Sunday, October 23, 2022

Dalil - Dalil Maulid Nabi Muhammad Saw. Adalah Shalawat Kecintaan & Manaqib Rasulullah


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sebagai peringatan, Maulid telah menjadi Pro & Kontra dikalangan Muslim, padahal memperingati Maulid Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam ada Dalilnya.

Mari kita bahas satu-persatu.

Maulid Nabi Muhammad adalah sebagai Shalawat maka telah melaksanakan perintah ALLAH SWT dalam firmannya :

Bismillahirrahmanirrahim

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

 "Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai

 orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan

ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". (Qs.Al-Ahzab 33:56)

I.    Perayaan Maulid Nabi

membahas sejarah, Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kaukabri ibn Zainuddin Ali bin Baktakin(l. 549 H. w.630 H.) seorang raja berfaham Ahlu Sunnah wal Jama’ah, menurut Imam Jalaluddin Al-Suyuthi dalam Kitabnya Al-Hawi lil Fatawa, bahwa raja tersebut tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW ini dengan perayaan yang meriah luar biasa.

Dalam hal ini beliaulah raja pertama yang merayakan bukanlah berarti sebelumnya tidak ada yang merayakan, akan tetapi sebelumnya dilaksanakan juga, hanya saja tidak besar-besaran sebagaimana perayaan Maulid Nabi secara besar-besaran yang dilaksanakan dizaman Raja Al-Mudhaffar.

II.   Penjelasan Ulama Ahli Hadits dari Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

Kemudian Imam Jalaluddin AsSuyuti berkata dalam kitab Al-Hawi : "Menurut saya asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur'an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu tergolong bid'ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad SAW yang mulia"

III. Sahabat Khulafaur Rasyidin Memperingati Maulid Nabi

Dan telah  berkata Sahabat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yaitu sumber dari Kitab anni’matul kubro ‘alaaal-’aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii, sebagai berikut :

·         Telah berkata Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq RA. :

قَالَ أَبُوْ بَكْرِ نِالصِّدِّيْقَ :«نْ اَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلٰى قِرَاۤءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ  كَانَ رَفِقِيْ فِي الْجَنَّةِ»

 Artinya:

“Barangsiapa yang menafkahkan satu dirham bagi menggalakkan bacaan Maulid Nabi saw., maka ia akan menjadi temanku di dalam syurga.”

·         Telah berkata Sayyidina‘ Umar bin Khattab al-Furqan RA. :

قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ : مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ قَدْ أَحْيَا اْلإِسْلاَمَ»

Artinya:

“Siapa yang membesarkan (memuliakan) majlis maulid Nabi saw. maka sesungguhnya ia telahmenghidupkan Islam.”

·         Telah berkata Sayyidina Utsman bin ‘Affan Dzun-Nuraini RA. :

قَالَ عُثْمَانُ ابْنُ عَفَّانَ مَنْ اَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلٰى قِرَاۤءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ  فَكَأَنَّمَا شَهِدَ غَزْوَةَ بَدْرٍ وَ حُنَيْنٍ»

Artinya:

“Siapa yang menafkahkan satu dirham untuk majlis membaca maulid Nabi saw. maka seolah-olah ia menyaksikan peperangan Badar dan Hunain”

·         Dan telah  berkata Sahabat sekaligus menantu Rasulullah, yaitu Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib RA. :

قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طَالِبٍ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ: «مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ  وَكَانَ سَبَابًا لِقِرَاۤءَتِهِ لاَ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ بِاْلإِيْمَانِ وَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ»

Artinya:

“Siapa  yang  membesarkan  majelis  maulid Nabi  Saw.  dan karenanya  diadakan majelis  membaca  maulid,  maka  dia  tidak  akan keluar  dari dunia melainkan  dengan  keimanan  dan  akan  masuk  ke  dalam  syurga  tanpa hisab”.

 (kitab fiqih anni’matul  kubra  ‘alal-’alam  fii  maulid  sayyidi waladi adam karya

Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii).

IV.   Israa Mi’raj menjelaskan mengenai Shalawat dalam Maulid

 “Rasulullah SAW bersabda :

Ketika aku diperjalankan pada malam hari untuk mikraj ke langit, aku melihat ada malaikat yang memiliki seribu tangan dan di setiap tangannya terdapat seribu jari jemari. Ketika ia sedang menghitung setiap tetesan hujan yang diturunkan dari langit ke bumi, aku bertanya kepadanya, "Apakah kamu mengetahui jumlah tetesan hujan yang diturunkan dari langit ke bumi sejak Allah SWT menciptakan dunia? "Ya Rasulullah, demi Allah SWT yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran kepada makhluk-Nya, aku tidak hanya mengetahui setiap tetesan hujan yang turun dari langit ke bumi, tetapi aku juga mengetahui secara rinci berapa jumlah tetesan hujan yang jatuh di lautan, di daratan, di bangunan, di perkebunan, di daratan yang bergaram, dan  di pekuburan. Rasulullah SAW bersabda kembali, "Aku sangat kagum akan kemampuan hafalan dan ingatanmu dalam perhitungan."Malaikat berkata kembali, "Ya Rasulullah, ketahuilah bahwa ada yang tak sanggup aku hafal dan  mengingatnya melalui perhitungan tangan dan jari jemariku ini.

"Rasulullah SAW bertanya,"Perhitungan apakah itu?

"Malaikat menjawab, "Aku tidak sanggup menghitung jumlah pahala shalawat yang disampaikan oleh sekelompok umatmu ketika namamu disebut di suatu majelis."

(kitab hadist minhajul abidin, kasyful gummah, kasyful ghaibiyah & daqa' iqul akhbar.)

V.     Lebih menguatkan lagi Dalil-dalil lainnya yang memperbolehkan melakukan perayaan Maulid Nabi s.a.w.

1.    Anjuran bergembira atas rahmat dan karunia Allah kepada kita. Allah SWT berfirman:

Bismillahirrahmanirrahim

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan

(QS.Yunus 10:58)

Sesungguhnya memperingati Maulid adalah bergembira karena lahirnya Nabi Muhammad.

2. Rasulullah SAW sendiri mensyukuri atas kelahirannya. Dalam sebuah Hadits dinyatakan: 

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم 
"Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku". (H.R. Muslim, Abud Dawud, Tirmidzi, Nasa'I, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah dan Baghawi).

Kita pun mensyukurinya dengan memperingati Maulid Nabi. Sesungguhnya memperingati Maulid adalah sebab lahirnya Nabi Muhammad.

3. Diriwayatkan dari Imam Bukhari bahwa Abu Lahab setiap hari senin diringankan siksanya dengan sebab memerdekakan budak Tsuwaybah sebagai ungkapan kegembiraannya atas kelahiran Rasulullah SAW. Jika Abu Lahab yang non-muslim dan al-Qur'an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW.

4. dalam maulid dibacakan Shalawat dan kisah Nabi Muhammad, sebagaimana ayat ini

Bismillahirrahmanirrahim.
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ۝

Artinya :

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.

(Qs.Hud 11:120)

5. Sahabat Abbas Ra. memuliakan hari kelahiran Nabi Saw dengan membaca syair Maulid dihadapan Nabi Saw, dalam suatu riwayat Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra :

“Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab:

“silahkan..,maka ALLAH akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)

6. Abu Lahab yang ternyata kafir saja diringankan siksanya karena dahulu pernah bergembira memperingati lahirnya Nabi Muhammad,

Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw”

(Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431).

Abu lahab yang kafir saja diringankan siksanyadi Neraka, apalagi bagi Muslim yang nyata sudah Islam.

7. Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian Maulid di masjid.

Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul”

(shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)

8. dibangkitkannya Rasul(Maulid) dikalangan orang-orang mukmin,  Berkata

Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :

Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata :

“hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman ALLAH SWT :

Bismillahirrahmanirrahim.

لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

Artinya :

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

(Qs.Ali Imran 3:164)

9. Mengenai tatacara pelaksanaanya berbeda-beda ditiap muslim, ada yang melalui pembacaan maulid hingga bersedekah, Maulid diwajibkan karena merupakan Shalawat, sementara tatacara pelaksanaannya yang berbeda-beda ini termasuk Bid’ah Hasanah atau hal baru yang baik dizaman ini, (penjelasan dari blog salafytobat) Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi Saw. Dan sebagaimana penjelasan

Al-Imam al-Hujjah al-Hafiz Jalaluddin as-Suyuthi:

Di dalam kitab beliau, al-Hawi lil Fatawa, beliau telah meletakkan satu bab yang dinamakan Husnul Maqsad fi ‘Amalil Maulid, halaman 189, beliau mengatakan: Telah ditanya tentang amalan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم pada bulan Rabiul Awal, apakah hukumnya dari sudut syara’? Adakah ia dipuji atau dicela? Adakah pelakunya diberikan pahala atau tidak?

Dan jawabannya di sisiku: Bahawasanya asal kepada perbuatan maulid, yaitu mengadakan perhimpunan orang ramai, membaca al-Quran, sirah Nabi dan kisah-kisah yang berlaku pada saat kelahiran baginda dari tanda-tanda kenabian, dan dihidangkan jamuan, dan bersurai tanpa apa-apa tambahan daripadanya, ia merupakan bid’ah yang hasanah yang diberikan pahala siapa yang melakukannya karena padanya mengagungkan kemuliaan Nabi صلى الله عليه وسلم dan menzahirkan rasa kegembiraan dengan kelahiran baginda yang mulia.

 

Sekian pembahasan kami, semoga bermanfaat.

Amin

(penulis : randy ibrahim bafagih -LQBBS : www.baalwibafagih.org)


adsarticles

Nasihat

Lembaga Qabilah Ba'alwi Bafagih Sulawesi(LQBBS) berdiri untuk Penjagaan Fiqih, Aqidah, Amalan Shalawat, Nasab Sayyid dan Kafa'ah Syarifah serta Kasih Sayang dalam Keluarga

yuk ngobrol atau say hai, klik tombol buku tamu

Struktur Pengelola(Admin)Website Ini

Randy Ibrahim Bafagih (Alfaqir Bafaqih)_____ Sayyid Muh Zalsabil Bafaqih

Pengunjung Website

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms

adsfeed