Saturday, October 19, 2019
Dalil Maulid Nabi Saw. di Majelis Maulid Bafaqih Sulteng - Penceramah Habib Said bin Muchsin Bafaqih
Bismillahirrahmanirrahim.
ceramah Habib Said bin Muchsin Bafagih pada Bulan Maulid Di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Tahun 2019
Friday, May 17, 2019
Hakikat Puasa
HAKIKAT PUASA
Sejatinya, puasa bagi kaum sufi telah menjadi salah satu aktivitas ruhani untuk menghidupkan hati dan membuka tabir-tabir makrifat. Mereka terbiasa dengan lelaku (tirakat) di luar kebiasaan manusia kebanyakan. Semakin dalam pemaknaan suatu perintah atau anjuran, maka kesungguhan dalam menjalankannya pun akan meningkat. Walhasil, nilai yang dihasilkannya akan lebih mendalam dan mengakar karena puncak tujuan mereka tidak lain adalah al-Haqq, Allah SWT.
Puasa berarti menahan lapar. Terma lapar atau al-Ju dalam konstelasi ruhani kaum sufi menjadi satu tahapan olah batin yang sangat penting. Kelaparan yang mereka jalani tidak lantas menentang sunnatullah, tetapi menyedikitkan makan sekadar sebagai bekal untuk kekuatan ibadah.
Bukankah Rasulullah SAW telah mengingatkan, "Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya. Maka, cukup baginya memakan beberapa suapan sekadar untuk menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga). Jika tidak sanggup, maka dia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sepertiga untuk nafasnya."
Isyarat hadits di atas tidak menganjurkan kita untuk meninggalkan makanan secara ekstrim, tetapi mengkonsumsi makanan sekadar memberikan kekuatan dalam menegakkan ibadah kepada Allah SWT. Dan lapar dalam puasa, berarti ada masa di mana kita menahan makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan berdasarkan ketentuan fikih setelah fajar menyingsing hingga terbenamnya matahari yang ditandai dengan adzan magrib.
Dengan lapar ini para sufi mencoba berdamai dengan tubuh. Kesadaran bahwa makanan bukanlah satu-satunya hal yang membuat mereka hidup telah tertanam dalam batinnya. Mereka benar-benar menginsafi lapar baik melalui menyedikitkan makanan, maupun saat puasa ini akan menekan syahwat kebinatangan mereka, sekaligus mempersempit jalan setan dalam darah manusia. Seperti ungkapan hadis Nabi SAW, "Sesungguhnya setan itu menyusup dalam aliran darah manusia, karena itu persempitlah jalan masuknya dengan lapar (puasa)."
Puasa Ramadhan melatih hampir semua umat Muhammad dalam berbagai tingkatan kesalehan untuk berpuasa menahan lapar dan dahaga. Tidak hanya itu, puasa Ramadhan juga menjadi pelindung dari setan.
Seperti ungkapan Imam al-Bujairami yang mengutip pendapat Imam Asy-Syarani: "Barangsiapa sempurna laparnya pada bulan Ramadhan, dia akan terlindungi dari setan yang terkutuk hingga Ramadhan berikutnya. Karena puasa adalah perisai yang melindungi tubuh seseorang yang berpuasa selama tidak dirusak oleh sesuatu pun. Apabila ia rusak maka setan pun masuk melalui tempat yang rusak itu."
Maka dari itu, untuk memberikan kualitas terbaik dalam lapar-puasa Ramadhan, kita pun perlu mengenali beragam perilaku yang merusak puasa. Puasa dan laparnya melampaui aspek lahiriahnya. Puasanya mengekang gerak tubuh dari perbuatan tercela dan dosa
Di antara hal-hal yang merusak puasa seperti disebutkan dalam hadis Nabi SAW yang bersumber dari Jabir dari Anas ra. "Lima perkara yang membatalkan puasa, yaitu: berkata dusta, menggunjing orang lain, mengadu domba, sumpah palsu, dan pandangan dengan syahwat".
Sehingga makna puasa bagi kaum sufi bukan sekedar menahan dahaga dan lapar di siang hari, namun hakikat puasa bagi mereka menahan gerak anggota tubuh dari apa yang diharamkan, bahkan mereka menjaga khatar gerak hati mereka dari lalai mengingat Allah (al-Aghyar).
Sejatinya, puasa bagi kaum sufi telah menjadi salah satu aktivitas ruhani untuk menghidupkan hati dan membuka tabir-tabir makrifat. Mereka terbiasa dengan lelaku (tirakat) di luar kebiasaan manusia kebanyakan. Semakin dalam pemaknaan suatu perintah atau anjuran, maka kesungguhan dalam menjalankannya pun akan meningkat. Walhasil, nilai yang dihasilkannya akan lebih mendalam dan mengakar karena puncak tujuan mereka tidak lain adalah al-Haqq, Allah SWT.
Puasa berarti menahan lapar. Terma lapar atau al-Ju dalam konstelasi ruhani kaum sufi menjadi satu tahapan olah batin yang sangat penting. Kelaparan yang mereka jalani tidak lantas menentang sunnatullah, tetapi menyedikitkan makan sekadar sebagai bekal untuk kekuatan ibadah.
Bukankah Rasulullah SAW telah mengingatkan, "Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya. Maka, cukup baginya memakan beberapa suapan sekadar untuk menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga). Jika tidak sanggup, maka dia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sepertiga untuk nafasnya."
Isyarat hadits di atas tidak menganjurkan kita untuk meninggalkan makanan secara ekstrim, tetapi mengkonsumsi makanan sekadar memberikan kekuatan dalam menegakkan ibadah kepada Allah SWT. Dan lapar dalam puasa, berarti ada masa di mana kita menahan makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan berdasarkan ketentuan fikih setelah fajar menyingsing hingga terbenamnya matahari yang ditandai dengan adzan magrib.
Dengan lapar ini para sufi mencoba berdamai dengan tubuh. Kesadaran bahwa makanan bukanlah satu-satunya hal yang membuat mereka hidup telah tertanam dalam batinnya. Mereka benar-benar menginsafi lapar baik melalui menyedikitkan makanan, maupun saat puasa ini akan menekan syahwat kebinatangan mereka, sekaligus mempersempit jalan setan dalam darah manusia. Seperti ungkapan hadis Nabi SAW, "Sesungguhnya setan itu menyusup dalam aliran darah manusia, karena itu persempitlah jalan masuknya dengan lapar (puasa)."
Puasa Ramadhan melatih hampir semua umat Muhammad dalam berbagai tingkatan kesalehan untuk berpuasa menahan lapar dan dahaga. Tidak hanya itu, puasa Ramadhan juga menjadi pelindung dari setan.
Seperti ungkapan Imam al-Bujairami yang mengutip pendapat Imam Asy-Syarani: "Barangsiapa sempurna laparnya pada bulan Ramadhan, dia akan terlindungi dari setan yang terkutuk hingga Ramadhan berikutnya. Karena puasa adalah perisai yang melindungi tubuh seseorang yang berpuasa selama tidak dirusak oleh sesuatu pun. Apabila ia rusak maka setan pun masuk melalui tempat yang rusak itu."
Maka dari itu, untuk memberikan kualitas terbaik dalam lapar-puasa Ramadhan, kita pun perlu mengenali beragam perilaku yang merusak puasa. Puasa dan laparnya melampaui aspek lahiriahnya. Puasanya mengekang gerak tubuh dari perbuatan tercela dan dosa
Di antara hal-hal yang merusak puasa seperti disebutkan dalam hadis Nabi SAW yang bersumber dari Jabir dari Anas ra. "Lima perkara yang membatalkan puasa, yaitu: berkata dusta, menggunjing orang lain, mengadu domba, sumpah palsu, dan pandangan dengan syahwat".
Sehingga makna puasa bagi kaum sufi bukan sekedar menahan dahaga dan lapar di siang hari, namun hakikat puasa bagi mereka menahan gerak anggota tubuh dari apa yang diharamkan, bahkan mereka menjaga khatar gerak hati mereka dari lalai mengingat Allah (al-Aghyar).
Monday, August 6, 2018
Mewaspadai Generasi Ibnu Muljam
================================
Ali bin ABi Thalib gugur sebagai syahid pada waktu subuh tanggal 7 Ramadhan akibat tebasan pedang salah seorang anggota sekte Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam Al Murodi. Uniknya sang pembunuh ini melakukan aksinya sambil berkata,
“Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”
Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksi bejadnya ini Ibnu Muljam juga tidak berhenti mulutnya mengulang-ulang ayat 207 surat Al Baqarah yang artinya,
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
Tatkala khalifah Ali bin ABi Thalib akhirnya gugur, Ibnu Muljam pun dieksekusi mati dengan cara diqishas. Proses qishasnya pun bisa membuat kita tercengang karena saat tubuhnya telah diikat untuk dipenggal kepalanya, ia masih sempat berpesan kepada algojo yang mendapat tugas melakukan eksekusi,
“Jangan penggal kepalaku sekaligus. Tapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”
Demikianlah keyakinan Ibnu Muljam yang berpendapat bahwa membunuh Ali bin Abi Thalib yang nota bene salah satu sahabat yang dijamin masuk surga, menantu (suami Sayyidah Fathimah) dan saudara sepupu Rasulullah dan ayah dari Hasan dan Husein, dua pemimpin pemuda ahli surga, sebagai tindakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Aksi yang dilakukan oleh Ibnu Muljam ini adalah realitas pahit yang kita lihat pada kehidupan ummat Islam sekarang dimana diantara para pemuda kita terdapat kelompok yang giat melakukan provokasi untuk membunuh kaum muslimin yang tidak berdosa. Kelompok ini menggunakan intimidasi dan aksi kekerasan sebagai strategi perjuangan mereka. Merekalah yang pada raut wajahnya memancarkan hidayah dan mereka juga senantiasa membaca Al Qur’an di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi sebab karakteristik mereka tepat sebagaimana sinyalemen yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah hadits yang artinya,
“Akan ada para lelaki yang membaca Al Qur’an tanpa melampaui tulang selangka mereka. Mereka telah keluar dari agama laksana keluarnya anak panah dari busur.”
Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin.
Ibnu Muljam sejatinya adalah figur lelaki yang shalih, zahid dan bertaqwa. Bukan lelaki bengal yang buta sama sekali terhadap ilmu agama. Di wajahnya terlihat dengan nyata jejak sujud. Ia juga hapal Al Qur’an dan sekaligus sebagai guru yang berusaha mendorong orang lain untuk menghapalkannya. ‘Umar bin Khatthab pernah menugaskannya ke Mesir demi mengabulkan permohonan ‘Amr bin ‘Ash yang memohon kepada beliau untuk mengirim ke Mesir figur yang hafal Al Qur’an untuk mengajarkannya kepada penduduk Mesir. Tatkala ‘Amr bin ‘Ash meminta,
“Wahai amirulmukminin, kirimkanlah kepadaku lelaki yang hafal Al Qur’an untuk mengajari penduduk Mesir, “
‘Umar menjawab, “Saya mengirimkan untukmu seorang lelaki bernama Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Al Qur’an yang aku prioritaskan untukmu dari pada untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al Qur’an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia...!.”
Meskipun Ibnu Muljam hafal Al Qur’an, bertaqwa dan rajin beribadah namun semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya dan berafiliasi dengan sekte Khawarij yang telah meracuni para pemuda muslim sehingga melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam namun justru mengklaim semua itu dalam rangka membela ajaran Allah dan Rasulullah.
Bercermin dari figur Ibnu Muljam tentu kita tidak perlu merasa aneh jika sekarang muncul kelompok-kelompok ekstrim yang mudah memvonis kafir terhadap sesama muslim yang berbeda pandangan melakukan tindakan yang sama persis dilakukan oleh Ibnu Muljam. Mereka mengklaim berjuang menegakkan agama Allah namun faktanya justru menebar ketakutan kepada ummat Islam dan menciptakan konflik internal berdarah-darah yang membuat mustahil membangun persatuan sesama kaum muslimin.
Oleh karena itu menjadi tugas bersama para ulama dan umaro’ untuk membentengi kaum muslimin di Indonesia dari ide-ide keagamaan destruktif yang dikembangkan oleh generasi pewaris Abdurrahman bin Muljam dan untuk berusaha keras menghalangi siapapun yang ingin menjadikan Indonesia sebagai ladang subur bagi tumbuhnya kelompok-kelompok khawarij modern (Neo Khawarij) yang militan namun miskin ilmu.
Wallahu A’lam.
#Salam_Aswaja
#NKRI_HARGA_MATI
Saturday, June 9, 2018
kisah Haru mimpi habib umar bin Hafidz
Ini sebuah kisah yang diutarakan Habibina Umar Al-Hafidz Ulama’ Tarim Hadramaut, Yaman, kepada murid-muridnya (dalam bahasa Arab) saat menjelaskan tentang hal ikhwal mimpinya hingga membuat sang guru ini terkaget dan ta’jub.
Berceritalah kepada murid-murid oleh sang guru Habib Umar bin Hafidzh, bahwa beliau pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, sehingga Habib Umar bin Hafidz berbincanglah dengan Rasulullah SAW.
Habib Umar : “Yaa Rasulullah sedang apa disini?”
Rasulullah SAW menjawab : “Aku sedang menunggu cucuku yang sangat aku rindukan.”
Habib Umar : “Siapa Yaa Rasulullah?”
Tidak lama kemudian datanglah seseorang dengan menunggangi seekor kuda putih, berjubah putih berpakaian serba putih. Orang yang ditunggu oleh Rasulullah SAW pun datang, ternyata yang Habib Umar Bin Hafidzh lihat adalah Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab.
Rasulullah SAW berkata : “Yaa Umar, ini dia Cucuku yang sangat aku rindukan, dialah singaku, salah satu dari semua cucuku yang menegakan Syariat Islam, amar ma’ruf nahi mungkar dan ditakuti oleh musuh-musuhnya”.
Lalu kemudian Habib Umar pun terbangun dari mimpinya yang sempat membuatnya meneteskan air mata, setelah itu lalu Beliau pun melaksanakan sholat Tahajud. Subhanallah..
Semua habaib dan Ahlulbait Nabi adalah cucu Rasulullah SAW, hanya saja dalam keterangan dari al-musnid Habib Umar bin Hafidzh dalam mimpinya ini, bahwa dari semua cucu Rasulullah SAW yang paling ditunggu-tunggu ialah Habib Rizieq bin Husein Syihab (Imam Besar FPI).
Terlepas benar atau tidak kisah mimpi Habib Umar ini dikembalikan pada sumber yang tertulis di bawah artikel. Wallohuá’lam bissawab.
Tapi apabila mimpi itu benar, timbul pertanyaan, mengapa demikian?
Itu mungkin karena dialah satu-satunya cucu Rasulullah SAW yang paling proaktif menegakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan membela syariat agama yang Rasulullah bawakan.
Subhanallah… Sungguh semakin bertambah-tambah rasa kagum kiita kepadanya. Mungkin tidak berlebihan rasanya bila kita menghormati yang mulia para habaib yang Ahlulbait Nabi sehingga ia ditunggu-tunggu kedatangannya oleh Baginda Nabi SAW, karena seorang yang tegas terhadap agamanya.
Dan kedua habaib ini mungkin patut disebut mewarisi dari sifat Sahabat mulia Rasulillah yaitu Sayidina Abu Bakar As-Siddiq kepada Habib Umar bin Hafidzh dan Sayidina Umar bin Khattab kepada Habib Reziq bin Husen Syihab.
Semoga saja kedua habaib ini diberikan panjang umur dan sehat selalu, Habib Umar dapat memberikan dakwah dan tausiahnya kepada umat yang menyejukan sedangkan Habib Reziq dapat memberikan menyadarkan umat dengan ketegasannya dalam menegakkan dan membela agama yang haq ini.
Amin amin amin ya Rabbal alamin. (mf)
Subhanallah… Sungguh semakin bertambah-tambah rasa kagum kiita kepadanya. Mungkin tidak berlebihan rasanya bila kita menghormati yang mulia para habaib yang Ahlulbait Nabi sehingga ia ditunggu-tunggu kedatangannya oleh Baginda Nabi SAW, karena seorang yang tegas terhadap agamanya.
Dan kedua habaib ini mungkin patut disebut mewarisi dari sifat Sahabat mulia Rasulillah yaitu Sayidina Abu Bakar As-Siddiq kepada Habib Umar bin Hafidzh dan Sayidina Umar bin Khattab kepada Habib Reziq bin Husen Syihab.
Semoga saja kedua habaib ini diberikan panjang umur dan sehat selalu, Habib Umar dapat memberikan dakwah dan tausiahnya kepada umat yang menyejukan sedangkan Habib Reziq dapat memberikan menyadarkan umat dengan ketegasannya dalam menegakkan dan membela agama yang haq ini.
Amin amin amin ya Rabbal alamin. (mf)
Sumber :
Daralmukarramah.wordpress
Monday, April 2, 2018
Fitnah Akhir Zaman : Mengaku Ahlul Bait Tetapi di Benci rasulullah ...
"Sebuah Pelajaran....
Salah satu ritual asyura Syiah (BBC)
Banyak hadits yang menjelaskan fitnah-fitnah akhir zaman. Di antaranya adalah fenomena mengaku sebagai ahlul bait namun justru dibenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebagaimana sabda beliau:
ثُمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَنُهَا مِنْ تَحْتِ قَدَمَىْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِى يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّى وَلَيْسَ مِنِّى وَإِنَّمَا أَوْلِيَائِىَ الْمُتَّقُونَ
Kemudian setelahnya akan terjadi fitnah sara’ (kesenangan, kelapangan dan kemakmuran), sumber asapnya berasal dari dua telapak kaki seorang laki-laki dari keturunanku (ahlul bait). Ia mengklaim dirinya bagian dariku (pelanjut misi ahlul bait) padahal ia sama sekali bukan bagian dariku karena wali-waliku hanyalah orang-orang yang bertaqwa. (HR. Abu Daud dan Ahmad; shahih)
Para ulama menjelaskan bahwa fitnah ini akan terjadi di akhir zaman sebelum keluarnya Dajjal. Sebelum fitnah sarra’ (kemakmuran) seperti hadits ini, akan didahului dengan fitnah ahlas yaitu saling memutus hubungan dan saling berperang.
Namun hadits ini juga memberikan penjelasan yang sangat penting bahwa tidak semua ahlul bait (keturunan) Rasulullah adalah orang-orang yang dicintai beliau. Parameternya tetap iman dan ketaqwaan. Jika keturunan Rasulullah beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mereka itulah ahlul bait yang sebenarnya.
Sedangkan orang-orang yang mengklaim sebagai ahlul bait namun justru tidak bertaqwa, maka mereka terputus dari hubungan dekat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sama halnya dengan putra Nabi Nuh. Meskipun secara biologis ia adalah anak, namun secara ideologis bukan. Karena tidak beriman.
Allah mengabadikan peristiwa dalam firman-Nya:
وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ . قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ
Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.” Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakekat)nya. Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.” (QS. Hud: 45-46)
Belakangan ini, kita megetahui gencarnya propaganda syiah. Mereka mengklaim sebagai ahlul bait dan membuat sebagian orang mengikuti mereka karena alasan itu. namun setelah mengetahui bahwa mereka mencaci ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Ustman bin Affan radhiyallau ‘anhu bahkan mencaci hingga mengkafirkan mayoritas sahabat, kita jadi memahami bahwa mereka bukanlah ahlul bait yang sebenarnya sebagaimana hadits ini. Terlebih ketika banyak penyimpangan lain dalam hal syariat mulai dari mut’ah hingga khumus dan aqidah. [Muchlisin BK
Salah satu ritual asyura Syiah (BBC)
Banyak hadits yang menjelaskan fitnah-fitnah akhir zaman. Di antaranya adalah fenomena mengaku sebagai ahlul bait namun justru dibenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebagaimana sabda beliau:
ثُمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَنُهَا مِنْ تَحْتِ قَدَمَىْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِى يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّى وَلَيْسَ مِنِّى وَإِنَّمَا أَوْلِيَائِىَ الْمُتَّقُونَ
Kemudian setelahnya akan terjadi fitnah sara’ (kesenangan, kelapangan dan kemakmuran), sumber asapnya berasal dari dua telapak kaki seorang laki-laki dari keturunanku (ahlul bait). Ia mengklaim dirinya bagian dariku (pelanjut misi ahlul bait) padahal ia sama sekali bukan bagian dariku karena wali-waliku hanyalah orang-orang yang bertaqwa. (HR. Abu Daud dan Ahmad; shahih)
Para ulama menjelaskan bahwa fitnah ini akan terjadi di akhir zaman sebelum keluarnya Dajjal. Sebelum fitnah sarra’ (kemakmuran) seperti hadits ini, akan didahului dengan fitnah ahlas yaitu saling memutus hubungan dan saling berperang.
Namun hadits ini juga memberikan penjelasan yang sangat penting bahwa tidak semua ahlul bait (keturunan) Rasulullah adalah orang-orang yang dicintai beliau. Parameternya tetap iman dan ketaqwaan. Jika keturunan Rasulullah beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mereka itulah ahlul bait yang sebenarnya.
Sedangkan orang-orang yang mengklaim sebagai ahlul bait namun justru tidak bertaqwa, maka mereka terputus dari hubungan dekat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sama halnya dengan putra Nabi Nuh. Meskipun secara biologis ia adalah anak, namun secara ideologis bukan. Karena tidak beriman.
Allah mengabadikan peristiwa dalam firman-Nya:
وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ . قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ
Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.” Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakekat)nya. Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.” (QS. Hud: 45-46)
Belakangan ini, kita megetahui gencarnya propaganda syiah. Mereka mengklaim sebagai ahlul bait dan membuat sebagian orang mengikuti mereka karena alasan itu. namun setelah mengetahui bahwa mereka mencaci ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Ustman bin Affan radhiyallau ‘anhu bahkan mencaci hingga mengkafirkan mayoritas sahabat, kita jadi memahami bahwa mereka bukanlah ahlul bait yang sebenarnya sebagaimana hadits ini. Terlebih ketika banyak penyimpangan lain dalam hal syariat mulai dari mut’ah hingga khumus dan aqidah. [Muchlisin BK
Friday, March 9, 2018
Karamah Sayyidah Fatimah Az-Zahra
Ketika Sayidah Aisyah datang ke rumah Sayidah Fathimah, ia menyaksikan Sayidah Fathimah sedang mengaduk bubur campuran gandum, susu & daging di dalam panci dengan jari-jari tangannya…!!
Sayidah Aisyah terkejut karena panci itu berada di atas api yang sedang menyala.
Lalu Sayidah Aisyah keluar dalam kondisi ketakutan menemui ayahnya (Sayidina Abu Bakar)..
Sayidah Aisyah berkata, “Wahai Ayah..!! Aku menyaksikan hal yang sangat menakjubkan dari Fathimah..ku lihat Ia sedang memasak di panci dan panci itu berada di atas api yang sedang menyala,
namun ia mengaduk-aduk apa yg ada di dalam panci itu dengan tangannya.”
Sayidina Abubakar berkata kepada Sayidah Aisyah:
“Wahai Putri ku..!! Sembunyikan ini karena ini adalah perkara besar.”
Persoalan ini sampai kepada Rasulullah SAW, lalu Beliau SAW naik mimbar, kemudian beliau SAW memuji ALLAH dan bersabda :
“Sesungguhnya manusia menganggap besar dan agung apa yg mereka bicarakan tentang peristiwa panci & api tersebut..Demi Dia [Allah] yang mengutusku dengan risalah dan memilih ku dengan nubuwah,
Sesungguhnya ALLAH SWT telah mengharamkan api atas daging tubuh Fathimah, atas darahnya, atas rambutnya, atas urat-uratnya & tulang-tulangnya dan ALLAH akan menjauhkan keturunannya & pengikutnya serta pecintanya dari Api (Neraka).
Sesungguhnya diantara keturunan Fathimah ada api, matahari, bulan, bintang-bintang, dan gunung-Gunung taat kepadanya”
Sayidah Aisyah meriwayatkan : Aku tidak melihat orang yang lebih dicintai oleh Rasulullah SAW seperti Fathimah..Jika Fathimah datang Ke Rumah Rasulullah SAW ketika beliau tidur maka beliau bangun dan langsung menyambutnya,
Beliau SAW mempersilahkan tempat duduk dan Rasul SAW mencium tangan Fathimah
Dia lah yg dijuluki gelar oleh Rasulullah SAW : Ummu Abiha (Ibu dari Ayahnya)...
MasyAllah...
*اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ* *وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ...*
(Nisa’ul Auliya_kisah wanita kekasih Allah, Oleh Ibnu Watiniyah)
Tuesday, February 20, 2018
Dzurriyah Rasulullah SAW akan terus Wujud hingga Akhir Zaman
Mereka wajib menjaga diri dari ucapan-ucapan atau perbuatan dan sikap yg dapat mencemarkan kemuliaan Rasulullah saw.mereka wajib pula menyadari tanggung jawabnya yg lebih besar atas citra islam dan umatnya,dengan demikian maka kewajiban menghormati mereka yg dibebankan oleh syariat kepada kaum muslimin dapat diwujudkan dengan sebaik-baiknya.
tidak akan ada kesan bahwa para keturunan Rasulullah saw menonjolkan diri menuntut penghormatan dari orang lain, karena kaum muslimin yg menghayati syariat islam pasti menempatkan mereka pada kedudukan sebagaimana yg telah menjadi ketentuan syariat. Kemuliaan dan kedudukan mereka perlu dipahami oleh kaum muslimin terutama oleh orang-orang keturunan ahlul bait sendiri sebagai pihak yg paling berkewajiban menjaga kemuliaan martabat Rasulullah saw,dan ahlul bait beliau.
Imam zamakhsyari dalam kitab al kasyaf mengutip apa yg ditulis oleh imam fakhurrozi dalam kitab al kabir :
Barangsiapa wafat dalam mencintai keluarga Rasullah saw,maka ia mati syahid.
Sungguh barangsiapa yang wafat dalam keadaaan mencintai keluarga muhammad, maka orang itu akan memperoleh ampunan atas dosa-dosanya.
Rasullah saw bersabda:
Seorang hamba Allah belum sempurna keimanannya sebelum kecintaanya kepadaku melebihi kecintaan kepda diri sendiri,sebelum kecintaanya kepada keturunanku melebihi kecintaan kepada keturunan sendiri,sebelum kecintaan kepada ahlul baitku melebihi kecintaan kepada keluarganya sendiri dan sebelum kecintaan kepada dzatku melebihi kecintaan kepada dzatnya sendiri.
(HR.ath thabrani)
Rasullah saw bersabda:
Ahlul baitku dan para pencintanya dikalangan umatku,akan bersama-sama masuk surga sepertu dua jari telunjuk ini.
(HR.thabrani)
Rasullah saw bersabda:
Hendaklah kalian tetap memelihara kasih sayang dengan kami (ahlul bait) sebab pada hari kiamat kelak orang yg bertemu dengan Allah dalam keadaan mencintai ahlu bait akan masuk surga dengan syafaat kami,demi Allah yg nyawaku berada ditangannya amal seorang hamba tidak dapat bermanfaat baginya tanpa mengenal hak-hak kami (ahlul bait).
(HR.thabrani)
Rasulullah saw bersabda:
Hai manusia,barangsiapa membenci kami(ahlu bait),maka pada hari kiamat Allah akan menggiringnya sebagai orang yahudi.
(HR.thabrani)
Rasullah saw bersabda:
Orang yg membenci kami (ahlul bait) pasti akan dimasukkan ke neraka.
(HR.athabrani)
Rasulullah saw bersabda:
Barangsiapa yg hendak bertawasul (berwasilah) dan ingin mendapar syafaatku pada hari kiamat kelak,hendaklah ia menjaga hubungan silaturohim dengan aahlu baitku dan berbuat menggembirkan mereka.
(HR.addailami)
Rasulullah saw bersabda;
Diantara kalian yg paling mantap berjalan diatas shirat ialah yg paling besar kecintaanya kepada ahlu baitku dan para sahabatku.
(HR. addailami)
Rasullah saw bersabda:
Empat orang yg akan memperoleh syafaatku pada hari kiamat adalah:orang yg menghormati ahlu baitku,orang yg memenuhi kebutuhan mereka,orang yg berusaha membantu urusan mereka pada saat diperlukan dan orang yg mencintai mereka dengan hati dan lidahnya.
(HR.imam ahmad)
Rasulullah saw bersabda:
Siapa yg membenci ahlu baitku,ia adalah orang munafik.
(HR.imam aahmad)
Rasulullah saw bersabda:
Mereka (ahlu bait) adalah keturunanku,diciptakan dari darah dagingku dan dikaruniakan pengertian serta pengetahuanku.maka celakalah orang dari umatku yg mendustakan mereka dan memutuskan hubungan denganku melalui pemutusan hubungan dengan mereka dan kepada orang-orang seperti ini Allah tidak akan menurunkan syafaatku.
(HR alhakim)
Abu bakar shiddiq berkata:
Jagalah baik-baik wasiat muhammad saw mengenau ahlu baitnya.
Kerabat Rasullah saw lebih kucintai daripada kerabatku sendiri
(HR.bukhori)
Imam ibnu hajar asqalani berkata :
Orang harus menahan diri jangan sampai mengecam mereka(ahlu bait rasullah saw) jika ada seorang diantara mereka yg berbuat fasik berupa bidah atau lainnya,maka yg harus dikecam hanyalah perbuatannya bukan dzatnya karena dzatnya itu merupakan bagian dari Rasullah saw sekalipun antara dzat beliau saw dan dzat orang itu terdapat perantara.
Ibnu taimiyyah ulama andalan orang-orang yg mencintai ahlu bait, didalam kitabnya Risholatul furqon hal.163 mengetengahkan pembahasan kecintaan kepada Ahlu bait Rasullah saw,dan dalam pendapatnya ibnu taimiyyah dalam kitab al washiyatul kubra hal.297 mengatakan;
Demikianlah para anggota keluarga(ahlu bait) Rasulullah saw mempunyai beberapa hak yg harus dipelihara dengan baik oleh umat muhammad.kepada mereka Allah telah memberi hak menerima bagian dari ghanimah,selain hak tersebut mereka ahlu bait juga punya hak yg lain yaity hak beroleh ucapan shalawat dari umat muhammad saw sebagaimana yg telah diajarkan oleh beliau Rasullah saw.
Lalu ibnu taimiyah masih dalam kitab yg sama menuliskan hadis yg bersumber dari ka'ah bin syajarah beberapa saat setelah turuh surat al aahzab ayat 56 turun.
Ka'ah berkata : kami para sahabat bertanya "Ya Rasulullah kami telah mengetahui bagaimana cara mengucapkan salam kepadamu,tetapi bagaimanakh cara mengucapkan shalawat kepadamu...??Rasullah saw bersabda:Ucapkanlah Ya Allah limpahkanlah sholawat kepada muhammad dan keluarga muhammad"
Dan ibnu taimiyyah juga menukil hadis yg lain yg berasal dari para sahabat Nabi saw bahwasanya Rasullah saw bersabda:
Janganlah kalian bersholawat untukku dengan sholawat batra,lalu shabat bertanya kembali:apakah yg dimaksud sholawat batra ya Rasul...??Beliau saw menjawab:kalian mengucapkan:"Ya Allah limpahkanlah sholawat kepada muhammad"lalu kalian berhenti disitu...!maka ucapkanlah " Ya Allah limpahkanlah sholawat kepada muhammad dan keluarga muhammad"
ALLAHUMMA SHOLLI ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN WA ALIHI WASHOHBIHI WABARIK WASALIM
abdkadiralhamid@2015
























