Friday, August 25, 2017

Gerakan Menghafal dan Mempelajari Nasab Silsilah




Monday, August 21, 2017

Asimilasi Budaya

foto 

Monday, August 14, 2017

Syeikhah Sulthonah

Silsilah Keturunan Syeikhah Sulthonah

Syeikhah Sulthonah binti Ali Az-Zubaidiyah keturunan dari keluarga Az-Zubaidi, mereka adalah bagian dari kabilah Bani Haritsah Al-Kindiah, ada juga yang mengatakan mereka dari kabilah Bani Madzhij.

Syeikhah Sulthonah dilahirkan di perkampungan Al-Urro, yaitu dataran yang membentang dari sebelah timur kampung "Maryamah" hingga ujung Hauthoh yang sekarang dikenal dengan "Hautoh Sulthonah", sekitar 3 mil dari kota Seiyun, perkampungan tersebut dihuni oleh kabilah "Az-Zubaidi" salah satu dari kabilah-kabilah Al-Kindiyah, yang terkenal dengan senjata, kekuatan serta keberaniannya.
Syeikhah Sulthonah tumbuh besar dikeluarga baduwi yang kesehariannya akrab dengan menggembala hewan, dengan kepribadian yang kuat serta sifat-sifat lainnya yang terdapat pada diri penduduk baduwi, walau demikian Sulthonah tidak seperti kebanyakan anak-anak sebayanya, dia tenang dan lebih senang menyendiri dari keramaian teman-teman sebayanya yang bersifat kekanak-kanakan, sehingga ketika usianya berangsur dewasa dia mulai tidak menyukai tradisi kehidupan baduwi yang diwarnai dengan kekerasan dan kedzaliman, selain itu dia juga mulai menyelusuri jalan fitrahnya yang menuntunya kepada iman dan membawanya kepada ketenangan jiwa. Susana malam yang sunyi serta perkampungan yang tenang serta cerita penduduk setempat tentang para Sholihin adalah hal yang sangat membantu pencaharian Sulthonah.

Sejalan dengan perkembangan usianya yang semakin dewasa, pencaharian itu pun semakin mendalam, dia mulai melihat kenyataan kehidupan sosial di Hadhramaut, juga mendengar tentang para ahli ibadah, ahli zuhud serta para ulama atqia dan shalihin serta karomah-karomahnya yang menjadi bahan obrolan penduduk setempat, mereka yang ditakuti oleh orang-orang bersenjata karena kekuatan jiwa serta imannya yang mantap, mereka yang disegani oleh semua kalangan, bahkan kekuatan batinnya yang luar biasa bisa menghentikan dan melerai perang antara kabilah tanpa senjata atau bala tentara.

Gadis yang brilian itu terus mengikuti informasi tentang kehidupan para shalihin serta kegiatan dakwah mereka didaerah lembah Hadhramaut, bahkan dia berjalan kaki ke masjid-masjid untuk mendengarkan pengajaran dan petuah dari pari dai yang kebetulan singgah di perkampungannya, hal tersebut membuat tekadnya semakin kuat untuk menempuh jalan tasawwuf dan memenuhi panggilan fitrahnya, petuah dan pelajaran yang ia dengar semakin menggugah hati gadis tersebut sehingga bangkitlah jiwanya untuk melakukan amalan tha'at baik berupa shalat, puasa, ataupun membaca dzikir dan sebagainya yang menjadi aktifitas orang-orang shalihin, bahkan dalam usianya yang masih belia itu hampir seluruh waktu dan pikirannya dia gunakan untuk melakukan amal ibadah dan keta'atan lainnya.

Robiah Hadhramaut

Para penulis sejarah menjuluki Syeikhah Sulthonah sebagai Robiahnya Hadhramaut, dan memang gelar tersebut sangat sesuai dengan hal dan makomnya Syeikhah Sulthonah, karena beliau dari mulai kecil sudah mulai menyelusuri jalan tasawuf, dan dari segi itu dia mengungguli Robiah Al-Adawiyah yang disebutkan dalam buku-buku sejarah Islam, hal tersebut sebagaimana disebutkan oleh Sayid Muhammad bin Ahmad As-Syatiri dalam kitabnya "Al-Adwar", "Dia (Syeikhah Sulthonah) mempunyai kelebihan tersendiri karena dari kecil sudah mulai meniti tangga dan makom-makom tasawuf".

Dalam usia dini Sulthonah sudah mulai melangkahkan kaki menyelusuri jalan tasawuf, dan ia menemukan jalan kesana disetiap tempat di lembah Hadhramaut, walaupun dia dan keluarganya serta kabilahnya tinggal di perkampungan baduy urro, namun tidak jarang para ulama dari Tarim, Seyun, Gurfah, Syibam dan lainya datang kesana guna memberikan wejangan dan petunjuk para penduduk setempat kepada ajaran dan adab Islam, keadaan yang seperti semakin memberikan kesempatan bagi Sulthonah untuk dengan secara diam-diam dia selalu mengikuti dan mendengarkan petuah dan pelajaran dari para alim ulama yang sengaja mendatangi perkampungannya untuk menyebarkan dakwah islamiah, hingga ketekunannya dalam mengikuti dan mendengarkan pelajaran dari para ulama serta pilihannya untuk menelusuri jalan tasawuf kemudian Sulthonah terkenal dikalangan penduduk setempat.

Hal tersebut semakin menakjuban kalau dilihat dari lingkungan dan tabiat masyarakat setempat, masyarakat setempat yang merupakan kabilah-kabilah baduy dikenal akan kecintaan dan penghormatan mereka pada "Alulbait" dan ulama yang datang kekampung mereka untuk menyebarkan ilmu dan dakwah islamiyah, namun walaupun mereka menerima baik para ulama yang datang kekampungnya, bukan berarti mereka menerima dan mempunyai keinginan untuk menerima dan mengikuti ajaran tasawuf, begitupula halnya dengan kaum perempuan, mereka hanya mengenal tradisi dan kebiasaan yang diturunkan dari nenek moyangnya, mereka jauh sekali dari dunia keilmuan apalagi sampai mendalami tasawuf.

Keadaan lingkungan masyrakat dan adat baduy yang akrab dengan senjata dan kekerasan dan jauh dari dunia keilmuan tidak membuat Sulthonah patah semangat, bahkan sebaliknya tantangan yang berat tersebut semakin menggugah semangatnya dalam menyelusuri jalan menuju petunjuk Allah, hal tersebut menjadikan kagum para kerabat dan kabilahnya juga para masyayeh zaman itu, hingga para masyayeh memberikan perhatian khusus kepadanya, berkat semua itu, akhirnya nama Sulthonah dikenal dihampir seluruh Lembah Hadhramaut, para masyayehpun menerima dan mengakui makomnya Sulthonah karena memang Sulthonah, para masyayeh tasawuf dan ulama di Lembah Hadhramaut masa itu mempunyai hubungan yang kuat antar satu dengan yang lainnya dan hubungan mereka berdasarkan husnudzon, dengan kaidah istiqomah dan selalu berdekatan dengan para ulama dan masyayeh. Sulthonah telah mampu membuktikan bahwa dia memilik karakter tersebut, Karena dari kecil dia merupakan anak yang baik dan taat serta giat mengerjakan pekerjaan rumahnya, sebagai anak perempuan dalam keluarga dia menenun, menjahit, beternak ayam, memasak untuk keluarganya dan pekerjaan rumah yang baiasa dikerjakan oleh remaja putri sesusianya, dan disamping itu semua Sulthonah adalah seorang putri yang bertakwa, penyabar, sufi, gemar menunjukan kepada orang lain jalan yang benar, dia juga seorang gadis mempunyai nama baik menjaga harga diri, dibesarkan dilingkungan keluarga berakhlak mulia yang merupakan warisan turun temurun dari kabilahnya.

Bagaimana Anggota Kabilah Sulthonah Bisa Menerima Ajaran Tasawuf?

Sudah menjadi kehendak Allah, bersamaan dengan munculnya Syekhah Sulthonah dalam kancah tasawuf dan mulai menyebarkan ajaran tasawuf kepada masyarakat setempat, terjadilah suatu kejadian yang kemudian menjadikan salah satu sebab terbukanya hati mereka untuk kembali ke jalan Allah SWT, peristiwa tersebut sebagaimana disebutkan dalam "Al-Adwar", bahwa pada suatu waktu sekelompok masyarakat setempat mendapatkan seekor unta yang tersesat, dan mereka mengambilnya sebagai barang rampasan, kemudian diketahui bahwa onta itu ternyata milik Syekh As-Sholih Muhammad bin Hakam Baqosir, setelah beliau tau akan kejadian tersebut maka beliau berdoa didepan orang banyak, agar Allah memberikan mereka (orang-orang yang mengambil untanya) petunjuk ke jalan yang benar yang diridloi oleh Allah SWT kalau hal yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut kebutuhan yang mendesak, atau Allah membalas mereka jika mereka melakukan hal tersebut karena anaiya dan zhalim.
Cara dan sikap Syekh Baqosir dalam menyikapi kejadian itu membuat warga baduy yang polos dengan dicampuri sifat keras dan perampas, tergerak hati nuraninya untuk kembali ke jalan Allah SWT.

Peristiwa tersebut jelas sangat mendukung terhadap dakhwah yang mulai dirintis oleh Syeikhah Sulthonah, bahkan menurut riwayat lain pengaruh dari Syeikhah Sulthonah bukan saja menyadarkan para penduduk baduy tersebut kepada jalan yang diridloi Allah SWT, bahkan lebih dari itu banyak dari anggota keluarga dan kabilahnya yang kemudian menyelusuri jejak langkah Seiyakhah Sulthonah diantara mereka adalah Umar dan Muhammad saudara Syeikhah Sulthonah, sehingga kemudian mereka mengambil langsung dari Syekh Muhammad bin Abdullah Al-qodim Baabbaad dan masyayeh Hadhramaut lainnya.
Guru Syekhah Sulthonah

Guru Syekhah Sulthonah
Setelah Syekhah Sulthonah matang dalam memahami tuntutan fitrahnya dalam lingkungan yang sederhana tersebut, maka semakin kuat pula ajakan dalam jiwanya untuk mengambil tasawuf secara langsung dari para masyayeh. Adapun Syeh pertama yang dituju oleh Sulthonah adalah Al-Allamah Muhammad bin Abdullah Al-qodim Baabbad yang tinggal di kampung Gurfah tidak jauh dari kampungnya Syeikhah Sulthonah, dari Syeikh Al-qodim inilah mulai terbukanya anugerah Allah yang berupa ilmu dan amal baik yang melalui kasab ataupun yang merupakan laduni dan wahbi. Dan diantara kelebihan Syeikhah Sulthonah yang menonjol adalah beliau tidak mau menikah dan bahkan tidak menganggap bahwa nikah itu suatu tujuan, Sulthonah mempunyai tujuan yang luhur daripada hal tersebut yaitu tujuan ruhani yang telah ia pupuk semenjak kecil dengan memperbanyak riadloh dan menyerahkan jiwa sepenuhnya kepada Allah SWT. Keinginan rohani tersebut mengalahkan segalanya dan menambatkan ketetapan akhlak dan cita-cita kejiwaan yang tinggi sehingga segala sesautu yang bersifat duniawi dan berhubungan dengan syahwat dianggap suatu yang remeh walaupun itu halal. Buah dari itu semua adalah bersihnya hati dan jiwa sehingga mudah untuk melakukan amal saholeh, sehingga diriwayatkan Syeikhah Sulthonah termasuk orang yang sering melihat Nabi SAW dalam mimpi.

Begitulah selanjutnya Syeikhah meniti tangga dan menimba tasawuf dari para masyayeh di zaman itu, hal tersebut dilakukannya dengan mendatangi langsung rumah, ataupun mendatangi masjid-masjid guna menimba ilmu dari para masyayeh yang selalu mengisi masjid-masjid tersebut dengan wejangan dan pelajaran. Tentang Syeikhah Sulthonah yang gigih dan pengaruhnya dikalangan masyrakat baduy akhirnya sampai juga kepada para masyayekh di sekitar Hadhramaut, hal yang menjadikan Syeikhah Sulthonah semakin dekat dengan para ulama keturunan Rasulullah SAW, oleh karena itu Sulthonah sangat menyadari akan kewajiban yang ia pikul terhadap para keturunan Rasulullah SAW tersebut, oleh krn itu beliau berkata "Demi keagungan zat Allah yang disembah, kalau misalkan dagingku ini bisa bermanfaat bagimu, maka akan aku korbankan", dia juga berkata disela-sela memberi wejangan kepada masyarakat "Sesungguhnya aku melihat bahwa keluarga Baalawi mempunyai kedudukan diatas manusia lainnya", yakni para wali dan masayekh dari Baalawi mempunyai kedudukan yang lebih daripada yang lainnya.

Adapun masyayekh Baalwi yang mempunyai hubungan dekat dengan Syeikhah Sulthonah adalah Syeikh Abdurrahman Assegaff dan keturunanya, tentang kecintaannya dan penghormatannya kepada keturunan Rasulullah SAW bisa dilihat jelas dalam maqolah yang ditulis oleh Syeikhah Sulthonah tentang betapa dia mengagungkan dan menghormati keturunan Rasulullah SAW dengan tulus dan ikhlas bukan suatu hal yang dibuat-buat atau dipaksakan.

Sayyid Abdurrahman Assegaff adalah salah satu masyayeh dari keluarga Baalawi yang sering datang ke perkampungan Sulthonah guna memberi wejangan dan pelajaran kepada masyarakat setempat, kehadiran beliau disana semakin sering setelah menikahi salah satu warga kampung, kehadiran beliau selalu disambut gembira oleh masyarakat disana, mereka selalu memenuhi masjid yang dipake media dakwah oleh para masyayeh, bahkan sebagian masyarakat mendatangi beliau guna menimba ilmu dan barokah, mengenai hal itu Syeikhah Sulthonah berkata : "Apabila Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff akan mengunjungi kita, maka sebelumnya kampung kita menjadi subur seakan-akan habis tersiram hujan deras, kemudian setelah itu aku mendengar suara berkata "datang kepadamu sultan putranya sultan". Dan dia sendiri yang berkata seperti itu pada hakikatnya adalah sultonah ruhani sebagaiaman perkataan syair :

ملوك على التحقيق ليس لغيهم
من الملك إلا إسمه وعقابه

Artinya : mereka adalah para raja yang sesungguhnya, adapun raja-raja yang lainya hanya mempunyai nama dan gelar saja

Dan mengenai mereka Syekh Abu Madyan berkata :

ما لذة العيش إلا صحبة الفقرا
هم السلاطين والسادات والأمرا

Artinya : kelezatan hidup ini hanya dengan berbaur dengan kaum faqir, mereka adalah para raja dan pemimpin

Mahabbah Syeikhah Sulthonah terhadap Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaf yang begitu kuat, menjadikan Syeikhah Sulthonah mampu membedakan antara alamat kedatangn mereka kepadanya, dalam hal itu Syeikhah Sulthonah berkata : "setiap wali yang dating kepadaku aku mengetahuinya, dan kalau sudah tiba maka dia masuk melalui pintu, kecuali Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff kalau dia berkunjung kepadaku maka aku tidak mengetahuinya kecuali dia sidah berdiri dihadapanku".

Tafsir tentang perkataan tersebut tidaklah bertentangan dengan mafhum zahir, karena tidak menutup kemungkinan dialam sirrinya Syeikhah Sulthonah telah merasakan adanya madad dan atsar dari para wali yang datang kepadanya, karena para wali mempunyai sirr yang bisa membedakan suatu perkara dari yang lainya, atau dia melihat sesuatu yang berada disekitarnya dengan "nur" Allah, sebagaimana disebutkan dalam atsar "Takutlah engkau akan firasatnya seorang mukmin, karena dia melihat dengan "nur" Allah". Dan tentang hal tersebut Syeikhah Sulthonah berkata :"Setiap wali Allah aku mengenalnya baik banyak ataupun sedikit", dia juga berkata "Sebagian dari para wali itu aku mengetahu halnya, kecuali Syekh Sayyid Abdurrahman".

Adapun hubungan Syeikhah Sulthonah dengan Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran putra Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff tidak kalah dekat dan kuatnya dengan hubungan Sulthonah dengan sang ayah, Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran menjadi penerus perjuangan dakwah sang ayah, maka beliaupun seringkali berkunjungi ke perkampungan guna menyebarkan ilmu dan menyampaikan dakwah islamiyah, hal tersebut sebagaimana diterangkan oleh penulis "Al-jauhar As-Syaffaf", : Antara Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran dengan Syeikhah Sulthonah mempunyai hubungan yang erat dan mahabbah yang agung, dan ketika Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran akan berkunjung perkampungannya maka dua atau tiga hari sebelumnya Syeikhah Sulthonah memberi tahukan kepada penduduk setempat dan berkata :"Sambutlah kedatangan sultan putranya sultan, karena aku telah mendengar "Syaawusy" (kemungkinan dari bahasa turki- yang artinya pimpinan pengawal atau pemimpin suatu kelompok, dan yang dimaksud disini adalah sautu bisikan kabar gembira), memberi tahukan kedatangannya, aku juga melihat mahkota kewalian dikepalanya, dan kedatangannya diiringi oleh para malaikat". Dia juga berkata "Sesungguhnya aku selalu mendengar suara annaubah dilangit yang mengumandangkan kepemimpinan Syekh Sayyid Abu Bakar".

Syeikhah Sulthonah oleh Allah dikaruniai umur panjang sehingga beliau menzamani putranya Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran, sebagaimana dia menghormati dan mengagungkan kakek dan ayahnya Syeikhah Sulthonahpun menghoramti keturunan Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff tersebut.

Sebagaimana beliau menghormati Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran pada masa hidupnya, bahkan setelah beliau meninggalpun Syeikhah Sulthonah berkata :"ketika Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran meninggal dunia Allah memberinya anugerah yang tak terhingga, dan aku tidak mengetahui seorang wali Allah yang dianugerahi seperti itu kecuali dia dari keluarganya terdahulu", Syekh Sayyid Sulthonah pun memberikan penghormatan tersebut kepada keturunan Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaf yang datang setelahnya, seperti Syekh Sayyid Umar Al-Muhdlor dan Syekh Hasan.
Adapun tentang mahabbah dan penghormatan Syeikhah Sulthonah terhadap Sayid Abdullah Alidrus bin Abu Bakar hal tersebut dijelaskan dalam kitab Al-Jauhar As-Syafaf hal 146, "diantara hikayat tersebut adalah tentang seorang laki-laki soleh yang dikenal dengan Bin Abi Abbad dan Sulthonah binti Ali Az-Zubaidi semunya mengagungkan Syekh Sayyid Abdullah dan menghormatinya atas karunia yang telah dilimpahkan oleh Allah kepadanya, telah berkata sebagian orang yang terpercaya, "Suatu hari saya mendatangi Syeikhah Alarifah billah Sulthonah binti Ali Az-Zubaidi, beliau memuji Syekh Sayyid Abdullah bin Abu bakar dan mengagungkannya serta menyebutkan sifat-sifatnya, dan setelah itu dia berkata kepadaku :"aku pesen kepada kamu apabila tiba di Tarim maka ciumlah kepalanya (Syekh Sayyid Abdullah bin Abu Bakar)" ketika aku tiba di Tarim aku menjumpai yang sedang bermain dengan teman sebayanya dan aku melakukan yang dipesankan oleh Syeikhah Sulthonah. Mengenai hal itu penulis Al-Jauhar As-Syafaf mendendangkan sebuah syair :

وبنت الزبيدي كم أشاروا وأفصحوا
بتعظيمه شابا لجزل عطية

Artinya : dan putrinya Az-Zubaidi yang dikatakan bahwa dia mengagungkan seorang pemuda yang dianugerahi karunia yang tak terhingga oleh Allah SWT.

Syeikhah Sulthonah dan Sastra Sufi

Amal taat dan dzikir serta tafakur telah membuahkan suatu ketenangan dalam hati Syeikhah Sulthonah, sejalan dengan firman Allah SWT dalam surat Arra'd ayat 28 yang artinya :"ingatlah tenangnya hati dengan dkrillah", dan setiap sesuatu dalam kehidupan menjadi suatu media untuk mengenal Allah.

وفي كل شيء له آية
تدل على أنه واحد

Artinya : Dalam segala sesuatu tersimpan suatu bukti, yang menunjukan atas keesaan Allah SWT.

Bertolak dari dasar inilah maka dzikir merupakan suatu alat untuk mengasah dzauk dan salah satu untuk memahami kata-kata sastera secara faham sufi. Dan dari dasar ini pula Syeikhah Sultohnah mengungkapkan atas perasaan dan gejolak jiwanya melalui syair sufi, adapun kebanyakan syairnya merupakan sayir mahabbah dan kerinduan kepada Allah SWT, ada juga syairnya yang berupa pujian terhadap guru-gurunya, Syeikhah Sulthonah dalam sayirnya mempunyai ciri khas tersendiri yaitu gaya kesukuan yang memasyarakat serta sayirnya yang berupa sayir nyanyian, dan kebanyakan syair Syekhah Sulthonah tersebut sampai sekarang ini masih selalu didendangkan dalam "Hadlrah Syeikh Assegaff" yang didirkan oleh Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff di Masjid Assegaff Tarim.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab sejarah bahwa Syeikhah Sulthonah seringkali dating ke Tarim dan duduk dipenghujung kumpulan para hadirin yang menghadiri pengajian Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff, disana dia mengikuti pengajian dan mendengarkan syair-syair sufi, disamping saling bertukar ilmu pengetahuan dengan para masyayeh disana dan terkadang mengumandangkan syair baik karangannya ataupun sayir karangan orang lain. Dikisahkan dalam suatu kesempatan terjadi perbincangan antara Syeikhah Sulthonah dan Syekh Sayyid Hasan bin Abdurrahman Assegaff di hadapan ayahandanya Syekh Sayyid Abdurrahaman Assegaff, ringkasnya dalam pembicaraan tersebut Syekh Hasan mengatakan bahwa tidak sepantasnya unta betina mendahului dan menyamai unta jantan, Syekh Hasan mengungkapkan hal tersebut dengan bentuk sayair

يا ما اسفهش ما بدا بكره تماري جمال

Mendengar perkataan seperti itu Syeikhah Sulthonah meminta izin kepada Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaf untuk menjawabnya, dan Syekh Sayyid Abdurrahman pun mengizinkannya, maka Syeikhah Sulthonah dengan tidak berpikir panjang menjawabnya dalam bentuk syair juga yang berbunyi :

الحمل بالحمل والزايد لبن والعيال

Dengan bait itu Syeikhah Sulthonah menjawab perkataan Syekh Hasan, bahwa memang dia seorang perempuan tetapi dia sama seperti laki-laki dalam ahwal dam maqomat, bahkan seorang perempuan memiliki kelebihan daripada laki-laki, karena perempuan memiliki sesuatu yang sangat bermanfaat yaitu air susu yang menjadi lambang pendidikan, dan juga memiliki keturunan yang bisa menjaga kelesatarian manusia, dan kedua hal tersebut tidak dimiliki oleh laki-laki, mendengar jawaban dari Syeikhah Sulthonah seperti Syekh Sayyid Abdurrahman sangat gembira atas jawaban yang tepat dan daya tangkap yang cepat.


Peran Syeikhah Sulthonah dalam Menyebarkan Ilmu Pengetahuan

Salah satu keistimewaan Madrasah Tasawuf di Hadhramaut adalah selain mendidik para pelajar dengan ilmu pengetahuan dan menggemblengnya dengan akhlak alkarimah para masyaye dan ulama disana selalu menyeru para pelajar untuk meyebarkan dakwah ilallah dan mengajari orang-orang awam serta penduduk diperkampungan dengan bersungguh-sungguh seta media seadanya.

Dan merupakan sauatu hal yang menakjubkan bahwa hingga saat ini metode dakwah tersebut masih seperti itu, dan terkadang para pelajar yang baru mulai pun dituntut untuk menyebarkan dan mempraktekan ilmunya kepada masyarakat setempat, hal tersebut dilakukan oleh para masyayeh di Hadhramaut untuk membiasakan para murid menyambungkan ilmu dengan pengamalan dan juga menyebarkannya.

Dalam lingkungan seperti itulah Sulthonah dilahirkan dan tumbuh dewasa, untuk kemudian ikut andil dalam menyebarkan ilmu dan pengetahuan yang ia dapatkan kepada para sanak kerabat dan kabilahnya.

Setelah melihat dan memahami metode dakwah di Hadhramaut, Syeikhah Sulthonah menyadari bahwa ilmu dan pendidikan bagi generasi mudan serta kaum fakir membutuhkan tempat untuk mereka bernaung maka langkah pertama yang dilakukan oleh Syeikhah Sulthonah mengajak masyarakat setempat untuk membangun ribath disepanjang pinggiran perkampungan kabilahnya, adapun peran dia sendiri atas ribat tersebut adalah sebagai pengawas dan donatur maka tidak lama kemudian pembangunan tersebut selesai, hal tersebut disebutkan dalam buku-buku sejarah namun mereka berbeda pendapat tentang fungsi ribat tersebut, ada yang mengatakan bahwa ribat tersebut disediakan untuk tempat belajar dan sebagai tempat tinggal para pelajar, dan sebagian lagi mengatakan bahwa ribat tersebut berfungsi sebagai penampungan orang-orang fakir dan sebagai tempat tinggal sementara para tamu dan orang asing yang singgah disana.

Namun apapun maksud dari pembangunan ribat tersebut baik untuk para pelajar ataupun orang fakir kedua maksud tersebut sama mulianya, selain itu keadaan masyarakat pada zaman itu memang sangat membutuhkan bangunan tersebut baik untuk para pelajar ataupun untuk orang-orang fakir miskin, maka sesuai dengan tujuan dibangunnya ribat tersebut maka begitu rampung dibangun, ribat tersebut sering digunakan oleh para masyayeh yang datang kesana untuk mengumpulkan penduduk setempat guna mendapatkan pelajaran dan wejangan serta mengadakan halakoh zikir, peninggalan Syeikhah Sulthonah tersebut masih tetap terpelihara dan ramai dengan pengajian dan halakoh zikir hingga beberapa waktu lamanya sepeninggal Syeikhah Sulthonah, tempat tersebut terkenal sebagai lokasi yang aman yang menjadi tujuan orang-orang ketika ada kerusuhan ataupun perang, hal tersebut dikarenakan kedudukan dan wibawa Syeikhah Sulthonah semasa hidupnya, dan bahkan kedudukan dan wibawa tersebut masih dimiliki oleh para masayayeh kerabat Syeikhah Sulthonah dari kabilah Az-Zabidi, yang senantiasa menjaga hubungan baik dengan para masyayeh dari keluarga keturunan Nabi SAW di kota Tarim, Seyun dan sekitarnya.

Akhir Hayat Syeikhah Sulthonah

Semasa hidupnya Syeikhah Sulthonah merupakan jelmaan seorang wanita Hadhramuat yang salihah bertaqwa, dalam dirinya menyatu ilmu dan amal disamping perannya dalam kehidupan social masyarakat yang lurus, memenuhi hak-hak sesama terlebih lagi hak-hak Tuhannya Allah SWT.

Namun dengan kelebihan yang berlapis dan ketenaran yang dimiliki Syeikhah Sulthonah, penulis tidak menemukan kitab yang mengupas secara rinci tentang sejarah kehidupan Syeikhah Sulthonah, kami hanya bisa menemukan sekelumit tentang Syeikhah Sulthonah dalam lembaran kitab sejarah yang berbeda, namun demikian mungkin cukup dalam menggambarkan kehidupan Syeikhah Sulthonah dan perannya baik dalam dakwah maupun kehidupan sosial apa yang disebutkan oleh Ustadz As-Syatiri dalam Al-Adwar, bahwasanya Syeikhah Sulthonah mempunyai peran penting dalam memperbaiki kehidupan sosial masyarakat di lingkungannya hingga mampu mengangkat derajat kaum dan negerinya.

Sejalan dengan kata-kata syair :

ولو كان النساء كمن ذكرنا
لفضلت النساء على الرجال

Artinya : jika semua perempuan seperti yang kami sebutkan (seperti Syeikhah Sulthonah) maka semestinya kaum hawa tersebut lebih unggul daripada kaum laki-laki.

Disamping itu semua Syeikhah Sulthonah telah mampu membuktikan bahwa ajaran tasawuf di Hadhramaut, bukanlah ajaran yang mengajak untuk mengucilkan diri serta khumul atau pun menjadikan seorang biksu yang terputus dari kehidupan dunia, tasawuf adalah suatu ajaran yang mengajak manusia menuju kemuliaan dan kesucian serta mengajak manusia untuk berperan aktif dalam menyebarkan ajaran islam dan menegakan syariatnya dalam kehidupan nyata di masyarakat, dan hal tersebut bukan hanya terbuka bagi kaum laki-laki tetapi perempuan punya peran penting dalam hal itu, dan hal itu bukanlah hanya suatu perkataan belaka, karena sepeninggal Syeikhah Sulthonah munculah Sulthonah-Slthonah lainnya di Hadhramaut.

Adapun wafatnya Syeikhah Sulthonah adalah pada tahun 843 H, dan beliau dimakamkan dikampungnya setelah diringi oleh para pelayat yang tak terhingga jumlahnya, dan sampai sekarang makamnya masih terjaga dan ramai di ziarahi.

Penutup

Biografi yang telah kami sebutkan tadi merupakan salah satu contoh tentang kaum perempuan pada zaman itu disamping mewakili ajaran tasawuf yang lurus dalam madrasah yang menyatukan anatara ilmu dan amal, antara iman dan tawakkal serta melakukan usaha.

Dan dalam madrasah salaf perempuan memiliki tempat dan kedudukan sebagaiaman kaum laki-laki, hal mana telah dibuktikan oleh seorang wanita muslimah yang dilahirkan diperkampungan baduy namun melalui madrasah Alulbait wanita itupun menjadi seorang tauladan bagi kaumnya, dan yang menjadi dalam kehidupan wanita sahliah pada zaman itu adalah taqwa dan melakukan kewajiban dunia dan akhirat, bukan khumul yang tercela ataupun mengasingkan diri kecuali dari hal-hal yang jelek dan orang-orang yang berbuat kejelekan, dan dengan semua kaidah kehidupan itulah mereka mampu menciptakan suatu kehidupan bermasyarakat yang pantas untuk dijadikan tauladan.
Sumber : indo.hadhramaut.

Keluhan Mengharukan Dari Seorang Syarifah




Assalamualaikum cinta....
 
Taukah kalian habaib...?!
Jika kalian menikah dengan ahwal, kami tersiksa ?!
       Taukah kalian kalau kami ini wanita lemah yg berusaha
        menjaga nasab dan kesucian jidah fatimah Azzahra ?! 
Wallah kami g ridho ! Kalian biarkan syarifah sampai perawan tua bahkan ada dari kami yg sampai akhir hayatnya tdk menikah karna menjaga kesucian Azzahra… dan kalian malah membiarkan Lalu mempersunting ahwal dangan banyak alasan ?!! Kalian punya banyak alasan untk meremehkan syarifah hanya untuk mendapatkan ahwal. Jangan salah... kami pun punya banyak alasan untuk itu ! Kami akan tuntut kalian di depan jidah kami fathimah Azzahra !
    Ingatt !! Kalian para habaib bisa menyambung nasab samapai darah mulia Rasulullah itu berkat Wanita ! Berkat jiddah Azzahra bukan lelaki ! Bukan untukku membeda2kan Hamba Allah.. Tapi Allah sendiri telah membedakan manusia dan hewan, lelaki dan perempuan, malam dan siang, bumi dan langit, Shohabat dan Ahlulbaith, Bahkan Allah membedakan Mana umat nabi Muhammad dan mana umat nabi2 lainnya ! Masih g faham ? Atau pura2 g faham ? Atau g mau Faham ?!!  
      Kepada para Sayyid dan Syarifah...didalam tubuhmu mengalir darah seorang yg mulia, darah seorang pejuang, darah sang pemimpin, dan darah sang kekasih Allah.Wahai pria-pria pilihan Allah, dunia ini hina dan kejam, tidakkkah kau lihat putri-putri Fatimah disana..?.sebagian dari mereka tersesat, tersakiti, teraniaya oleh dunia.Tubuhnya yang mengalir darah Rosulullah, darah Sayyidah Fatimah Az Zahra' sudah digandeng oleh orang lain.. sudah dinikmati oleh orang lain. Apa kalian masih belum sadar ayyuhal Habaib...??? Yaa Ahlil Jannah.. kalian adalah pria yg berdarah Nabiku Muhammad SAW, tolonglah para putri-putri Fatimah. Jangan biarkan mereka tersesat,jangan biarkan mereka tersakiti.

Muliakanlah…!!!  
Mereka sebagaimana kakekmu Rosulullah memuliakan Ummu Abiha Fatimah Az Zahra'. Yaa Syarifah...sungguh mulia Allah menciptakanmu. Dengan kecantikan yg luar biasa,, dan bahkan dimuliakan...

 abdkadiralhamid@2014

Sayyidah Nafisah - Wali ALLAH Dari Kaum Perempuan


Wanita Sufi Sayyidah Nafisah ialah salah satu keturunan Rasulullah s.a.w.. Beliau puteri Imam Sayyid Hasan al-Anwar bin Sayyid Zaid al-Ablaj bin Imam Sayyid Hasan al-Mutsanna bin Imam Sayyidina Hasan bin Imam Sayyidina Ali r.a (dan Sayyidah Fatimah binti Muhammad Rasulullah).. Beliau lahir di Makkah, pada 11 Rabiulawal 145H, hidup dan besar di Madinah.

Hijrah Ke Mesir ....

     Demi keamanan dan ketenangan hidup Sayyidah Nafisah berhijrah ke Mesir bersama suaminya, Sayyid Ishaq al-Mu’tasim bin Sayyid Ja’far As-Shadiq, pada tahun 193H, setelah sebelumnya ziarah ke makam Nabi Ibrahim a.s.. Di Mesir beliau tinggal di rumah Ummi Hani’.
Sayyidah Nafisah menetap di Mesir selama 7 tahun. Penduduk Mesir sangat menyayanginya dan percaya akan karamahnya. Mereka selalu berduyun-duyun mendatanginya, berdesakan mendengarkan mauizahnya dan memohon doanya. Hal ini membuat suaminya berfikir untuk mengajaknya pindah ke tanah Hijaz, namun beliau menolak dan menjawab: “Aku tidak bisa pergi ke Hijaz kerana aku bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w.. Beliau berkata kepadaku: “Janganlah kamu pergi dari Mesir kerana nanti Allah akan mewafatkanmu di sana (di Mesir).”

PRIBADINYA
Sayyidah Nafisah adalah seorang yang sangat kuat beribadah kepada Allah. Siang hari dia berpuasa sunat sedangkan pada malamnya dia bertahajjud menghidupkan malam dengan berzikir dan membaca Al Quran. Dia sungguh zuhud dengan kehidupannya. Hatinya langsung tidak terpaut dengan kehidupan dunia yang menipu daya. Jiwanya rindu dengan syurga Allah dan sangat takut dengan syurga Allah. Disamping itu Sayyidah Nafisah sangat taatkan suaminya. Beliau sangat mematuhi perintah suami dan melayan suaminya dengan sebaik-baiknya.
Sayyidah Nafisah adalah seorang yang terkenal zuhud dan mengasihi manusia yang lain. Pernah satu ketika, beliau menerima wang sebanyak 1000 dirham dari raja untuk keperluan dirinya. Beliau telah membahagikan wang tersebut kepada fakir miskin sebelum sempat memasuki rumahnya. Wang hadiah dari raja itu sedikit pun tidak diambilnya untuk kepentingan dirinya. Semuanya disedekahkan kepada fakir dan miskin. Demikianlah dermawannya Sayyidah Nafisah terhadap fakir miskin.

KEUTAMAANNYA
Sayyidah yang mulia ini sudah mendapatkan keutamaan sejak kecil lagi. Suatu ketika, demikian al-Hafiz Abu Muhammad dalam kitabnya Tuhfatul Asyraf bercerita: Al-Hasan, ayahanda Sayyidah Nafisah membawa Nafisah semasa kecil ke makam Rasulullah s.a.w.. Di sini sang ayah berkata : “Tuanku, Bagindaku Rasulullah, ini puteriku. Aku redha dengannya. Kemudian keduanya pulang. Di malam hari sang ayah bertemu Rasulullah bersabda: “Wahai Hasan Aku redha dengan puterimu Nafisah kerana keredhaanmu itu. Dan Allah SWT juga redha kerana redhaku itu.
Salah satu keutamaan Sayyidah Nafisah adalah selama hidupnya beliau telah mengkhatamkan al-Quran sebanyak 4000 kali. Selain itu, meskipun tinggal jauh dari tanah suci, beliau melakukan ibadah haji sebanyak 17 kali.

SAYYIDAH NAFISAH DAN IMAM SYAFI'I
 Sejarah sepakat mengatakan bahawa Sayyidah Nafisah semasa dengan Imam Syafie. Keduanya saling menghormati. Di ceritakan bahawa Imam Syafie meriwayatkan hadis dari Sayyidah Nafisah. Setiap berkunjung ke kediaman Sayyidah Nafisah Imam Syafie dan pengikutnya sangat menjunjung tinggi adab sopan santun terhadap beliau.
Imam Syafie setiap tertimpa penyakit selalu mengirim utusan ke Sayyidah Nafisah agar berkenan mendoakannya dengan kesembuhannya. Dan benar, setelah itu Imam Syafie mendapatkan kesembuhan. Ketika Imam Syafie tertimpa penyakit yang menyebabkan beliau wafat, Sayyidah Nafisah berkata pada utusan Imam Syafie: “Semoga Allah memberikan kenikmatan pada Syafie dengan melihat wajahNya yang mulia.”

KARAMAHNYA
maqam sayyidah nafisahSebelum menceritakan karamah-karamah Sayyidah yang mulia ini, perlu diketahui bahwa suami Sayyidah Nafisah (Ishaq bin al Mu’taman bin Ja’far ash Shadiq) pernah berkeinginan untuk memindah makam beliau ke pemakaman Baqi’ (Madinah). Kemudian penduduk Mesir meminta suami Sayyidah Nafisah untuk mengurungkan keinginannya, kerana penduduk Mesir ingin mendapatkan berkah darinya. Akhirnya, pada suatu malam suami Sayyidah Nafisah bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w.. Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Ishaq, janganlah kamu menentang keinginan penduduk Mesir, karena Allah akan memberikan berkahNya kepada penduduk Mesir melalui Sayyidah Nafisah”.
Di antara karamahnya ialah ketika pembantu Sayyidah Nafisah yang bernama Jauharah keluar rumah untuk membawakan air wudhu untuk beliau, pada waktu itu hujan deras sekali. Akan tetapi, tapak kaki Jauharah tidak basah dengan air hujan.
Di antara karamahnya juga ialah, ada sebuah keluarga Yahudi yang tinggal di dekat kediaman Sayyidah Nafisah di Mesir. Keluarga itu mempunyai seorang anak perempuan yang lumpuh. Suatu ketika ibu anak itu berkata: “Nak, kamu mahu apa ? Kamu mahu ke kamar mandi ?. Si anak tiba-tiba berkata: “Aku ingin ke tempat perempuan mulia tetangga kita itu.” Setelah si ibu minta izin pada Sayyidah Nafisah dan beliau memperkenankannya, keduanya datang ke kediaman Sayyidah Nafisah. Si anak didudukkan di pinggir rumah. Ketika datang waktu solat Zuhur, Sayyidah Nafisah beranjak untuk berwudhuk di dekat gadis kecil itu. Air wudhuk beliau mengalir ke tubuh anak tersebut. Seperti mendapatkan ilham anak itu mengusap anggota tubuhnya dengan air berkah tersebut. Dan seketika itu juga ia sembuh dan bisa berjalan seperti tidak pernah sakit sama sekali.
Kemudian si anak pulang dan mengetuk pintu. Pintu dibuka oleh ibunya. Dengan hairan dia bertanya: “Kamu siapa Nak?” “Aku puterimu.” Sambil memeluk si ibu bertanya bagaimana ini bisa terjadi. Si anak kemudian bercerita dan akhirnya keluarga itu semuanya masuk Islam.
Selain itu, pernah suatu ketika sungai Nil berhenti mengalir dan mengering. Orang-orang mendatangi Sayyidah Nafisah dan memohon doanya. Beliau memberikan selendangnya agar dilempar ke sungai Nil. Mereka melakukannya. Dan seketika itu juga sungai Nil mengalir kembali dan melimpah.
Karamah-karamah beliau setelah wafat juga banyak. Di antaranya, pada tahun 638H, beberapa pencuri menyelinap ke masjidnya dan mencuri enam belas lampu dari perak. Salah seorang pencuri itu dapat diketahui, lalu dihukum dengan diikat pada pohon. Hukuman itu dilaksanakan di depan masjid agar menjadi pelajaran bagi yang lain. Pada tahun 1940, seseorang yang tinggal di daerah itu bersembunyi di masjid itu pada malam hari. Ia mencuri syal dari Kasymir yang ada di makam itu. Namun, ia tidak menemukan jalan keluar dari masjid itu dan tetap terkurung di sana sampai pelayan mesjid datang di waktu subuh dan menangkapnya.

WAFATNYA
Al-Sakhawi bercerita, “Ketika Sayyidah Nafisah merasakan ajalnya sudah dekat, beliau menulis surat wasiat untuk suaminya, dan menggali kubur beliau sendiri di rumahnya. Kubur yang digalinya itu ialah untuk beliau sentiasa mengingatkan akan kematian. Kemudian beliau turun ke liang kubur itu, memperbanyak solat dan mengkhatamkan al-Quran sebanyak 109 kali. Kalau tidak mampu berdiri, beliau solat dengan duduk, memperbanyak tasbih dan menangis. Ketika sudah sampai ajalnya dan beliau sampai pada ayat: “Bagi mereka (disediakan) tempat kedamaian (syurga) di sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal soleh yang selalu mereka kerjakan.” (Surah Al-An’am: 127), beliau pengsan kemudian dan menghembuskan nafas terakhir menghadap Sang Maha Kasih Abadi pada hari Jumaat, bulan Ramadhan 208H.
Sewaktu disembahyangkan sangat ramai orang yang menghadirinya. Sehingga kini maqamnya diziarahi oleh pengunjung dari seluruh pelusuk dunia. Demikian kehebatan yang Allah anugerahkan kepada Sayyidah Nafisah yang terkenal dengan kewarakan kepada Allah dan ketaatannya kepada suami. Semoga ianya menjadi contoh buat generasi wanita akhir zaman ini.
sumber : taman ulama

Sunday, August 13, 2017

Kalkulator Kalender Hijriyah Gratis Download


Gratis Download Kalender Hijriyyah Islam-Muslim.
Assalamualaikum dan Salam ya sobat..
ini awal baalwibafagih.org menyediakan layanan download aplikasi, kalender hijriyah yang berupa kalkulator penghitung tanggal hijriyah sehingga manfaat dalam penanggalan Islami. bisa digunakan hingga os.windows 8 atau yang terbaru.

Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (bahasa Arab: التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun di mana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M.
sekian penjelasan dari kalender hijriyah.
silahkan sobat download disini kalendernya (just click) : 
Semoga Manfaat ^_^


Dalil-dalil yang Memperbolehkan Melakukan Perayaan Maulid Nabi S.A.W


" Dalil-dalil yang memperbolehkan melakukan perayaan Maulid Nabi s.a.w.

Anjuran bergembira atas rahmat dan karunia Allah kepada kita. Allah SWT berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
 “Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. QS.Yunus:58

Rasulullah SAW sendiri mensyukuri atas kelahirannya. Dalam sebuah Hadits dinyatakan: عَنْ

"Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku". (H.R. Muslim, Abud Dawud, Tirmidzi, Nasa'I, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah dan Baghawi).

Diriwayatkan dari Imam Bukhori bahwa Abu Lahab setiap hari senin diringankan siksanya dengan sebab memerdekakan budak Tsuwaybah sebagai ungkapan kegembiraannya atas kelahiran Rasulullah SAW. Jika Abu Lahab yang non-muslim dan al-Qur'an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW

Sayyid Jalaluddin Al Aidid mengajarkan 3 hal penting yang kemudian menjadi faktor utama terwujudnya Peringatan Maulid Al Akbar Rasulullah (Maudu Lompoa), yaitu prinsip  al-MAK'RIFAH , al- IMAM dan -MAHABBAH

Dengan prinsip itu diyakini bahwa pemahaman ruhaniah secara hakekat terhadap Allah terlebih dahulu harus didahului dengan pemahaman mendalam atas kejadian dan kelahiran Nabi Muhammad saw. terdapat 2 proses kelahiran beliau, yaitu kelahiran di alam ghaib (arwah) dan kelahiran di alam syahadah (dunia). Kejadian di alam ghaib berwujud “Nur Muhammad” yang diciptakan Allah sebagai sumber segala makhluk yang daripadanyalah tercipta alam semesta ini. Masyarakat Pengikut Maulid — khususnya para Sayyid — percaya bahwa Allah menyinari dan memberi cahaya langit dan bumi (bertajalli) melalui “Nur Muhammad” yang diciptakan Allah sebagai pokok kejadian segala makhluk dan rahmat bagi seluruh Alam. Sedangkan kelahiran beliau di alam syahadah ini diyakini merupakan kelahiran dengan membawa kebenaran yang mutlak untuk dipegang. mengenai Nur Muhammad jelasnya dapat dilihat di beberapa literatur kitab salah satunya Kitab Sirrul Asrar yang disusun oleh Sayyid Syekh Abdul Qadir JAELANI

Nasihat

Lembaga Qabilah Ba'alwi Bafagih Sulawesi(LQBBS) berdiri untuk Penjagaan Fiqih, Aqidah, Amalan Shalawat, Nasab Sayyid dan Kafa'ah Syarifah serta Kasih Sayang dalam Keluarga

yuk ngobrol atau say hai, klik tombol buku tamu

Struktur Pengelola(Admin)Website Ini

Randy Ibrahim Bafagih (Alfaqir Bafaqih)_____ Sayyid Muh Zalsabil Bafaqih

Pengunjung Website

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms

adsfeed