📿Dalil Dasar Baca-baca Doa (Kirim Pahala) untuk Almarhum(Makanan Atau Barang-Barang), Dan Dalil Membakar Wangi-wangian Dupa Bukhur 📿
Baca Doa (Kirim Pahala) untuk Almarhum/ah, maupun Dalil Tahlilan Haul dan Membakar Bukhur Dupa itu ada dalil dasarnya bagi yang faham, dan bagi yang tidak faham maka menganggap semua itu tidak ada dasar dalilnya, sebaiknya kita bahas dan kita luruskan sesuai dalil dasar hukum yang ada.
amalan ini dengan cara, membaca doa
niatan untuk mengirimkan pahala dari makanan yang disajikan untuk tamu, yang
mana pahalanya dikirimkan kepada Almarhum/ah (Doa Arwah), dizaman Nabi, doa arwah yaitu mengirimkan pahala kepada Almarhum/ah, diamalkan berupa memberikan hasil kebun
kurma kepada orang lain dan pahala dari ini diniatkan utk dikirimkan pahalanya
almarhum/ah.
🟡I. Baca-baca Pahala Untuk Almarhum & Tahlil Haul.
1. Baca-baca Pahala Untuk Almarhum
Baca doa yang pahalanya diniatkan untuk Almarhum Itu Di AJARKAN NABI!.
Misalnya baca doa untuk makanan atau barang2 yang pahalanya dikirim untuk
Almarhum, ini ada Hadistnya,
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya
ada seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia
mengatakan,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّىَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ
وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ
عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ »
Artinya :
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibuku tiba-tiba saja meninggal dunia dan tidak
sempat menyampaikan wasiat padaku. Seandainya dia ingin menyampaikan wasiat,
pasti dia akan mewasiatkan agar bersedekah untuknya. Apakah Ibuku akan mendapat
pahala jika aku bersedekah untuknya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab, “Iya”.(Muttafaqu ‘alaih).
.............
lalu ada lagi =
hadits dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ – رضى الله عنه – تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهْوَ غَائِبٌ
عَنْهَا ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ
عَنْهَا ، أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ » .
قَالَ فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا
Artinya :
"Sesungguhnya Ibu dari Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal
dunia, sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sampingnya. Kemudian Sa’ad
mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan
aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku
menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku
sedekahkan untuknya’.”
Berhubung kita tidak punya banyak kebun, kemudian makanan atau barang-barang
sebagai sedekahnya untuk dikirimkan pahala.
⚪kemudian ada lagi hadist serupa yaitu...
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّ أَبِـيْ مَاتَ وَتَـرَكَ مَالًا، وَلَـمْ يُـوْصِ، فَهَلْ
يُـكَـفّـِرُ عَنْـهُ أَنْ أَتـَصَدَّقَ عَنْـهُ؟ قَالَ: نَـعَمْ.
“Sesungguhnya ayahku meninggal dunia dan meninggalkan harta, tetapi ia tidak
berwasiat. Apakah (Allâh) akan menghapuskan (kesalahan)nya karena sedekahku
atas namanya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.”
Shahîh. HR Muslim (no. 1630), Ahmad (II/371), an-Nasa-i (VI/252), dan
al-Baihaqi (VI/278)
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma :
أَنَّ سَعْـدَ بْنَ عُـبَـادَةَ -أَخَا بَـنِـيْ سَاعِدَةِ- تُـوُفّـِيَتْ
أُمُّـهُ وَهُـوَ غَـائِـبٌ عَنْهَا، فَـقَالَ: يَـا رَسُوْلَ اللّٰـهِ! إِنَّ
أُمّـِيْ تُـوُفّـِيَتْ، وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا، فَهَلْ يَنْـفَعُهَا إِنْ
تَصَدَّقْتُ بِـشَـيْءٍ عَنْهَا؟ قَـالَ: نَـعَمْ، قَالَ: فَـإِنّـِيْ أُشْهِـدُكَ
أَنَّ حَائِـطَ الْـمِخْـرَافِ صَدَقَـةٌ عَلَـيْـهَا.
Bahwasanya Sa’ad bin ‘Ubadah –saudara Bani Sa’idah– ditinggal mati oleh ibunya,
sedangkan ia tidak berada bersamanya, maka ia bertanya, “Wahai Rasûlullâh!
Sesungguhnya ibuku meninggal dunia, dan aku sedang tidak bersamanya. Apakah
bermanfaat baginya apabila aku menyedekahkan sesuatu atas namanya?” Beliau
menjawab, “Ya.” Dia berkata, “Sesungguhnya aku menjadikan engkau saksi bahwa
kebun(ku) yang berbuah itu menjadi sedekah atas nama ibuku.”
(HR al-Bukhari (no. 2756), Ahmad (I/333, 370), Abu Dawud (no. 2882),
at-Tirmidzi (no. 669), an-Nasa-i (VI/252-253), dan al-Baihaqi (VI/ 278)).
☑️
............
Berhubung kita tidak punya banyak kebun, kemudian makanan atau barang-barang
sebagai sedekahnya untuk dikirimkan pahala
....
II. Dalil Tahlilan Haul & Memberikan Sajian Makanan Bagi Hadirin
Pada dasarnya Tahlilan Haul, ada dalilnya bagi yang faham dan menganggap tak
ada dalil nya bagi yang tidak faham, mari kita bahas dasar dalilnya mengapa
Tahlilan Haul itu Seharusnya di Laksanakan,
Dalil tahlilan Jumlah Hari 3, 7, 25, 40, 100, 360 (setahun) & 1000 hari
bersumber dari kitab Ahlu Sunnah wal Jama'ah dan bukan kitab dari agama agama lain.
قال النبي صلى الله عليه وسلم الدعاء والصدقة هدية إلى الموتى وقال عمر : الصدقة
بعد الدفنى ثوابها إلى ثلاثة أيام والصدقة فى ثلاثة أيام يبقى ثوابها إلى سبعة
أيام والصدقة يوم السابع يبقى ثوابها إلى خمس وعشرين يوما ومن الخمس وعشرين إلى
أربعين يوما ومن الأربعين إلى مائة ومن المائة إلى سنة ومن السنة إلى ألف عام
Rasulullah saw bersabda: "Doa dan shadaqah yg dihadiahkan kepada
mayyit." Berkata Umar : "shodaqoh setelah kematian maka pahalanya
sampai tiga hari dan shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai
tujuh hari, dan shodaqoh tujuh hari akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan
dari pahala 25 sampai 40 harinya akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari
akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu
hingga 1000 hari."
Kemudian Ini Dasar Tahlil 3 Malam disertai bersama-sama makan.
Berkumpul mengirim doa adalah bentuk shadaqoh (Tahlil) buat Almarhum/ah.
فلما احتضرعمر أمر صهيبا أن يصلي بالناس ثلاثة أيام ، وأمر أن يجعل للناس طعام ،
فيطعموا حتى يستخلفوا إنسانا ، فلما رجعوا من الجنازة جئ بالطعام ووضعت الموائد !
فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم فيه ، فقال العباس بن عبد المطلب : أيها الناس إن
رسول الله صلى الله عليه وسلم قد مات فأكلنا بعده وشربنا ومات أبو بكر فأكلنا بعده
وشربنا وإنه لابد من الاجل فكلوا من هذا الطعام ، ثم مد العباس يده فأكل ومد الناس
أيديهم فأكلوا
Ketika Umar sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin
shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih
seseorang, maka ketika hidangan – hidangan ditaruhkan, orang – orang tak mau
makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib : Wahai
hadirin.. sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum
setelahnya, lalu wafat Abubakar dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal
itu adalah hal yang pasti, maka makanlah makanan ini..!”, lalu beliau
mengulurkan tangannya dan makan, maka orang – orang pun mengulurkan tangannya
masing – masing dan makan.
[Al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii
sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqat Al Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4
hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110]
Kemudian mengenai Tahlilan 40 hari sampai Bertahun-tahun Seterusnya, itu ada
dasarnya, sebab pernah dilaksanakan dizaman wafatnya kakaknya Sahabat Nabi Ali
ibn Abi Thalib yaitu Jafar ibn Abi Thalib.
2.🟡Dalil Membakar Wangi-Wangian Dupa
Mengenai dupa atau Bukhur wangi-wangian,
Membakar dupa itu Sunnah Rasulullah dikala kapan saja dan ada Hadist
Pendukungnya.
Rasulullah selama hidupnya setiap detiknya adalah beribadah dan selalu memakai
bukhur (dupa wewangian) apakah salah kalau kita beribadah dan bersedekah pahala
menggunakan dupa?
Tentu tidak salah.
Sebab...
sesungguhnya Nabi Muhammad SAW menyukai bau wangi dan menyukai minyak wangi dan
beliau pun sering memakainya."
(Kitab Bulghat ath-Thullab halaman 53-54).
Kemudian dalil menyalakan dupa atau bahasa arabnya disebut bukhur adalah
sebagai berikut :
Ini salahsatu dalil membakar dupa (bukhur) :
ان بن عمر إذا استجمر استجمر بالوة غير مطراة أو بكأفور يطرحه مع الألوة ثم قال
هكذا كان يستجمررسول الله صلى الله عليه وسلم
Artinya :
Apabila Ibnu Umar beristijmar (membakar dupa) maka beliau beristijmar dengan
uluwah yang tidak ada campurannya, dan dengan kafur yang dicampur dengan
uluwah, kemudian beliau berkata: "Seperti inilah Rasulullah SAW
beristijmar"
(HR. An-Nasa'i No. 5152)
...
Dupa(Bukhur) selalu dipakai Rasulullah selama hidupnya termasuk saat beribadah,
dan mengirim doa pahala termasuk Ibadah jadi silahkan dimanfaatkan dupa atau
bukhur sebagai pewangi dalam kehidupan harian atau saat ibadah kita.
-----------------------------------
#Jadi dapat kita simpulkan bahwa apa yang para ulama Ahlu Sunnah ataupun
leluhur kita amalkan bersedekah makanan atau barang itu utk pahala kepada
Almarhum sewaktu peringatan meninggal, itu ada dasar Syariat Islamnya.
Jadi sangat jelas Ini AJARAN RASULULLAH.
Wassalam.
Alfaqir Randy Ibrahim Bafagih










