Wednesday, October 19, 2022
Pembacaan Salasilah Maulid Syarafal Anam oleh Majelis Ba'alwi Bafagih Sulteng di Bulan Maulid 144H.-2022
Tuesday, October 11, 2022
Gerakan Menghafal dan Mempelajari Silsilah Nasab Tahun ke-5 - Dalil Wajibnya Menghafal Silsilah!!!
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Mempelajari Nasab & Mengingat Atau Menghafalnya Adalah Salahsatu Kewajiban Ummat Umumnya & Dzurriyaturrasul Pada Khususnya.
Kita telah sampai pada tahun ke-5, setelah dicanangkan event Gerakan Menghafal dan Mempelajari Nasab Silsilah pada tahun 2017 oleh Ba'alwi Bafagih Sulawesi. baca post 2017 : https://bit.ly/3rL7iuL
Diharapkan Melalui Gerakan Ini, Setiap Dzurriyaturrasul Yang Kurang Peduli Atau Belum Menghafal Atau Mempelajari Silsilahnya Bisa Tergerak Untuk Menghafal & Mempelajari Silsilah. Memahami Silsilah Adalah Wajib, Hingga Ada Istilah : "Kafir Bila Tak Tahu Silsilahnya". Hal ini karena ada dalil dasarnya, sebagai berikut.
Mengenai wajibnya menghafal & mempelajari silsilah nasab terdapat dalil-nya dalam Kitab Sejarah Silsilah & Gelar Keturunan Nabi Muhammad Saw. (H.S Aydrus Alwi Al-Masyhur) Halaman 4, yaitu sebagai berikut :
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Saw. bersabda :
"Pelajarilah silsilah nasab kalian, agar kalian mengenali hubungan darah kalian".
(Al-Anbah Ala Qabail Al-Ruwah, Hal 51)
Berkata Umar bin Khattab :
"Pelajarilah silsilah nasab kalian , janganlah seperti kaum Nabat hitam jika salah satu di antara mereka ditanya dari mana asalnya, maka ia berkata dari desa ini ".
.(Al-Anbah Ala Qabail Al-Ruwah, Hal 51)
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw:
"Telah Kafir bagi siapa saja yang berlepas diri dari urusan nasab jika hal tersebut samar-samar. Dan telah kafir bagi siapa saja yang menyambungkan nasabnya kepada nasab yang tidak diketahuinya".
(Al-Anbah Ala Qabail Al-Ruwah, Hal 55)
kemudian Pengarang kitab al-Iqdu al-Farid, Abdul al-Rabbih berkata :
‘ Siapa yang tidak mengenal silsilah nasabnya berarti ia tidak mengenal manusia, maka siapa yang tidak mengenal manusia tidak pantas baginya kembali kepada manusia.
Begitulah dalil wajibnya menghafal & mempelajari silsilah.
Semoga semakin bersemangat untuk menghafal & mempelajari silsilah.
Monday, October 10, 2022
Aktif Kembali
mohon maaf atas ketidaknyamanan selama non-aktifnya website ini, semoga website blog ini bermanfaat untuk keluarga dzurriyaturrasul maupun ummat.
Salam.
Admin : Randy Ibrahim Bafagih (Alfaqir Bafaqih).
Saturday, October 19, 2019
Dalil Maulid Nabi Saw. di Majelis Maulid Bafaqih Sulteng - Penceramah Habib Said bin Muchsin Bafaqih
Friday, May 17, 2019
Hakikat Puasa
Sejatinya, puasa bagi kaum sufi telah menjadi salah satu aktivitas ruhani untuk menghidupkan hati dan membuka tabir-tabir makrifat. Mereka terbiasa dengan lelaku (tirakat) di luar kebiasaan manusia kebanyakan. Semakin dalam pemaknaan suatu perintah atau anjuran, maka kesungguhan dalam menjalankannya pun akan meningkat. Walhasil, nilai yang dihasilkannya akan lebih mendalam dan mengakar karena puncak tujuan mereka tidak lain adalah al-Haqq, Allah SWT.
Puasa berarti menahan lapar. Terma lapar atau al-Ju dalam konstelasi ruhani kaum sufi menjadi satu tahapan olah batin yang sangat penting. Kelaparan yang mereka jalani tidak lantas menentang sunnatullah, tetapi menyedikitkan makan sekadar sebagai bekal untuk kekuatan ibadah.
Bukankah Rasulullah SAW telah mengingatkan, "Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya. Maka, cukup baginya memakan beberapa suapan sekadar untuk menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga). Jika tidak sanggup, maka dia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sepertiga untuk nafasnya."
Isyarat hadits di atas tidak menganjurkan kita untuk meninggalkan makanan secara ekstrim, tetapi mengkonsumsi makanan sekadar memberikan kekuatan dalam menegakkan ibadah kepada Allah SWT. Dan lapar dalam puasa, berarti ada masa di mana kita menahan makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan berdasarkan ketentuan fikih setelah fajar menyingsing hingga terbenamnya matahari yang ditandai dengan adzan magrib.
Dengan lapar ini para sufi mencoba berdamai dengan tubuh. Kesadaran bahwa makanan bukanlah satu-satunya hal yang membuat mereka hidup telah tertanam dalam batinnya. Mereka benar-benar menginsafi lapar baik melalui menyedikitkan makanan, maupun saat puasa ini akan menekan syahwat kebinatangan mereka, sekaligus mempersempit jalan setan dalam darah manusia. Seperti ungkapan hadis Nabi SAW, "Sesungguhnya setan itu menyusup dalam aliran darah manusia, karena itu persempitlah jalan masuknya dengan lapar (puasa)."
Puasa Ramadhan melatih hampir semua umat Muhammad dalam berbagai tingkatan kesalehan untuk berpuasa menahan lapar dan dahaga. Tidak hanya itu, puasa Ramadhan juga menjadi pelindung dari setan.
Seperti ungkapan Imam al-Bujairami yang mengutip pendapat Imam Asy-Syarani: "Barangsiapa sempurna laparnya pada bulan Ramadhan, dia akan terlindungi dari setan yang terkutuk hingga Ramadhan berikutnya. Karena puasa adalah perisai yang melindungi tubuh seseorang yang berpuasa selama tidak dirusak oleh sesuatu pun. Apabila ia rusak maka setan pun masuk melalui tempat yang rusak itu."
Maka dari itu, untuk memberikan kualitas terbaik dalam lapar-puasa Ramadhan, kita pun perlu mengenali beragam perilaku yang merusak puasa. Puasa dan laparnya melampaui aspek lahiriahnya. Puasanya mengekang gerak tubuh dari perbuatan tercela dan dosa
Di antara hal-hal yang merusak puasa seperti disebutkan dalam hadis Nabi SAW yang bersumber dari Jabir dari Anas ra. "Lima perkara yang membatalkan puasa, yaitu: berkata dusta, menggunjing orang lain, mengadu domba, sumpah palsu, dan pandangan dengan syahwat".
Sehingga makna puasa bagi kaum sufi bukan sekedar menahan dahaga dan lapar di siang hari, namun hakikat puasa bagi mereka menahan gerak anggota tubuh dari apa yang diharamkan, bahkan mereka menjaga khatar gerak hati mereka dari lalai mengingat Allah (al-Aghyar).
Monday, August 6, 2018
Mewaspadai Generasi Ibnu Muljam
================================
Ali bin ABi Thalib gugur sebagai syahid pada waktu subuh tanggal 7 Ramadhan akibat tebasan pedang salah seorang anggota sekte Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam Al Murodi. Uniknya sang pembunuh ini melakukan aksinya sambil berkata,
“Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”
Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksi bejadnya ini Ibnu Muljam juga tidak berhenti mulutnya mengulang-ulang ayat 207 surat Al Baqarah yang artinya,
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
Tatkala khalifah Ali bin ABi Thalib akhirnya gugur, Ibnu Muljam pun dieksekusi mati dengan cara diqishas. Proses qishasnya pun bisa membuat kita tercengang karena saat tubuhnya telah diikat untuk dipenggal kepalanya, ia masih sempat berpesan kepada algojo yang mendapat tugas melakukan eksekusi,
“Jangan penggal kepalaku sekaligus. Tapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”
Demikianlah keyakinan Ibnu Muljam yang berpendapat bahwa membunuh Ali bin Abi Thalib yang nota bene salah satu sahabat yang dijamin masuk surga, menantu (suami Sayyidah Fathimah) dan saudara sepupu Rasulullah dan ayah dari Hasan dan Husein, dua pemimpin pemuda ahli surga, sebagai tindakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Aksi yang dilakukan oleh Ibnu Muljam ini adalah realitas pahit yang kita lihat pada kehidupan ummat Islam sekarang dimana diantara para pemuda kita terdapat kelompok yang giat melakukan provokasi untuk membunuh kaum muslimin yang tidak berdosa. Kelompok ini menggunakan intimidasi dan aksi kekerasan sebagai strategi perjuangan mereka. Merekalah yang pada raut wajahnya memancarkan hidayah dan mereka juga senantiasa membaca Al Qur’an di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi sebab karakteristik mereka tepat sebagaimana sinyalemen yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah hadits yang artinya,
“Akan ada para lelaki yang membaca Al Qur’an tanpa melampaui tulang selangka mereka. Mereka telah keluar dari agama laksana keluarnya anak panah dari busur.”
Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin.
Ibnu Muljam sejatinya adalah figur lelaki yang shalih, zahid dan bertaqwa. Bukan lelaki bengal yang buta sama sekali terhadap ilmu agama. Di wajahnya terlihat dengan nyata jejak sujud. Ia juga hapal Al Qur’an dan sekaligus sebagai guru yang berusaha mendorong orang lain untuk menghapalkannya. ‘Umar bin Khatthab pernah menugaskannya ke Mesir demi mengabulkan permohonan ‘Amr bin ‘Ash yang memohon kepada beliau untuk mengirim ke Mesir figur yang hafal Al Qur’an untuk mengajarkannya kepada penduduk Mesir. Tatkala ‘Amr bin ‘Ash meminta,
“Wahai amirulmukminin, kirimkanlah kepadaku lelaki yang hafal Al Qur’an untuk mengajari penduduk Mesir, “
‘Umar menjawab, “Saya mengirimkan untukmu seorang lelaki bernama Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Al Qur’an yang aku prioritaskan untukmu dari pada untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al Qur’an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia...!.”
Meskipun Ibnu Muljam hafal Al Qur’an, bertaqwa dan rajin beribadah namun semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya dan berafiliasi dengan sekte Khawarij yang telah meracuni para pemuda muslim sehingga melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam namun justru mengklaim semua itu dalam rangka membela ajaran Allah dan Rasulullah.
Bercermin dari figur Ibnu Muljam tentu kita tidak perlu merasa aneh jika sekarang muncul kelompok-kelompok ekstrim yang mudah memvonis kafir terhadap sesama muslim yang berbeda pandangan melakukan tindakan yang sama persis dilakukan oleh Ibnu Muljam. Mereka mengklaim berjuang menegakkan agama Allah namun faktanya justru menebar ketakutan kepada ummat Islam dan menciptakan konflik internal berdarah-darah yang membuat mustahil membangun persatuan sesama kaum muslimin.
Oleh karena itu menjadi tugas bersama para ulama dan umaro’ untuk membentengi kaum muslimin di Indonesia dari ide-ide keagamaan destruktif yang dikembangkan oleh generasi pewaris Abdurrahman bin Muljam dan untuk berusaha keras menghalangi siapapun yang ingin menjadikan Indonesia sebagai ladang subur bagi tumbuhnya kelompok-kelompok khawarij modern (Neo Khawarij) yang militan namun miskin ilmu.
Wallahu A’lam.
#Salam_Aswaja
#NKRI_HARGA_MATI
Saturday, June 9, 2018
kisah Haru mimpi habib umar bin Hafidz
Subhanallah… Sungguh semakin bertambah-tambah rasa kagum kiita kepadanya. Mungkin tidak berlebihan rasanya bila kita menghormati yang mulia para habaib yang Ahlulbait Nabi sehingga ia ditunggu-tunggu kedatangannya oleh Baginda Nabi SAW, karena seorang yang tegas terhadap agamanya.
Dan kedua habaib ini mungkin patut disebut mewarisi dari sifat Sahabat mulia Rasulillah yaitu Sayidina Abu Bakar As-Siddiq kepada Habib Umar bin Hafidzh dan Sayidina Umar bin Khattab kepada Habib Reziq bin Husen Syihab.
Semoga saja kedua habaib ini diberikan panjang umur dan sehat selalu, Habib Umar dapat memberikan dakwah dan tausiahnya kepada umat yang menyejukan sedangkan Habib Reziq dapat memberikan menyadarkan umat dengan ketegasannya dalam menegakkan dan membela agama yang haq ini.
Amin amin amin ya Rabbal alamin. (mf)
























