatakan: Ummu Salamah r.a. memberitahu kepadaku, bahwa pada suatu hari Rasulullah s.a.w. mengumpulkan Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein r.a., kemudian ketiga-tiganya dimasukkan ke dalam jubahnya, lalu beliau berdoa mohon kepada Allah s.w.t.: 'Merekalah ahlulbaitku...' Ummu Salamah berkata: 'Ya Rasulullah, masukkanlah aku bersama mereka', Rasulullah s.a.w. menjawap: 'Engkau termasuk keluargaku". (Dari Hadits Hasyim bin Utbah bin Abi Waqqash, berasal dari Abullah bin Wahab bin Zam'ah Lihat tafsir At-Thabraniy: 22/7 dan Tuhfatul-Ahwadziy: 9/66).

"Umar bin Abi Salamah – anak tiri Rasulullah s.a.w. – mengatakan, bahwa ayat 'Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kotoran dari kalian, ahlulbait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya turun kepada Rasulullah s.a.w. di rumah Ummu Salamah. Kemudian Rasulullah s.a.w. memanggil Hasan, Husein dan Fatimah, lalu ketiga-tiganya diminta duduk di depan beliau. Beliau memanggil 'Ali lalu diminta duduk di belakang beliau. Kemudian beliau bersama mereka menyelimuti diri dengan kisa seraya berucap: 'Ya Allah, mereka ahlulbaitku, maka hilangkanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya'. Ummu Salamah berkata: 'Apakah aku bersama mereka'? Rasulullah s.a.w. menjawap: 'Engkau berada di tempatmu dan engkau memperoleh kebajikan'. (Dari Hadits Muhammad bin Sulaiman Al-Ashbahaniy, dari Yahya bin Ubaid Al-Makky, dari Atha bin Abi Rabbah, berasal dari Umar bin Abi Salamah. Lihat Tafsir At-Thabariy: 22/7 dan Tuhfatul-Ahwadziy: 9/66).

"Sa'ad mengatakan: Ketika wahyu tersebut turun (yakni S. Al-Ahzab: 33) Rasulullah s.a.w. memanggil 'Ali, dua orang puteranya dan Fatimah. Mereka lalu dimasukkan ke dalam jubah beliau s.a.w. seraya berucap: 'Ya Allah, Rabbi, mereka adalah keluargaku, ahlulbaitku". (Dari Hadits Bukair bin Asma, dari Amir bin Sa'ad, berasal dari Sa'ad. Lihat Tafsir At-Thabariy: 22/8).

"Hakim bin Sa'ad berkata: 'Ali bin Abi Thalib r.a. memberitahu Ummu suatu peristiwa yang terjadi ketika ia berada di rumah Ummu Salamah r.a. Ummu Salamah r.a. mengatakan: 'Di rumahku turun ayat 'Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kotoran dari kalian, ahlulbait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya'. Ummu Salamah r.a. menceritakan: 'Ketika itu Rasulullah s.a.w. datang ke rumahku, kemudian beliau berkata: 'Jangan memberi izin masuk kepada siapa pun'! beberapa saat kemudian datanglah Fatimah r.a. Aku tak dapat mencegahnya bertemu dengan ayahandanya. Kemudian datang Al-Hasan, aku pun tak dapat menghalanginya bertemu dengan bundanya dan datuknya. Lalu datang lagi Al-Husein r.a., aku tak dapat menghalanginya juga. Mereka semuanya termasuk 'Ali bin Abi Thalib r.a. berkumpul di sekitar Rasulullah s.a.w. duduk di atas permaidani. Rasulullah s.a.w. lalu menyelimuti mereka dengan kain kisa seraya berucap: 'Ya Allah, mereka ahlulbaitku, hilangkanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya'. Pada saat itulah turun ayat tersebut di atas. Aku bertanya: 'Ya Rasulullah, dan aku...? Demi Allah, beliau tidak menjawap: 'Ya'. Engkau memperoleh kebajikan". (Dari Hadits Abdullah bin Abdulquddus, dari Al-A'masy, dari Hakim bin Sa'ad, berasal dari 'Ali bin Abi Thalib r.a. Lihat Tafsir At-Thabariy: 22/8).

Sumber : K.H Abdullah bin Nuh (1986), Buku Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw.


Nasihat

Lembaga Qabilah Ba'alwi Bafagih Sulawesi(LQBBS) berdiri untuk Penjagaan Fiqih, Aqidah, Amalan Shalawat, Nasab Sayyid dan Kafa'ah Syarifah serta Kasih Sayang dalam Keluarga

yuk ngobrol atau say hai, klik tombol buku tamu

Struktur Pengelola(Admin)Website Ini

Randy Ibrahim Bafagih (Alfaqir Bafaqih)_____ Sayyid Muh Zalsabil Bafaqih

Pengunjung Website

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms

adsfeed