Showing posts with label Manaqib dan Nasihat. Show all posts
Showing posts with label Manaqib dan Nasihat. Show all posts

Sunday, October 23, 2022

Dalil - Dalil Maulid Nabi Muhammad Saw. Adalah Shalawat Kecintaan & Manaqib Rasulullah


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sebagai peringatan, Maulid telah menjadi Pro & Kontra dikalangan Muslim, padahal memperingati Maulid Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam ada Dalilnya.

Mari kita bahas satu-persatu.

Maulid Nabi Muhammad adalah sebagai Shalawat maka telah melaksanakan perintah ALLAH SWT dalam firmannya :

Bismillahirrahmanirrahim

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

 "Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai

 orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan

ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". (Qs.Al-Ahzab 33:56)

I.    Perayaan Maulid Nabi

membahas sejarah, Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kaukabri ibn Zainuddin Ali bin Baktakin(l. 549 H. w.630 H.) seorang raja berfaham Ahlu Sunnah wal Jama’ah, menurut Imam Jalaluddin Al-Suyuthi dalam Kitabnya Al-Hawi lil Fatawa, bahwa raja tersebut tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW ini dengan perayaan yang meriah luar biasa.

Dalam hal ini beliaulah raja pertama yang merayakan bukanlah berarti sebelumnya tidak ada yang merayakan, akan tetapi sebelumnya dilaksanakan juga, hanya saja tidak besar-besaran sebagaimana perayaan Maulid Nabi secara besar-besaran yang dilaksanakan dizaman Raja Al-Mudhaffar.

II.   Penjelasan Ulama Ahli Hadits dari Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

Kemudian Imam Jalaluddin AsSuyuti berkata dalam kitab Al-Hawi : "Menurut saya asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur'an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu tergolong bid'ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad SAW yang mulia"

III. Sahabat Khulafaur Rasyidin Memperingati Maulid Nabi

Dan telah  berkata Sahabat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yaitu sumber dari Kitab anni’matul kubro ‘alaaal-’aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii, sebagai berikut :

·         Telah berkata Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq RA. :

قَالَ أَبُوْ بَكْرِ نِالصِّدِّيْقَ :«نْ اَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلٰى قِرَاۤءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ  كَانَ رَفِقِيْ فِي الْجَنَّةِ»

 Artinya:

“Barangsiapa yang menafkahkan satu dirham bagi menggalakkan bacaan Maulid Nabi saw., maka ia akan menjadi temanku di dalam syurga.”

·         Telah berkata Sayyidina‘ Umar bin Khattab al-Furqan RA. :

قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ : مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ قَدْ أَحْيَا اْلإِسْلاَمَ»

Artinya:

“Siapa yang membesarkan (memuliakan) majlis maulid Nabi saw. maka sesungguhnya ia telahmenghidupkan Islam.”

·         Telah berkata Sayyidina Utsman bin ‘Affan Dzun-Nuraini RA. :

قَالَ عُثْمَانُ ابْنُ عَفَّانَ مَنْ اَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلٰى قِرَاۤءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ  فَكَأَنَّمَا شَهِدَ غَزْوَةَ بَدْرٍ وَ حُنَيْنٍ»

Artinya:

“Siapa yang menafkahkan satu dirham untuk majlis membaca maulid Nabi saw. maka seolah-olah ia menyaksikan peperangan Badar dan Hunain”

·         Dan telah  berkata Sahabat sekaligus menantu Rasulullah, yaitu Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib RA. :

قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طَالِبٍ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ: «مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ  وَكَانَ سَبَابًا لِقِرَاۤءَتِهِ لاَ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ بِاْلإِيْمَانِ وَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ»

Artinya:

“Siapa  yang  membesarkan  majelis  maulid Nabi  Saw.  dan karenanya  diadakan majelis  membaca  maulid,  maka  dia  tidak  akan keluar  dari dunia melainkan  dengan  keimanan  dan  akan  masuk  ke  dalam  syurga  tanpa hisab”.

 (kitab fiqih anni’matul  kubra  ‘alal-’alam  fii  maulid  sayyidi waladi adam karya

Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii).

IV.   Israa Mi’raj menjelaskan mengenai Shalawat dalam Maulid

 “Rasulullah SAW bersabda :

Ketika aku diperjalankan pada malam hari untuk mikraj ke langit, aku melihat ada malaikat yang memiliki seribu tangan dan di setiap tangannya terdapat seribu jari jemari. Ketika ia sedang menghitung setiap tetesan hujan yang diturunkan dari langit ke bumi, aku bertanya kepadanya, "Apakah kamu mengetahui jumlah tetesan hujan yang diturunkan dari langit ke bumi sejak Allah SWT menciptakan dunia? "Ya Rasulullah, demi Allah SWT yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran kepada makhluk-Nya, aku tidak hanya mengetahui setiap tetesan hujan yang turun dari langit ke bumi, tetapi aku juga mengetahui secara rinci berapa jumlah tetesan hujan yang jatuh di lautan, di daratan, di bangunan, di perkebunan, di daratan yang bergaram, dan  di pekuburan. Rasulullah SAW bersabda kembali, "Aku sangat kagum akan kemampuan hafalan dan ingatanmu dalam perhitungan."Malaikat berkata kembali, "Ya Rasulullah, ketahuilah bahwa ada yang tak sanggup aku hafal dan  mengingatnya melalui perhitungan tangan dan jari jemariku ini.

"Rasulullah SAW bertanya,"Perhitungan apakah itu?

"Malaikat menjawab, "Aku tidak sanggup menghitung jumlah pahala shalawat yang disampaikan oleh sekelompok umatmu ketika namamu disebut di suatu majelis."

(kitab hadist minhajul abidin, kasyful gummah, kasyful ghaibiyah & daqa' iqul akhbar.)

V.     Lebih menguatkan lagi Dalil-dalil lainnya yang memperbolehkan melakukan perayaan Maulid Nabi s.a.w.

1.    Anjuran bergembira atas rahmat dan karunia Allah kepada kita. Allah SWT berfirman:

Bismillahirrahmanirrahim

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan

(QS.Yunus 10:58)

Sesungguhnya memperingati Maulid adalah bergembira karena lahirnya Nabi Muhammad.

2. Rasulullah SAW sendiri mensyukuri atas kelahirannya. Dalam sebuah Hadits dinyatakan: 

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم 
"Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku". (H.R. Muslim, Abud Dawud, Tirmidzi, Nasa'I, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah dan Baghawi).

Kita pun mensyukurinya dengan memperingati Maulid Nabi. Sesungguhnya memperingati Maulid adalah sebab lahirnya Nabi Muhammad.

3. Diriwayatkan dari Imam Bukhari bahwa Abu Lahab setiap hari senin diringankan siksanya dengan sebab memerdekakan budak Tsuwaybah sebagai ungkapan kegembiraannya atas kelahiran Rasulullah SAW. Jika Abu Lahab yang non-muslim dan al-Qur'an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW.

4. dalam maulid dibacakan Shalawat dan kisah Nabi Muhammad, sebagaimana ayat ini

Bismillahirrahmanirrahim.
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ۝

Artinya :

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.

(Qs.Hud 11:120)

5. Sahabat Abbas Ra. memuliakan hari kelahiran Nabi Saw dengan membaca syair Maulid dihadapan Nabi Saw, dalam suatu riwayat Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra :

“Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab:

“silahkan..,maka ALLAH akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)

6. Abu Lahab yang ternyata kafir saja diringankan siksanya karena dahulu pernah bergembira memperingati lahirnya Nabi Muhammad,

Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw”

(Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431).

Abu lahab yang kafir saja diringankan siksanyadi Neraka, apalagi bagi Muslim yang nyata sudah Islam.

7. Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian Maulid di masjid.

Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul”

(shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)

8. dibangkitkannya Rasul(Maulid) dikalangan orang-orang mukmin,  Berkata

Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :

Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata :

“hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman ALLAH SWT :

Bismillahirrahmanirrahim.

لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Artinya :

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

(Qs.Ali Imran 3:164)

9. Mengenai tatacara pelaksanaanya berbeda-beda ditiap muslim, ada yang melalui pembacaan maulid hingga bersedekah, Maulid diwajibkan karena merupakan Shalawat, sementara tatacara pelaksanaannya yang berbeda-beda ini termasuk Bid’ah Hasanah atau hal baru yang baik dizaman ini, (penjelasan dari blog salafytobat) Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi Saw. Dan sebagaimana penjelasan

Al-Imam al-Hujjah al-Hafiz Jalaluddin as-Suyuthi:

Di dalam kitab beliau, al-Hawi lil Fatawa, beliau telah meletakkan satu bab yang dinamakan Husnul Maqsad fi ‘Amalil Maulid, halaman 189, beliau mengatakan: Telah ditanya tentang amalan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم pada bulan Rabiul Awal, apakah hukumnya dari sudut syara’? Adakah ia dipuji atau dicela? Adakah pelakunya diberikan pahala atau tidak?

Dan jawabannya di sisiku: Bahawasanya asal kepada perbuatan maulid, yaitu mengadakan perhimpunan orang ramai, membaca al-Quran, sirah Nabi dan kisah-kisah yang berlaku pada saat kelahiran baginda dari tanda-tanda kenabian, dan dihidangkan jamuan, dan bersurai tanpa apa-apa tambahan daripadanya, ia merupakan bid’ah yang hasanah yang diberikan pahala siapa yang melakukannya karena padanya mengagungkan kemuliaan Nabi صلى الله عليه وسلم dan menzahirkan rasa kegembiraan dengan kelahiran baginda yang mulia.

 

Sekian pembahasan kami, semoga bermanfaat.

Amin

(penulis : randy ibrahim bafagih -LQBBS : www.baalwibafagih.org)


adsarticles

Monday, August 14, 2017

Syeikhah Sulthonah

Silsilah Keturunan Syeikhah Sulthonah

Syeikhah Sulthonah binti Ali Az-Zubaidiyah keturunan dari keluarga Az-Zubaidi, mereka adalah bagian dari kabilah Bani Haritsah Al-Kindiah, ada juga yang mengatakan mereka dari kabilah Bani Madzhij.

Syeikhah Sulthonah dilahirkan di perkampungan Al-Urro, yaitu dataran yang membentang dari sebelah timur kampung "Maryamah" hingga ujung Hauthoh yang sekarang dikenal dengan "Hautoh Sulthonah", sekitar 3 mil dari kota Seiyun, perkampungan tersebut dihuni oleh kabilah "Az-Zubaidi" salah satu dari kabilah-kabilah Al-Kindiyah, yang terkenal dengan senjata, kekuatan serta keberaniannya.
Syeikhah Sulthonah tumbuh besar dikeluarga baduwi yang kesehariannya akrab dengan menggembala hewan, dengan kepribadian yang kuat serta sifat-sifat lainnya yang terdapat pada diri penduduk baduwi, walau demikian Sulthonah tidak seperti kebanyakan anak-anak sebayanya, dia tenang dan lebih senang menyendiri dari keramaian teman-teman sebayanya yang bersifat kekanak-kanakan, sehingga ketika usianya berangsur dewasa dia mulai tidak menyukai tradisi kehidupan baduwi yang diwarnai dengan kekerasan dan kedzaliman, selain itu dia juga mulai menyelusuri jalan fitrahnya yang menuntunya kepada iman dan membawanya kepada ketenangan jiwa. Susana malam yang sunyi serta perkampungan yang tenang serta cerita penduduk setempat tentang para Sholihin adalah hal yang sangat membantu pencaharian Sulthonah.

Sejalan dengan perkembangan usianya yang semakin dewasa, pencaharian itu pun semakin mendalam, dia mulai melihat kenyataan kehidupan sosial di Hadhramaut, juga mendengar tentang para ahli ibadah, ahli zuhud serta para ulama atqia dan shalihin serta karomah-karomahnya yang menjadi bahan obrolan penduduk setempat, mereka yang ditakuti oleh orang-orang bersenjata karena kekuatan jiwa serta imannya yang mantap, mereka yang disegani oleh semua kalangan, bahkan kekuatan batinnya yang luar biasa bisa menghentikan dan melerai perang antara kabilah tanpa senjata atau bala tentara.

Gadis yang brilian itu terus mengikuti informasi tentang kehidupan para shalihin serta kegiatan dakwah mereka didaerah lembah Hadhramaut, bahkan dia berjalan kaki ke masjid-masjid untuk mendengarkan pengajaran dan petuah dari pari dai yang kebetulan singgah di perkampungannya, hal tersebut membuat tekadnya semakin kuat untuk menempuh jalan tasawwuf dan memenuhi panggilan fitrahnya, petuah dan pelajaran yang ia dengar semakin menggugah hati gadis tersebut sehingga bangkitlah jiwanya untuk melakukan amalan tha'at baik berupa shalat, puasa, ataupun membaca dzikir dan sebagainya yang menjadi aktifitas orang-orang shalihin, bahkan dalam usianya yang masih belia itu hampir seluruh waktu dan pikirannya dia gunakan untuk melakukan amal ibadah dan keta'atan lainnya.

Robiah Hadhramaut

Para penulis sejarah menjuluki Syeikhah Sulthonah sebagai Robiahnya Hadhramaut, dan memang gelar tersebut sangat sesuai dengan hal dan makomnya Syeikhah Sulthonah, karena beliau dari mulai kecil sudah mulai menyelusuri jalan tasawuf, dan dari segi itu dia mengungguli Robiah Al-Adawiyah yang disebutkan dalam buku-buku sejarah Islam, hal tersebut sebagaimana disebutkan oleh Sayid Muhammad bin Ahmad As-Syatiri dalam kitabnya "Al-Adwar", "Dia (Syeikhah Sulthonah) mempunyai kelebihan tersendiri karena dari kecil sudah mulai meniti tangga dan makom-makom tasawuf".

Dalam usia dini Sulthonah sudah mulai melangkahkan kaki menyelusuri jalan tasawuf, dan ia menemukan jalan kesana disetiap tempat di lembah Hadhramaut, walaupun dia dan keluarganya serta kabilahnya tinggal di perkampungan baduy urro, namun tidak jarang para ulama dari Tarim, Seyun, Gurfah, Syibam dan lainya datang kesana guna memberikan wejangan dan petunjuk para penduduk setempat kepada ajaran dan adab Islam, keadaan yang seperti semakin memberikan kesempatan bagi Sulthonah untuk dengan secara diam-diam dia selalu mengikuti dan mendengarkan petuah dan pelajaran dari para alim ulama yang sengaja mendatangi perkampungannya untuk menyebarkan dakwah islamiah, hingga ketekunannya dalam mengikuti dan mendengarkan pelajaran dari para ulama serta pilihannya untuk menelusuri jalan tasawuf kemudian Sulthonah terkenal dikalangan penduduk setempat.

Hal tersebut semakin menakjuban kalau dilihat dari lingkungan dan tabiat masyarakat setempat, masyarakat setempat yang merupakan kabilah-kabilah baduy dikenal akan kecintaan dan penghormatan mereka pada "Alulbait" dan ulama yang datang kekampung mereka untuk menyebarkan ilmu dan dakwah islamiyah, namun walaupun mereka menerima baik para ulama yang datang kekampungnya, bukan berarti mereka menerima dan mempunyai keinginan untuk menerima dan mengikuti ajaran tasawuf, begitupula halnya dengan kaum perempuan, mereka hanya mengenal tradisi dan kebiasaan yang diturunkan dari nenek moyangnya, mereka jauh sekali dari dunia keilmuan apalagi sampai mendalami tasawuf.

Keadaan lingkungan masyrakat dan adat baduy yang akrab dengan senjata dan kekerasan dan jauh dari dunia keilmuan tidak membuat Sulthonah patah semangat, bahkan sebaliknya tantangan yang berat tersebut semakin menggugah semangatnya dalam menyelusuri jalan menuju petunjuk Allah, hal tersebut menjadikan kagum para kerabat dan kabilahnya juga para masyayeh zaman itu, hingga para masyayeh memberikan perhatian khusus kepadanya, berkat semua itu, akhirnya nama Sulthonah dikenal dihampir seluruh Lembah Hadhramaut, para masyayehpun menerima dan mengakui makomnya Sulthonah karena memang Sulthonah, para masyayeh tasawuf dan ulama di Lembah Hadhramaut masa itu mempunyai hubungan yang kuat antar satu dengan yang lainnya dan hubungan mereka berdasarkan husnudzon, dengan kaidah istiqomah dan selalu berdekatan dengan para ulama dan masyayeh. Sulthonah telah mampu membuktikan bahwa dia memilik karakter tersebut, Karena dari kecil dia merupakan anak yang baik dan taat serta giat mengerjakan pekerjaan rumahnya, sebagai anak perempuan dalam keluarga dia menenun, menjahit, beternak ayam, memasak untuk keluarganya dan pekerjaan rumah yang baiasa dikerjakan oleh remaja putri sesusianya, dan disamping itu semua Sulthonah adalah seorang putri yang bertakwa, penyabar, sufi, gemar menunjukan kepada orang lain jalan yang benar, dia juga seorang gadis mempunyai nama baik menjaga harga diri, dibesarkan dilingkungan keluarga berakhlak mulia yang merupakan warisan turun temurun dari kabilahnya.

Bagaimana Anggota Kabilah Sulthonah Bisa Menerima Ajaran Tasawuf?

Sudah menjadi kehendak Allah, bersamaan dengan munculnya Syekhah Sulthonah dalam kancah tasawuf dan mulai menyebarkan ajaran tasawuf kepada masyarakat setempat, terjadilah suatu kejadian yang kemudian menjadikan salah satu sebab terbukanya hati mereka untuk kembali ke jalan Allah SWT, peristiwa tersebut sebagaimana disebutkan dalam "Al-Adwar", bahwa pada suatu waktu sekelompok masyarakat setempat mendapatkan seekor unta yang tersesat, dan mereka mengambilnya sebagai barang rampasan, kemudian diketahui bahwa onta itu ternyata milik Syekh As-Sholih Muhammad bin Hakam Baqosir, setelah beliau tau akan kejadian tersebut maka beliau berdoa didepan orang banyak, agar Allah memberikan mereka (orang-orang yang mengambil untanya) petunjuk ke jalan yang benar yang diridloi oleh Allah SWT kalau hal yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut kebutuhan yang mendesak, atau Allah membalas mereka jika mereka melakukan hal tersebut karena anaiya dan zhalim.
Cara dan sikap Syekh Baqosir dalam menyikapi kejadian itu membuat warga baduy yang polos dengan dicampuri sifat keras dan perampas, tergerak hati nuraninya untuk kembali ke jalan Allah SWT.

Peristiwa tersebut jelas sangat mendukung terhadap dakhwah yang mulai dirintis oleh Syeikhah Sulthonah, bahkan menurut riwayat lain pengaruh dari Syeikhah Sulthonah bukan saja menyadarkan para penduduk baduy tersebut kepada jalan yang diridloi Allah SWT, bahkan lebih dari itu banyak dari anggota keluarga dan kabilahnya yang kemudian menyelusuri jejak langkah Seiyakhah Sulthonah diantara mereka adalah Umar dan Muhammad saudara Syeikhah Sulthonah, sehingga kemudian mereka mengambil langsung dari Syekh Muhammad bin Abdullah Al-qodim Baabbaad dan masyayeh Hadhramaut lainnya.
Guru Syekhah Sulthonah

Guru Syekhah Sulthonah
Setelah Syekhah Sulthonah matang dalam memahami tuntutan fitrahnya dalam lingkungan yang sederhana tersebut, maka semakin kuat pula ajakan dalam jiwanya untuk mengambil tasawuf secara langsung dari para masyayeh. Adapun Syeh pertama yang dituju oleh Sulthonah adalah Al-Allamah Muhammad bin Abdullah Al-qodim Baabbad yang tinggal di kampung Gurfah tidak jauh dari kampungnya Syeikhah Sulthonah, dari Syeikh Al-qodim inilah mulai terbukanya anugerah Allah yang berupa ilmu dan amal baik yang melalui kasab ataupun yang merupakan laduni dan wahbi. Dan diantara kelebihan Syeikhah Sulthonah yang menonjol adalah beliau tidak mau menikah dan bahkan tidak menganggap bahwa nikah itu suatu tujuan, Sulthonah mempunyai tujuan yang luhur daripada hal tersebut yaitu tujuan ruhani yang telah ia pupuk semenjak kecil dengan memperbanyak riadloh dan menyerahkan jiwa sepenuhnya kepada Allah SWT. Keinginan rohani tersebut mengalahkan segalanya dan menambatkan ketetapan akhlak dan cita-cita kejiwaan yang tinggi sehingga segala sesautu yang bersifat duniawi dan berhubungan dengan syahwat dianggap suatu yang remeh walaupun itu halal. Buah dari itu semua adalah bersihnya hati dan jiwa sehingga mudah untuk melakukan amal saholeh, sehingga diriwayatkan Syeikhah Sulthonah termasuk orang yang sering melihat Nabi SAW dalam mimpi.

Begitulah selanjutnya Syeikhah meniti tangga dan menimba tasawuf dari para masyayeh di zaman itu, hal tersebut dilakukannya dengan mendatangi langsung rumah, ataupun mendatangi masjid-masjid guna menimba ilmu dari para masyayeh yang selalu mengisi masjid-masjid tersebut dengan wejangan dan pelajaran. Tentang Syeikhah Sulthonah yang gigih dan pengaruhnya dikalangan masyrakat baduy akhirnya sampai juga kepada para masyayekh di sekitar Hadhramaut, hal yang menjadikan Syeikhah Sulthonah semakin dekat dengan para ulama keturunan Rasulullah SAW, oleh karena itu Sulthonah sangat menyadari akan kewajiban yang ia pikul terhadap para keturunan Rasulullah SAW tersebut, oleh krn itu beliau berkata "Demi keagungan zat Allah yang disembah, kalau misalkan dagingku ini bisa bermanfaat bagimu, maka akan aku korbankan", dia juga berkata disela-sela memberi wejangan kepada masyarakat "Sesungguhnya aku melihat bahwa keluarga Baalawi mempunyai kedudukan diatas manusia lainnya", yakni para wali dan masayekh dari Baalawi mempunyai kedudukan yang lebih daripada yang lainnya.

Adapun masyayekh Baalwi yang mempunyai hubungan dekat dengan Syeikhah Sulthonah adalah Syeikh Abdurrahman Assegaff dan keturunanya, tentang kecintaannya dan penghormatannya kepada keturunan Rasulullah SAW bisa dilihat jelas dalam maqolah yang ditulis oleh Syeikhah Sulthonah tentang betapa dia mengagungkan dan menghormati keturunan Rasulullah SAW dengan tulus dan ikhlas bukan suatu hal yang dibuat-buat atau dipaksakan.

Sayyid Abdurrahman Assegaff adalah salah satu masyayeh dari keluarga Baalawi yang sering datang ke perkampungan Sulthonah guna memberi wejangan dan pelajaran kepada masyarakat setempat, kehadiran beliau disana semakin sering setelah menikahi salah satu warga kampung, kehadiran beliau selalu disambut gembira oleh masyarakat disana, mereka selalu memenuhi masjid yang dipake media dakwah oleh para masyayeh, bahkan sebagian masyarakat mendatangi beliau guna menimba ilmu dan barokah, mengenai hal itu Syeikhah Sulthonah berkata : "Apabila Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff akan mengunjungi kita, maka sebelumnya kampung kita menjadi subur seakan-akan habis tersiram hujan deras, kemudian setelah itu aku mendengar suara berkata "datang kepadamu sultan putranya sultan". Dan dia sendiri yang berkata seperti itu pada hakikatnya adalah sultonah ruhani sebagaiaman perkataan syair :

ملوك على التحقيق ليس لغيهم
من الملك إلا إسمه وعقابه

Artinya : mereka adalah para raja yang sesungguhnya, adapun raja-raja yang lainya hanya mempunyai nama dan gelar saja

Dan mengenai mereka Syekh Abu Madyan berkata :

ما لذة العيش إلا صحبة الفقرا
هم السلاطين والسادات والأمرا

Artinya : kelezatan hidup ini hanya dengan berbaur dengan kaum faqir, mereka adalah para raja dan pemimpin

Mahabbah Syeikhah Sulthonah terhadap Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaf yang begitu kuat, menjadikan Syeikhah Sulthonah mampu membedakan antara alamat kedatangn mereka kepadanya, dalam hal itu Syeikhah Sulthonah berkata : "setiap wali yang dating kepadaku aku mengetahuinya, dan kalau sudah tiba maka dia masuk melalui pintu, kecuali Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff kalau dia berkunjung kepadaku maka aku tidak mengetahuinya kecuali dia sidah berdiri dihadapanku".

Tafsir tentang perkataan tersebut tidaklah bertentangan dengan mafhum zahir, karena tidak menutup kemungkinan dialam sirrinya Syeikhah Sulthonah telah merasakan adanya madad dan atsar dari para wali yang datang kepadanya, karena para wali mempunyai sirr yang bisa membedakan suatu perkara dari yang lainya, atau dia melihat sesuatu yang berada disekitarnya dengan "nur" Allah, sebagaimana disebutkan dalam atsar "Takutlah engkau akan firasatnya seorang mukmin, karena dia melihat dengan "nur" Allah". Dan tentang hal tersebut Syeikhah Sulthonah berkata :"Setiap wali Allah aku mengenalnya baik banyak ataupun sedikit", dia juga berkata "Sebagian dari para wali itu aku mengetahu halnya, kecuali Syekh Sayyid Abdurrahman".

Adapun hubungan Syeikhah Sulthonah dengan Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran putra Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff tidak kalah dekat dan kuatnya dengan hubungan Sulthonah dengan sang ayah, Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran menjadi penerus perjuangan dakwah sang ayah, maka beliaupun seringkali berkunjungi ke perkampungan guna menyebarkan ilmu dan menyampaikan dakwah islamiyah, hal tersebut sebagaimana diterangkan oleh penulis "Al-jauhar As-Syaffaf", : Antara Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran dengan Syeikhah Sulthonah mempunyai hubungan yang erat dan mahabbah yang agung, dan ketika Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran akan berkunjung perkampungannya maka dua atau tiga hari sebelumnya Syeikhah Sulthonah memberi tahukan kepada penduduk setempat dan berkata :"Sambutlah kedatangan sultan putranya sultan, karena aku telah mendengar "Syaawusy" (kemungkinan dari bahasa turki- yang artinya pimpinan pengawal atau pemimpin suatu kelompok, dan yang dimaksud disini adalah sautu bisikan kabar gembira), memberi tahukan kedatangannya, aku juga melihat mahkota kewalian dikepalanya, dan kedatangannya diiringi oleh para malaikat". Dia juga berkata "Sesungguhnya aku selalu mendengar suara annaubah dilangit yang mengumandangkan kepemimpinan Syekh Sayyid Abu Bakar".

Syeikhah Sulthonah oleh Allah dikaruniai umur panjang sehingga beliau menzamani putranya Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran, sebagaimana dia menghormati dan mengagungkan kakek dan ayahnya Syeikhah Sulthonahpun menghoramti keturunan Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff tersebut.

Sebagaimana beliau menghormati Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran pada masa hidupnya, bahkan setelah beliau meninggalpun Syeikhah Sulthonah berkata :"ketika Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran meninggal dunia Allah memberinya anugerah yang tak terhingga, dan aku tidak mengetahui seorang wali Allah yang dianugerahi seperti itu kecuali dia dari keluarganya terdahulu", Syekh Sayyid Sulthonah pun memberikan penghormatan tersebut kepada keturunan Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaf yang datang setelahnya, seperti Syekh Sayyid Umar Al-Muhdlor dan Syekh Hasan.
Adapun tentang mahabbah dan penghormatan Syeikhah Sulthonah terhadap Sayid Abdullah Alidrus bin Abu Bakar hal tersebut dijelaskan dalam kitab Al-Jauhar As-Syafaf hal 146, "diantara hikayat tersebut adalah tentang seorang laki-laki soleh yang dikenal dengan Bin Abi Abbad dan Sulthonah binti Ali Az-Zubaidi semunya mengagungkan Syekh Sayyid Abdullah dan menghormatinya atas karunia yang telah dilimpahkan oleh Allah kepadanya, telah berkata sebagian orang yang terpercaya, "Suatu hari saya mendatangi Syeikhah Alarifah billah Sulthonah binti Ali Az-Zubaidi, beliau memuji Syekh Sayyid Abdullah bin Abu bakar dan mengagungkannya serta menyebutkan sifat-sifatnya, dan setelah itu dia berkata kepadaku :"aku pesen kepada kamu apabila tiba di Tarim maka ciumlah kepalanya (Syekh Sayyid Abdullah bin Abu Bakar)" ketika aku tiba di Tarim aku menjumpai yang sedang bermain dengan teman sebayanya dan aku melakukan yang dipesankan oleh Syeikhah Sulthonah. Mengenai hal itu penulis Al-Jauhar As-Syafaf mendendangkan sebuah syair :

وبنت الزبيدي كم أشاروا وأفصحوا
بتعظيمه شابا لجزل عطية

Artinya : dan putrinya Az-Zubaidi yang dikatakan bahwa dia mengagungkan seorang pemuda yang dianugerahi karunia yang tak terhingga oleh Allah SWT.

Syeikhah Sulthonah dan Sastra Sufi

Amal taat dan dzikir serta tafakur telah membuahkan suatu ketenangan dalam hati Syeikhah Sulthonah, sejalan dengan firman Allah SWT dalam surat Arra'd ayat 28 yang artinya :"ingatlah tenangnya hati dengan dkrillah", dan setiap sesuatu dalam kehidupan menjadi suatu media untuk mengenal Allah.

وفي كل شيء له آية
تدل على أنه واحد

Artinya : Dalam segala sesuatu tersimpan suatu bukti, yang menunjukan atas keesaan Allah SWT.

Bertolak dari dasar inilah maka dzikir merupakan suatu alat untuk mengasah dzauk dan salah satu untuk memahami kata-kata sastera secara faham sufi. Dan dari dasar ini pula Syeikhah Sultohnah mengungkapkan atas perasaan dan gejolak jiwanya melalui syair sufi, adapun kebanyakan syairnya merupakan sayir mahabbah dan kerinduan kepada Allah SWT, ada juga syairnya yang berupa pujian terhadap guru-gurunya, Syeikhah Sulthonah dalam sayirnya mempunyai ciri khas tersendiri yaitu gaya kesukuan yang memasyarakat serta sayirnya yang berupa sayir nyanyian, dan kebanyakan syair Syekhah Sulthonah tersebut sampai sekarang ini masih selalu didendangkan dalam "Hadlrah Syeikh Assegaff" yang didirkan oleh Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff di Masjid Assegaff Tarim.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab sejarah bahwa Syeikhah Sulthonah seringkali dating ke Tarim dan duduk dipenghujung kumpulan para hadirin yang menghadiri pengajian Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff, disana dia mengikuti pengajian dan mendengarkan syair-syair sufi, disamping saling bertukar ilmu pengetahuan dengan para masyayeh disana dan terkadang mengumandangkan syair baik karangannya ataupun sayir karangan orang lain. Dikisahkan dalam suatu kesempatan terjadi perbincangan antara Syeikhah Sulthonah dan Syekh Sayyid Hasan bin Abdurrahman Assegaff di hadapan ayahandanya Syekh Sayyid Abdurrahaman Assegaff, ringkasnya dalam pembicaraan tersebut Syekh Hasan mengatakan bahwa tidak sepantasnya unta betina mendahului dan menyamai unta jantan, Syekh Hasan mengungkapkan hal tersebut dengan bentuk sayair

يا ما اسفهش ما بدا بكره تماري جمال

Mendengar perkataan seperti itu Syeikhah Sulthonah meminta izin kepada Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaf untuk menjawabnya, dan Syekh Sayyid Abdurrahman pun mengizinkannya, maka Syeikhah Sulthonah dengan tidak berpikir panjang menjawabnya dalam bentuk syair juga yang berbunyi :

الحمل بالحمل والزايد لبن والعيال

Dengan bait itu Syeikhah Sulthonah menjawab perkataan Syekh Hasan, bahwa memang dia seorang perempuan tetapi dia sama seperti laki-laki dalam ahwal dam maqomat, bahkan seorang perempuan memiliki kelebihan daripada laki-laki, karena perempuan memiliki sesuatu yang sangat bermanfaat yaitu air susu yang menjadi lambang pendidikan, dan juga memiliki keturunan yang bisa menjaga kelesatarian manusia, dan kedua hal tersebut tidak dimiliki oleh laki-laki, mendengar jawaban dari Syeikhah Sulthonah seperti Syekh Sayyid Abdurrahman sangat gembira atas jawaban yang tepat dan daya tangkap yang cepat.


Peran Syeikhah Sulthonah dalam Menyebarkan Ilmu Pengetahuan

Salah satu keistimewaan Madrasah Tasawuf di Hadhramaut adalah selain mendidik para pelajar dengan ilmu pengetahuan dan menggemblengnya dengan akhlak alkarimah para masyaye dan ulama disana selalu menyeru para pelajar untuk meyebarkan dakwah ilallah dan mengajari orang-orang awam serta penduduk diperkampungan dengan bersungguh-sungguh seta media seadanya.

Dan merupakan sauatu hal yang menakjubkan bahwa hingga saat ini metode dakwah tersebut masih seperti itu, dan terkadang para pelajar yang baru mulai pun dituntut untuk menyebarkan dan mempraktekan ilmunya kepada masyarakat setempat, hal tersebut dilakukan oleh para masyayeh di Hadhramaut untuk membiasakan para murid menyambungkan ilmu dengan pengamalan dan juga menyebarkannya.

Dalam lingkungan seperti itulah Sulthonah dilahirkan dan tumbuh dewasa, untuk kemudian ikut andil dalam menyebarkan ilmu dan pengetahuan yang ia dapatkan kepada para sanak kerabat dan kabilahnya.

Setelah melihat dan memahami metode dakwah di Hadhramaut, Syeikhah Sulthonah menyadari bahwa ilmu dan pendidikan bagi generasi mudan serta kaum fakir membutuhkan tempat untuk mereka bernaung maka langkah pertama yang dilakukan oleh Syeikhah Sulthonah mengajak masyarakat setempat untuk membangun ribath disepanjang pinggiran perkampungan kabilahnya, adapun peran dia sendiri atas ribat tersebut adalah sebagai pengawas dan donatur maka tidak lama kemudian pembangunan tersebut selesai, hal tersebut disebutkan dalam buku-buku sejarah namun mereka berbeda pendapat tentang fungsi ribat tersebut, ada yang mengatakan bahwa ribat tersebut disediakan untuk tempat belajar dan sebagai tempat tinggal para pelajar, dan sebagian lagi mengatakan bahwa ribat tersebut berfungsi sebagai penampungan orang-orang fakir dan sebagai tempat tinggal sementara para tamu dan orang asing yang singgah disana.

Namun apapun maksud dari pembangunan ribat tersebut baik untuk para pelajar ataupun orang fakir kedua maksud tersebut sama mulianya, selain itu keadaan masyarakat pada zaman itu memang sangat membutuhkan bangunan tersebut baik untuk para pelajar ataupun untuk orang-orang fakir miskin, maka sesuai dengan tujuan dibangunnya ribat tersebut maka begitu rampung dibangun, ribat tersebut sering digunakan oleh para masyayeh yang datang kesana untuk mengumpulkan penduduk setempat guna mendapatkan pelajaran dan wejangan serta mengadakan halakoh zikir, peninggalan Syeikhah Sulthonah tersebut masih tetap terpelihara dan ramai dengan pengajian dan halakoh zikir hingga beberapa waktu lamanya sepeninggal Syeikhah Sulthonah, tempat tersebut terkenal sebagai lokasi yang aman yang menjadi tujuan orang-orang ketika ada kerusuhan ataupun perang, hal tersebut dikarenakan kedudukan dan wibawa Syeikhah Sulthonah semasa hidupnya, dan bahkan kedudukan dan wibawa tersebut masih dimiliki oleh para masayayeh kerabat Syeikhah Sulthonah dari kabilah Az-Zabidi, yang senantiasa menjaga hubungan baik dengan para masyayeh dari keluarga keturunan Nabi SAW di kota Tarim, Seyun dan sekitarnya.

Akhir Hayat Syeikhah Sulthonah

Semasa hidupnya Syeikhah Sulthonah merupakan jelmaan seorang wanita Hadhramuat yang salihah bertaqwa, dalam dirinya menyatu ilmu dan amal disamping perannya dalam kehidupan social masyarakat yang lurus, memenuhi hak-hak sesama terlebih lagi hak-hak Tuhannya Allah SWT.

Namun dengan kelebihan yang berlapis dan ketenaran yang dimiliki Syeikhah Sulthonah, penulis tidak menemukan kitab yang mengupas secara rinci tentang sejarah kehidupan Syeikhah Sulthonah, kami hanya bisa menemukan sekelumit tentang Syeikhah Sulthonah dalam lembaran kitab sejarah yang berbeda, namun demikian mungkin cukup dalam menggambarkan kehidupan Syeikhah Sulthonah dan perannya baik dalam dakwah maupun kehidupan sosial apa yang disebutkan oleh Ustadz As-Syatiri dalam Al-Adwar, bahwasanya Syeikhah Sulthonah mempunyai peran penting dalam memperbaiki kehidupan sosial masyarakat di lingkungannya hingga mampu mengangkat derajat kaum dan negerinya.

Sejalan dengan kata-kata syair :

ولو كان النساء كمن ذكرنا
لفضلت النساء على الرجال

Artinya : jika semua perempuan seperti yang kami sebutkan (seperti Syeikhah Sulthonah) maka semestinya kaum hawa tersebut lebih unggul daripada kaum laki-laki.

Disamping itu semua Syeikhah Sulthonah telah mampu membuktikan bahwa ajaran tasawuf di Hadhramaut, bukanlah ajaran yang mengajak untuk mengucilkan diri serta khumul atau pun menjadikan seorang biksu yang terputus dari kehidupan dunia, tasawuf adalah suatu ajaran yang mengajak manusia menuju kemuliaan dan kesucian serta mengajak manusia untuk berperan aktif dalam menyebarkan ajaran islam dan menegakan syariatnya dalam kehidupan nyata di masyarakat, dan hal tersebut bukan hanya terbuka bagi kaum laki-laki tetapi perempuan punya peran penting dalam hal itu, dan hal itu bukanlah hanya suatu perkataan belaka, karena sepeninggal Syeikhah Sulthonah munculah Sulthonah-Slthonah lainnya di Hadhramaut.

Adapun wafatnya Syeikhah Sulthonah adalah pada tahun 843 H, dan beliau dimakamkan dikampungnya setelah diringi oleh para pelayat yang tak terhingga jumlahnya, dan sampai sekarang makamnya masih terjaga dan ramai di ziarahi.

Penutup

Biografi yang telah kami sebutkan tadi merupakan salah satu contoh tentang kaum perempuan pada zaman itu disamping mewakili ajaran tasawuf yang lurus dalam madrasah yang menyatukan anatara ilmu dan amal, antara iman dan tawakkal serta melakukan usaha.

Dan dalam madrasah salaf perempuan memiliki tempat dan kedudukan sebagaiaman kaum laki-laki, hal mana telah dibuktikan oleh seorang wanita muslimah yang dilahirkan diperkampungan baduy namun melalui madrasah Alulbait wanita itupun menjadi seorang tauladan bagi kaumnya, dan yang menjadi dalam kehidupan wanita sahliah pada zaman itu adalah taqwa dan melakukan kewajiban dunia dan akhirat, bukan khumul yang tercela ataupun mengasingkan diri kecuali dari hal-hal yang jelek dan orang-orang yang berbuat kejelekan, dan dengan semua kaidah kehidupan itulah mereka mampu menciptakan suatu kehidupan bermasyarakat yang pantas untuk dijadikan tauladan.
Sumber : indo.hadhramaut.

Sunday, August 13, 2017

WASIAT SAYYID MUHAMMAD MAULA AIDID (Al Faqih Shahib Aidid)

Sedikit Berbagi kebaikan Buat saudara dan kawan Sayyid Syarifah ...
Oleh : Habib Muksin bin Hud Alhabsyi

Al-Habib Al-Imam Al-Alamah Annahrir, dan yang mengamalkan dengan hal-hal dan teliti yang disepakati atas keutamaannya dan ketaqwaannya Muhammad bin Ali Maula Aidid.
Beliau dilahirkan di Tarim dan wafat di Tarim pada tahun 862 H. setelah menghabiskan hidupnya kira-kira lebih dari 100 tahun sebagaimana biografinya di dalam kitab “Masyro’ Rawi “. Maka sepanjang hidupnya beliau se zaman dengan Al-Imam Al-Habib Muhammad bin Ali Maula Dawilah dan anak-anak dan cucunya, Al-Habib Abdurahman Assegaf, Al-Habib Umar bin Muhdor dan saudara-saudaranya, kemudian Al-habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus dan anak-anaknya yaitu Al-Imam Abubakar Al-Adny bin Abdullah Alaydrus serta saudara-saudaranya.
Dan banyak yang telah lulus menjadi para Ulama di bawah asuhannya dan didikannya diantaranya Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus dan saudaranya Al-Imam Syekh Ali bin Abubakar Assakran.
Beliau Rahimahullah adalah seorang yang giat ibadah dan dermawan dan menjadikan tempat ibadah untuk sambil mengasingkan diri dari manusia, dan membangun Masjid yang masih sampai sekarang dinamakan Masjid Maula Aidid, beliau selalu melazimkan taat kepada Allah Ta’ala secara ihtiyat/ tanpa paksaan. Kemudian teman-temabnya sejawat beliau membangun bangunan di dekat Masjid Maula Aidid sampai menjadi desa yang ramai yang bersambung dengan kota Tarim sekarang dan dinamakan perkampungan tersebut perkampungan Aidid. Dan beliau senantiasa taat kepada Arrahman yang Maha Pengasih sampai berpulang ke rahmatullah dan dikuburkan di Pemakaman Zanbal, semoga Allah merahmatinya dan bermanfaat kepada kami, Amin…..
( Ringkasan dari Kitab “ Masro’ Rawi ).

Wasiat.
Wasiat dan nasehat dari Assyekh Al-Kabir Al-Qutb Assyahir Al-Arif Billah, dzi Al-Ahwali Al-Aliyah wal karomah Al-Khariqah wal Asror Asshodiqoh, Sayyidina Assykeh Abi Abdillah Jamaluddin Muhammad bin Ali Maula Aidid, untuk para ikhwan dan pencinta-pencinta beliau dan untuk yang mengamalkan dan mendengarkannya dan semua para muslimin Wallahu Waliyu Taufik.

Amma Ba’du
Ketahuilah olehmu wahai Saudaraku, jika engkau meminta keselamatan untuk dirimu, maka engkau harus menuntut ilmu yang bermanfaat. Maka sesungguhnya ilmu itu adalah pusat dan sumber setiap sesuatu dan kebaikan semuanya terdapat didalam menuntut ilmu yang bermanfaat dan beramal. Dan ilmu yang bermanfaat terdapat di kitab-kitab karangan Al-Imam Al-Ghozali, maka seyogyanya engkau mentelaahnya khusunya “ Bidayatul Hidayah “ dan “ Ihya Ulumuddin “, maka sesungguhnya kitab-kitab tersebut menjelaskan kepadamu tentang ilmu An-Nafi dan menyelamatkan kepadamu dan menjauhkanmu dari kejahatan. Dan kejahatan semuanya terdapat didalam pergaulan orang-orang yang jelek tingkah lakunya dan bodoh, dan mendengarkan perkataan mereka dan sesungguhnya bergaul kepada orang-orang yang jelek perangainya dan tingkah lakunya itu mewariskan prasangka buruk kepada orang-orang yang baik dan shaleh, dan sesungguhnya bergaul kepada orang-orang yang bodoh itu mewariskan semua kejelekan, Na’uzu billahi min dzalik.
Dan hati-hatilah engkau kemudian hati-hati dari bergaul kepada orang yang meng-ghibahi orang muslim, karena sesungguhnya ghibah lebih besar dosanya dari 33 kali melakukan zina di Agama Islam. Dan kebaikan itu semuanya terdapat didalam menjauhi hawa nafsunya, dan tetapi belajar ilmu yang bermanfaat itu adalah pangkal/asas/pondasi, seandainya orang yang jahil ( bodoh ) beribadah kepada Allah SWT seperti ibadahnya semua penduduk langit dan bumi, maka adanya dia termasuk orang rugi, kabur dan kaburlah engkau dari ucapan manusia, sebagian mereka kepada sebagian yang lain. Hati dan hati-hatilah  engkau dari bergaul kepada orang yang buruk akhlaknya, maka sesungguhnya lidah-lidah mereka manis, dan perbuatan mereka itu buruk dan melanggar, maka hati-hatilah dari mereka.
Dan wajib engkau berbuat tawadhu/rendah hati kepada semua makhluk, dan hatimu sedih atas dosa-dosamu dan lalaimu pada semua perkara yang diperintahkan oleh Allah SWT.
Dan wajib engkau bersedih, karena sesungguhnya bersedih itu tumbuh dengan sifat tawadhu, dan tawadhu itu kebaikan semuanya, dan kesombongan itu kejelekan semua, dan engkau tidak mengetahui tawadhu/rendah hati kecuali dengan ilmu. Dan wajib atasmu mencari ilmu dan mendengarkan kepada ahlinya, dan tekun mendengarkan ilmu, maka sesungguhnya ilmu cahaya semuanya dan kebodohan itu kegelapan semuanya, dan tidak ada sesuatu yang lebih besar daripada kebodohan yaitu mengakunya seseorang berilmu padahal ia bodoh, Nau’dzu billahi mindzalik, dan kami minta ampun pada Allah SWT.
Dan kebaikan tidak dapat bermanfaat beserta kesombongan, dan kesalahan itu membahayakan beserta tawadhu dan barang siapa yang menyembah Allah SWT tanpa ilmu, maka sesuatu yang merusaknya itu lebih banyak daripada memperbaikinya.
Ilmu bermanfaat ialah ilmu yang terdapat/tercantum di kitab karangan Imam Al-Ghozali, karena terdapat pada kitab tersebut kebaikan semuanya, dan barang siapa yang tidak mendapatkannya dan tidak mentelaah kitab-kitab tersebut, maka ia orang yang merugi/tertipu. Dan barang siapa yang tidak minat/enggan mentelaah kitab tersebut, maka ia mencintai dunia ( hubbud dunia ) dan tidak mencintai akhirat, dan barang siapa mencintai Al-Imam Al-Ghozali, semoga Allah meridhoinya, maka ia mencintai akhirat.
Dan wajib engkau berpegang pada kitab “ Bidayatul Hidayah “, bacalah setiap hari, karena sesungguhnya lebih utama dari semua dzikir-dzikir, dan menjadi wajib atasmu, aku berwasiat kepadamu untuk membacanya dan merenunginya. Dan mintalah kepada orang yang membacanya untukmu, apabila engkau tidak bisa membacanya, mintalah kepada orang yang membacanya dari orang-orang yang mencintai kitab tersebut, dan mempunyai roghbah/keinginan padanya, karena yang demikian itu insya Allah menunjukkanmu kepada kebaikan.
Dan wajib atasmu berbakti kepada kedua orang tua ( birrul walidain ) dan tekunlah dalam berbakti kepada keduanya, dan mintalah ridho keduanya, dan lembutkanlah keduanya seperti ayah ibumu, kakekmu, nenekmu dan seterusnya, adapun dzawul arham seperti saudaramu laki dan perempuan, pamanmu, bibimu dari pihak ayahmu dan ibumu dan kerabatmu semuanya maka berbaktilah kepada mereka semampumu, dan istrimu lemah lembutlah dia dan baguskanlah mempergaulinya, dan budakmu perbaguskanlah ia, jika ia lalai, dan sebutkanlah perbuatan-perbuatannya terpuji yang telah lalu, dan berbaiklah perangaimu, budi pekertimu dengan mereka semuanya secara khusus, dan orang banyak secara umum. Sesungguhnya kebaikan semua terdapat pada baiknya akhlak dan kejahatan semua terdapat pada jeleknya akhlak.
 Nasehat ini semuanya, dan yang lainnya, dan yang lebih bagus terdapat pada kitab “ Bidayatul Hidayah “, maka seyogyanya atasmu membacanya dan mendengarkan bacaannya, jadikanlah sebagai ratibmu., lebih utama dari semua dzikir-dzikir, dan janganlah engkau tertipu dengan ucapan orang yang bodoh, karena orang bodoh itu tidak mengetahui dimana keselamatan, dia merusak dirinya dan membinasakan orang lain, dan hati-hati mendengarkan perkataan orang bodoh, karena itu adalah racun yang membunuh lagi membinasakan.
Dan hati-hatilah engkau dari mujalasah ( duduk dan bergaul ) pemerintah-pemerintah yang dzolim, pemerintah pada zaman ini semuanya orang-orang yang dzolim, maka hati-hatilah engkau dari mereka, janganlah engkau tertipu oleh ucapan mereka dan penghadapan/gerak-gerik mereka, karena pada ucapan mereka terdapat racun yang mematikan sekalipun kelihatannya baik, karena sesungguhnya didalamnya ada kejahatan sekalipun datang kepadamu dengan pengetahuan akal dan ilmu, ucapan semua tipuan yang pasti, karena sesungguhnya ucapan mereka dan hati mereka berbeda sekali. Maka janganlah engkau tertipu oleh ucapan mereka dan manisnya lidah mereka, jauhlah engkau dari mereka semampumu, dan larilah engkau dari mereka seperti larimu dari singa, karena mereka membahayakanmu dalam urusan agama dan duniamu, walaupun akan datang, maka hati-hatilah dari mereka, dan teman-teman mereka, dan orang yang berlindung pada mereka, karena dia sebagian dari mereka dan seperti mereka, dan orang yang mencintai mereka dan bergaul kepada golongan mereka.
Dan hati-hatilah engkau dari ahli fiqh zaman ini, mereka yang dekat kepada pemerintah, dan mereka menganggap bahwasanya tujuan dekat itu kebaikan dan maksud mereka itu memberi manfaat kepada manusia, demi Allah mereka telah berdusta, tidaklah maksud mereka kecuali mencari martabat dan kepopuleran dan hasad, ghibah, namimah dan selain itu, maka sangat hati-hatilah engkau dari mereka, karena kejahatan mereka nampak atasmu.
Dan wajib atasmu menolong orang-orang yang lemah lagi tidak berdaya, mereka lari dari pemerintah dan massa mereka karena kezhaliman, sesungguhnya para pemerintah yang dzolim itu musuh-musuh Allah dimuka bumi ini, dan mereka tidak mempunyai pekerjaan melainkan berbuat dzolim dan mengganggu orang-orang Muslim, Na’uzu Billah dari mereka, kami meminta perlindungan kepada Allah dari orang yang dekat kepada mereka, mudah-mudahan Allah melindungi kita dari semua kejahatan, dan Allah memberi taufik kepada kita dan kamu sekalian setiap kebaikan, dengan rahmatnya, karunianya, kedermawanannya, pemaafaannya dan mulianya, Amin.
Dan tekadkanlah kesabaran atas memerangi hawa nafsu, karena mengikutinya itu adalah penyakit yang tertimbun paling besar dan tidak mengikutinya itu kesembuhan dan obat yang terang, tetapi tidaklah dapat untuk melawan hawa nafsu kecuali dengan mengetahuidan ilmu. Dan tanyalah tentang ilmu dan carilah, jangan sombong dan merasa enggan bertanya kepada Ulama Akhirat, dan tekunilah kepada mereka, dan mintalah kepada mereka dimana mereka ( Ulama ) berada, jangan lemah dan malas, karena lemah dalam bertanya itu ke fakiran semua, saya maksudkan lemah dari urusan agama. Kesombongan membawamu pada urusan duniamu dan hawa nafsumu tidak lemah ( bersemangat ), dan urusan agamamu dan akhiratmu dan akhiratmu lemah lagi malas, dan inilah tanda jauh dari Allah SWT, dan kebaikan semuanya.
Dan ketahuilah olehmu wahai saudaraku, sesungguhnya kesenangan dunia itu racun yang mematikan. Ketakutan kepada Allah SWT keluar dari hatimu, dan hilang juga ketakutan akhirat dari hatimu, maka inilah tanda jauh dari Allah SWT dan dari kebaikan semuanya.
Dan ketahuilah olehmu wahai saudaraku, sesungguhnya kesedihan dunia itu lebih baik dari kesenangannya, dan ketahuilah sesungguhnya apabila kamu mati, maka engkau di pertanggung jawabkan dari setiap kalimat, gerakan dan diam dalam urusan agama dan duniamu, maka bagaimanakah engkau tidak menangis atas dirimu dan atas apa-apa yang hilang dari umurmu pada urusan yang tidak berguna dan tertawa dan bercanda, dan sedikit memerangi hawa nafsu pada urusan agama dan duniamu.
Alangkah ruginya sedikit orang yang berdzikir dan sedikit para pencari cinta pada kebaikan, heran sungguh heran tidak ada yang malu kepada Allah. Maka wajib atasmu wahai saudaraku, taubat dan penyesalan, dan mencabut semua dosa ( tidak melakukan dosa lagi ), dan dari sesuatu yang menarik pada dosa-dosa, yaitu bercampur baur kepada manusia kecuali bercampur kepada orang yang melarangmu terhadap dosa, dan mengenalimu akan aib-aib dirimu, maka sesungguhnya bercampur baur terhadap manusia tanpa berhati-hati itu musuhmu yang paling menular atasmu. Jadilah engkau pelawan atasnya, dan jangan engkau butuh terhadapnya, dan hati-hatilah darinya, maka hati-hati engkau darinya karena kejahatan. Semuanya bersambung dari arahnya dan janganlah engkau ridho atasnya selamanya, maka jika engkau ridho terhadap nafsumu, Allah Ta’ala murka kepadamu, dan jika engkau tidak ridho atas nafsumu dan engkau marah kepadanya, Allah Ta’ala ridho terhadapnya.
Dan ketahuilah olehmu sesungguhnya pangkal kelalaian dan dosa semua itu terdapat dalam ridhomu atas dirimu, karena ridho atas nafsumu itu musuh Allah Ta’ala., dan barang siapa yang mencintai Allah ta’ala maka ia harus membenci musuhnya. Dan ketahuilah olehmu sesungguhnya nafsumu itu musuh yang paling menular kepadamu dan kepada Allah Ta’ala, maka wajib atasmu tidak mengikuti hawa nafsumu. Dan aku berwasiat kepadamu dengan setiap sesuatu yang menentang hawa nafsumu, tanyalah kepada orang yang mengetahui dan kepada orang yang lebih ‘alim darimu, dan mintalah petunjuk, dan tekunilah atas permintaanmu, dan janganlah engkau sombong dan jangan beralasan dengan alas an untuk yang bathil lagi dusta, karena sesungguhnya nafsu itu jelek, penipu lagi pembuat tipu daya, dan mintalah perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya, dan dari setan yang terkutuk lagi terlaknat, mintalah bantuan dari Allah dan dari Ulama akhirat dan dari semua Muslimin yang kecil maupun yang besar, laki-laki maupun perempuan, yang merdeka maupun yang budak, dan jangan engkau menghina salah satupun dari mereka, dan jangan merasa sombong atasnya, khususnya kepada orang yang membaca kitab-kitab Imam Ghozali, dan kepada orang yang selalu membaca mu’zakarah dan pengetahuan terhadap kitab-kitabnya, maka terus meneruskanlah engkau setiap hari atas sehari berselang seling, tekunilah dan terus meneruskanlah atas demikian itu, karena aku penasehat bagimu dan pencintamu, dan Allah yang mengetahui demikian tersebut, kami meminta kepada Allah Ta’ala agar memotong keserakahan kami dari yang lainnya, dan tidak menggantungkan kami kepada selainnya.
Dan wajib atasmu merasa tidak berdaya, hina dan sangat membutuhkan dihadapan Allah SWT dan tawadhu/rendah hati kesemua makhluk Allah, tanpa ada perasaan hina dan sangat membutuhkan kepada mereka, bersifat mulia tanpa ada kesombongan, dan berkeyakinan bahwasanya semua makhluk itu lebih baik darimu, dan lebih bagus dan lebih berakal darimu, dan barang siapa yang tidak dzuhud ( meninggal sesuatu yang besifat duniawi ) dalam harta dan kedudukan maka haramlah ia menuntut akal ( tidak memikirkan akibatnya ). Dan barang siapa mencintai bergaul kepada manusia, dan mendengarkan ucapan mereka, maka ia adalah orang yang celaka lagi jauh dari kebaikan ini semua ucapan para Ulama yang arifin dan aku menyaksikan yang demikian.
Wajib atasmu membaca kitab “ Bidayatul Hidayah “ karena didalamnya terdapat obat dan penyembuhan dan kebaikan semua terdapat di kitab-kitab Imam Ghozali, tekunilah engkau atas kitab-kitab tersebut, kapan sesungguhnya tekadmu itu dingin tampaknya, maka sampai kapan menunda-nunda perbuatan dan sampai kapan engkau lalai sedangkan kematian itu dekat dan kiamat dekat, tanda kiamat ini sungguh telah dekat sekali………., beramallah sebelum penyeselan yang panjang, dimana tidak seorangpun menolong temannya, berapa banyak yang menyesal, berapa banyak yang rugi, dan tidak bermanfaat penyesalan, giatlah kemudian giatlah, dan tekadlah karena sesungguhnya dunia itu lebih dari setiap sedikit, dan tidaklah bersamamu dari sedikit kecuali sedikit di dalam hidup sedikit.
Dan aku sangat berwasiat untuk bermurah tangan dan bermurah hati didunia, karena sesungguhnya orang dermawan itu dekat kepada rahmat Allah Ta’ala, tetapi sembunyikan dan rahasiakanlah karena sadaqah sir ( tidak kelihatan dimata manusia ) itu lebih baik dari sadaqah yang dzohir ( tampak dimata manusia ) dengan balasan 70 kali apabila berbuat ikhlas karena Allah Ta’ala.
Dan hati-hatilah engkau memperbanyak penekuan terhadap dunia, sedikitkanlah, karena sesungguhnya meninggalkan dunia itu lebih baik dari sadaqah sebesar dunia, dan meninggalkan 1 dirham yang subhat itu lebih baik dari seratus ribu dirham dan seratus ribu dirham sampai enam ratus ribu ini semua terdapat di hadits shahih dari Nabi Muhammad S.A.W.
Kebodohan pangkal semua kecelakaan, dan lebih besar dari kebodohan adalah kebodohan/ketidak tahuan dirinya dengan kebodohan yang ada pada dirinya, dan janganlah engkau ridho kepada nafsumu dengan kemalasan, dan hati-hatilah engkau dari tekad yang dini ( terburu-buru) dan ketahuilah olehmu sesungguhnya mencintai dunia itu pangkal semua kesalahan.
Dan sebagian tanda makruh kepada dunia adalah mengumpukan, dan barang siapa mengumpulkannya itu akan mati dan meninggalkannya, berapa waktu umur manusia di dunia ?. Aku berwasiat kepadamu dalam jiwamu wahai saudaraku, sesungguhnya hartamu itu fitnah atasmu, dan semua makhluk itu fitnah atasmu, dan semua ini fitnah-fitnah atasmu, sedangkan engkau lali dari ke khususanmu ridho Tuhanmu dan engkau menyia-nyiakan waktumu semuanya dari sejak pagi sampai sore.
Dan pergunakanlah sebenar-benarnya dalam menghidupkan amalan diantara Maghrib dan Isya karena waktu itu adalah waktu yang mulia dan tinggalkanlah pembicaraan yang tidak berguna setelah shalat Isya kecuali jika pembicaraan tersebut berkaitan mengenai orang-orang yang shaleh atau berkaitan dengan ilmu yang mana kamu mengambil manfaat, jika tidak maka janganlah engkau menutup amalanmu dengan sesuatu yang dimurkai oleh Allah Ta’ala dan fudul kalam ( mencari sesuatu berita yang bukan haknya ) atau ghibah ( mengumpat ) atau yang lainnya.
Dan bersungguh-sungguhlah engkau bangun tidur sebelum fajar, karena itu sunnah dan terdapat karunia yang besar, dan tekunilah dengan perbanyak amalan setelah subuh, karena itu waktu yang terdapat karunia besar yang tak terhitung dan jangan berbicara sebelum terbit matahari, karena terdapat karunia besar yang tak terhitung.
Aku berwasiat kepadamu untuk merasa takut dan sedih dan inkisar ( merasa tak berdaya ), maka janganlah engkau kosong dari sifat-sifat yang demikian jika engkau ridho Allah SWT dan Rasulnya S.A.W. Kebaikan semuanya berada dalam kehinaan dan inkisar ( merasa tak berdaya ) dihadapan Allah SWT, dan meninggalkan kesenangan duniawi, karena Allah SWT tidak mencintai orang-orang yang senang dengan dunia. Dan kesenangan kepada Selain Allah SWT itu tanda jauh dari Allah Ta’ala.
Aku berwasiat kepada mu kemudian aku berwasiat kepadamu untuk mengatur waktu-waktumu, karena yang demikian itu terdapat simpanan-simpanan yang kekal, dan simpanan-simpanan dunia itu tidak memberi manfaat kepadamu apabila engkau mati, dua raka’at yang engkau shalat pada tengah malam hari itu lebih utama dari dunia dan seisinya, dan ia merupakan simpanan dari simpanan-simpanan surga, dan amal tidak bermanfaat tanpa ilmu, dan antara orang yang berilmu dan orang yang beribadah 100 derajat, dan antara derajat dengan derajat yang lain seperti antara langit dan bumi. Keutamaan orang ‘alim atas orang yang beribadah seperti keutamaan Nabi Muhammad S.A.W. atas semua makhluk. Kebaikan semua ada di Ilmu yaitu Ilmunya Imam Alghozali khususnya yang dititipkannya di kitab “ Ihya Ulumuddin, dan aku menyaksikan yang demikian itu dengan pasti. Ulama dan para Sufi semuanya menyaksikan juga, kecuali Ulama Dunia, Na’udzubillahi minhum. Karena tidur beserta ilmu lebih baik dari beibadah beserta jahil ( bodoh ). Kekenyangan beserta ilmu lebih baik daripada kelaparan beserta kebodohan. Berapa banyak telah datang riwayat yang menerangkan keutamaan orang ‘alim yang tidak bisa dihitung penjelasannya, dan melihat memandang orang ‘alim lebih baik dari ibadah setahun. Berapa banyak penyebutan tentang ilmau tetapi ilmu yang bermanfaat itu seperti kitab “ Ihya Ulumuddin “ dan kitab “ Bidayatul Hidayah “ dan yang lain-lain dari kitab-kitab Imam Al-Ghozali, semoga Allah memberi manfaat kita berkat Imam Al-Ghozali di akhirat. Semoga Allah memberi manfaat kita dengan  ilmu yang kita ajarkan dengan kita amalkan, dan tidak menjadikan bahaya duror atas kita, berkat Nabi Muhammad S.A.W. dan keluarganya dan sahabatnya dan semua hamba-hamba Allah S.W.T. yang Shaleh, Amin Allahumma Amin.
Dan wajib atasmu sedikit berbicara, berdiam dan kabur dari perbincangan manusia pada zaman ini yang sedikit kebaikan. Semoga Allah memutuskan kita dari selainnya dan tidak menggantungkan hati kami dengan selainnya, dan menggampangkan dunia kepada kami, dan jauh-jauh dari manusia, karena kebaikan semua terdapat pada kejauhan dari meraka. Rasulullah S.A.W. bersabda “ Afdholul muslimin man salima annasu min lisanih wayadih “ artinya “ sebaik-baiknya muslimin yaitu seseorang yang selamat manusia dari lidahnya dan tangannya, dan hendaknya tidak berburuk sangka kepada manusia, karena buruk sangka kepada muslimin itu haram “. Jika engkau jauh dari mereka, maka mereka selamat darimu dan engkau selamat dari mereka, dan jika engkau bergaul kepada mereka dan mendengarkan ucapan mereka, maka engkau membinasakan dirimu, dan bersangka kepada pembicara dan yang dibicarakan. Setiap yang bergaul kepada manusia maka banyak maksiatnya sekalipun bertaqwa pada dirinya.
Dan aku berwasiat kepadamu hendaknya engkau tidak keluar dari rumahmu kecuali dalam keadaan darurat, atau keperluan yang penting, dan engkau hendaknya diam ketinggalan dari ucapan manusia dan dari memperhatikan kabar-kabar mereka, hati-hatilah dari pemerintah, dan setiap sesuatu yang dekat kepada mereka, karena mereka pembinasa, melihat kepada mereka itu adalah racun yang mematikan, dan melihat kepada mereka setiap orang yang bodoh itu mengeraskan hati, sebagaimana melihat kepada orang ‘alim mengkhususkan hati dan mengingatkan akhirat.
Dan wajib atasmu wahai saudaraku, menuntut  keselamatan untuk dirimu, dan janganlah engkau mempersulit atas dirimu karena Allah Ta’ala, dialah yang Maha Menolong, Ma’uwnah ( bantuan ) dari Allah Ta’ala. Kemudian dari semua hamba-hambanya yang shaleh lagi arifin, tawadhu, saling berwasiat lagi saling mencintai dijalan Allah dan Rasulnya, semoga Allah memberi manfaat kami berkat semua Muslimin, dan melindungi kami dari kejahatan nafsu kita dan dari tipu daya syaithan. Kami minta ampun kepada Allah dari dua perkara ini dengan tanpa ilmu dan hati yang tidak hadir beserta gangguan khotir ( lintasan hati ).
Terimalah wahai saudaraku nasehat ini, sekalipun kurang dan ditulis dengan terburu-buru, dan tanpa hati yang hadir, jika aku menghendaki akan aku tulis seribu lembar, maka tidak bermanfaat kata-kata lucu ini, dan betapa lucunya engkau mengetahui bahwa kami menulis lembaran ini dengan tergesa-gesa.
Mudah-mudahan Allah memperbaiki hati dan mengampuni dosa dan ridho dan menerima dan memberi taubat, dan sekalipun tidak ada mahabbah ( kecintaan ) niscaya tidak ditulis lembaran-lembaran ini,
Wassalam, Washallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa alihi wa shohbihi wassallam.
Sumber : Maula-Aidid

Nasihat

Lembaga Qabilah Ba'alwi Bafagih Sulawesi(LQBBS) berdiri untuk Penjagaan Fiqih, Aqidah, Amalan Shalawat, Nasab Sayyid dan Kafa'ah Syarifah serta Kasih Sayang dalam Keluarga

yuk ngobrol atau say hai, klik tombol buku tamu

Struktur Pengelola(Admin)Website Ini

Randy Ibrahim Bafagih (Alfaqir Bafaqih)_____ Sayyid Muh Zalsabil Bafaqih

Pengunjung Website

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms

adsfeed