Thursday, May 20, 2010

Syarifah Fatma Binti Abdullah Aidid - Kramat Petogogan

Syarifah Fatma Binti Abdullah Aidid, KRAMAT PETOGOGAN
Sekitar tahun 1700 M atau 1100 H didaerah yang sekarang bernama Kebayoran Baru, hiduplah seorang tuan tanah yang Bernama Saimun. Dia mempunyai seorang putri yang bernama Sakinah. Pada suatu waktu Saimun jatuh sakit dan dia telah berupaya dengan berbagai cara untuk mengobati penyakitnya. Kemudian dia membuat nazar akan menikahkan putrinya kepada orang yang dapat mengobati penyakitnya.
Adalah seorang laki-laki yang datang dari negeri Hadromaut, Yaman yang merantau ke negeri Indonesia khususnya Jakarta untuk menyebarkan Agama Islam kepada penduduknya, Beliau bernama Habib Abdullah bin Muhammad Aidid yang merupakan masih keturunan daripada Nabi Muhammad SAW. Beliaupun diminta oleh Saimun untuk mengobati penyakitnya, dengan niat ikhlas Habib Abdullah lalu mengobatinya. Dengan izin Allah SWT maka Saimun dapat sembuh dari penyakitnya.
Sesuai dengan nazarnya, Saimun pun menikahkan putrinya dengan orang yang dapat mengobati penyakitnya yaitu Habib Abdullah Bin Muhammad Aidid. Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang putri yang mereka beri nama Fatma.
Syarifah Fatma binti Abdullah Aidid pun tumbuh dan berkembang menjadi seorang putri yang cantik dan salehah. Pada umurnya yang sekitar 8 tahun lebih telah mampu hapal Al Qur'an, dan beliaupun mampu mengobati orang yang sakit dengan karomahnya. Dan pada umur 9 tahun-an ketika beliau mendapatkan haid pertamanya dan setelah bersih dari haidnya, Beliau meninggal dunia.
Habib Abdullah menguburkan Jasad putrinya dan beliaupun kini tinggal sendirian setelah sebelumnya mertua dan istrinya telah meninggal lebih dahulu dari anaknya. Karena itu beliau memutuskan untuk kembali ke negerinya dan meninggalkan seluruh hartanya untuk diwakafkan dan menyerahkan kepada pembantunya sambil berpesan untuk menjaga dan merawat makam putrinya,
Dan juga disebutkan salah satu karomah Makam Syarifah Fatma, apabila ada burung yang terbang melintas diatas makamnya maka akan terjatuh, juga pesawat udara yang terbang diatasnya akan diam tak bergerak.
Dan dimasa penjajahan Belanda, para pejuang kita apabila mereka mencegat iringan konvoi tentara Belanda menuju daerah Kota atau pelabuhan Sunda kelapa dan para pejuang terdesak, mereka berlari kedaerah sekitar makam. Jika Belanda menembakkan meriamnya ke arah pejuang yang bersembunyi didaerah makam Syarifah Fatma, maka meriam itu tidak akan meledak.
Dan lainnya adalah bahwasannya cahaya dari kubur Sunan Cirebon dan juga Sunan Banten itu menyatu dengan cahaya dari kubur Syarifah Fatma lalu memancar ke langit.
Demikianlah riwayat singkat Wan Syarifah Fatma binti Abdullah Aidid atau Kramat Petogogan yang makamnya berada di Jalan Nipah, Kebayoran Baru, tepatnya di belakang kantor walikota Jakarta Selatan di areal pekuburan Petogogan Blok P, Kebayoran Baru.
Di makam itu juga setiap hari Minggu Subuh diadakan kegiatan shalat subuh berjamaah dan dilanjutkan ziarah ke makam Wan Syarifah Fatma binti Abdullah Aidid yang di pimpin oleh Habib Quraisy Bin Ali Aidid yang merupakan keturunan langsung Wan Syarifah Fatma yang merasa memiliki rasa tanggung jawab untuk melestarikan dan meramaikan mushala dan makam, beliau juga pimpinan Majlis Ta'lim Dzikrullah Maula Aidid, Pekojan.
Semoga kita dapat mengambil hikmahnya dan juga dapat megikuti kegiatan shalat subuh berjama'ah setiap minggu subuh untuk mengambil barokahnya. Waallahu A'lam.
Sumber :

Sayyid Umar bin Ahmad bin Salim Aidid

Sayyid Umar bin Ahmad bin Salim Aidid.
(1343-1421 H )















Assayyid Assholeh Salim Al Baal Shofi Al Hal Umar bin Ahmad bin Salim Aidid tinggal di Mekah Al Mukaromah, dilahirkan di Wadi Aidid salah satu wadi dipinggiran kota Tarim tahun 1343 H. Ibunya anak dari Assayyid Alwi bin Ahmad Assegaf Asshofi. Sayyid Umar Aidid hidup atas didikan orang tuanya. Ayahnya wafat ketika beliau berumur 10 tahun, lalu diasuh oleh kakaknya yang tertua bernama Idrus, sehingga beliau hafal Al-Qur’an dan sebagian matan. Kemudian beliau belajar ilmu dari beberapa guru, salah satunya Al Habib Muhammad bin Hasan Aidid yang mengawinkan anak perempuannya. Allah memberikan kemudahan belajar dengannya, beliau membaca dan mendapat ijazah kitab "Tuhfatul Mustafiid". Selain belajar kitab tersebut dengan Habib Muhammad bin Hasan Aidid, beliau juga belajar dengan Habib Abdullah bin Umar Syatiri, Habib Abdulbari bin Syekh Al Aydrus, dan Habib Alwi bin Abdullah bin Syahabuddin. Beliau sangat senang mempelajari dan melazimkan didalam majelisnya membaca kitab Tuhfatul Mustafiid. Hatinya selalu diliputi cinta kepada Habib Alwi, dan selalu menyebutkan kebaikannya serta sering menyebutkan keadaannya. Begitu juga beliau belajar dengan Habib Musthafa bin Ahmad Al Muhdhor, Habib Muhammad bin Hadi Assegaf, dan Umar bin Abdullah Al Habsyi. Sayyid Umar Aidid juga belajar kepada Sayyidul Walid Ali bin Abubakar Al Masyhur, belajar kitab "Al-Mukhtashor Asshoghir" karya Bafadol, keduanya mempunyai ikatan yang dekat dan bersahabat, karena dua hal :

  1. Ada unsur pernikahan pada anak Al-Habib Muhammad bin Hasan Aidid.
  2. Assayyid Muhammad bin Abubakar Al Masyhur menikahi saudara perempuan Sayyid Umar Aidid, namanya Fatimah.
Guru-guru beliau yang lainnya adalah Assayyid Alwi Al Maliki Al Hasani, Assayyid Muhammad Amin Kutubi Al Hasani, Assayid Hasan Fad’aq, Assyekh Hasan Sa’id Yamani, Assayyid Muhammad Sholeh Al Muhdhor, Assayyid Abubakar Atthas Al Habsyi, Assayyid Abdul Qadir Assegaf, Assyekh Muhammad Nur Seif, Assayyid Muhammad Al Haddar, Assyekh Hasan Al Masyath, dan lainnya, semoga Allah meridhoi mereka.
Assayyid Umar Aidid mengajar dirumahnya didaerah Al Amirah di Balad Al Haram hingga wafat. Murid-murid beliau datang dari berbagai penjuru, satu diantara mereka Assyekh Muhammad Ismail Azzain.
Assayyid Umar Aidid pernah pergi ke Afrika (Assawahil) pada tahun 1364 H, untuk berdakwah dan memberi petunjuk ilmu selama satu tahun, kemudian kembali ke Tarim.
Assayyid Umar Aidid bertemu dengan pengarang kitab Assayyidul Walid Habib Ali bin Abubakar Al Masyhur di Mekah Al Mukaromah setelah Assayyid Walid keluar Yaman, keduanya berganti-ganti melakukan kunjungan. Assayyid Umar pernah tinggal di Mekah tahun 1371 H, dan bekerja di Haromain sebagai penulis. Dan tinggal di Madinah di Rubat Anas bin Malik, kemudian bekerja di Mekah. Pada waktu liburan resmi sering ziarah ke Hadhramaut, tekun menghadiri majelis-majelis di Mekah, salah satunya majelis Habib 'Athas Habsyi. Assayyid Umar Aidid mencintainya, selalu datang dan takjub dengan buah pikirannya. Assayyid Umar Aidid terkena bermacam penyakit diantaranya penyakit diabetes sampai salah satu kakinya diamputasi sehingga duduk di kursi roda selama hidupnya.
Habib Ali bin Abubakar Al Masyhur terus berkunjung kepada Sayyid Umar Aidid di Mekah dan Jeddah. Pernah Habib Ali berkunjung kerumahnya pada bulan Jumadil Tsani 1418 H, Habib Ali dan yang hadir mendapatkan ijazah dan dibacakan Fatihah buat yang hadir. Habib Ali membaca kitab Tuhfatul Mustafiid didepannya kemudian diijazahkan oleh Sayyid Umar Aidid dengan ijazah yang telah diijazahkan oleh pengarang kitab.
Kitab yang dikarangnya adalah Al Fajru Al Jadid (dalam tulisan tangan). Beliau mempunyai beberapa catatan-catatan atas beberapa kitab yang pernah beliau ajarkan. Dan telah meninggalkan perpustakaan yang ada pada anaknya Assayyid Abdul Qadir.
Assayyid Umar Aidid wafat pada hari Senin diwaktu fajar tanggal 26/12/1421 H dalam usia 78 tahun. Di makamkan diwaktu Ashar dipekuburan Ma’la dan meninggalkan 4 orang anak perempuan, 2 diantaranya wafat sewaktu kecil, dan 3 orang anak laki-laki, yaitu:
  1. Muhammad, menetap di Tarim
  2. Abdul Qadir, menetap di Mekah
  3. Ahmad (wafat terlebih dahulu).
Sumber :
http://majlisdzikrullahpekojan.org/kramat-aidid/as-sayyid-umar-bin-ahmad-aidid.html

Habib Muhammad Bin Hasan Bin Ahmad Aidid.

Al-Habib Muhammad bin Hasan bin Ahmad Aidid mempunyai perangai yang terpuji dan mulia juga ilmuwan serta kewalian yang tak mungkin tertulis karena keluasan ilmunya.

Lahir pada malam berkah tanggal 25 Ramadhan tahun 1290 H. di Wadi Aidid, Tarim. Ketika dilahirkan ayahnya berada di Masjid Maula Aidid sedang menghadiri Khatamul Qur'an. Setelah mendengar kelahiran puteranya orang-orang serentak malam itu memukul gendang karena mendengar kabar gembira tersebut. Walaupun ayahnya mempunyai mata yang rabun, tapi beliau sangat gembira dalam hal ini.

Al-Habib Muhammad bin Hasan Aidid mendapat pengasuhan serta pendidikan dari ayahnya, ayahnya sangat memperhatikan tarbiyah kepadanya, sehingga ayahnya banyak dirumah. Ketika berumur 6 tahun, selalu diajak ayahnya duduk di Masjid atau i'tikaf dan jika menemui salah seorang sholihin, ayahnya menyuruh cium tangan kepada orang sholihin tersebut dan meminta do'anya. Begitulah yang sering dilakukan ayahnya terhadapnya, sampai beliau sakit dan akhirnya wafat. Ayahnya wafat tahun 1297 H., sedangkan Al-Habib Muhammad bin Hasan Aidid belum genap berumur 7 tahun.

Kemudian ibunya meneruskan pendidikan Al-Habib Muhammad bin Hasan Aidid mengirimnya belajar pada Syekh Abdurahman bin Muhammad bin Sulaiman Bahami di tempatnya Syekh Kutub Abdullah bin Abubakar Alaydrus hingga selesai mempelajari Al-Qur'an. Setelah menanjak dewasa beliau keluar Hadhramaut untuk mencari rezeki, bertemu, duduk dan mengambil ilmu dengan ulama-ulama besar khususnya di daerah Jawa, diantaranya Al-Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi, Al-Habib Alwi bin Muhammad Alhaddad, Al-Habib Muhammad bin Aqil bin Abdullah bin Umar bin yahya dan saudaranya Umar bin Agil bin Yahya, Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Husein bin Thahir serta banyak lagi dari ulama-ulama lainnya. Di Tarim diantaranya Al-Habib Abdurahman bin Muhammad Almasyhur yang disebutkan didalam Tuhfatul Mustafid, bahwasanya Al-Habib Muhammad bin Hasan Aidid mengambil ilmu darinya, selalu bersamanya, menshohibnya (menemaninya), menghadiri pelajaran-pelajaran dan majelis-majelisnya.

Al-Habib Muhammad bin Hasan Aidid mempunyai hubungan erat dengan Al-Alamah Al-Habib Umar bin Hasan bin Abdullah Alhaddad karena sering berkunjung ke Al-Hawi, Tarim dan belajar bermacam-macam ilmu kepadanya sehingga mendapat ijazah darinya. Juga mempunyai hubungan yang erat dengan beberapa sayyid yang mempunyai keutamaan dan kewalian yang ada pada zaman itu, seperti Sayyid Al-Wali Ahmad bin Muhammad bin Abdullah Alkaff, Syekh bin Idrus bin Muhammad Alaydrus, Muhammad bin Ibrahim bin Idrus Bilfaqih, Muhammad bin Abdullah bin Umar bin yahya, Husein bin Umar bin Sahal Maula Dawilah.

Pada awal bulan Muharram tahun 1304 H. Al-Habib Muhammad bin Hasan Aidid mengadakan perjalanan dengan idzin dari guru-gurunya menuju Jawa, sehingga beliau banyak menimba ilmu pada saat berada di Jawa dari ulama-ulama ketika itu. Kemudian awal tahun 1309 H. beliau kembali kenegeri asalnya melalui kota Aden, dan menetap di kota Tarim bersama para ulama-ulama zaman itu seperti Assayyid Al-Alamah Abdurahman bin Muhammad bin Husein Almasyhur hingga wafatnya Assayyid Abdurahman Almasyhur tahun 1320 H.

Setelah wafatnya Assayyid Abdurahman Almasyhur, beliau berkunjung kedaerah Du'an. Dan di daerah Du'an beliau banyak mengambil ilmu dari guru-guru yang ada di daerag Du'an hingga beliau kembali ke Tarim pada bulan Rajab tahun 1320 H.

Kemudian kembali ke Hadhramaut dan menetap guna memperbanyak ibadah, berkunjung kepada para sholihin atau tempat-tempat yang berkah dan majelis-majelis. Akhir umurnya beliau tinggal di Hadhramaut, mensupport ahli da'wah dalam penyebarannya dan terkadang mengumpulkan mereka dan semua orang terutama ketika terjadi kesusahan, kekeringan untuk membaca hadits Bukhori. Kemudian mengkhususkan bacaan tersebut pada bulan Ramadhan dan 6 hari dibulan Syawwal dan mengkhatamkannya dengan dihadiri pemimpin negeri, ulama-ulama dan orang banyak.

Al-Habib Muhammad bin Hasan Aidid mulai sakit tanggal 21 Muharram 1361 H. hingga wafat pada hari Sabtu 28 Muharram 1361 H. dan dikuburkan pada hari Minggu di Zanbal, Tarim di sholati oleh Al-Habib Abdullah bin Umar bin Ahmad Assyatiri.

Al-Habib Muhammad bin Hasan Aidid orang yang kasyaf dan mempunyai karomah serta nampak sesuatu pada dirinya faedah-faedah, berita keajaiban dan kelembutannya diantara keajaibannya adalah, tatkala beliau sakit diatas kasur, beliau mengatakan akan waktu meninggalnya, akan banjir di Tarim yang akan mencapai ketinggian sekian. Beliau memberi wasiat agar dimandikan dengan air tersebut karena air tersebut adalah air kautsar. Al-Habib Muhammad bin Hasan Aidid sering mengingat air kautsar. Sehingga beliau selalu menyuruh orang yang duduk disekelilingnya agar selalu membaca : " Allahu Nurussamaawaati wal ardh........sampai akhir ayat " , mulai saat itu beliau tidak mau minum dan makan kecuali susu. Al-Habib Muhammad bin Hasan meninggal pada waktu ia tentukan. Itu semua atas ketentuan Allah. Beliau dimandikan dengan air tersebut. Allah merahmatinya dengan rahmat orang yang dekat dengan Allah. Ditempatkan di Syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai dan semoga Allah memberikan kepada kita manfaatnya dan orang-orang yang sepertinya dari orang-orang yang sholeh. Amiin

Sumber :
kitab Qobasaatu Annur dan Lawaama'u Annur.
http://himpunan-aidid.org/?load=baca_manaqib.php&mid=15
http://majlisdzikrullahpekojan.org/kramat-aidid/habib-muhammad-bin-hasan-aidid.html


Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid - Wali keramat Pulau Panggang

Disebelah utara Jakarta terdapat gugusan kepulauan yang terdiri dari 108 pulau kecil, disebut Kepulauan Seribu. Satu diantaranya adalah Pulau Panggang, sekitar 60 km disebelah utara kota Jakarta. Pulau seluas 0,9 hektare itu bisa dicapai dalam waktu kurang lebih tiga jam dengan perahu motor dari pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara.

Disanalah Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid, yang juga dikenal sebagai Wali keramat Pulang Panggang. Ia adalah ulama dan muballigh asal Hadramaut yang pertama kali menyebarkan Islam di Pulang Panggang dan sekitarnya. Pada abad ke-18 ia bertandang ke Jawa untuk berda’wah bersama dengan empat kawannya :

  1. Al-Habib Abdullah bin Muchsin Al-athas, Kramat Empang Bogor.
  2. Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Bondowoso, Surabaya.
  3. Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, Ampel, Surabaya.
  4. Al-Habib Salim Al-Athas, Malaysia.

Al-Maghfurlah Habib Ali ke Batavia, sementara keempat kawannya masing-masing menyebar ke kota-kota dan negeri diatas. Al-Maghfurlah berda’wah dari Pulau Seribu sampai dengan Wilayah Pulau Sumatera yaitu Palembang.

Di Batavia , Almaghfurlah Habib Ali bermukim di Kebon Jeruk dan menikah dengan Syarifah setempat, Syarifah Zahroh binti Syarif Muchsin bin Ja’far Al-Habsyi. Dari Perkawinannya itu dikaruniai seorang putera bernama Hasyim bin Ali Aidid.

Suatu hari Almaghfurlah mendengar kabar, disebelah utara Jakarta ada sebuah pulau yang rawan perampokan dan jauh dari da’wah Islam, yaitu Pulau Panggang. Beberapa waktu kemudian ia memutuskan untuk mengunjungi pulau tersebut. Ketika Al-Maghfurlah sampai di Pasar Ikan hendak menyeberang ternyata tidak ada perahu. Maka ia pun bertafakur dan berdo’a kepada Allah SWT, tak lama kemudian muncullah kurang lebih seribu ekor ikan lumba-lumba menghampirinya. Ia lalu menggelar sajadah di atas punggung lumba-lumba tersebut, kemudian ikan lumba-lumba mengiring beliau menuju Pulang Panggang. Demikianlah salah satu karomah Almaghfurlah Habib Ali, menurut cerita dari Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-athas kepada salah satu muridnya Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir Alhaddad bahwa setiap Habib Ali hendak berda’wah beliau berdiri ditepi pantai Pasar Ikan dengan mengangkat tangan sambil bermunajat kepada Allah SWT, maka datang ikan lumba-lumba kurang lebih seribu ekor mengiring beliau disamping kanan, kiri, depan, belakang beliau dan mengantar sampai ketempat tujuan untuk berda’wah.

Sosoknya sangat sederhana, cinta kebersamaan, mencintai fakir miskin dan anak yatim. Bisa dimaklumi jika da’wahnya mudah diterima oleh warga Pulau Panggang dan sekitarnya. Ia mengajar dan berda’wah sampai kepelosok pulau. Bahkan sampai ke Palembang, Singapura dan Malaka.

Karomah lainnya, suatu malam, usai berda’wah di Keramat Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, ia pulang ke Pulau Panggang. Di tengah laut, perahunya dihadang gerombolan perompak. Tapi, dengan tenang Almaghfurlah Habib Ali melemparkan sepotong kayu kecil ke tengah laut. Ajaib, kayu itu berubah menjadi karang, dan perahu-perahu perompak itu tersangkut di karang. Maka, berkat pertolongan Allah SWT itu, Almaghfurlah Habib Ali dan rombongan selamat sampai di rumahnya di Pulau Panggang.

Suatu hari, warga Pulau Panggang diangkut ke Batavia dengan sebuah kapal Belanda, konon untuk dieksekusi. Beberapa perahu kecil berisi penduduk ditarik dengan rantai besi ke arah kapal Belanda yang membuang sauh jauh dari pantai. Mendengar kabar itu, Almaghfurlah Habib Ali menangis, lantas berdo’a agar seluruh penduduk Pulau Panggang diselamatkan . Do’anya dikabulkan oleh Allah SWT. Rantai besi yang digunakan untuk menarik perahu berisi penduduk itu tiba-tiba putus, sehingga Belanda urung membawa penduduk ke Batavia.

Suatu malam, ia mendapat isyarat sebentar lagi ia akan wafat. Ketika itu sebenarnya ia ingin ke Palembang, namun dibatalkan. Dan kepada santrinya ia menyatakan, “ saya tidak jadi ke Palembang.” Benar apa yang ia katakan, keesokan harinya, 20 Zulkaidah 1312 H./1892 M. ia wafat, dan dimakamkan di sebuah kawasan di ujung timur Pulau Panggang.

Sesungguhnya, Jenazah almarhum akan dibawa ke Batavia untuk diketemukan Istri dan anaknya serta dimakamkan disana. Namun, ketika jenazah sudah berada di atas perahu yang sudah berlayar beberapa saat, tiba-tiba tiang layar perahu patah dan perahu terbawa arus kembali ke Pulau Panggang. Hal ini terjadi berturut-turut sampai tiga kali. Akhirnya, penduduk kampung memaknai peristiwa itu sebagai kehendak almarhum di makamkan di Pulau tersebut. Keesokan harinya setelah Almaghfurlah Habib Ali dimakamkan, beberapa orang dari penduduk Pulau Panggang memberi khabar kepada istrinya Syarifah Zahroh binti Syarif Muchsin bin Ja’far Al-Habsyi, istrinya menjawab “ Yah, saya sudah tahu, Habib Ali tadi telah datang memberi kabar kepada saya tentang meninggalnya dia dan dimakamkan di Pulau Panggang “.

Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid adalah seorang ulama yang langka, yang berani merintis da’wah di kawasan terpencil, dan berhasil. Demikianlah sekilas dari riwayat Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid.

Sumber :
http://amicromedia.multiply.com/journal/item/6
http://himpunan-aidid.org/?load=baca_manaqib.php&mid=6
http://pecintarasulullah.jazz.or.id/2008/04/15/al-habib-ali-bin-ahmad-bin-zein-aidid/

Habib Husein bin Abdullah Aidid

Al Imam Al Alamah Al Arifbillah Husein bin Abdullah bin Hasan bin Ahmad bin Abu bakar Aidid mempunyai keberkahan yang melimpah, keadaannya mastur (tersembunyi), jiwanya bersih, dalam perjalanan hidupnya beliau meninggalkan kenangan yang indah dan beliau seorang yang sangat tinggi derajatnya dengan akhlak yang baik, lembut pergaulannya, mempunyai cahaya batin dan dzahir, Beliau mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan Habib Ali Bin Muhammad Al Habsyi.
Kelahiran, kehidupan dan pendidikannya---

Habib Husein bin Abdullah bin Hasan Aidid, dilahirkan di kota Ghurof pada tahun 1308 H.
Tatkala umurnya memcapai 9 tahun, beliau pergi ke tarim bersama ibunya mengunjungi rumah pamannya, Habib Muhammad bin Hasan bin Ahmad Aidid seorang yang mulia, yang mempunyai ilmu sangat luas untuk mengajarkan kepada Habib Husein bin Abdullah Aidid dan tinggal bersamanya selama beberapa tahun. kemudian ibunya meminta ijin kepada paman Habib Husein yaitu Habib Muhammad bin Hasan Aidid untuk membawa putranya ke Kota Sewun untuk menuntut ilmu Kepada Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi dan tinggal di Rubatnya yang mana pada saat itu telah banyak yang datang penuntut ilmu dari penjuru kota dan pamannya merestui, maka jadilah Habib Husein bin Abdullah Aidid sebagai pelajar di Rubat tersebut.
Sebagaimana diketahui, bahwa Rubat, Masjid, dan rumah Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi merupakan tempat tinggal para penuntut ilmu dan ulama. Beliau memberikan perhatian dan kasih sayang kepada Habib Husein Aidid seperti pelajar yang lain.
Setelah Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi wafat (Tahun 1333 H), saudara dari ibu Habib Husein bin Abdullah Aidid menginginkan Habib Husein Aidid untuk tinggal di Kota Madudah dan Habib Husein menyetujuinya, maka pada tahun 1333 H. Beliau Pergi dari Kota Sewun Ke Kota Madudah dan membangun Masjid serta rumah di tempat tersebut. Kemudian membuka Majelis Ta`lim pada hari Senin untuk umum, pada malam Jumat mengadakan Maulid, dan pada malam Kamis hadroh dengan dihadiri banyak orang. Kota Madudah menjadi manfaat atas kehadirannya.
Al-Habib Mustofa Al Muhdor dalam penulisan tentang diri Habib Husein mengatakan bahwa banyak orang yang mendapat petunjuk darinya dan sebagian ada yang mendapat kerugian karena tidak mengikutinya.
Tahun 1360 H, Habib Husein pindah ke Kota Sewun, disebabkan terjadinya pertentangan antara dua kelompok di kota Madudah. Habib Husein pada saat itu berusaha menengahi pertentangan tersebut dan berusaha mempersatukan diantara mereka, akan tetapi mereka menolaknya sehingga terjadi pertumpahan darah, setelah terjadi pertumpahan darah diantara dua kelompok tersebut, mereka sadar, akhirnya mereka mengikuti apa yang telah dianjurkan oleh Habib Husein.
Al-Habib Husein bin Abdullah bin Hasan Aidid pindah Ke Sewun setelah mendapat isyarat dari Mufti Hadramaut Habib Abdurrahman bin Ubaidillah Assegaf, Begitu juga Habib Mustofa Al Muhdor mengatakan kepadanya melalui orang-orang yang mencintainya, bahwa Habib Husein Lebih baik keluar dari kota Madudah. Kemudian Habib Husein tinggal disebelah barat kota Sewun dan membangun Masjid kecil serta rumah.
Pembacaan Maulid yang biasa diadakan Habib Husein di kota Madudah setiap hari Kamis kedua tiap bulan Rajab dipindakan ke kota Sewun dengan dihadiri banyak orang, para ulama, dan orang-orang ahli kebaikan sampai sepanjang hidupnya, kemudian setelah Habib Husein Wafat diteruskan oleh anaknya.
Al-Habib Husein bin Abdullah bin Hasan Aidid beberapa kali bepergian ke kota Mekah, Madinah, Yaman. Beliau pergi ibadah Haji sebanyak 14 kali dan membangun beberapa Masjid dalam perjalanannya.
Wafat---
Al-Habib Husein bin Abdullah bin Hasan Aidid terkena sakit yang ringan sebelum wafatnya pada tahun 1379 H di Wadi Aidid. Jenazah beliau dishalatkan di Masjidnya dan di Imami oleh Habib Muhammad bin Hadi Assegaf yang dihadiri oleh banyak Orang.

Kitab Yang Di Karang---

  1. Wasoya - 1Jilid
  2. As`ilah `Ilmiyah
  3. Kalam Mantsur - 2 jilid
  4. Diwa'an Syi'ir Jamini
  5. Enam kitab Maulid Nabi Muhammad SAW, satu berbentuk pantun, syair, dua berbentuk prosa, tiga lagi masih berupa tulisan tangan (Kitab rawi maulidnya yang dicetak oleh Himpunan Keluarga Maula Aidid adalah Al`ithhrul afkhori Fii Dzikril Habibi Akbar dan Asshifatul Muhammaddiyah)
  6. Doa dan Wirid Wirid
  7. Khutbah Mimbariyah
  8. Shalawat atas Nabi, yang berjudul Assholat Alfaidiyah Fissholat `Ala Khoiril Bariyyah

Sumber :
http://himpunan-aidid.org/?load=baca_manaqib.php&mid=8
http://majlisdzikrullahpekojan.org/kramat-aidid/al-habib-husein-bin-abdullah-aidid.html

Sunday, May 9, 2010

MANAQIB AL- IMAM SAYYID MUHAMMAD BIN ALI SHAHIB AL- HAUTHOH ( MUHAMMAD MAULA AIDID )



Mukadimah---
Al - Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthah adalah seorang yang terhormat dan mulia, pemegang dan penerus ilmu dari aslafuna sholeh, pemegang sunnah-sunnah Rasulullah S.A.W. mempunyai pandangan yang khashaf, berjalan pada jalan yang di ridhoi Allah, mempunyai jiwa dan hati yang suci dan bijaksana dalam hukum-hukum agama.
Masjid Maula Aidid
sumber : Himpunan-Aidid
Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthoh seorang ulama besar dengan ilmu dan pengalamannya. Mempunyai ilmu para ulama yang arif atau orang-orang yang bijaksana. Beliau belajar atau menimba ilmu agama dari ulama yang arif atau orang-orang yang bijaksana. Beliau belajar atau menimba ilmu agama dari ulama-ulama besar dan arif Billah. Beliau menguasai bermacam-macam ilmu syariat dan ilmu thariqah, sehingga beliau mendapat keberkahan yang haq, dan oleh Allah diberikan suatu kelebihan kebaikan akhlak yang mulia, tekun dan istiqomah dalam ibadah. Beliau seorang yang mulia karena kedzhuhudannya serta sifatnya yang waro, yang selalu berhalwat ditempat-tempat mulia. Banyak dari ulama-ulama besar memuji, mengagumi dan memuliakannya karena akhlaknya dan keluasan ilmu-ilmu agama yang ada padanya. Dan banyak juga para ulama besar, Aulia dan para sholihin belajar menimba ilmu kepadanya.

ziarah makam dimalam hari
ziarah makam
  
Foto Makam "Imam Sayyid Muhammad Maula Aidid (Alfaqih Shahib Aidid)"
sumber : Himpunan-Aidid

Riwayat Hidup---
Al - Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthah bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Al-Faqih bin Abdurrahman bin Alwi Ammul Faqih adalah generasi ke-23 dari Rasulullah S.A.W. dilahirkan di kota Tarim, Hadhramaut, Yaman Selatan tahun 754 H.
Ayahnya yaitu Ali Shahib Al-Hauthah wafat tahun 830 H. Gelar Shahib Al-Hauthah yang di sandangnya karena tinggal di Hauthah yang terletak sebelah barat kota Tarim, Hadhramaut, Yaman Selatan.
Istrinya bernama Syarifah binti Hasan bin Al-Faqih Ahmad bin Abdurrahman, seorang yang sholehah dan dzuhud dalam urusan dunia.
Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthoh (Muhammad Maula Aidid), dikaruniai enam orang anak laki-laki :
  1. Sayyid Ahmad Al-Akbar, wafat tahun 862 H.
  2. Sayyid Abdurrahman Bafaqih, mempunyai lima orang anak laki-laki, yaitu : Muhammad, Ahmad, Abdullah, Zein dan Atthayib, wafat di Tarim tahun 862 H..
  3. Sayyid Abdullah Bafaqih, mempunyai tiga orang anak laki-laki, yaitu : Alwi, Husein dan Ahmad. Beliau wafat selang beberapa tahun wafatnya Abdurrahman Bafaqih.
  4. Sayyid Ali Aidid, mempunyai tiga orang anak laki-laki, yaitu : Muhammad, Abdullah dan Abdurrahman, wafat tahun 919 H.
  5. Sayyid Alwi
  6. Sayyid Al-Faqih Ahmad
Abdullah dan Abdurrahman mendapat gelar Bafaqih yang kemudian menjadi leluhur " Bafaqih ". Diberikan gelar Bafaqih karena beliau 'alim dalam ilmu fiqh sebagaimana ayahnya dikenal masyarakat sebagai ahli fiqh. Sedangkan Ali gelarnya tetap Aidid, yang kemudian menjadi leluhur " Aidid ".
Gelar Aidid---
Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthah orang yang pertama mendapat gelar Aidid. Gelar yang disandangnya karena beliau adalah orang yang pertama tinggal di lembah Aidid yang tidak berpenduduk disebut " Wadi Aidid ", yaitu lembah yang terletak di daerah pegunungan sebelah barat daya kota Tarim, Hadhramaut, Yaman Selatan dan mendirikan sebuah rumah dan masjid untuk tempat beribadah dan dipakai untuk shalat jum'at serta beruzlah ( mengasingkan diri ) dari keramaian.
Asal mulanya lembah tersebut gelap gulita dan banyak keanehan-keanehan, tidak ada yang berani masuk maupun melintasi lembah tersebut, bahkan mengambil sesuatu didalam lembah tersebut. Akhirnya lembah tersebut menjadi lembah yang sangat aman, makmur, semerbak dan terang benderang dengan sinar keberkahan dari Waliyullah Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthah. Selanjutnya penduduk disekitar lembah tersebut mengangkat Al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Al-Hauthah sebagai penguasa lembah Aidid dengan gelar Muhammad Maula Aidid. Maula berarti Penguasa.
Waliyullah Al-Imam Muhammad Maula Aidid ditanya oleh beberapa orang penduduk : “ Wahai Imam mengapa engkau mendirikan sebuah Masjid yang juga dipakai untuk shalat Jum’at, sedangkan di lembah ini tak ada penghuninya ? “. Lalu beliau menjawab “ nanti akan datang suatu zaman dimana zaman tersebut banyak sekali Umat yang datang kelembah ini, datang dan bertabaruk ".
Alhabib Umar bin Muhammad Bin Hafidz pada kesempatan ziarah di Zanbal, menceritakan ucapan Al-Imam Muhammad Maula Aidid tersebut dihadapan murid-muridnya, kemudian ia berkata didepan maqam Al-Imam Muhammad Maula Aidid “ Wahai Imam kami, semua yang hadir dihadapanmu ini menjadi saksi akan ucapanmu ini “.
Guru - guru Al - Imam Muhammad Maula Aidid---
Waliyullah Al-Imam Muhammad Maula Aidid adalah seorang ulama besar pada zamannya yang sangat luas ilmunya, baik ilmu syariat ataupun ilmu thariqah dan yang mukasif. Beliau belajar atau menuntut ilmu agama dari berbagai-bagai guru di zamannya, diantaranya :
  1. Syech Muhammad bin Hakam Baqusyair, di Qasam
  2. Al-Faqih Abdullah bin Fadhel Al-Haj
  3. Al-Imam Sayyid Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Maula Dawilah
  4. Al-Imam Sayyid Muhammad bin Hasan Jamalullail
  5. Syekh Abdurrahman bin Muhammad Al-Khatib
  6. Al-Imam Sayyid Ali Bin Muhammad (Shahib Al-Hauthoh) ( ayahnya Muhammad Maula Aidid )
Murid - murid Al - Imam Muhammad Maula Aidid---
Banyak para ulama memuji, juga mengagumi dan memuliakan beliau karena akhlak juga keluasan ilmu-ilmu agama yang ada pada dirinya. Para ulama yang belajar menimba ilmu kepadanya, diantaranya sbb. :
  1. Sayyid Abdullah Alaydrus bin Sayyid Abubakar Assakran
  2. Sayyid Ali bin Sayyid Abubakar Assakran
  3. Sayyid Abubakar Al-Adny bin Sayyid Abdullah Alaydrus
  4. Al-Faqih Al-'Alamah Muhammad bin Ahmad Bafadhaj
  5. Muhammad bin Ahmad Abi Jarasy
  6. Sayyid Umar bin Sayyid Abdurrahman Shahib Al-Hamra
  7. Sayyid Al-Faqih Al-'Alamah Muhammad bin Ali bin Alwi Al-Khirid (Shahib kitab Al-Ghurror)
  8. Putera-puteranya, yaitu Sayyid Abdullah dan Sayyid Abdurrahman
Riwayat / Kisah - Kisah karomahnya Al - Imam Muhammad Maula Aidid---Al-Imam Muhammad Maula Aidid banyak membaca Al-Qur'an disetiap waktu terutama surat Al-Ikhlas.
Beliau adalah seorang yang dzuhud. Beliau memandang dunia hanya sebagai bayangan yang cepat berlalu. Banyak fakir miskin dan tamu yang datang kepadanya dengan berbagai keperluan, dan beliau selalu memenuhinya. Akhlaknya lebih lembut dari tiupan angin.
Tertulis dalam kitab Syarah Al-Ayniyyah, bahwa Al-Faqih Muhammad Maula Aidid mendawamkan bacaan surat Al-Ikhlas antara shalat maghrib dan isya sebanyak 3000 kali.
Dijelaskan oleh Al-Habib Ahmad bin Zein Alhabsyi dalam kitab Syarah Al-Ayniyyah ( nadzom Imam Hadad ), bahwa Al-Faqih Muhammad Maula Aidid sering bertemu dengan Nabi Khidir.
Syekh Abdurrahman Assegaf memuji, menyanjung serta memuliakan Al-Faqih Muhammad Maula Aidid dengan ayahnya. Dan ringkasan-ringkasan apa-apa yang diucapkan oleh para ulama-ulama, bahwa Al-Faqih mempunyai keutamaan dan ilmu seperti lautan.
Al-Faqih Muhammad Maula Aidid dikenal dengan Shohibul Aidid. Al-Faqih Syekh Muhammad bin Hasan bin Umar Abi Jaras mengabarkan, ia dikabari oleh Syekh yang sholeh Muhammad bin Ahmad bin Abubakar bin Abu Harma, bahwasanya Syekh Ali bin Abdurrahman Al-Khotib berkata :
Saya bermaksud mendatangi kediaman Al-Faqih Muhammad bin Ali Shohib Aidid yang rumahnya terletak di lembah Wadi, tetapi saya tidak menemukan di rumahnya. Saya teman akrabnya, juga menghormati dan salah satu muhibin terhadapnya. Dikarenakan tidak adanya beliau di rumahnya, saya langsung ke lembah yang sering dijadikan tempat untuk beribadah kepada Allah S.W.T. Ketika di pertengahan jalan, saya mendengar bunyi aliran air dari bukit, padahal suana tidak ada mendung dan hujan. Dalam keadaan heran saya menelusuri suara aliran air tadi, maka aku berniat mendekat untuk menjawab rasa penasaranku terhadap bunyi aliran air tadi. Seketika aku melihat Al-Faqih Muhammad Maula Aidid sedang duduk dan aliran air tersebut seharusnya mengenai tubuhnya, tetapi tidak mengenai tubuhnya, padahal beliau duduk tepat pada aliran air tersebut. Dalam keadaan heran saya mendekati, kemudian Al-Faqih Muhammad Maula Aidid menyuruh saya duduk dan meminta untuk tidak menceritakan kepada siapapun kejadian yang dialaminya tadi. Saya mandi dan minum serta berwudhu pada air tersebut. Setelah itu saya turun dari lembah tersebut menuju kerumah yang berada di tengah-tengah kebun kurma. Setelah sampai dirumah , keluarga saya bertanya : “ Siapa yang menciprati Ja’faron ditubuhmu ? “. Saya katakan, saya tidak memakai dan memegang ja'faron sebelumnya atau melihatnya. " Ja'faron itu tercium dari badan dan bajumu " kata keluarga saya, saya menjawab, beberapa saat yang lalu saya mandi dan mencuci bajuku bersama Al-Faqih Muhammad Maula Aidid. Kemudian saya melihat dan memperhatikan apa-apa yang dikatakan oleh keluarga saya dan ternyata benar. Maka saya cuci pakaian saya dengan air berulang-ulang, akan tetapi tidak hilang bekas ja'faronnya. Kemudian saya cuci dengan air yang dicampur dengan tanah, juga saya merendam diri di kamar mandi untuk menghilangkan bekas wangi dari ja'faron yang ada pada tubuh dan pakaian saya, tidak hilang juga. Akhirnya saya berdiam di kebun kurma dan tidak keluar ketempat lain atau keluar kota selama tiga hari, saya berharap agar nanti berkurang wanginya pada tubuh dan baju ketika mandi dan mencucinya. Pada setiap shalat fardhu saya cuci, tapi tidak hilang. Beberapa hari kemudian dalam waktu yang panjang wangi ja'faron itu hilang. Itulah salah satu keramat Al-Faqih Muhammad Maula Aidid.
Diriwayatkan oleh Muhammad bin Abu Mukhtar, bahwa saya bersama rombongan atau kafilah keluar dari kota Syihr dan tiba pada malam hari serta menginap di suatu daerah pada waktu itu lagi musim dingin. Ketika itu akhir dari bulan musim dingin, orang-orang tidak mampu keluar berjalan-jalan atau mendatangi tempat tersebut dikarenakan sangat dingin. Saya tidak membawa bekal berupa selimut atau alat penghangat. Menjelang malam, saya tertidur, sebelum tidur mengucapkan nama Al-Faqih Muhammad Maula Aidid. Ketika dalam tidur saya bertemu dengan Al-Faqih Muhammad Maula Aidid. Saya berkata : " saya kedinginan " , kemudian diselimuti oleh Al-Faqih Muhammad Maula Aidid, selimut demi selimut. Berkata Al-Faqih Muhammad Maula Aidid : " Sudah hangatkah badanmu ? ", Saya menjawab: " belum ". Kemudian diselimuti lagi sampai merasakan tidak kedinginan lagi. Lalu saya berkata kepadanya : " sudah hangat wahai sayyid ".
Diriwayatkan dari sebahagian orang kepada Al-Habib Muhammad bin Ali Al-Khirid ( Pengarang kitab Al-Ghuror). Ketika air yang mengalir sangat sedikit dari lembah atau bukit-bukit dan tidak mencukupi untuk menyiram kebunnya, berupa pohon kurma dan pohon sidir ditengah lembah, sehingga banyak tumbuh ilalang dari aliran air tersebut, seseorang memasuki daerah itu dan tertidur, dalam tidurnya didatangi oleh seseorang yang rupanya sangat putih dan wajah yang bercahaya dengan pakaian yang bagus, kemudian ia dipeluknya hingga susah bernapas. Ia bertanya, apa salah dan dosa saya, orang itu berkata : " Engkau meninggalkan hewan peliharaanmu di tempat saya ", maka ia berkata, karena saya terlalu letih, kemudian ia berteriak sampai keluarganya mendengar teriakannya, maka ia berkata, saya minta maaf dengan teriakan yang terdengar oleh keluarga saya. Dan ini terjadi setelah Al-Faqih Muhammad Maula Aidid meninggal dunia dan ia tidak mengenal rupa wajahnya, kemudian ia bertanya, siapa engkau ?, dijawab oleh orang itu : " Saya Muhammad bin Ali Shahib Aidid ".
Al-Faqih Muhammad Maula Aidid pernah dalam melaksanakan da'wahnya bertemu dengan seorang anak muda. Kemudian anak muda tersebut bertanya kepada Al-Faqih : " Siapa Engkau ". Karena tawadhunya, beliau menjawab : " Saya Abdullah ( Hamba Allah ) ". Setelah mendengar ucapan tersebut, anak muda itu dengan sombong dan kasarnya langsung meludah kewajahnya Al-Faqih. Walaupun diperlakukan demikian, beliau sabar dan tidak marah, malah beliau berkata kepada anak muda tersebut : " Sekalipun sikap kamu kasar dan tidak beradab, akan tetapi lisanmu pernah mengucapkan kalimat dzikir kepada Allah walaupun hanya sekali ". Dengan kesabarannya, ludah yang ada di wajahnya di usap dengan tangannya. Kemudian anak muda itu menangis dan meminta maaf kepada Al-Faqih, menyadari akan kehilafan, sikap dan sifatnya. Karena Al-Faqih mempunyai sifat dan akhlak yang penuh dengan kasih sayang, anak muda itu dimaafkan.

Penutup---
Waliyyullah Muhammad Maula Aidid wafat di kota Tarim pada tahun 862 Hijriyyah. Dimakamkan di Pemakaman Zanbal disamping ayahnya Ali Shahib Al-Hauthah satu deretan dengan Al-Faqih Muqaddam.
Penyusun :
Alwi Husein Aidid.
Sumber dari :
Buku Biografi dan Arti Gelar Masing-Masing Leluhur Alawiyyin ( Muhammad Hasan Aidid ), Buku Menelusuri Silsilah Suci Bani Alawi ( Idrus Alwi Al-Masyhur ), Kitab Syarah Al-Ayniyyah ( Nazhom Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad, di syarahkan oleh Al-Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi Ba'Alawi ), Kitab Al-Ghuror ( Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alwi Al-Khirid ).
Turut membantu menyelesaikan Biografi ini :
Al-Habib Idrus Alwi Al-Masyhur, Al-Habib Helmi bin Abubakar Alaydrus, Al-Habib Zein bin Taufik Aidid dan Al-Habib Abdurrahman bin Muchsin Alatas.

Sumber : http://himpunan-aidid.org/?load=biografi.htm#read

Friday, May 7, 2010

GELAR KELUARGA FAM AL-HASANI

Diantara marga-marga keturunan Al-Hasan
Nabiyullah Muhammad  Shalallahu Alaihi Wassalam hanya memiliki 2 (dua) cucu yang menurunkan keturunan keluarga Ahlul-bait sampai sekarang ini, yaitu Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain. dalam pembahasan ini kita hanya membahas keturunan dari Sayyidina Hasan Ra.
(#klik nama marga/fam dibawah ini, untuk membaca masing-masing sejarah marga/fam).

GELAR KELUARGA FAM ALHUSAINI

Beberapa Marga Al-Husaini

Abu-Futhaim

Al-Abu-Numaiy
Al-Adani
Al-Aidid
Al-Aidrus
Al-AlHamid-Inat
Al-Al-Qadri
Al-Albar
Al-Alkaff
Al-Asseggaf
Al-Assery
Al-Asysyathri
Al-Attas
Al-Auhaj
Al-Ba'Bud
Al-Ba-Barik
Al-Ba-'Aqil
Al-Bafaqih
Al-Bafaraj
Al-Bahar
Al-Baharun
Al-Bahsein
Al-Balghoits
Al-Banahsan
Al-Baragbah
Al-Barrum
Al-Basuroh
Al-Basyeban
Al-Bayti
Al-Bin-Aqil
Al-Bin-Jindan
Al-Bin-Sahil
Al-Bin-Semith
Al-Bin-Thahir
Al-Bin-Yahya
Al-Fad'Aq
Al-Habsyi
Al-Haddad
Al-Haddar
Al-Hadi
Al-Hinduan
Al-Hiyyid
Al-Jamalullail
Al-Jufri
Al-Junaid
Al-Junaid-Akhdor
Al-Khaneman
Al-Kherrid
Al-Khumur
Al-Madihij
Al-Mahjub
Al-Masyhur
Al-Marzaq
Al-Maula-Dawillah
Al-Maulakhailah
Aal-Al-Mudhar
Al-Munawwar
Al-Mugebel
Al-Musawa
Al-Musyaiyakh
Al-Muthahhar
Al-Nadzir
Al-Rakhilah
Al-Shafi
Al-Shalabiyyah
Al-Syahab
Al-Syaikh Abi Bakar
Al-Zahir
Basymeleh
Bilfaqih
Shahib Marbad
Alwi Ammil Faqih
Ali bin Muhammad Shahib Marbad
Al-Faqih Al-Muqaddam
Al-Ustadz Al-A'dzham
Asadullah Fi Ardhihi
Aal-A'yun
Aal-Battah
Aal-Ibrahim
Aal-Barakat
Aal-Basri
Aal-Babathinah
Aal-Albiedh
Al-Turobi
Aal-Bajahdab
Jadid
Al-Jannah
Aal-Aljailani
Aal-Bahusein
Aal-Alkhuun
Aal Al-Dzi'bu
Aal-Alrukhailah
Aal-Basakutah
Al-Sakran
Aal-Bin Sumaithan
Aal-Syabsyabah
Aal-Alsyili
Aal-Syahabuddin
Aal-Syaikhon Dan Aal Bin Syaikhon
Shahib Al-Hamra'
Shahib Al-Huthoh
Shahib Al-Syi'ib
Shahib Qasam
Shahib Maryamah
Aal Al-Shafi Al-Jufri
Aal Al-Shafi Al-Saqqaf
Aal-Thaha
Aal-Azhamat Khan
Aal-Ba'alawi
Aal-Ali Lala
Aal-Ba'umar
Al-Ghazali
Aal Al-Ghusnu
Aal Al-Ghamri
Aal Al-Ghaidhi
Al-Fardy
Aal-Quthban
Aal-Qori'
Al-Muhdhar
Aal-Maknun
Aal Al-Maqaddy
Aal-Muthahhar
Al-Nahwi
Aal Bahasyim

Penjelasannya yang lebih jelas mengenai Marga / Fam Keluarga Alawiyin ini dapat dilihat pada : http://www.baalwibafagih.org/2010/03/gelar-keluarga-alawiyin-di-hadramaut.html

Nasihat

Lembaga Qabilah Ba'alwi Bafagih Sulawesi(LQBBS) berdiri untuk Penjagaan Fiqih, Aqidah, Amalan Shalawat, Nasab Sayyid dan Kafa'ah Syarifah serta Kasih Sayang dalam Keluarga

yuk ngobrol atau say hai, klik tombol buku tamu

Struktur Pengelola(Admin)Website Ini

Randy Ibrahim Bafagih (Alfaqir Bafaqih)_____ Sayyid Muh Zalsabil Bafaqih

Pengunjung Website

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms

adsfeed