Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Sunday, April 16, 2023

Dalil Dasar Baca-baca Doa (Kirim Pahala) untuk Almarhum(Makanan Atau Barang-Barang), Dalil Tahlilan Haul, Dan Dalil Membakar Wangi-wangian Dupa Bukhur

 📿Dalil Dasar Baca-baca Doa (Kirim Pahala) untuk Almarhum(Makanan Atau Barang-Barang), Dan Dalil Membakar Wangi-wangian Dupa Bukhur 📿








Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Baca Doa (Kirim Pahala) untuk Almarhum/ah, maupun Dalil Tahlilan Haul dan Membakar Bukhur Dupa itu ada dalil dasarnya bagi yang faham, dan bagi yang tidak faham maka menganggap semua itu tidak ada dasar dalilnya, sebaiknya kita bahas dan kita luruskan sesuai dalil dasar hukum yang ada.

amalan ini dengan cara, membaca doa niatan untuk mengirimkan pahala dari makanan yang disajikan untuk tamu, yang mana pahalanya dikirimkan kepada Almarhum/ah (Doa Arwah), dizaman Nabi, doa arwah yaitu mengirimkan pahala kepada Almarhum/ah, diamalkan berupa memberikan hasil kebun kurma kepada orang lain dan pahala dari ini diniatkan utk dikirimkan pahalanya almarhum/ah.
🟡I. Baca-baca Pahala Untuk Almarhum & Tahlil Haul.
1. Baca-baca Pahala Untuk Almarhum
Baca doa yang pahalanya diniatkan untuk Almarhum Itu Di AJARKAN NABI!.
Misalnya baca doa untuk makanan atau barang2 yang pahalanya dikirim untuk Almarhum, ini ada Hadistnya,
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya ada seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia mengatakan,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّىَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ »
Artinya :
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibuku tiba-tiba saja meninggal dunia dan tidak sempat menyampaikan wasiat padaku. Seandainya dia ingin menyampaikan wasiat, pasti dia akan mewasiatkan agar bersedekah untuknya. Apakah Ibuku akan mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya”.(Muttafaqu ‘alaih).
.............
lalu ada lagi =
hadits dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ – رضى الله عنه – تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهْوَ غَائِبٌ عَنْهَا ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ، أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ » . قَالَ فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا
Artinya : 
"Sesungguhnya Ibu dari Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia, sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sampingnya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.”
Berhubung kita tidak punya banyak kebun, kemudian makanan atau barang-barang sebagai sedekahnya untuk dikirimkan pahala.
kemudian ada lagi hadist serupa yaitu... 
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
 إِنَّ أَبِـيْ مَاتَ وَتَـرَكَ مَالًا، وَلَـمْ يُـوْصِ، فَهَلْ يُـكَـفّـِرُ عَنْـهُ أَنْ أَتـَصَدَّقَ عَنْـهُ؟ قَالَ: نَـعَمْ. 
“Sesungguhnya ayahku meninggal dunia dan meninggalkan harta, tetapi ia tidak berwasiat. Apakah (Allâh) akan menghapuskan (kesalahan)nya karena sedekahku atas namanya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.”
Shahîh. HR Muslim (no. 1630), Ahmad (II/371), an-Nasa-i (VI/252), dan al-Baihaqi (VI/278)
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma :
 أَنَّ سَعْـدَ بْنَ عُـبَـادَةَ -أَخَا بَـنِـيْ سَاعِدَةِ- تُـوُفّـِيَتْ أُمُّـهُ وَهُـوَ غَـائِـبٌ عَنْهَا، فَـقَالَ: يَـا رَسُوْلَ اللّٰـهِ! إِنَّ أُمّـِيْ تُـوُفّـِيَتْ، وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا، فَهَلْ يَنْـفَعُهَا إِنْ تَصَدَّقْتُ بِـشَـيْءٍ عَنْهَا؟ قَـالَ: نَـعَمْ، قَالَ: فَـإِنّـِيْ أُشْهِـدُكَ أَنَّ حَائِـطَ الْـمِخْـرَافِ صَدَقَـةٌ عَلَـيْـهَا. 
Bahwasanya Sa’ad bin ‘Ubadah –saudara Bani Sa’idah– ditinggal mati oleh ibunya, sedangkan ia tidak berada bersamanya, maka ia bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Sesungguhnya ibuku meninggal dunia, dan aku sedang tidak bersamanya. Apakah bermanfaat baginya apabila aku menyedekahkan sesuatu atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya.” Dia berkata, “Sesungguhnya aku menjadikan engkau saksi bahwa kebun(ku) yang berbuah itu menjadi sedekah atas nama ibuku.”
(HR al-Bukhari (no. 2756), Ahmad (I/333, 370), Abu Dawud (no. 2882), at-Tirmidzi (no. 669), an-Nasa-i (VI/252-253), dan al-Baihaqi (VI/ 278)).
☑️
............
Berhubung kita tidak punya banyak kebun, kemudian makanan atau barang-barang sebagai sedekahnya untuk dikirimkan pahala
....


II.  Dalil Tahlilan Haul & Memberikan Sajian Makanan Bagi Hadirin
Pada dasarnya Tahlilan Haul, ada dalilnya bagi yang faham dan menganggap tak ada dalil nya bagi yang tidak faham, mari kita bahas dasar dalilnya mengapa Tahlilan Haul itu Seharusnya di Laksanakan,
Dalil tahlilan Jumlah Hari 3, 7, 25, 40, 100, 360 (setahun) & 1000 hari bersumber dari kitab Ahlu Sunnah wal Jama'ah dan bukan kitab dari agama agama lain.
قال النبي صلى الله عليه وسلم الدعاء والصدقة هدية إلى الموتى وقال عمر : الصدقة بعد الدفنى ثوابها إلى ثلاثة أيام والصدقة فى ثلاثة أيام يبقى ثوابها إلى سبعة أيام والصدقة يوم السابع يبقى ثوابها إلى خمس وعشرين يوما ومن الخمس وعشرين إلى أربعين يوما ومن الأربعين إلى مائة ومن المائة إلى سنة ومن السنة إلى ألف عام
Rasulullah saw bersabda: "Doa dan shadaqah yg dihadiahkan kepada mayyit." Berkata Umar : "shodaqoh setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari dan shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, dan shodaqoh tujuh hari akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari."
Kemudian Ini Dasar Tahlil 3 Malam disertai bersama-sama makan.
Berkumpul mengirim doa adalah bentuk shadaqoh (Tahlil) buat Almarhum/ah.
فلما احتضرعمر أمر صهيبا أن يصلي بالناس ثلاثة أيام ، وأمر أن يجعل للناس طعام ، فيطعموا حتى يستخلفوا إنسانا ، فلما رجعوا من الجنازة جئ بالطعام ووضعت الموائد ! فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم فيه ، فقال العباس بن عبد المطلب : أيها الناس إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قد مات فأكلنا بعده وشربنا ومات أبو بكر فأكلنا بعده وشربنا وإنه لابد من الاجل فكلوا من هذا الطعام ، ثم مد العباس يده فأكل ومد الناس أيديهم فأكلوا
Ketika Umar sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan – hidangan ditaruhkan, orang – orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib : Wahai hadirin.. sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang pasti, maka makanlah makanan ini..!”, lalu beliau mengulurkan tangannya dan makan, maka orang – orang pun mengulurkan tangannya masing – masing dan makan.
[Al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqat Al Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110]
Kemudian mengenai Tahlilan 40 hari sampai Bertahun-tahun Seterusnya, itu ada dasarnya, sebab pernah dilaksanakan dizaman wafatnya kakaknya Sahabat Nabi Ali ibn Abi Thalib yaitu Jafar ibn Abi Thalib.
2.
🟡Dalil Membakar Wangi-Wangian Dupa
Mengenai dupa atau Bukhur wangi-wangian, 
Membakar dupa itu Sunnah Rasulullah dikala kapan saja dan ada Hadist Pendukungnya.
Rasulullah selama hidupnya setiap detiknya adalah beribadah dan selalu memakai bukhur (dupa wewangian) apakah salah kalau kita beribadah dan bersedekah pahala menggunakan dupa? 
Tentu tidak salah.
Sebab...
sesungguhnya Nabi Muhammad SAW menyukai bau wangi dan menyukai minyak wangi dan beliau pun sering memakainya." 
(Kitab Bulghat ath-Thullab halaman 53-54).
Kemudian dalil menyalakan dupa atau bahasa arabnya disebut bukhur adalah sebagai berikut :
Ini salahsatu dalil membakar dupa (bukhur) :
ان بن عمر إذا استجمر استجمر بالوة غير مطراة أو بكأفور يطرحه مع الألوة ثم قال هكذا كان يستجمررسول الله صلى الله عليه وسلم
Artinya :
Apabila Ibnu Umar beristijmar (membakar dupa) maka beliau beristijmar dengan uluwah yang tidak ada campurannya, dan dengan kafur yang dicampur dengan uluwah, kemudian beliau berkata: "Seperti inilah Rasulullah SAW beristijmar"
(HR. An-Nasa'i No. 5152)
...
Dupa(Bukhur) selalu dipakai Rasulullah selama hidupnya termasuk saat beribadah, dan mengirim doa pahala termasuk Ibadah jadi silahkan dimanfaatkan dupa atau bukhur sebagai pewangi dalam kehidupan harian atau saat ibadah kita.
-----------------------------------
#Jadi dapat kita simpulkan bahwa apa yang para ulama Ahlu Sunnah ataupun leluhur kita amalkan bersedekah makanan atau barang itu utk pahala kepada Almarhum sewaktu peringatan meninggal, itu ada dasar Syariat Islamnya.
Jadi sangat jelas Ini AJARAN RASULULLAH.
Wassalam.
Alfaqir Randy Ibrahim Bafagih

 


Sunday, October 23, 2022

Dalil - Dalil Maulid Nabi Muhammad Saw. Adalah Shalawat Kecintaan & Manaqib Rasulullah


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sebagai peringatan, Maulid telah menjadi Pro & Kontra dikalangan Muslim, padahal memperingati Maulid Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam ada Dalilnya.

Mari kita bahas satu-persatu.

Maulid Nabi Muhammad adalah sebagai Shalawat maka telah melaksanakan perintah ALLAH SWT dalam firmannya :

Bismillahirrahmanirrahim

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

 "Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai

 orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan

ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". (Qs.Al-Ahzab 33:56)

I.    Perayaan Maulid Nabi

membahas sejarah, Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kaukabri ibn Zainuddin Ali bin Baktakin(l. 549 H. w.630 H.) seorang raja berfaham Ahlu Sunnah wal Jama’ah, menurut Imam Jalaluddin Al-Suyuthi dalam Kitabnya Al-Hawi lil Fatawa, bahwa raja tersebut tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW ini dengan perayaan yang meriah luar biasa.

Dalam hal ini beliaulah raja pertama yang merayakan bukanlah berarti sebelumnya tidak ada yang merayakan, akan tetapi sebelumnya dilaksanakan juga, hanya saja tidak besar-besaran sebagaimana perayaan Maulid Nabi secara besar-besaran yang dilaksanakan dizaman Raja Al-Mudhaffar.

II.   Penjelasan Ulama Ahli Hadits dari Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

Kemudian Imam Jalaluddin AsSuyuti berkata dalam kitab Al-Hawi : "Menurut saya asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur'an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu tergolong bid'ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad SAW yang mulia"

III. Sahabat Khulafaur Rasyidin Memperingati Maulid Nabi

Dan telah  berkata Sahabat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yaitu sumber dari Kitab anni’matul kubro ‘alaaal-’aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii, sebagai berikut :

·         Telah berkata Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq RA. :

قَالَ أَبُوْ بَكْرِ نِالصِّدِّيْقَ :«نْ اَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلٰى قِرَاۤءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ  كَانَ رَفِقِيْ فِي الْجَنَّةِ»

 Artinya:

“Barangsiapa yang menafkahkan satu dirham bagi menggalakkan bacaan Maulid Nabi saw., maka ia akan menjadi temanku di dalam syurga.”

·         Telah berkata Sayyidina‘ Umar bin Khattab al-Furqan RA. :

قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ : مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ قَدْ أَحْيَا اْلإِسْلاَمَ»

Artinya:

“Siapa yang membesarkan (memuliakan) majlis maulid Nabi saw. maka sesungguhnya ia telahmenghidupkan Islam.”

·         Telah berkata Sayyidina Utsman bin ‘Affan Dzun-Nuraini RA. :

قَالَ عُثْمَانُ ابْنُ عَفَّانَ مَنْ اَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلٰى قِرَاۤءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ  فَكَأَنَّمَا شَهِدَ غَزْوَةَ بَدْرٍ وَ حُنَيْنٍ»

Artinya:

“Siapa yang menafkahkan satu dirham untuk majlis membaca maulid Nabi saw. maka seolah-olah ia menyaksikan peperangan Badar dan Hunain”

·         Dan telah  berkata Sahabat sekaligus menantu Rasulullah, yaitu Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib RA. :

قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طَالِبٍ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ: «مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ  وَكَانَ سَبَابًا لِقِرَاۤءَتِهِ لاَ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ بِاْلإِيْمَانِ وَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ»

Artinya:

“Siapa  yang  membesarkan  majelis  maulid Nabi  Saw.  dan karenanya  diadakan majelis  membaca  maulid,  maka  dia  tidak  akan keluar  dari dunia melainkan  dengan  keimanan  dan  akan  masuk  ke  dalam  syurga  tanpa hisab”.

 (kitab fiqih anni’matul  kubra  ‘alal-’alam  fii  maulid  sayyidi waladi adam karya

Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii).

IV.   Israa Mi’raj menjelaskan mengenai Shalawat dalam Maulid

 “Rasulullah SAW bersabda :

Ketika aku diperjalankan pada malam hari untuk mikraj ke langit, aku melihat ada malaikat yang memiliki seribu tangan dan di setiap tangannya terdapat seribu jari jemari. Ketika ia sedang menghitung setiap tetesan hujan yang diturunkan dari langit ke bumi, aku bertanya kepadanya, "Apakah kamu mengetahui jumlah tetesan hujan yang diturunkan dari langit ke bumi sejak Allah SWT menciptakan dunia? "Ya Rasulullah, demi Allah SWT yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran kepada makhluk-Nya, aku tidak hanya mengetahui setiap tetesan hujan yang turun dari langit ke bumi, tetapi aku juga mengetahui secara rinci berapa jumlah tetesan hujan yang jatuh di lautan, di daratan, di bangunan, di perkebunan, di daratan yang bergaram, dan  di pekuburan. Rasulullah SAW bersabda kembali, "Aku sangat kagum akan kemampuan hafalan dan ingatanmu dalam perhitungan."Malaikat berkata kembali, "Ya Rasulullah, ketahuilah bahwa ada yang tak sanggup aku hafal dan  mengingatnya melalui perhitungan tangan dan jari jemariku ini.

"Rasulullah SAW bertanya,"Perhitungan apakah itu?

"Malaikat menjawab, "Aku tidak sanggup menghitung jumlah pahala shalawat yang disampaikan oleh sekelompok umatmu ketika namamu disebut di suatu majelis."

(kitab hadist minhajul abidin, kasyful gummah, kasyful ghaibiyah & daqa' iqul akhbar.)

V.     Lebih menguatkan lagi Dalil-dalil lainnya yang memperbolehkan melakukan perayaan Maulid Nabi s.a.w.

1.    Anjuran bergembira atas rahmat dan karunia Allah kepada kita. Allah SWT berfirman:

Bismillahirrahmanirrahim

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan

(QS.Yunus 10:58)

Sesungguhnya memperingati Maulid adalah bergembira karena lahirnya Nabi Muhammad.

2. Rasulullah SAW sendiri mensyukuri atas kelahirannya. Dalam sebuah Hadits dinyatakan: 

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم 
"Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku". (H.R. Muslim, Abud Dawud, Tirmidzi, Nasa'I, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah dan Baghawi).

Kita pun mensyukurinya dengan memperingati Maulid Nabi. Sesungguhnya memperingati Maulid adalah sebab lahirnya Nabi Muhammad.

3. Diriwayatkan dari Imam Bukhari bahwa Abu Lahab setiap hari senin diringankan siksanya dengan sebab memerdekakan budak Tsuwaybah sebagai ungkapan kegembiraannya atas kelahiran Rasulullah SAW. Jika Abu Lahab yang non-muslim dan al-Qur'an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW.

4. dalam maulid dibacakan Shalawat dan kisah Nabi Muhammad, sebagaimana ayat ini

Bismillahirrahmanirrahim.
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ۝

Artinya :

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.

(Qs.Hud 11:120)

5. Sahabat Abbas Ra. memuliakan hari kelahiran Nabi Saw dengan membaca syair Maulid dihadapan Nabi Saw, dalam suatu riwayat Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra :

“Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab:

“silahkan..,maka ALLAH akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)

6. Abu Lahab yang ternyata kafir saja diringankan siksanya karena dahulu pernah bergembira memperingati lahirnya Nabi Muhammad,

Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw”

(Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431).

Abu lahab yang kafir saja diringankan siksanyadi Neraka, apalagi bagi Muslim yang nyata sudah Islam.

7. Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian Maulid di masjid.

Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul”

(shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)

8. dibangkitkannya Rasul(Maulid) dikalangan orang-orang mukmin,  Berkata

Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :

Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata :

“hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman ALLAH SWT :

Bismillahirrahmanirrahim.

لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Artinya :

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

(Qs.Ali Imran 3:164)

9. Mengenai tatacara pelaksanaanya berbeda-beda ditiap muslim, ada yang melalui pembacaan maulid hingga bersedekah, Maulid diwajibkan karena merupakan Shalawat, sementara tatacara pelaksanaannya yang berbeda-beda ini termasuk Bid’ah Hasanah atau hal baru yang baik dizaman ini, (penjelasan dari blog salafytobat) Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi Saw. Dan sebagaimana penjelasan

Al-Imam al-Hujjah al-Hafiz Jalaluddin as-Suyuthi:

Di dalam kitab beliau, al-Hawi lil Fatawa, beliau telah meletakkan satu bab yang dinamakan Husnul Maqsad fi ‘Amalil Maulid, halaman 189, beliau mengatakan: Telah ditanya tentang amalan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم pada bulan Rabiul Awal, apakah hukumnya dari sudut syara’? Adakah ia dipuji atau dicela? Adakah pelakunya diberikan pahala atau tidak?

Dan jawabannya di sisiku: Bahawasanya asal kepada perbuatan maulid, yaitu mengadakan perhimpunan orang ramai, membaca al-Quran, sirah Nabi dan kisah-kisah yang berlaku pada saat kelahiran baginda dari tanda-tanda kenabian, dan dihidangkan jamuan, dan bersurai tanpa apa-apa tambahan daripadanya, ia merupakan bid’ah yang hasanah yang diberikan pahala siapa yang melakukannya karena padanya mengagungkan kemuliaan Nabi صلى الله عليه وسلم dan menzahirkan rasa kegembiraan dengan kelahiran baginda yang mulia.

 

Sekian pembahasan kami, semoga bermanfaat.

Amin

(penulis : randy ibrahim bafagih -LQBBS : www.baalwibafagih.org)


adsarticles

Tuesday, October 11, 2022

Gerakan Menghafal dan Mempelajari Silsilah Nasab Tahun ke-5 - Dalil Wajibnya Menghafal Silsilah!!!


 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Mempelajari Nasab & Mengingat Atau Menghafalnya Adalah Salahsatu Kewajiban Ummat Umumnya & Dzurriyaturrasul Pada Khususnya.

Kita telah sampai pada tahun ke-5, setelah dicanangkan event Gerakan Menghafal dan Mempelajari Nasab Silsilah  pada tahun 2017 oleh Ba'alwi Bafagih Sulawesi. baca post 2017 : https://bit.ly/3rL7iuL

Diharapkan Melalui Gerakan Ini, Setiap Dzurriyaturrasul Yang Kurang Peduli Atau Belum Menghafal Atau Mempelajari Silsilahnya Bisa Tergerak Untuk Menghafal & Mempelajari Silsilah. Memahami Silsilah Adalah Wajib, Hingga Ada Istilah : "Kafir Bila Tak Tahu Silsilahnya". Hal ini karena ada dalil dasarnya, sebagai berikut.

Mengenai wajibnya menghafal & mempelajari silsilah nasab terdapat dalil-nya dalam Kitab Sejarah Silsilah & Gelar Keturunan Nabi Muhammad Saw. (H.S Aydrus Alwi Al-Masyhur) Halaman 4, yaitu sebagai berikut :

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Saw. bersabda :

"Pelajarilah silsilah nasab kalian, agar kalian mengenali hubungan darah kalian". 

(Al-Anbah Ala Qabail Al-Ruwah, Hal 51)

Berkata Umar bin Khattab :

"Pelajarilah silsilah nasab kalian , janganlah seperti kaum Nabat hitam jika salah satu di antara mereka ditanya dari mana asalnya, maka ia berkata dari desa ini ".

.(Al-Anbah Ala Qabail Al-Ruwah, Hal 51)

Diriwayatkan dari Rasulullah Saw: 

"Telah Kafir bagi siapa saja yang berlepas diri dari urusan nasab jika hal tersebut samar-samar. Dan telah kafir bagi siapa saja yang menyambungkan nasabnya kepada nasab yang tidak diketahuinya". 

(Al-Anbah Ala Qabail Al-Ruwah, Hal 55)

kemudian Pengarang kitab al-Iqdu al-Farid, Abdul al-Rabbih berkata :

‘ Siapa yang tidak mengenal silsilah nasabnya berarti ia tidak mengenal manusia, maka siapa yang tidak mengenal manusia tidak pantas baginya kembali kepada manusia.

Begitulah dalil wajibnya menghafal & mempelajari silsilah.

Semoga semakin bersemangat untuk menghafal & mempelajari silsilah.


Friday, May 17, 2019

Hakikat Puasa

    

HAKIKAT PUASA

Sejatinya, puasa bagi kaum sufi telah menjadi salah satu aktivitas ruhani untuk menghidupkan hati dan membuka tabir-tabir makrifat. Mereka terbiasa dengan lelaku (tirakat) di luar kebiasaan manusia kebanyakan. Semakin dalam pemaknaan suatu perintah atau anjuran, maka kesungguhan dalam menjalankannya pun akan meningkat. Walhasil, nilai yang dihasilkannya akan lebih mendalam dan mengakar karena puncak tujuan mereka tidak lain adalah al-Haqq, Allah SWT.

Puasa berarti menahan lapar. Terma lapar atau al-Ju dalam konstelasi ruhani kaum sufi menjadi satu tahapan olah batin yang sangat penting. Kelaparan yang mereka jalani tidak lantas menentang sunnatullah, tetapi menyedikitkan makan sekadar sebagai bekal untuk kekuatan ibadah.

Bukankah Rasulullah SAW telah mengingatkan, "Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya. Maka, cukup baginya memakan beberapa suapan sekadar untuk menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga). Jika tidak sanggup, maka dia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sepertiga untuk nafasnya."

Isyarat hadits di atas tidak menganjurkan kita untuk meninggalkan makanan secara ekstrim, tetapi mengkonsumsi makanan sekadar memberikan kekuatan dalam menegakkan ibadah kepada Allah SWT. Dan lapar dalam puasa, berarti ada masa di mana kita menahan makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan berdasarkan ketentuan fikih setelah fajar menyingsing hingga terbenamnya matahari yang ditandai dengan adzan magrib.

Dengan lapar ini para sufi mencoba berdamai dengan tubuh. Kesadaran bahwa makanan bukanlah satu-satunya hal yang membuat mereka hidup telah tertanam dalam batinnya. Mereka benar-benar menginsafi lapar baik melalui menyedikitkan makanan, maupun saat puasa ini akan menekan syahwat kebinatangan mereka, sekaligus mempersempit jalan setan dalam darah manusia. Seperti ungkapan hadis Nabi SAW, "Sesungguhnya setan itu menyusup dalam aliran darah manusia, karena itu persempitlah jalan masuknya dengan lapar (puasa)."

Puasa Ramadhan melatih hampir semua umat Muhammad dalam berbagai tingkatan kesalehan untuk berpuasa menahan lapar dan dahaga. Tidak hanya itu, puasa Ramadhan juga menjadi pelindung dari setan.
Seperti ungkapan Imam al-Bujairami yang mengutip pendapat Imam Asy-Syarani: "Barangsiapa sempurna laparnya pada bulan Ramadhan, dia akan terlindungi dari setan yang terkutuk hingga Ramadhan berikutnya. Karena puasa adalah perisai yang melindungi tubuh seseorang yang berpuasa selama tidak dirusak oleh sesuatu pun. Apabila ia rusak maka setan pun masuk melalui tempat yang rusak itu."
Maka dari itu, untuk memberikan kualitas terbaik dalam lapar-puasa Ramadhan, kita pun perlu mengenali beragam perilaku yang merusak puasa. Puasa dan laparnya melampaui aspek lahiriahnya. Puasanya mengekang gerak tubuh dari perbuatan tercela dan dosa 
Di antara hal-hal yang merusak puasa seperti disebutkan dalam hadis Nabi SAW yang bersumber dari Jabir dari Anas ra. "Lima perkara yang membatalkan puasa, yaitu: berkata dusta, menggunjing orang lain, mengadu domba, sumpah palsu, dan pandangan dengan syahwat".


Sehingga makna puasa bagi kaum sufi bukan sekedar menahan dahaga dan lapar di siang hari, namun hakikat puasa bagi mereka menahan gerak anggota tubuh dari apa yang diharamkan, bahkan mereka menjaga khatar gerak hati mereka dari lalai mengingat Allah (al-Aghyar).



Monday, August 6, 2018

Mewaspadai Generasi Ibnu Muljam



MEWASPADAI GENERASI IBNU MULJAM
================================

Ali bin ABi Thalib gugur sebagai syahid pada waktu subuh tanggal 7 Ramadhan akibat tebasan pedang salah seorang anggota sekte Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam Al Murodi. Uniknya sang pembunuh ini melakukan aksinya sambil berkata,

“Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”

Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksi bejadnya ini Ibnu Muljam juga tidak berhenti mulutnya mengulang-ulang ayat 207 surat Al Baqarah yang artinya,

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Tatkala khalifah Ali bin ABi Thalib akhirnya gugur, Ibnu Muljam pun dieksekusi mati dengan cara diqishas. Proses qishasnya pun bisa membuat kita tercengang karena saat tubuhnya telah diikat untuk dipenggal kepalanya, ia masih sempat berpesan kepada algojo yang mendapat tugas melakukan eksekusi,

“Jangan penggal kepalaku sekaligus. Tapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”

Demikianlah keyakinan Ibnu Muljam yang berpendapat bahwa membunuh Ali bin Abi Thalib yang nota bene salah satu sahabat yang dijamin masuk surga, menantu (suami Sayyidah Fathimah) dan saudara sepupu Rasulullah dan ayah dari Hasan dan Husein, dua pemimpin pemuda ahli surga, sebagai tindakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Aksi yang dilakukan oleh Ibnu Muljam ini adalah realitas pahit yang kita lihat pada kehidupan ummat Islam sekarang dimana diantara para pemuda kita terdapat kelompok yang giat melakukan provokasi untuk membunuh kaum muslimin yang tidak berdosa. Kelompok ini menggunakan intimidasi dan aksi kekerasan sebagai strategi perjuangan mereka. Merekalah yang pada raut wajahnya memancarkan hidayah dan mereka juga senantiasa membaca Al Qur’an di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi sebab karakteristik mereka tepat sebagaimana sinyalemen yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah hadits yang artinya,

“Akan ada para lelaki yang membaca Al Qur’an tanpa melampaui tulang selangka mereka. Mereka telah keluar dari agama laksana keluarnya anak panah dari busur.”

Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin.

Ibnu Muljam sejatinya adalah figur lelaki yang shalih, zahid dan bertaqwa. Bukan lelaki bengal yang buta sama sekali terhadap ilmu agama. Di wajahnya terlihat dengan nyata jejak sujud. Ia juga hapal Al Qur’an dan sekaligus sebagai guru yang berusaha mendorong orang lain untuk menghapalkannya. ‘Umar bin Khatthab pernah menugaskannya ke Mesir demi mengabulkan permohonan ‘Amr bin ‘Ash yang memohon kepada beliau untuk mengirim ke Mesir figur yang hafal Al Qur’an untuk mengajarkannya kepada penduduk Mesir. Tatkala ‘Amr bin ‘Ash meminta,

“Wahai amirulmukminin, kirimkanlah kepadaku lelaki yang hafal Al Qur’an untuk mengajari penduduk Mesir, “

‘Umar menjawab, “Saya mengirimkan untukmu seorang lelaki bernama Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Al Qur’an yang aku prioritaskan untukmu dari pada untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al Qur’an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia...!.”

Meskipun Ibnu Muljam hafal Al Qur’an, bertaqwa dan rajin beribadah namun semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya dan berafiliasi dengan sekte Khawarij yang telah meracuni para pemuda muslim sehingga melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam namun justru mengklaim semua itu dalam rangka membela ajaran Allah dan Rasulullah.

Bercermin dari figur Ibnu Muljam tentu kita tidak perlu merasa aneh jika sekarang muncul kelompok-kelompok ekstrim yang mudah memvonis kafir terhadap sesama muslim yang berbeda pandangan melakukan tindakan yang sama persis dilakukan oleh Ibnu Muljam. Mereka mengklaim berjuang menegakkan agama Allah namun faktanya justru menebar ketakutan kepada ummat Islam dan menciptakan konflik internal berdarah-darah yang membuat mustahil membangun persatuan sesama kaum muslimin.

Oleh karena itu menjadi tugas bersama para ulama dan umaro’ untuk membentengi kaum muslimin di Indonesia dari ide-ide keagamaan destruktif yang dikembangkan oleh generasi pewaris Abdurrahman bin Muljam dan untuk berusaha keras menghalangi siapapun yang ingin menjadikan Indonesia sebagai ladang subur bagi tumbuhnya kelompok-kelompok khawarij modern (Neo Khawarij) yang militan namun miskin ilmu.

Wallahu A’lam.

#Salam_Aswaja
#NKRI_HARGA_MATI

Saturday, June 9, 2018

kisah Haru mimpi habib umar bin Hafidz

Ini sebuah kisah yang diutarakan Habibina Umar Al-Hafidz Ulama’ Tarim Hadramaut, Yaman, kepada murid-muridnya (dalam bahasa Arab) saat menjelaskan tentang hal ikhwal mimpinya hingga membuat sang guru ini terkaget dan ta’jub.

Berceritalah kepada murid-murid oleh sang guru Habib Umar bin Hafidzh, bahwa beliau pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, sehingga Habib Umar bin Hafidz berbincanglah dengan Rasulullah SAW.

Habib Umar : “Yaa Rasulullah sedang apa disini?”

Rasulullah SAW menjawab : “Aku sedang menunggu cucuku yang sangat aku rindukan.”

Habib Umar : “Siapa Yaa Rasulullah?”

Tidak lama kemudian datanglah seseorang dengan menunggangi seekor kuda putih, berjubah putih berpakaian serba putih. Orang yang ditunggu oleh Rasulullah SAW pun datang, ternyata yang Habib Umar Bin Hafidzh lihat adalah Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab.

Rasulullah SAW berkata : “Yaa Umar, ini dia Cucuku yang sangat aku rindukan, dialah singaku, salah satu dari semua cucuku yang menegakan Syariat Islam, amar ma’ruf nahi mungkar dan ditakuti oleh musuh-musuhnya”.

Lalu kemudian Habib Umar pun terbangun dari mimpinya yang sempat membuatnya meneteskan air mata, setelah itu lalu Beliau pun melaksanakan sholat Tahajud. Subhanallah..

Semua habaib dan Ahlulbait Nabi adalah cucu Rasulullah SAW, hanya saja dalam keterangan dari al-musnid Habib Umar bin Hafidzh dalam mimpinya ini, bahwa dari semua cucu Rasulullah SAW yang paling ditunggu-tunggu ialah Habib Rizieq bin Husein Syihab (Imam Besar FPI). 

Terlepas benar atau tidak kisah mimpi Habib Umar ini dikembalikan pada sumber yang tertulis di bawah artikel. Wallohuá’lam bissawab.

Tapi apabila mimpi itu benar, timbul pertanyaan, mengapa demikian?
Itu mungkin karena dialah satu-satunya cucu Rasulullah SAW yang paling proaktif menegakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan membela syariat agama yang Rasulullah bawakan. 


Subhanallah… Sungguh semakin bertambah-tambah rasa kagum kiita kepadanya. Mungkin tidak berlebihan rasanya bila kita menghormati yang mulia para habaib yang Ahlulbait Nabi sehingga ia ditunggu-tunggu kedatangannya oleh Baginda Nabi SAW, karena seorang yang tegas terhadap agamanya.

Dan kedua habaib ini mungkin patut disebut mewarisi dari sifat Sahabat mulia Rasulillah yaitu Sayidina Abu Bakar As-Siddiq kepada Habib Umar bin Hafidzh dan Sayidina Umar bin Khattab kepada Habib Reziq bin Husen Syihab. 

Semoga saja kedua habaib ini diberikan panjang umur dan sehat selalu, Habib Umar dapat memberikan dakwah dan tausiahnya kepada umat yang menyejukan sedangkan Habib Reziq dapat memberikan menyadarkan umat dengan ketegasannya dalam menegakkan dan membela agama yang haq ini. 

Amin amin amin ya Rabbal alamin. (mf) 

Sumber : 
Daralmukarramah.wordpress

Nasihat

Lembaga Qabilah Ba'alwi Bafagih Sulawesi(LQBBS) berdiri untuk Penjagaan Fiqih, Aqidah, Amalan Shalawat, Nasab Sayyid dan Kafa'ah Syarifah serta Kasih Sayang dalam Keluarga

yuk ngobrol atau say hai, klik tombol buku tamu

Struktur Pengelola(Admin)Website Ini

Randy Ibrahim Bafagih (Alfaqir Bafaqih)_____ Sayyid Muh Zalsabil Bafaqih

Pengunjung Website

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms

adsfeed