Friday, August 25, 2017

Gerakan Menghafal dan Mempelajari Nasab Silsilah




Monday, August 21, 2017

Asimilasi Budaya

foto 

Monday, August 14, 2017

Syeikhah Sulthonah

Silsilah Keturunan Syeikhah Sulthonah

Syeikhah Sulthonah binti Ali Az-Zubaidiyah keturunan dari keluarga Az-Zubaidi, mereka adalah bagian dari kabilah Bani Haritsah Al-Kindiah, ada juga yang mengatakan mereka dari kabilah Bani Madzhij.

Syeikhah Sulthonah dilahirkan di perkampungan Al-Urro, yaitu dataran yang membentang dari sebelah timur kampung "Maryamah" hingga ujung Hauthoh yang sekarang dikenal dengan "Hautoh Sulthonah", sekitar 3 mil dari kota Seiyun, perkampungan tersebut dihuni oleh kabilah "Az-Zubaidi" salah satu dari kabilah-kabilah Al-Kindiyah, yang terkenal dengan senjata, kekuatan serta keberaniannya.
Syeikhah Sulthonah tumbuh besar dikeluarga baduwi yang kesehariannya akrab dengan menggembala hewan, dengan kepribadian yang kuat serta sifat-sifat lainnya yang terdapat pada diri penduduk baduwi, walau demikian Sulthonah tidak seperti kebanyakan anak-anak sebayanya, dia tenang dan lebih senang menyendiri dari keramaian teman-teman sebayanya yang bersifat kekanak-kanakan, sehingga ketika usianya berangsur dewasa dia mulai tidak menyukai tradisi kehidupan baduwi yang diwarnai dengan kekerasan dan kedzaliman, selain itu dia juga mulai menyelusuri jalan fitrahnya yang menuntunya kepada iman dan membawanya kepada ketenangan jiwa. Susana malam yang sunyi serta perkampungan yang tenang serta cerita penduduk setempat tentang para Sholihin adalah hal yang sangat membantu pencaharian Sulthonah.

Sejalan dengan perkembangan usianya yang semakin dewasa, pencaharian itu pun semakin mendalam, dia mulai melihat kenyataan kehidupan sosial di Hadhramaut, juga mendengar tentang para ahli ibadah, ahli zuhud serta para ulama atqia dan shalihin serta karomah-karomahnya yang menjadi bahan obrolan penduduk setempat, mereka yang ditakuti oleh orang-orang bersenjata karena kekuatan jiwa serta imannya yang mantap, mereka yang disegani oleh semua kalangan, bahkan kekuatan batinnya yang luar biasa bisa menghentikan dan melerai perang antara kabilah tanpa senjata atau bala tentara.

Gadis yang brilian itu terus mengikuti informasi tentang kehidupan para shalihin serta kegiatan dakwah mereka didaerah lembah Hadhramaut, bahkan dia berjalan kaki ke masjid-masjid untuk mendengarkan pengajaran dan petuah dari pari dai yang kebetulan singgah di perkampungannya, hal tersebut membuat tekadnya semakin kuat untuk menempuh jalan tasawwuf dan memenuhi panggilan fitrahnya, petuah dan pelajaran yang ia dengar semakin menggugah hati gadis tersebut sehingga bangkitlah jiwanya untuk melakukan amalan tha'at baik berupa shalat, puasa, ataupun membaca dzikir dan sebagainya yang menjadi aktifitas orang-orang shalihin, bahkan dalam usianya yang masih belia itu hampir seluruh waktu dan pikirannya dia gunakan untuk melakukan amal ibadah dan keta'atan lainnya.

Robiah Hadhramaut

Para penulis sejarah menjuluki Syeikhah Sulthonah sebagai Robiahnya Hadhramaut, dan memang gelar tersebut sangat sesuai dengan hal dan makomnya Syeikhah Sulthonah, karena beliau dari mulai kecil sudah mulai menyelusuri jalan tasawuf, dan dari segi itu dia mengungguli Robiah Al-Adawiyah yang disebutkan dalam buku-buku sejarah Islam, hal tersebut sebagaimana disebutkan oleh Sayid Muhammad bin Ahmad As-Syatiri dalam kitabnya "Al-Adwar", "Dia (Syeikhah Sulthonah) mempunyai kelebihan tersendiri karena dari kecil sudah mulai meniti tangga dan makom-makom tasawuf".

Dalam usia dini Sulthonah sudah mulai melangkahkan kaki menyelusuri jalan tasawuf, dan ia menemukan jalan kesana disetiap tempat di lembah Hadhramaut, walaupun dia dan keluarganya serta kabilahnya tinggal di perkampungan baduy urro, namun tidak jarang para ulama dari Tarim, Seyun, Gurfah, Syibam dan lainya datang kesana guna memberikan wejangan dan petunjuk para penduduk setempat kepada ajaran dan adab Islam, keadaan yang seperti semakin memberikan kesempatan bagi Sulthonah untuk dengan secara diam-diam dia selalu mengikuti dan mendengarkan petuah dan pelajaran dari para alim ulama yang sengaja mendatangi perkampungannya untuk menyebarkan dakwah islamiah, hingga ketekunannya dalam mengikuti dan mendengarkan pelajaran dari para ulama serta pilihannya untuk menelusuri jalan tasawuf kemudian Sulthonah terkenal dikalangan penduduk setempat.

Hal tersebut semakin menakjuban kalau dilihat dari lingkungan dan tabiat masyarakat setempat, masyarakat setempat yang merupakan kabilah-kabilah baduy dikenal akan kecintaan dan penghormatan mereka pada "Alulbait" dan ulama yang datang kekampung mereka untuk menyebarkan ilmu dan dakwah islamiyah, namun walaupun mereka menerima baik para ulama yang datang kekampungnya, bukan berarti mereka menerima dan mempunyai keinginan untuk menerima dan mengikuti ajaran tasawuf, begitupula halnya dengan kaum perempuan, mereka hanya mengenal tradisi dan kebiasaan yang diturunkan dari nenek moyangnya, mereka jauh sekali dari dunia keilmuan apalagi sampai mendalami tasawuf.

Keadaan lingkungan masyrakat dan adat baduy yang akrab dengan senjata dan kekerasan dan jauh dari dunia keilmuan tidak membuat Sulthonah patah semangat, bahkan sebaliknya tantangan yang berat tersebut semakin menggugah semangatnya dalam menyelusuri jalan menuju petunjuk Allah, hal tersebut menjadikan kagum para kerabat dan kabilahnya juga para masyayeh zaman itu, hingga para masyayeh memberikan perhatian khusus kepadanya, berkat semua itu, akhirnya nama Sulthonah dikenal dihampir seluruh Lembah Hadhramaut, para masyayehpun menerima dan mengakui makomnya Sulthonah karena memang Sulthonah, para masyayeh tasawuf dan ulama di Lembah Hadhramaut masa itu mempunyai hubungan yang kuat antar satu dengan yang lainnya dan hubungan mereka berdasarkan husnudzon, dengan kaidah istiqomah dan selalu berdekatan dengan para ulama dan masyayeh. Sulthonah telah mampu membuktikan bahwa dia memilik karakter tersebut, Karena dari kecil dia merupakan anak yang baik dan taat serta giat mengerjakan pekerjaan rumahnya, sebagai anak perempuan dalam keluarga dia menenun, menjahit, beternak ayam, memasak untuk keluarganya dan pekerjaan rumah yang baiasa dikerjakan oleh remaja putri sesusianya, dan disamping itu semua Sulthonah adalah seorang putri yang bertakwa, penyabar, sufi, gemar menunjukan kepada orang lain jalan yang benar, dia juga seorang gadis mempunyai nama baik menjaga harga diri, dibesarkan dilingkungan keluarga berakhlak mulia yang merupakan warisan turun temurun dari kabilahnya.

Bagaimana Anggota Kabilah Sulthonah Bisa Menerima Ajaran Tasawuf?

Sudah menjadi kehendak Allah, bersamaan dengan munculnya Syekhah Sulthonah dalam kancah tasawuf dan mulai menyebarkan ajaran tasawuf kepada masyarakat setempat, terjadilah suatu kejadian yang kemudian menjadikan salah satu sebab terbukanya hati mereka untuk kembali ke jalan Allah SWT, peristiwa tersebut sebagaimana disebutkan dalam "Al-Adwar", bahwa pada suatu waktu sekelompok masyarakat setempat mendapatkan seekor unta yang tersesat, dan mereka mengambilnya sebagai barang rampasan, kemudian diketahui bahwa onta itu ternyata milik Syekh As-Sholih Muhammad bin Hakam Baqosir, setelah beliau tau akan kejadian tersebut maka beliau berdoa didepan orang banyak, agar Allah memberikan mereka (orang-orang yang mengambil untanya) petunjuk ke jalan yang benar yang diridloi oleh Allah SWT kalau hal yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut kebutuhan yang mendesak, atau Allah membalas mereka jika mereka melakukan hal tersebut karena anaiya dan zhalim.
Cara dan sikap Syekh Baqosir dalam menyikapi kejadian itu membuat warga baduy yang polos dengan dicampuri sifat keras dan perampas, tergerak hati nuraninya untuk kembali ke jalan Allah SWT.

Peristiwa tersebut jelas sangat mendukung terhadap dakhwah yang mulai dirintis oleh Syeikhah Sulthonah, bahkan menurut riwayat lain pengaruh dari Syeikhah Sulthonah bukan saja menyadarkan para penduduk baduy tersebut kepada jalan yang diridloi Allah SWT, bahkan lebih dari itu banyak dari anggota keluarga dan kabilahnya yang kemudian menyelusuri jejak langkah Seiyakhah Sulthonah diantara mereka adalah Umar dan Muhammad saudara Syeikhah Sulthonah, sehingga kemudian mereka mengambil langsung dari Syekh Muhammad bin Abdullah Al-qodim Baabbaad dan masyayeh Hadhramaut lainnya.
Guru Syekhah Sulthonah

Guru Syekhah Sulthonah
Setelah Syekhah Sulthonah matang dalam memahami tuntutan fitrahnya dalam lingkungan yang sederhana tersebut, maka semakin kuat pula ajakan dalam jiwanya untuk mengambil tasawuf secara langsung dari para masyayeh. Adapun Syeh pertama yang dituju oleh Sulthonah adalah Al-Allamah Muhammad bin Abdullah Al-qodim Baabbad yang tinggal di kampung Gurfah tidak jauh dari kampungnya Syeikhah Sulthonah, dari Syeikh Al-qodim inilah mulai terbukanya anugerah Allah yang berupa ilmu dan amal baik yang melalui kasab ataupun yang merupakan laduni dan wahbi. Dan diantara kelebihan Syeikhah Sulthonah yang menonjol adalah beliau tidak mau menikah dan bahkan tidak menganggap bahwa nikah itu suatu tujuan, Sulthonah mempunyai tujuan yang luhur daripada hal tersebut yaitu tujuan ruhani yang telah ia pupuk semenjak kecil dengan memperbanyak riadloh dan menyerahkan jiwa sepenuhnya kepada Allah SWT. Keinginan rohani tersebut mengalahkan segalanya dan menambatkan ketetapan akhlak dan cita-cita kejiwaan yang tinggi sehingga segala sesautu yang bersifat duniawi dan berhubungan dengan syahwat dianggap suatu yang remeh walaupun itu halal. Buah dari itu semua adalah bersihnya hati dan jiwa sehingga mudah untuk melakukan amal saholeh, sehingga diriwayatkan Syeikhah Sulthonah termasuk orang yang sering melihat Nabi SAW dalam mimpi.

Begitulah selanjutnya Syeikhah meniti tangga dan menimba tasawuf dari para masyayeh di zaman itu, hal tersebut dilakukannya dengan mendatangi langsung rumah, ataupun mendatangi masjid-masjid guna menimba ilmu dari para masyayeh yang selalu mengisi masjid-masjid tersebut dengan wejangan dan pelajaran. Tentang Syeikhah Sulthonah yang gigih dan pengaruhnya dikalangan masyrakat baduy akhirnya sampai juga kepada para masyayekh di sekitar Hadhramaut, hal yang menjadikan Syeikhah Sulthonah semakin dekat dengan para ulama keturunan Rasulullah SAW, oleh karena itu Sulthonah sangat menyadari akan kewajiban yang ia pikul terhadap para keturunan Rasulullah SAW tersebut, oleh krn itu beliau berkata "Demi keagungan zat Allah yang disembah, kalau misalkan dagingku ini bisa bermanfaat bagimu, maka akan aku korbankan", dia juga berkata disela-sela memberi wejangan kepada masyarakat "Sesungguhnya aku melihat bahwa keluarga Baalawi mempunyai kedudukan diatas manusia lainnya", yakni para wali dan masayekh dari Baalawi mempunyai kedudukan yang lebih daripada yang lainnya.

Adapun masyayekh Baalwi yang mempunyai hubungan dekat dengan Syeikhah Sulthonah adalah Syeikh Abdurrahman Assegaff dan keturunanya, tentang kecintaannya dan penghormatannya kepada keturunan Rasulullah SAW bisa dilihat jelas dalam maqolah yang ditulis oleh Syeikhah Sulthonah tentang betapa dia mengagungkan dan menghormati keturunan Rasulullah SAW dengan tulus dan ikhlas bukan suatu hal yang dibuat-buat atau dipaksakan.

Sayyid Abdurrahman Assegaff adalah salah satu masyayeh dari keluarga Baalawi yang sering datang ke perkampungan Sulthonah guna memberi wejangan dan pelajaran kepada masyarakat setempat, kehadiran beliau disana semakin sering setelah menikahi salah satu warga kampung, kehadiran beliau selalu disambut gembira oleh masyarakat disana, mereka selalu memenuhi masjid yang dipake media dakwah oleh para masyayeh, bahkan sebagian masyarakat mendatangi beliau guna menimba ilmu dan barokah, mengenai hal itu Syeikhah Sulthonah berkata : "Apabila Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff akan mengunjungi kita, maka sebelumnya kampung kita menjadi subur seakan-akan habis tersiram hujan deras, kemudian setelah itu aku mendengar suara berkata "datang kepadamu sultan putranya sultan". Dan dia sendiri yang berkata seperti itu pada hakikatnya adalah sultonah ruhani sebagaiaman perkataan syair :

ملوك على التحقيق ليس لغيهم
من الملك إلا إسمه وعقابه

Artinya : mereka adalah para raja yang sesungguhnya, adapun raja-raja yang lainya hanya mempunyai nama dan gelar saja

Dan mengenai mereka Syekh Abu Madyan berkata :

ما لذة العيش إلا صحبة الفقرا
هم السلاطين والسادات والأمرا

Artinya : kelezatan hidup ini hanya dengan berbaur dengan kaum faqir, mereka adalah para raja dan pemimpin

Mahabbah Syeikhah Sulthonah terhadap Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaf yang begitu kuat, menjadikan Syeikhah Sulthonah mampu membedakan antara alamat kedatangn mereka kepadanya, dalam hal itu Syeikhah Sulthonah berkata : "setiap wali yang dating kepadaku aku mengetahuinya, dan kalau sudah tiba maka dia masuk melalui pintu, kecuali Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff kalau dia berkunjung kepadaku maka aku tidak mengetahuinya kecuali dia sidah berdiri dihadapanku".

Tafsir tentang perkataan tersebut tidaklah bertentangan dengan mafhum zahir, karena tidak menutup kemungkinan dialam sirrinya Syeikhah Sulthonah telah merasakan adanya madad dan atsar dari para wali yang datang kepadanya, karena para wali mempunyai sirr yang bisa membedakan suatu perkara dari yang lainya, atau dia melihat sesuatu yang berada disekitarnya dengan "nur" Allah, sebagaimana disebutkan dalam atsar "Takutlah engkau akan firasatnya seorang mukmin, karena dia melihat dengan "nur" Allah". Dan tentang hal tersebut Syeikhah Sulthonah berkata :"Setiap wali Allah aku mengenalnya baik banyak ataupun sedikit", dia juga berkata "Sebagian dari para wali itu aku mengetahu halnya, kecuali Syekh Sayyid Abdurrahman".

Adapun hubungan Syeikhah Sulthonah dengan Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran putra Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff tidak kalah dekat dan kuatnya dengan hubungan Sulthonah dengan sang ayah, Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran menjadi penerus perjuangan dakwah sang ayah, maka beliaupun seringkali berkunjungi ke perkampungan guna menyebarkan ilmu dan menyampaikan dakwah islamiyah, hal tersebut sebagaimana diterangkan oleh penulis "Al-jauhar As-Syaffaf", : Antara Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran dengan Syeikhah Sulthonah mempunyai hubungan yang erat dan mahabbah yang agung, dan ketika Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran akan berkunjung perkampungannya maka dua atau tiga hari sebelumnya Syeikhah Sulthonah memberi tahukan kepada penduduk setempat dan berkata :"Sambutlah kedatangan sultan putranya sultan, karena aku telah mendengar "Syaawusy" (kemungkinan dari bahasa turki- yang artinya pimpinan pengawal atau pemimpin suatu kelompok, dan yang dimaksud disini adalah sautu bisikan kabar gembira), memberi tahukan kedatangannya, aku juga melihat mahkota kewalian dikepalanya, dan kedatangannya diiringi oleh para malaikat". Dia juga berkata "Sesungguhnya aku selalu mendengar suara annaubah dilangit yang mengumandangkan kepemimpinan Syekh Sayyid Abu Bakar".

Syeikhah Sulthonah oleh Allah dikaruniai umur panjang sehingga beliau menzamani putranya Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran, sebagaimana dia menghormati dan mengagungkan kakek dan ayahnya Syeikhah Sulthonahpun menghoramti keturunan Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff tersebut.

Sebagaimana beliau menghormati Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran pada masa hidupnya, bahkan setelah beliau meninggalpun Syeikhah Sulthonah berkata :"ketika Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran meninggal dunia Allah memberinya anugerah yang tak terhingga, dan aku tidak mengetahui seorang wali Allah yang dianugerahi seperti itu kecuali dia dari keluarganya terdahulu", Syekh Sayyid Sulthonah pun memberikan penghormatan tersebut kepada keturunan Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaf yang datang setelahnya, seperti Syekh Sayyid Umar Al-Muhdlor dan Syekh Hasan.
Adapun tentang mahabbah dan penghormatan Syeikhah Sulthonah terhadap Sayid Abdullah Alidrus bin Abu Bakar hal tersebut dijelaskan dalam kitab Al-Jauhar As-Syafaf hal 146, "diantara hikayat tersebut adalah tentang seorang laki-laki soleh yang dikenal dengan Bin Abi Abbad dan Sulthonah binti Ali Az-Zubaidi semunya mengagungkan Syekh Sayyid Abdullah dan menghormatinya atas karunia yang telah dilimpahkan oleh Allah kepadanya, telah berkata sebagian orang yang terpercaya, "Suatu hari saya mendatangi Syeikhah Alarifah billah Sulthonah binti Ali Az-Zubaidi, beliau memuji Syekh Sayyid Abdullah bin Abu bakar dan mengagungkannya serta menyebutkan sifat-sifatnya, dan setelah itu dia berkata kepadaku :"aku pesen kepada kamu apabila tiba di Tarim maka ciumlah kepalanya (Syekh Sayyid Abdullah bin Abu Bakar)" ketika aku tiba di Tarim aku menjumpai yang sedang bermain dengan teman sebayanya dan aku melakukan yang dipesankan oleh Syeikhah Sulthonah. Mengenai hal itu penulis Al-Jauhar As-Syafaf mendendangkan sebuah syair :

وبنت الزبيدي كم أشاروا وأفصحوا
بتعظيمه شابا لجزل عطية

Artinya : dan putrinya Az-Zubaidi yang dikatakan bahwa dia mengagungkan seorang pemuda yang dianugerahi karunia yang tak terhingga oleh Allah SWT.

Syeikhah Sulthonah dan Sastra Sufi

Amal taat dan dzikir serta tafakur telah membuahkan suatu ketenangan dalam hati Syeikhah Sulthonah, sejalan dengan firman Allah SWT dalam surat Arra'd ayat 28 yang artinya :"ingatlah tenangnya hati dengan dkrillah", dan setiap sesuatu dalam kehidupan menjadi suatu media untuk mengenal Allah.

وفي كل شيء له آية
تدل على أنه واحد

Artinya : Dalam segala sesuatu tersimpan suatu bukti, yang menunjukan atas keesaan Allah SWT.

Bertolak dari dasar inilah maka dzikir merupakan suatu alat untuk mengasah dzauk dan salah satu untuk memahami kata-kata sastera secara faham sufi. Dan dari dasar ini pula Syeikhah Sultohnah mengungkapkan atas perasaan dan gejolak jiwanya melalui syair sufi, adapun kebanyakan syairnya merupakan sayir mahabbah dan kerinduan kepada Allah SWT, ada juga syairnya yang berupa pujian terhadap guru-gurunya, Syeikhah Sulthonah dalam sayirnya mempunyai ciri khas tersendiri yaitu gaya kesukuan yang memasyarakat serta sayirnya yang berupa sayir nyanyian, dan kebanyakan syair Syekhah Sulthonah tersebut sampai sekarang ini masih selalu didendangkan dalam "Hadlrah Syeikh Assegaff" yang didirkan oleh Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff di Masjid Assegaff Tarim.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab sejarah bahwa Syeikhah Sulthonah seringkali dating ke Tarim dan duduk dipenghujung kumpulan para hadirin yang menghadiri pengajian Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff, disana dia mengikuti pengajian dan mendengarkan syair-syair sufi, disamping saling bertukar ilmu pengetahuan dengan para masyayeh disana dan terkadang mengumandangkan syair baik karangannya ataupun sayir karangan orang lain. Dikisahkan dalam suatu kesempatan terjadi perbincangan antara Syeikhah Sulthonah dan Syekh Sayyid Hasan bin Abdurrahman Assegaff di hadapan ayahandanya Syekh Sayyid Abdurrahaman Assegaff, ringkasnya dalam pembicaraan tersebut Syekh Hasan mengatakan bahwa tidak sepantasnya unta betina mendahului dan menyamai unta jantan, Syekh Hasan mengungkapkan hal tersebut dengan bentuk sayair

يا ما اسفهش ما بدا بكره تماري جمال

Mendengar perkataan seperti itu Syeikhah Sulthonah meminta izin kepada Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaf untuk menjawabnya, dan Syekh Sayyid Abdurrahman pun mengizinkannya, maka Syeikhah Sulthonah dengan tidak berpikir panjang menjawabnya dalam bentuk syair juga yang berbunyi :

الحمل بالحمل والزايد لبن والعيال

Dengan bait itu Syeikhah Sulthonah menjawab perkataan Syekh Hasan, bahwa memang dia seorang perempuan tetapi dia sama seperti laki-laki dalam ahwal dam maqomat, bahkan seorang perempuan memiliki kelebihan daripada laki-laki, karena perempuan memiliki sesuatu yang sangat bermanfaat yaitu air susu yang menjadi lambang pendidikan, dan juga memiliki keturunan yang bisa menjaga kelesatarian manusia, dan kedua hal tersebut tidak dimiliki oleh laki-laki, mendengar jawaban dari Syeikhah Sulthonah seperti Syekh Sayyid Abdurrahman sangat gembira atas jawaban yang tepat dan daya tangkap yang cepat.


Peran Syeikhah Sulthonah dalam Menyebarkan Ilmu Pengetahuan

Salah satu keistimewaan Madrasah Tasawuf di Hadhramaut adalah selain mendidik para pelajar dengan ilmu pengetahuan dan menggemblengnya dengan akhlak alkarimah para masyaye dan ulama disana selalu menyeru para pelajar untuk meyebarkan dakwah ilallah dan mengajari orang-orang awam serta penduduk diperkampungan dengan bersungguh-sungguh seta media seadanya.

Dan merupakan sauatu hal yang menakjubkan bahwa hingga saat ini metode dakwah tersebut masih seperti itu, dan terkadang para pelajar yang baru mulai pun dituntut untuk menyebarkan dan mempraktekan ilmunya kepada masyarakat setempat, hal tersebut dilakukan oleh para masyayeh di Hadhramaut untuk membiasakan para murid menyambungkan ilmu dengan pengamalan dan juga menyebarkannya.

Dalam lingkungan seperti itulah Sulthonah dilahirkan dan tumbuh dewasa, untuk kemudian ikut andil dalam menyebarkan ilmu dan pengetahuan yang ia dapatkan kepada para sanak kerabat dan kabilahnya.

Setelah melihat dan memahami metode dakwah di Hadhramaut, Syeikhah Sulthonah menyadari bahwa ilmu dan pendidikan bagi generasi mudan serta kaum fakir membutuhkan tempat untuk mereka bernaung maka langkah pertama yang dilakukan oleh Syeikhah Sulthonah mengajak masyarakat setempat untuk membangun ribath disepanjang pinggiran perkampungan kabilahnya, adapun peran dia sendiri atas ribat tersebut adalah sebagai pengawas dan donatur maka tidak lama kemudian pembangunan tersebut selesai, hal tersebut disebutkan dalam buku-buku sejarah namun mereka berbeda pendapat tentang fungsi ribat tersebut, ada yang mengatakan bahwa ribat tersebut disediakan untuk tempat belajar dan sebagai tempat tinggal para pelajar, dan sebagian lagi mengatakan bahwa ribat tersebut berfungsi sebagai penampungan orang-orang fakir dan sebagai tempat tinggal sementara para tamu dan orang asing yang singgah disana.

Namun apapun maksud dari pembangunan ribat tersebut baik untuk para pelajar ataupun orang fakir kedua maksud tersebut sama mulianya, selain itu keadaan masyarakat pada zaman itu memang sangat membutuhkan bangunan tersebut baik untuk para pelajar ataupun untuk orang-orang fakir miskin, maka sesuai dengan tujuan dibangunnya ribat tersebut maka begitu rampung dibangun, ribat tersebut sering digunakan oleh para masyayeh yang datang kesana untuk mengumpulkan penduduk setempat guna mendapatkan pelajaran dan wejangan serta mengadakan halakoh zikir, peninggalan Syeikhah Sulthonah tersebut masih tetap terpelihara dan ramai dengan pengajian dan halakoh zikir hingga beberapa waktu lamanya sepeninggal Syeikhah Sulthonah, tempat tersebut terkenal sebagai lokasi yang aman yang menjadi tujuan orang-orang ketika ada kerusuhan ataupun perang, hal tersebut dikarenakan kedudukan dan wibawa Syeikhah Sulthonah semasa hidupnya, dan bahkan kedudukan dan wibawa tersebut masih dimiliki oleh para masayayeh kerabat Syeikhah Sulthonah dari kabilah Az-Zabidi, yang senantiasa menjaga hubungan baik dengan para masyayeh dari keluarga keturunan Nabi SAW di kota Tarim, Seyun dan sekitarnya.

Akhir Hayat Syeikhah Sulthonah

Semasa hidupnya Syeikhah Sulthonah merupakan jelmaan seorang wanita Hadhramuat yang salihah bertaqwa, dalam dirinya menyatu ilmu dan amal disamping perannya dalam kehidupan social masyarakat yang lurus, memenuhi hak-hak sesama terlebih lagi hak-hak Tuhannya Allah SWT.

Namun dengan kelebihan yang berlapis dan ketenaran yang dimiliki Syeikhah Sulthonah, penulis tidak menemukan kitab yang mengupas secara rinci tentang sejarah kehidupan Syeikhah Sulthonah, kami hanya bisa menemukan sekelumit tentang Syeikhah Sulthonah dalam lembaran kitab sejarah yang berbeda, namun demikian mungkin cukup dalam menggambarkan kehidupan Syeikhah Sulthonah dan perannya baik dalam dakwah maupun kehidupan sosial apa yang disebutkan oleh Ustadz As-Syatiri dalam Al-Adwar, bahwasanya Syeikhah Sulthonah mempunyai peran penting dalam memperbaiki kehidupan sosial masyarakat di lingkungannya hingga mampu mengangkat derajat kaum dan negerinya.

Sejalan dengan kata-kata syair :

ولو كان النساء كمن ذكرنا
لفضلت النساء على الرجال

Artinya : jika semua perempuan seperti yang kami sebutkan (seperti Syeikhah Sulthonah) maka semestinya kaum hawa tersebut lebih unggul daripada kaum laki-laki.

Disamping itu semua Syeikhah Sulthonah telah mampu membuktikan bahwa ajaran tasawuf di Hadhramaut, bukanlah ajaran yang mengajak untuk mengucilkan diri serta khumul atau pun menjadikan seorang biksu yang terputus dari kehidupan dunia, tasawuf adalah suatu ajaran yang mengajak manusia menuju kemuliaan dan kesucian serta mengajak manusia untuk berperan aktif dalam menyebarkan ajaran islam dan menegakan syariatnya dalam kehidupan nyata di masyarakat, dan hal tersebut bukan hanya terbuka bagi kaum laki-laki tetapi perempuan punya peran penting dalam hal itu, dan hal itu bukanlah hanya suatu perkataan belaka, karena sepeninggal Syeikhah Sulthonah munculah Sulthonah-Slthonah lainnya di Hadhramaut.

Adapun wafatnya Syeikhah Sulthonah adalah pada tahun 843 H, dan beliau dimakamkan dikampungnya setelah diringi oleh para pelayat yang tak terhingga jumlahnya, dan sampai sekarang makamnya masih terjaga dan ramai di ziarahi.

Penutup

Biografi yang telah kami sebutkan tadi merupakan salah satu contoh tentang kaum perempuan pada zaman itu disamping mewakili ajaran tasawuf yang lurus dalam madrasah yang menyatukan anatara ilmu dan amal, antara iman dan tawakkal serta melakukan usaha.

Dan dalam madrasah salaf perempuan memiliki tempat dan kedudukan sebagaiaman kaum laki-laki, hal mana telah dibuktikan oleh seorang wanita muslimah yang dilahirkan diperkampungan baduy namun melalui madrasah Alulbait wanita itupun menjadi seorang tauladan bagi kaumnya, dan yang menjadi dalam kehidupan wanita sahliah pada zaman itu adalah taqwa dan melakukan kewajiban dunia dan akhirat, bukan khumul yang tercela ataupun mengasingkan diri kecuali dari hal-hal yang jelek dan orang-orang yang berbuat kejelekan, dan dengan semua kaidah kehidupan itulah mereka mampu menciptakan suatu kehidupan bermasyarakat yang pantas untuk dijadikan tauladan.
Sumber : indo.hadhramaut.

Keluhan Mengharukan Dari Seorang Syarifah




Assalamualaikum cinta....
 
Taukah kalian habaib...?!
Jika kalian menikah dengan ahwal, kami tersiksa ?!
       Taukah kalian kalau kami ini wanita lemah yg berusaha
        menjaga nasab dan kesucian jidah fatimah Azzahra ?! 
Wallah kami g ridho ! Kalian biarkan syarifah sampai perawan tua bahkan ada dari kami yg sampai akhir hayatnya tdk menikah karna menjaga kesucian Azzahra… dan kalian malah membiarkan Lalu mempersunting ahwal dangan banyak alasan ?!! Kalian punya banyak alasan untk meremehkan syarifah hanya untuk mendapatkan ahwal. Jangan salah... kami pun punya banyak alasan untuk itu ! Kami akan tuntut kalian di depan jidah kami fathimah Azzahra !
    Ingatt !! Kalian para habaib bisa menyambung nasab samapai darah mulia Rasulullah itu berkat Wanita ! Berkat jiddah Azzahra bukan lelaki ! Bukan untukku membeda2kan Hamba Allah.. Tapi Allah sendiri telah membedakan manusia dan hewan, lelaki dan perempuan, malam dan siang, bumi dan langit, Shohabat dan Ahlulbaith, Bahkan Allah membedakan Mana umat nabi Muhammad dan mana umat nabi2 lainnya ! Masih g faham ? Atau pura2 g faham ? Atau g mau Faham ?!!  
      Kepada para Sayyid dan Syarifah...didalam tubuhmu mengalir darah seorang yg mulia, darah seorang pejuang, darah sang pemimpin, dan darah sang kekasih Allah.Wahai pria-pria pilihan Allah, dunia ini hina dan kejam, tidakkkah kau lihat putri-putri Fatimah disana..?.sebagian dari mereka tersesat, tersakiti, teraniaya oleh dunia.Tubuhnya yang mengalir darah Rosulullah, darah Sayyidah Fatimah Az Zahra' sudah digandeng oleh orang lain.. sudah dinikmati oleh orang lain. Apa kalian masih belum sadar ayyuhal Habaib...??? Yaa Ahlil Jannah.. kalian adalah pria yg berdarah Nabiku Muhammad SAW, tolonglah para putri-putri Fatimah. Jangan biarkan mereka tersesat,jangan biarkan mereka tersakiti.

Muliakanlah…!!!  
Mereka sebagaimana kakekmu Rosulullah memuliakan Ummu Abiha Fatimah Az Zahra'. Yaa Syarifah...sungguh mulia Allah menciptakanmu. Dengan kecantikan yg luar biasa,, dan bahkan dimuliakan...

 abdkadiralhamid@2014

Sayyidah Nafisah - Wali ALLAH Dari Kaum Perempuan


Wanita Sufi Sayyidah Nafisah ialah salah satu keturunan Rasulullah s.a.w.. Beliau puteri Imam Sayyid Hasan al-Anwar bin Sayyid Zaid al-Ablaj bin Imam Sayyid Hasan al-Mutsanna bin Imam Sayyidina Hasan bin Imam Sayyidina Ali r.a (dan Sayyidah Fatimah binti Muhammad Rasulullah).. Beliau lahir di Makkah, pada 11 Rabiulawal 145H, hidup dan besar di Madinah.

Hijrah Ke Mesir ....

     Demi keamanan dan ketenangan hidup Sayyidah Nafisah berhijrah ke Mesir bersama suaminya, Sayyid Ishaq al-Mu’tasim bin Sayyid Ja’far As-Shadiq, pada tahun 193H, setelah sebelumnya ziarah ke makam Nabi Ibrahim a.s.. Di Mesir beliau tinggal di rumah Ummi Hani’.
Sayyidah Nafisah menetap di Mesir selama 7 tahun. Penduduk Mesir sangat menyayanginya dan percaya akan karamahnya. Mereka selalu berduyun-duyun mendatanginya, berdesakan mendengarkan mauizahnya dan memohon doanya. Hal ini membuat suaminya berfikir untuk mengajaknya pindah ke tanah Hijaz, namun beliau menolak dan menjawab: “Aku tidak bisa pergi ke Hijaz kerana aku bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w.. Beliau berkata kepadaku: “Janganlah kamu pergi dari Mesir kerana nanti Allah akan mewafatkanmu di sana (di Mesir).”

PRIBADINYA
Sayyidah Nafisah adalah seorang yang sangat kuat beribadah kepada Allah. Siang hari dia berpuasa sunat sedangkan pada malamnya dia bertahajjud menghidupkan malam dengan berzikir dan membaca Al Quran. Dia sungguh zuhud dengan kehidupannya. Hatinya langsung tidak terpaut dengan kehidupan dunia yang menipu daya. Jiwanya rindu dengan syurga Allah dan sangat takut dengan syurga Allah. Disamping itu Sayyidah Nafisah sangat taatkan suaminya. Beliau sangat mematuhi perintah suami dan melayan suaminya dengan sebaik-baiknya.
Sayyidah Nafisah adalah seorang yang terkenal zuhud dan mengasihi manusia yang lain. Pernah satu ketika, beliau menerima wang sebanyak 1000 dirham dari raja untuk keperluan dirinya. Beliau telah membahagikan wang tersebut kepada fakir miskin sebelum sempat memasuki rumahnya. Wang hadiah dari raja itu sedikit pun tidak diambilnya untuk kepentingan dirinya. Semuanya disedekahkan kepada fakir dan miskin. Demikianlah dermawannya Sayyidah Nafisah terhadap fakir miskin.

KEUTAMAANNYA
Sayyidah yang mulia ini sudah mendapatkan keutamaan sejak kecil lagi. Suatu ketika, demikian al-Hafiz Abu Muhammad dalam kitabnya Tuhfatul Asyraf bercerita: Al-Hasan, ayahanda Sayyidah Nafisah membawa Nafisah semasa kecil ke makam Rasulullah s.a.w.. Di sini sang ayah berkata : “Tuanku, Bagindaku Rasulullah, ini puteriku. Aku redha dengannya. Kemudian keduanya pulang. Di malam hari sang ayah bertemu Rasulullah bersabda: “Wahai Hasan Aku redha dengan puterimu Nafisah kerana keredhaanmu itu. Dan Allah SWT juga redha kerana redhaku itu.
Salah satu keutamaan Sayyidah Nafisah adalah selama hidupnya beliau telah mengkhatamkan al-Quran sebanyak 4000 kali. Selain itu, meskipun tinggal jauh dari tanah suci, beliau melakukan ibadah haji sebanyak 17 kali.

SAYYIDAH NAFISAH DAN IMAM SYAFI'I
 Sejarah sepakat mengatakan bahawa Sayyidah Nafisah semasa dengan Imam Syafie. Keduanya saling menghormati. Di ceritakan bahawa Imam Syafie meriwayatkan hadis dari Sayyidah Nafisah. Setiap berkunjung ke kediaman Sayyidah Nafisah Imam Syafie dan pengikutnya sangat menjunjung tinggi adab sopan santun terhadap beliau.
Imam Syafie setiap tertimpa penyakit selalu mengirim utusan ke Sayyidah Nafisah agar berkenan mendoakannya dengan kesembuhannya. Dan benar, setelah itu Imam Syafie mendapatkan kesembuhan. Ketika Imam Syafie tertimpa penyakit yang menyebabkan beliau wafat, Sayyidah Nafisah berkata pada utusan Imam Syafie: “Semoga Allah memberikan kenikmatan pada Syafie dengan melihat wajahNya yang mulia.”

KARAMAHNYA
maqam sayyidah nafisahSebelum menceritakan karamah-karamah Sayyidah yang mulia ini, perlu diketahui bahwa suami Sayyidah Nafisah (Ishaq bin al Mu’taman bin Ja’far ash Shadiq) pernah berkeinginan untuk memindah makam beliau ke pemakaman Baqi’ (Madinah). Kemudian penduduk Mesir meminta suami Sayyidah Nafisah untuk mengurungkan keinginannya, kerana penduduk Mesir ingin mendapatkan berkah darinya. Akhirnya, pada suatu malam suami Sayyidah Nafisah bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w.. Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Ishaq, janganlah kamu menentang keinginan penduduk Mesir, karena Allah akan memberikan berkahNya kepada penduduk Mesir melalui Sayyidah Nafisah”.
Di antara karamahnya ialah ketika pembantu Sayyidah Nafisah yang bernama Jauharah keluar rumah untuk membawakan air wudhu untuk beliau, pada waktu itu hujan deras sekali. Akan tetapi, tapak kaki Jauharah tidak basah dengan air hujan.
Di antara karamahnya juga ialah, ada sebuah keluarga Yahudi yang tinggal di dekat kediaman Sayyidah Nafisah di Mesir. Keluarga itu mempunyai seorang anak perempuan yang lumpuh. Suatu ketika ibu anak itu berkata: “Nak, kamu mahu apa ? Kamu mahu ke kamar mandi ?. Si anak tiba-tiba berkata: “Aku ingin ke tempat perempuan mulia tetangga kita itu.” Setelah si ibu minta izin pada Sayyidah Nafisah dan beliau memperkenankannya, keduanya datang ke kediaman Sayyidah Nafisah. Si anak didudukkan di pinggir rumah. Ketika datang waktu solat Zuhur, Sayyidah Nafisah beranjak untuk berwudhuk di dekat gadis kecil itu. Air wudhuk beliau mengalir ke tubuh anak tersebut. Seperti mendapatkan ilham anak itu mengusap anggota tubuhnya dengan air berkah tersebut. Dan seketika itu juga ia sembuh dan bisa berjalan seperti tidak pernah sakit sama sekali.
Kemudian si anak pulang dan mengetuk pintu. Pintu dibuka oleh ibunya. Dengan hairan dia bertanya: “Kamu siapa Nak?” “Aku puterimu.” Sambil memeluk si ibu bertanya bagaimana ini bisa terjadi. Si anak kemudian bercerita dan akhirnya keluarga itu semuanya masuk Islam.
Selain itu, pernah suatu ketika sungai Nil berhenti mengalir dan mengering. Orang-orang mendatangi Sayyidah Nafisah dan memohon doanya. Beliau memberikan selendangnya agar dilempar ke sungai Nil. Mereka melakukannya. Dan seketika itu juga sungai Nil mengalir kembali dan melimpah.
Karamah-karamah beliau setelah wafat juga banyak. Di antaranya, pada tahun 638H, beberapa pencuri menyelinap ke masjidnya dan mencuri enam belas lampu dari perak. Salah seorang pencuri itu dapat diketahui, lalu dihukum dengan diikat pada pohon. Hukuman itu dilaksanakan di depan masjid agar menjadi pelajaran bagi yang lain. Pada tahun 1940, seseorang yang tinggal di daerah itu bersembunyi di masjid itu pada malam hari. Ia mencuri syal dari Kasymir yang ada di makam itu. Namun, ia tidak menemukan jalan keluar dari masjid itu dan tetap terkurung di sana sampai pelayan mesjid datang di waktu subuh dan menangkapnya.

WAFATNYA
Al-Sakhawi bercerita, “Ketika Sayyidah Nafisah merasakan ajalnya sudah dekat, beliau menulis surat wasiat untuk suaminya, dan menggali kubur beliau sendiri di rumahnya. Kubur yang digalinya itu ialah untuk beliau sentiasa mengingatkan akan kematian. Kemudian beliau turun ke liang kubur itu, memperbanyak solat dan mengkhatamkan al-Quran sebanyak 109 kali. Kalau tidak mampu berdiri, beliau solat dengan duduk, memperbanyak tasbih dan menangis. Ketika sudah sampai ajalnya dan beliau sampai pada ayat: “Bagi mereka (disediakan) tempat kedamaian (syurga) di sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal soleh yang selalu mereka kerjakan.” (Surah Al-An’am: 127), beliau pengsan kemudian dan menghembuskan nafas terakhir menghadap Sang Maha Kasih Abadi pada hari Jumaat, bulan Ramadhan 208H.
Sewaktu disembahyangkan sangat ramai orang yang menghadirinya. Sehingga kini maqamnya diziarahi oleh pengunjung dari seluruh pelusuk dunia. Demikian kehebatan yang Allah anugerahkan kepada Sayyidah Nafisah yang terkenal dengan kewarakan kepada Allah dan ketaatannya kepada suami. Semoga ianya menjadi contoh buat generasi wanita akhir zaman ini.
sumber : taman ulama

Sunday, August 13, 2017

Kalkulator Kalender Hijriyah Gratis Download


Gratis Download Kalender Hijriyyah Islam-Muslim.
Assalamualaikum dan Salam ya sobat..
ini awal baalwibafagih.org menyediakan layanan download aplikasi, kalender hijriyah yang berupa kalkulator penghitung tanggal hijriyah sehingga manfaat dalam penanggalan Islami. bisa digunakan hingga os.windows 8 atau yang terbaru.

Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (bahasa Arab: التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun di mana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M.
sekian penjelasan dari kalender hijriyah.
silahkan sobat download disini kalendernya (just click) : 
Semoga Manfaat ^_^


Dalil-dalil yang Memperbolehkan Melakukan Perayaan Maulid Nabi S.A.W


" Dalil-dalil yang memperbolehkan melakukan perayaan Maulid Nabi s.a.w.

Anjuran bergembira atas rahmat dan karunia Allah kepada kita. Allah SWT berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
 “Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. QS.Yunus:58

Rasulullah SAW sendiri mensyukuri atas kelahirannya. Dalam sebuah Hadits dinyatakan: عَنْ

"Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku". (H.R. Muslim, Abud Dawud, Tirmidzi, Nasa'I, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah dan Baghawi).

Diriwayatkan dari Imam Bukhori bahwa Abu Lahab setiap hari senin diringankan siksanya dengan sebab memerdekakan budak Tsuwaybah sebagai ungkapan kegembiraannya atas kelahiran Rasulullah SAW. Jika Abu Lahab yang non-muslim dan al-Qur'an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW

Sayyid Jalaluddin Al Aidid mengajarkan 3 hal penting yang kemudian menjadi faktor utama terwujudnya Peringatan Maulid Al Akbar Rasulullah (Maudu Lompoa), yaitu prinsip  al-MAK'RIFAH , al- IMAM dan -MAHABBAH

Dengan prinsip itu diyakini bahwa pemahaman ruhaniah secara hakekat terhadap Allah terlebih dahulu harus didahului dengan pemahaman mendalam atas kejadian dan kelahiran Nabi Muhammad saw. terdapat 2 proses kelahiran beliau, yaitu kelahiran di alam ghaib (arwah) dan kelahiran di alam syahadah (dunia). Kejadian di alam ghaib berwujud “Nur Muhammad” yang diciptakan Allah sebagai sumber segala makhluk yang daripadanyalah tercipta alam semesta ini. Masyarakat Pengikut Maulid — khususnya para Sayyid — percaya bahwa Allah menyinari dan memberi cahaya langit dan bumi (bertajalli) melalui “Nur Muhammad” yang diciptakan Allah sebagai pokok kejadian segala makhluk dan rahmat bagi seluruh Alam. Sedangkan kelahiran beliau di alam syahadah ini diyakini merupakan kelahiran dengan membawa kebenaran yang mutlak untuk dipegang. mengenai Nur Muhammad jelasnya dapat dilihat di beberapa literatur kitab salah satunya Kitab Sirrul Asrar yang disusun oleh Sayyid Syekh Abdul Qadir JAELANI

WASIAT SAYYID MUHAMMAD MAULA AIDID (Al Faqih Shahib Aidid)

Sedikit Berbagi kebaikan Buat saudara dan kawan Sayyid Syarifah ...
Oleh : Habib Muksin bin Hud Alhabsyi

Al-Habib Al-Imam Al-Alamah Annahrir, dan yang mengamalkan dengan hal-hal dan teliti yang disepakati atas keutamaannya dan ketaqwaannya Muhammad bin Ali Maula Aidid.
Beliau dilahirkan di Tarim dan wafat di Tarim pada tahun 862 H. setelah menghabiskan hidupnya kira-kira lebih dari 100 tahun sebagaimana biografinya di dalam kitab “Masyro’ Rawi “. Maka sepanjang hidupnya beliau se zaman dengan Al-Imam Al-Habib Muhammad bin Ali Maula Dawilah dan anak-anak dan cucunya, Al-Habib Abdurahman Assegaf, Al-Habib Umar bin Muhdor dan saudara-saudaranya, kemudian Al-habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus dan anak-anaknya yaitu Al-Imam Abubakar Al-Adny bin Abdullah Alaydrus serta saudara-saudaranya.
Dan banyak yang telah lulus menjadi para Ulama di bawah asuhannya dan didikannya diantaranya Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus dan saudaranya Al-Imam Syekh Ali bin Abubakar Assakran.
Beliau Rahimahullah adalah seorang yang giat ibadah dan dermawan dan menjadikan tempat ibadah untuk sambil mengasingkan diri dari manusia, dan membangun Masjid yang masih sampai sekarang dinamakan Masjid Maula Aidid, beliau selalu melazimkan taat kepada Allah Ta’ala secara ihtiyat/ tanpa paksaan. Kemudian teman-temabnya sejawat beliau membangun bangunan di dekat Masjid Maula Aidid sampai menjadi desa yang ramai yang bersambung dengan kota Tarim sekarang dan dinamakan perkampungan tersebut perkampungan Aidid. Dan beliau senantiasa taat kepada Arrahman yang Maha Pengasih sampai berpulang ke rahmatullah dan dikuburkan di Pemakaman Zanbal, semoga Allah merahmatinya dan bermanfaat kepada kami, Amin…..
( Ringkasan dari Kitab “ Masro’ Rawi ).

Wasiat.
Wasiat dan nasehat dari Assyekh Al-Kabir Al-Qutb Assyahir Al-Arif Billah, dzi Al-Ahwali Al-Aliyah wal karomah Al-Khariqah wal Asror Asshodiqoh, Sayyidina Assykeh Abi Abdillah Jamaluddin Muhammad bin Ali Maula Aidid, untuk para ikhwan dan pencinta-pencinta beliau dan untuk yang mengamalkan dan mendengarkannya dan semua para muslimin Wallahu Waliyu Taufik.

Amma Ba’du
Ketahuilah olehmu wahai Saudaraku, jika engkau meminta keselamatan untuk dirimu, maka engkau harus menuntut ilmu yang bermanfaat. Maka sesungguhnya ilmu itu adalah pusat dan sumber setiap sesuatu dan kebaikan semuanya terdapat didalam menuntut ilmu yang bermanfaat dan beramal. Dan ilmu yang bermanfaat terdapat di kitab-kitab karangan Al-Imam Al-Ghozali, maka seyogyanya engkau mentelaahnya khusunya “ Bidayatul Hidayah “ dan “ Ihya Ulumuddin “, maka sesungguhnya kitab-kitab tersebut menjelaskan kepadamu tentang ilmu An-Nafi dan menyelamatkan kepadamu dan menjauhkanmu dari kejahatan. Dan kejahatan semuanya terdapat didalam pergaulan orang-orang yang jelek tingkah lakunya dan bodoh, dan mendengarkan perkataan mereka dan sesungguhnya bergaul kepada orang-orang yang jelek perangainya dan tingkah lakunya itu mewariskan prasangka buruk kepada orang-orang yang baik dan shaleh, dan sesungguhnya bergaul kepada orang-orang yang bodoh itu mewariskan semua kejelekan, Na’uzu billahi min dzalik.
Dan hati-hatilah engkau kemudian hati-hati dari bergaul kepada orang yang meng-ghibahi orang muslim, karena sesungguhnya ghibah lebih besar dosanya dari 33 kali melakukan zina di Agama Islam. Dan kebaikan itu semuanya terdapat didalam menjauhi hawa nafsunya, dan tetapi belajar ilmu yang bermanfaat itu adalah pangkal/asas/pondasi, seandainya orang yang jahil ( bodoh ) beribadah kepada Allah SWT seperti ibadahnya semua penduduk langit dan bumi, maka adanya dia termasuk orang rugi, kabur dan kaburlah engkau dari ucapan manusia, sebagian mereka kepada sebagian yang lain. Hati dan hati-hatilah  engkau dari bergaul kepada orang yang buruk akhlaknya, maka sesungguhnya lidah-lidah mereka manis, dan perbuatan mereka itu buruk dan melanggar, maka hati-hatilah dari mereka.
Dan wajib engkau berbuat tawadhu/rendah hati kepada semua makhluk, dan hatimu sedih atas dosa-dosamu dan lalaimu pada semua perkara yang diperintahkan oleh Allah SWT.
Dan wajib engkau bersedih, karena sesungguhnya bersedih itu tumbuh dengan sifat tawadhu, dan tawadhu itu kebaikan semuanya, dan kesombongan itu kejelekan semua, dan engkau tidak mengetahui tawadhu/rendah hati kecuali dengan ilmu. Dan wajib atasmu mencari ilmu dan mendengarkan kepada ahlinya, dan tekun mendengarkan ilmu, maka sesungguhnya ilmu cahaya semuanya dan kebodohan itu kegelapan semuanya, dan tidak ada sesuatu yang lebih besar daripada kebodohan yaitu mengakunya seseorang berilmu padahal ia bodoh, Nau’dzu billahi mindzalik, dan kami minta ampun pada Allah SWT.
Dan kebaikan tidak dapat bermanfaat beserta kesombongan, dan kesalahan itu membahayakan beserta tawadhu dan barang siapa yang menyembah Allah SWT tanpa ilmu, maka sesuatu yang merusaknya itu lebih banyak daripada memperbaikinya.
Ilmu bermanfaat ialah ilmu yang terdapat/tercantum di kitab karangan Imam Al-Ghozali, karena terdapat pada kitab tersebut kebaikan semuanya, dan barang siapa yang tidak mendapatkannya dan tidak mentelaah kitab-kitab tersebut, maka ia orang yang merugi/tertipu. Dan barang siapa yang tidak minat/enggan mentelaah kitab tersebut, maka ia mencintai dunia ( hubbud dunia ) dan tidak mencintai akhirat, dan barang siapa mencintai Al-Imam Al-Ghozali, semoga Allah meridhoinya, maka ia mencintai akhirat.
Dan wajib engkau berpegang pada kitab “ Bidayatul Hidayah “, bacalah setiap hari, karena sesungguhnya lebih utama dari semua dzikir-dzikir, dan menjadi wajib atasmu, aku berwasiat kepadamu untuk membacanya dan merenunginya. Dan mintalah kepada orang yang membacanya untukmu, apabila engkau tidak bisa membacanya, mintalah kepada orang yang membacanya dari orang-orang yang mencintai kitab tersebut, dan mempunyai roghbah/keinginan padanya, karena yang demikian itu insya Allah menunjukkanmu kepada kebaikan.
Dan wajib atasmu berbakti kepada kedua orang tua ( birrul walidain ) dan tekunlah dalam berbakti kepada keduanya, dan mintalah ridho keduanya, dan lembutkanlah keduanya seperti ayah ibumu, kakekmu, nenekmu dan seterusnya, adapun dzawul arham seperti saudaramu laki dan perempuan, pamanmu, bibimu dari pihak ayahmu dan ibumu dan kerabatmu semuanya maka berbaktilah kepada mereka semampumu, dan istrimu lemah lembutlah dia dan baguskanlah mempergaulinya, dan budakmu perbaguskanlah ia, jika ia lalai, dan sebutkanlah perbuatan-perbuatannya terpuji yang telah lalu, dan berbaiklah perangaimu, budi pekertimu dengan mereka semuanya secara khusus, dan orang banyak secara umum. Sesungguhnya kebaikan semua terdapat pada baiknya akhlak dan kejahatan semua terdapat pada jeleknya akhlak.
 Nasehat ini semuanya, dan yang lainnya, dan yang lebih bagus terdapat pada kitab “ Bidayatul Hidayah “, maka seyogyanya atasmu membacanya dan mendengarkan bacaannya, jadikanlah sebagai ratibmu., lebih utama dari semua dzikir-dzikir, dan janganlah engkau tertipu dengan ucapan orang yang bodoh, karena orang bodoh itu tidak mengetahui dimana keselamatan, dia merusak dirinya dan membinasakan orang lain, dan hati-hati mendengarkan perkataan orang bodoh, karena itu adalah racun yang membunuh lagi membinasakan.
Dan hati-hatilah engkau dari mujalasah ( duduk dan bergaul ) pemerintah-pemerintah yang dzolim, pemerintah pada zaman ini semuanya orang-orang yang dzolim, maka hati-hatilah engkau dari mereka, janganlah engkau tertipu oleh ucapan mereka dan penghadapan/gerak-gerik mereka, karena pada ucapan mereka terdapat racun yang mematikan sekalipun kelihatannya baik, karena sesungguhnya didalamnya ada kejahatan sekalipun datang kepadamu dengan pengetahuan akal dan ilmu, ucapan semua tipuan yang pasti, karena sesungguhnya ucapan mereka dan hati mereka berbeda sekali. Maka janganlah engkau tertipu oleh ucapan mereka dan manisnya lidah mereka, jauhlah engkau dari mereka semampumu, dan larilah engkau dari mereka seperti larimu dari singa, karena mereka membahayakanmu dalam urusan agama dan duniamu, walaupun akan datang, maka hati-hatilah dari mereka, dan teman-teman mereka, dan orang yang berlindung pada mereka, karena dia sebagian dari mereka dan seperti mereka, dan orang yang mencintai mereka dan bergaul kepada golongan mereka.
Dan hati-hatilah engkau dari ahli fiqh zaman ini, mereka yang dekat kepada pemerintah, dan mereka menganggap bahwasanya tujuan dekat itu kebaikan dan maksud mereka itu memberi manfaat kepada manusia, demi Allah mereka telah berdusta, tidaklah maksud mereka kecuali mencari martabat dan kepopuleran dan hasad, ghibah, namimah dan selain itu, maka sangat hati-hatilah engkau dari mereka, karena kejahatan mereka nampak atasmu.
Dan wajib atasmu menolong orang-orang yang lemah lagi tidak berdaya, mereka lari dari pemerintah dan massa mereka karena kezhaliman, sesungguhnya para pemerintah yang dzolim itu musuh-musuh Allah dimuka bumi ini, dan mereka tidak mempunyai pekerjaan melainkan berbuat dzolim dan mengganggu orang-orang Muslim, Na’uzu Billah dari mereka, kami meminta perlindungan kepada Allah dari orang yang dekat kepada mereka, mudah-mudahan Allah melindungi kita dari semua kejahatan, dan Allah memberi taufik kepada kita dan kamu sekalian setiap kebaikan, dengan rahmatnya, karunianya, kedermawanannya, pemaafaannya dan mulianya, Amin.
Dan tekadkanlah kesabaran atas memerangi hawa nafsu, karena mengikutinya itu adalah penyakit yang tertimbun paling besar dan tidak mengikutinya itu kesembuhan dan obat yang terang, tetapi tidaklah dapat untuk melawan hawa nafsu kecuali dengan mengetahuidan ilmu. Dan tanyalah tentang ilmu dan carilah, jangan sombong dan merasa enggan bertanya kepada Ulama Akhirat, dan tekunilah kepada mereka, dan mintalah kepada mereka dimana mereka ( Ulama ) berada, jangan lemah dan malas, karena lemah dalam bertanya itu ke fakiran semua, saya maksudkan lemah dari urusan agama. Kesombongan membawamu pada urusan duniamu dan hawa nafsumu tidak lemah ( bersemangat ), dan urusan agamamu dan akhiratmu dan akhiratmu lemah lagi malas, dan inilah tanda jauh dari Allah SWT, dan kebaikan semuanya.
Dan ketahuilah olehmu wahai saudaraku, sesungguhnya kesenangan dunia itu racun yang mematikan. Ketakutan kepada Allah SWT keluar dari hatimu, dan hilang juga ketakutan akhirat dari hatimu, maka inilah tanda jauh dari Allah SWT dan dari kebaikan semuanya.
Dan ketahuilah olehmu wahai saudaraku, sesungguhnya kesedihan dunia itu lebih baik dari kesenangannya, dan ketahuilah sesungguhnya apabila kamu mati, maka engkau di pertanggung jawabkan dari setiap kalimat, gerakan dan diam dalam urusan agama dan duniamu, maka bagaimanakah engkau tidak menangis atas dirimu dan atas apa-apa yang hilang dari umurmu pada urusan yang tidak berguna dan tertawa dan bercanda, dan sedikit memerangi hawa nafsu pada urusan agama dan duniamu.
Alangkah ruginya sedikit orang yang berdzikir dan sedikit para pencari cinta pada kebaikan, heran sungguh heran tidak ada yang malu kepada Allah. Maka wajib atasmu wahai saudaraku, taubat dan penyesalan, dan mencabut semua dosa ( tidak melakukan dosa lagi ), dan dari sesuatu yang menarik pada dosa-dosa, yaitu bercampur baur kepada manusia kecuali bercampur kepada orang yang melarangmu terhadap dosa, dan mengenalimu akan aib-aib dirimu, maka sesungguhnya bercampur baur terhadap manusia tanpa berhati-hati itu musuhmu yang paling menular atasmu. Jadilah engkau pelawan atasnya, dan jangan engkau butuh terhadapnya, dan hati-hatilah darinya, maka hati-hati engkau darinya karena kejahatan. Semuanya bersambung dari arahnya dan janganlah engkau ridho atasnya selamanya, maka jika engkau ridho terhadap nafsumu, Allah Ta’ala murka kepadamu, dan jika engkau tidak ridho atas nafsumu dan engkau marah kepadanya, Allah Ta’ala ridho terhadapnya.
Dan ketahuilah olehmu sesungguhnya pangkal kelalaian dan dosa semua itu terdapat dalam ridhomu atas dirimu, karena ridho atas nafsumu itu musuh Allah Ta’ala., dan barang siapa yang mencintai Allah ta’ala maka ia harus membenci musuhnya. Dan ketahuilah olehmu sesungguhnya nafsumu itu musuh yang paling menular kepadamu dan kepada Allah Ta’ala, maka wajib atasmu tidak mengikuti hawa nafsumu. Dan aku berwasiat kepadamu dengan setiap sesuatu yang menentang hawa nafsumu, tanyalah kepada orang yang mengetahui dan kepada orang yang lebih ‘alim darimu, dan mintalah petunjuk, dan tekunilah atas permintaanmu, dan janganlah engkau sombong dan jangan beralasan dengan alas an untuk yang bathil lagi dusta, karena sesungguhnya nafsu itu jelek, penipu lagi pembuat tipu daya, dan mintalah perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya, dan dari setan yang terkutuk lagi terlaknat, mintalah bantuan dari Allah dan dari Ulama akhirat dan dari semua Muslimin yang kecil maupun yang besar, laki-laki maupun perempuan, yang merdeka maupun yang budak, dan jangan engkau menghina salah satupun dari mereka, dan jangan merasa sombong atasnya, khususnya kepada orang yang membaca kitab-kitab Imam Ghozali, dan kepada orang yang selalu membaca mu’zakarah dan pengetahuan terhadap kitab-kitabnya, maka terus meneruskanlah engkau setiap hari atas sehari berselang seling, tekunilah dan terus meneruskanlah atas demikian itu, karena aku penasehat bagimu dan pencintamu, dan Allah yang mengetahui demikian tersebut, kami meminta kepada Allah Ta’ala agar memotong keserakahan kami dari yang lainnya, dan tidak menggantungkan kami kepada selainnya.
Dan wajib atasmu merasa tidak berdaya, hina dan sangat membutuhkan dihadapan Allah SWT dan tawadhu/rendah hati kesemua makhluk Allah, tanpa ada perasaan hina dan sangat membutuhkan kepada mereka, bersifat mulia tanpa ada kesombongan, dan berkeyakinan bahwasanya semua makhluk itu lebih baik darimu, dan lebih bagus dan lebih berakal darimu, dan barang siapa yang tidak dzuhud ( meninggal sesuatu yang besifat duniawi ) dalam harta dan kedudukan maka haramlah ia menuntut akal ( tidak memikirkan akibatnya ). Dan barang siapa mencintai bergaul kepada manusia, dan mendengarkan ucapan mereka, maka ia adalah orang yang celaka lagi jauh dari kebaikan ini semua ucapan para Ulama yang arifin dan aku menyaksikan yang demikian.
Wajib atasmu membaca kitab “ Bidayatul Hidayah “ karena didalamnya terdapat obat dan penyembuhan dan kebaikan semua terdapat di kitab-kitab Imam Ghozali, tekunilah engkau atas kitab-kitab tersebut, kapan sesungguhnya tekadmu itu dingin tampaknya, maka sampai kapan menunda-nunda perbuatan dan sampai kapan engkau lalai sedangkan kematian itu dekat dan kiamat dekat, tanda kiamat ini sungguh telah dekat sekali………., beramallah sebelum penyeselan yang panjang, dimana tidak seorangpun menolong temannya, berapa banyak yang menyesal, berapa banyak yang rugi, dan tidak bermanfaat penyesalan, giatlah kemudian giatlah, dan tekadlah karena sesungguhnya dunia itu lebih dari setiap sedikit, dan tidaklah bersamamu dari sedikit kecuali sedikit di dalam hidup sedikit.
Dan aku sangat berwasiat untuk bermurah tangan dan bermurah hati didunia, karena sesungguhnya orang dermawan itu dekat kepada rahmat Allah Ta’ala, tetapi sembunyikan dan rahasiakanlah karena sadaqah sir ( tidak kelihatan dimata manusia ) itu lebih baik dari sadaqah yang dzohir ( tampak dimata manusia ) dengan balasan 70 kali apabila berbuat ikhlas karena Allah Ta’ala.
Dan hati-hatilah engkau memperbanyak penekuan terhadap dunia, sedikitkanlah, karena sesungguhnya meninggalkan dunia itu lebih baik dari sadaqah sebesar dunia, dan meninggalkan 1 dirham yang subhat itu lebih baik dari seratus ribu dirham dan seratus ribu dirham sampai enam ratus ribu ini semua terdapat di hadits shahih dari Nabi Muhammad S.A.W.
Kebodohan pangkal semua kecelakaan, dan lebih besar dari kebodohan adalah kebodohan/ketidak tahuan dirinya dengan kebodohan yang ada pada dirinya, dan janganlah engkau ridho kepada nafsumu dengan kemalasan, dan hati-hatilah engkau dari tekad yang dini ( terburu-buru) dan ketahuilah olehmu sesungguhnya mencintai dunia itu pangkal semua kesalahan.
Dan sebagian tanda makruh kepada dunia adalah mengumpukan, dan barang siapa mengumpulkannya itu akan mati dan meninggalkannya, berapa waktu umur manusia di dunia ?. Aku berwasiat kepadamu dalam jiwamu wahai saudaraku, sesungguhnya hartamu itu fitnah atasmu, dan semua makhluk itu fitnah atasmu, dan semua ini fitnah-fitnah atasmu, sedangkan engkau lali dari ke khususanmu ridho Tuhanmu dan engkau menyia-nyiakan waktumu semuanya dari sejak pagi sampai sore.
Dan pergunakanlah sebenar-benarnya dalam menghidupkan amalan diantara Maghrib dan Isya karena waktu itu adalah waktu yang mulia dan tinggalkanlah pembicaraan yang tidak berguna setelah shalat Isya kecuali jika pembicaraan tersebut berkaitan mengenai orang-orang yang shaleh atau berkaitan dengan ilmu yang mana kamu mengambil manfaat, jika tidak maka janganlah engkau menutup amalanmu dengan sesuatu yang dimurkai oleh Allah Ta’ala dan fudul kalam ( mencari sesuatu berita yang bukan haknya ) atau ghibah ( mengumpat ) atau yang lainnya.
Dan bersungguh-sungguhlah engkau bangun tidur sebelum fajar, karena itu sunnah dan terdapat karunia yang besar, dan tekunilah dengan perbanyak amalan setelah subuh, karena itu waktu yang terdapat karunia besar yang tak terhitung dan jangan berbicara sebelum terbit matahari, karena terdapat karunia besar yang tak terhitung.
Aku berwasiat kepadamu untuk merasa takut dan sedih dan inkisar ( merasa tak berdaya ), maka janganlah engkau kosong dari sifat-sifat yang demikian jika engkau ridho Allah SWT dan Rasulnya S.A.W. Kebaikan semuanya berada dalam kehinaan dan inkisar ( merasa tak berdaya ) dihadapan Allah SWT, dan meninggalkan kesenangan duniawi, karena Allah SWT tidak mencintai orang-orang yang senang dengan dunia. Dan kesenangan kepada Selain Allah SWT itu tanda jauh dari Allah Ta’ala.
Aku berwasiat kepada mu kemudian aku berwasiat kepadamu untuk mengatur waktu-waktumu, karena yang demikian itu terdapat simpanan-simpanan yang kekal, dan simpanan-simpanan dunia itu tidak memberi manfaat kepadamu apabila engkau mati, dua raka’at yang engkau shalat pada tengah malam hari itu lebih utama dari dunia dan seisinya, dan ia merupakan simpanan dari simpanan-simpanan surga, dan amal tidak bermanfaat tanpa ilmu, dan antara orang yang berilmu dan orang yang beribadah 100 derajat, dan antara derajat dengan derajat yang lain seperti antara langit dan bumi. Keutamaan orang ‘alim atas orang yang beribadah seperti keutamaan Nabi Muhammad S.A.W. atas semua makhluk. Kebaikan semua ada di Ilmu yaitu Ilmunya Imam Alghozali khususnya yang dititipkannya di kitab “ Ihya Ulumuddin, dan aku menyaksikan yang demikian itu dengan pasti. Ulama dan para Sufi semuanya menyaksikan juga, kecuali Ulama Dunia, Na’udzubillahi minhum. Karena tidur beserta ilmu lebih baik dari beibadah beserta jahil ( bodoh ). Kekenyangan beserta ilmu lebih baik daripada kelaparan beserta kebodohan. Berapa banyak telah datang riwayat yang menerangkan keutamaan orang ‘alim yang tidak bisa dihitung penjelasannya, dan melihat memandang orang ‘alim lebih baik dari ibadah setahun. Berapa banyak penyebutan tentang ilmau tetapi ilmu yang bermanfaat itu seperti kitab “ Ihya Ulumuddin “ dan kitab “ Bidayatul Hidayah “ dan yang lain-lain dari kitab-kitab Imam Al-Ghozali, semoga Allah memberi manfaat kita berkat Imam Al-Ghozali di akhirat. Semoga Allah memberi manfaat kita dengan  ilmu yang kita ajarkan dengan kita amalkan, dan tidak menjadikan bahaya duror atas kita, berkat Nabi Muhammad S.A.W. dan keluarganya dan sahabatnya dan semua hamba-hamba Allah S.W.T. yang Shaleh, Amin Allahumma Amin.
Dan wajib atasmu sedikit berbicara, berdiam dan kabur dari perbincangan manusia pada zaman ini yang sedikit kebaikan. Semoga Allah memutuskan kita dari selainnya dan tidak menggantungkan hati kami dengan selainnya, dan menggampangkan dunia kepada kami, dan jauh-jauh dari manusia, karena kebaikan semua terdapat pada kejauhan dari meraka. Rasulullah S.A.W. bersabda “ Afdholul muslimin man salima annasu min lisanih wayadih “ artinya “ sebaik-baiknya muslimin yaitu seseorang yang selamat manusia dari lidahnya dan tangannya, dan hendaknya tidak berburuk sangka kepada manusia, karena buruk sangka kepada muslimin itu haram “. Jika engkau jauh dari mereka, maka mereka selamat darimu dan engkau selamat dari mereka, dan jika engkau bergaul kepada mereka dan mendengarkan ucapan mereka, maka engkau membinasakan dirimu, dan bersangka kepada pembicara dan yang dibicarakan. Setiap yang bergaul kepada manusia maka banyak maksiatnya sekalipun bertaqwa pada dirinya.
Dan aku berwasiat kepadamu hendaknya engkau tidak keluar dari rumahmu kecuali dalam keadaan darurat, atau keperluan yang penting, dan engkau hendaknya diam ketinggalan dari ucapan manusia dan dari memperhatikan kabar-kabar mereka, hati-hatilah dari pemerintah, dan setiap sesuatu yang dekat kepada mereka, karena mereka pembinasa, melihat kepada mereka itu adalah racun yang mematikan, dan melihat kepada mereka setiap orang yang bodoh itu mengeraskan hati, sebagaimana melihat kepada orang ‘alim mengkhususkan hati dan mengingatkan akhirat.
Dan wajib atasmu wahai saudaraku, menuntut  keselamatan untuk dirimu, dan janganlah engkau mempersulit atas dirimu karena Allah Ta’ala, dialah yang Maha Menolong, Ma’uwnah ( bantuan ) dari Allah Ta’ala. Kemudian dari semua hamba-hambanya yang shaleh lagi arifin, tawadhu, saling berwasiat lagi saling mencintai dijalan Allah dan Rasulnya, semoga Allah memberi manfaat kami berkat semua Muslimin, dan melindungi kami dari kejahatan nafsu kita dan dari tipu daya syaithan. Kami minta ampun kepada Allah dari dua perkara ini dengan tanpa ilmu dan hati yang tidak hadir beserta gangguan khotir ( lintasan hati ).
Terimalah wahai saudaraku nasehat ini, sekalipun kurang dan ditulis dengan terburu-buru, dan tanpa hati yang hadir, jika aku menghendaki akan aku tulis seribu lembar, maka tidak bermanfaat kata-kata lucu ini, dan betapa lucunya engkau mengetahui bahwa kami menulis lembaran ini dengan tergesa-gesa.
Mudah-mudahan Allah memperbaiki hati dan mengampuni dosa dan ridho dan menerima dan memberi taubat, dan sekalipun tidak ada mahabbah ( kecintaan ) niscaya tidak ditulis lembaran-lembaran ini,
Wassalam, Washallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa alihi wa shohbihi wassallam.
Sumber : Maula-Aidid

Asal Mula Surat Al Kautsar


Hadrat Fatimah az-Zahra Ra. lahir menghiasi kebahagiaan Hadrat Khadijah Ra. dan Rasulullah Saw. Sebelum kelahirannya, Nabi Saw memiliki dua putra, Qasim dan Tahir, akan tetapi kedua putra beliau ini meninggal selagi mereka masih belia.
Nabi Saw memulai menyebarkan ajaran Islam dan mendapatkan musuh-musuh akibat dakwah ini. Sebagai hasilnya, beberapa kaum Musyrik memulai melancarkan ejekan kepada beliau akibat kematian putra beliau, dengan memanggilnya sebagai “Abtar“.
Istilah Abtar ini bermakna seekor binatang yang tidak memiliki ekor – betapa kejinya orang-orang mengejek Nabi Saw dengan “Abtar” karena beliau tidak memiliki anak yang akan melanjutkan garis keturunannya.
Kemudian, ketika Hadrat Fatimah Ra. lahir, turunlah surat al-Qur’an berikut ini:
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan Nama Allah Yang Mahakasih dan Mahasayang
اِناّ اَعْطَيْنكَ اَلْكَوْثَر °
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (wahai Muhammad) nikmat yang           
melimpah : kautsar.
فَصَلِّ لِرَِِِبِّكَ وَانْحَرْ °
Oleh karena itu, pujilah Tuhanmu dan berkorbanlah.
اِنَّ شا نئَك هُو البترٌ °
  Sesungguhnya orang yang membencimu dialah yang terputus (tidak akan memiliki 
.(keturunan
Ketika Nabi Saw ditanya tentang apa arti dari kautsar, beliau menjawab bahwa kautsar berarti sebuah sungai di Surga dan seseorang yang akan memberikan air dari sungai tersebut kepada orang-orang Mukmin adalah Imam ‘Ali al-Murtada Ra.
Kemudian Nabi Muhammad Saw berkata bahwa kautsar juga bermakna nikmat yang melimpah, dan kelahiran Sayidah Fatimah menandakan bahwa, melalui dirinya, keturunan Rasulullah Saw akan melimpah ruah.
Janji Allah terbukti karena hari ini, keturunan Nabi Muhammad Saw tidak terhitung banyaknya, (Sayyid), sementara tidak ada orang yang mengklaim dirinya sebagai seorang keturunan dari kaum Musyrik Quraisy. Lalu musuh-musuh Nabilah yang terbukti menjadi Abtar.
Pelajaran yang dapat kita petik dari kisah Sayidah Fatimah Ra. di atas adalah :
Keturunan Nabi Saw seluruhnya berasal dari Sayidah Fatimah Ra., karena hubungan keturunannya dari Nabi Muhamamad Saw. sebagaimana Imam Suyuti dalam kitab Al-Jami’ As-Shoghir juz 2 halaman 92 menerangkan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda :
"Semua Bani Adam (manusia) mempunyai ikatan keturunan dari ayah, kecuali anak-anak Fathimah (keturunan), maka akulah ayah mereka dan akulah Ashabah mereka (ikatan keturunan mereka).” (HR. At Thabrani dan Abu Ya’la).

Wednesday, August 9, 2017

Sekilas Kafa'ah Syarifah dan Hukum Syariah nya.

#mylearnaboutfamily
#sekedar_diingat_kembali 

Assalamualaikum n' Salam kebaikan, bi kheir wal be good ^_^
Kaifa hal atau Apa kabar, saudara sekalian? kali ini ane coba rangkum beberapa dasar hukum kafaah syarifah sehingga hanya menjadi sekilas, tetapi moga sj lebih cepat di fahami bagi yg baru akses website ini, tafadhal, check it out :



Kafaah Syarifah - Dasar Hukum Dalam Pernikahan


Daftar Isi
KAFA'AH SYARIFAH - DASAR HUKUM DALAM PERKAWINAN
Penulis: Aidarus Alwee Almashoor
Bab 1
-Seputar Kafa'ah Dalam Pernikahan
Bab 2
-Kewenangan Wali Dalam Pernikahan
Bab 3
-Dalil-Dalil Yang Mendasari Kafa'ah Syarifah
Bab 4
-Hadits Tentang Keutamaan Bangsa Arab
Bab 5
-Kisah Zaid Bin Haritsah & Zainab Binti Jahsy
Bab 6
-Mengapa Ada Pernikahan Yang Tidak Sekufu'
Bab 7
-Kafa'ah Nasab: Kesombongan Jahiliyah?
Bab 8
-Menjaga Hak Keturunan Rasulullah saw Dalam Perkawinan
Daftar Pusaka
-Daftar Pusaka
#Pembahasan Website blog ini akan lebih bermanfaat lagi bila anda membeli langsung Buku KAFA'AH SYARIFAH - DASAR HUKUM DALAM PERNIKAHAN" di Toko Buku terdekat atau melalui Toko Online.

Monday, August 7, 2017

Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw.


Daftar Isi
FADHA'IL AHLULBAIT RASULULLAH SAW
K.H Abdullah bin Nuh.
Kata Sambutan
-Kata Sambutan
 Pengenalan
 -Pendahuluan
Syair -Sya'ir "Bahtera Keselamatan"
-Sya'ir "Keagungan Ahlulbait Rasulullah s.a.w"
Bahagian Pertama
-Siapakah yang disebut "AHLULBAIT"?
-Berbagai penafsiran para ulama mengenai ayat 33 S. al-Ahzab
Bahagian Kedua
-Hadith Tsaqalain dan kedudukan Ahlulbait
-Tanggapan para ulama tentang Hadith Tsaqalain
-Pandangan Syeikhul-Islam Ibnu Taimiyyah tentang Ahlulbait Rasulullah s.a.w
 -Empat macam penafsiran tentang makna 'aal Muhammad Rasulullah s.a.w
Bahagian Ketiga
-Ahlulbait Rasulullah s.a.w. keselamatan bagi ummatnya
Bahagian Keempat
-Fadha'il (keutamaan) Ahlulbait
 -Hadith-hadith Nabi s.a.w yang mengenai fadha'il (keutamaan) ahlulbait Rasulullah s.a.w
-Beberapa Hadith tentang keutamaan Iman Ali r.a
-Hadith-hadith tentang fadha'il Siti Fatimah Az-Zahra r.a
-Imam al-Hasan dan Imam al-Husein radhiyallahu'anhum
Bahagian Kelima -Pembahasan tentang "ayat Mawaddah"
Bahagian Keenam
-Nas-nas Hadith "al-Kisa"
Bahagian Ketujuh
-Kisah tentang tafsir ayat 32 Fathir
Penutup
-Penutup

#Pembahasan Website blog ini akan lebih bermanfaat lagi bila anda membeli langsung Buku "KEUTAMAAN KELUARGA RASULULLAH SAW" di Toko Buku terdekat atau melalui Toko Online.

KATA SAMBUTAN
Oleh:
H.M.H Alhamid Alhusaini
Bismillahhir-Rahmanir-Rahim,
Alhamdulillah, puji dan syukur saya panjatkan ke hadrat Allah s.w.t. yang telah mengutus Rasul-Nya membawa hidayat dan agama yang benar; dan telah memberi petunjuk kepada hamba-Nya untuk mengikuti wasiat Rasul yang tidak diucapkan menurut hawa nafsunya, melainkan menurut wahyu yang diturunkan kepadanya oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam sejahtera kepada junjungan kita, penghulu semua Nabi dan Rasul, Nabi Besar Muhammad s.a.w. beserta semua ahlulbait dan para sahabatnya.
Sesepuluh Majlis Ta'lim "Al-Ihya" Bogor, Kyai Haji Abdullah bin Nuh menyerahkan kepada saya sebuah naskah tentang keutamaan ahlulbait Rasulullah s.a.w. disertai permintaan agar saya turut menyumbangkan fikiran, menambah atau mengurangi beberapa persoalan yang dianggap perlu. Jika permintaan itu tidak dapat saya penuhi, beliau minta sekurang-kurangnya supaya saya bersedia menulis sepatah dua kata sambutan.
Saya fikir permintaan beliau itu tidak dapat ditujukan kepada saya, kerana betapa pun adanya kekurangan dan kelemahan yang ada pada peribadi saya, saya sendiri termasuk dalam keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. Sukar sekali bagi saya untuk memenuhi permintaan beliau itu, tetapi lebih sukar lagi menolak permintaannya, mengingatkan demikian akrabnya hubungan persaudaraan antara kami berdua. Dengan perasaan seresah itu saya membuka-buka naskah yang ada di tangan saya dan saya baca halaman demi halaman. Tiba-tiba pada bahagian terakhir bab "Pembahasan Tentang Ayat Mawaddah" saya menemukan ungkapan Imam 'Ali bin Abi Talib r.a mengenai sifat-sifat para pengikut ahlulbait Rasulullah s.a.w. Beliau mengakhiri ungkapannya dengan mengatakan "…tidak berbuat kebajikan kerana riya dan tidak meninggalkan kebajikan kerana malu". Kalimat sesingkat itu sungguh menggugah fikiran dan perasaan saya untuk segera berlindung kepada Allah s.w.t. dari segala macam riya dalan berbuat kebajikan sebagaimana yang diminta oleh Buya K.H Abdullah bin Nuh. Dengan tetap berlindung kepada inayah Ilahi saya berusaha memenuhi permintaan beliau. Saya menyedari betapa besar jerih payah yang telah beliau curahkan untuk menulis sebuah naskah tentang keutamaan ahulbait disertai dengan dalil-dalil dan hujah yang berupa nas-nas Kitabullah al-Quran, Sunnah Rasul dan pandangan serta pendapat para Imam Mujtahidin dan para ulama.
Dengan penuh perhatian naskah tersebut saya telaah dan saya pelajari serta saya cocokkan dengan berbagai kitab tentang ahlulbait yang ada pada saya. Saya berpendapat, semua yang dikemukakan oleh Buya K.H Abdullah bin Nuh merupakan sumbangan yang berharga bagi kaum Muslimin Indonesia dalam Islam dan kewajipan-kewajipannya. Dari penelahaan seluruh naskah saya berkesimpulan, tidak ada sesuatu yang perlu ditambahkan atau dikurangi, kerana segala sesuatunya telah disusun demikian baik.
Memang benar apa yang dikatakan oleh K.H Abdullah bin Nuh, bahawa masih banyak di antara kaum Muslimin yang belum memahani sepenuhnya kedudukan aal Muhammad s.a.w. di dalam kehidupan agama Islam. Jelas, hal itu merupakan kekurangan yang perlu dipenuhi, agar mereka memiliki pengertian yang tepat sebagaimana dikehendaki oleh Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.
Buku ini mengemukakan banyak Hadith Rasulullah s.a.w. yang berkenaan dengan ahlulbait beliau. Di antara Hadith-Hadith yang banyak itu ada yang secara langsung mudah difahami maknanya, ada yang memerlukan pemikiran dan penggaliannya lebih dulu dan ada pula yang sukar dicerna akal, tetapi mudah diresapi dengan hati yang beriman. Memang demikian itulah cirri khusus ajaran agama. Kerana itu pemahaman beberapa Hadith yang tercantum di dalam buku ini tidak hanya menuntut kemampuan berfikir, tetapi juga menuntut kearifan dan kesedaran batin yang berlandaskan iman sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan landasan iman semua ajaran sgama tidak sukar difahami, dan dengan iman pula akal tidak hanya berhenti pada alam kenyataan yang dapat dilihat dan diraba saja, tetapi akan terus-menerus mencari pengetahuan tentang soal-soal yang belum deketahui rahsia dan hikmahnya.
Mungkin ada orang yang berkata: Bukankah menganjur-ngajurkan kecintaan kepada ahlubait Rasulullah s.a.w. sejalan dengan ajaran mazhab Syi'ah? Pertanyaan seperti itu sebenarnya timbul dari kekurangan pengertian mengenai ajaran Islam selengkapnya. Yang menganjurkan, yang menyerukan, bahkan yang mewajibkan kecintaan kepada ahlulbait Rasulullah s.a.w. adalah beliau s.a.w. sendiri. Yang menetapkan kesucian ahlubait Rasulullah s.a.w. bukan mazhab dan bukan aliran, melainkan Allah s.w.t. melalui firmannya dalam al-Qur'anul-Karim. Yang meriwayatkan Hadith-Hadith Nabi tentang wasiat mengenai ahlulbaitnya bukan lain adalah para sahabat Rasulullah s.a.w. Dan yang menyampaikan kepada ummat Islam sedunia adalah para Imam ahli Hadith dan para ulama puncak dari semua mazhab. Bahkan Imam Syafi'i r.a sendiri menetapkan keharusan mengucapkan shalawat bagi sayyidina Muhammad dan aal sayyidina Muhammad dalam doa tasyahhud akhir pada tiap sholat fardhu lima kali sehari semalam. Jadi, kalau mazhab Syi'ah mengajarkan kepada para pengikutnya supaya mencintai ahlulbait Rasulullah s.a.w. itu adalah kewajipan mereka, sebagaimana yang telah menjadi kewajipan seluruh kaum Muslimin tanpa memandang perbezaan mazhab yang dianutnya.
Menurut hemat saya, buku tentang ahlulbait Rasulullah s.a.w. yang ditulis oleh K.H Abdullah bin Nuh ini cukup memberikan pokok-pokok pengertian tentang kewajipan kaum Muslimin mencintai Rasulullah s.a.w. dan ahlulbait beliau. Di sana-sini tampak adanya beberapa Hadith semakna yang terulang, tetapi mengingat kelainan sumber riwayat dan perawinya serta mengingat pula perbezaan konteks persoalan yang disajikannya, hal itu bukan merupakan kejanggalan, malah meringankan pembacanya. Sabda Rasulullah s.a.w. tersebut diulang di banyak tempat.
AkhirulKalam saya bersama seluruh warga 'Alawiyyin mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga besarnya kepada Buya K.H Abdullah bin Nuh atas kebajikan yang dengan tulus ikhlas diberikan kepada semua keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. Semoga Allah s.w.t. dan Rasul-Nya berkenan meredhai usaha mulia yang disumbangkan olrh beliau kepada umat Islam Indonesia. Amin.
Sebagai penutup dari kata sambutan ini, saya menyatakan amat prihatin mendengar berita-berita tentang peristiwa yang pernah terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Iaitu adanya sementara kaum muda dari golongan Alawiyyan yang tidak terpelajar dan tidak memperoleh pendidikan agama secara baik, menyalahgunakan salasilahnya sebagai keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. untuk memperoleh keuntungan tertentu. Mereka mendatangi para pencipta ahlulbait dan sambil "mempromosikan" asal-usul keturunannya lalu mereka minta ini dan itu, bahkan adakalanya tidak segan-segan menggunakan cara-cara yang bersifat menekan. Perbuatan seperti itu tentu saja tidak sesuai dengan kedudukan mereka sebagai keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. Namun syukurlah, di antara para pencinta ahlulbait banyak yang tidak menghiraukan mereka dan menolak dengan cara yang tidak menusuk perasaan. Kejadian tersebut di atas sungguh merupakan "musibah" yang mencemarkan martabat kaum Alawiyyan, merosak kehormatan dan kemuliaan Rasulullah s.a.w. serta mendiskreditkan nama baik agama Islam. Sebagai manusia biasa, bukan manusia maksum, mereka memang tidak terhindar dari kemungkinan berbuat kesalahan atau kekeliruan. Kerana itu mereka wajib diingatkan agar tidak berbuat hal-hal yang tidak sesuai dengan kehormatan ahlulbait Rasulullah s.a.w. yang harus mereka pelihara sebaik-baiknya. Kendati perbuatan mereka itu tidak separah yang dilakukan oleh sementara oknum yang mengaku beragama Islam, tetapi bagaimanapun juga perbuatan mereka yang tidak patut itu dapat dihebohkan atau dibesar-besarkan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai ahlulbait Rasulullah s.a.w. dan tidak menyukai agama Islam. Bahkan perbuatan itu dapat ditiru oleh orang lain yang dengan mengaku-ngaku keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. bermaksud hendak mencari keuntungan. Adalah menjadi kewajipan segenap kaum Muslimin untuk menginsyafkan mereka yang telah berbuat salah dan mengembalikan mereka ke jalan yang diredhai Allah dan Rasul-Nya.
Sehubungan dengan Fadhail Ahlulbait saya merasa perlu mengemukakan fatwa dari seorang ulama besar dan Mufti rasmi kerajaan Saudi Arabia dari kalangan mazhab al-Wahhabiyah, iaitu Allamah Almufti Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, yang dimuat dalam majalah "ALMADINAH", halaman 9, nombor 5692, tanggal 7 Muharram 1402 H/24 Oktober 1982 Masihi sebagai berikut:
Seorang saudara dari Iraq mengajukan pertanyaan, bahawa sementara orang di negeri itu terkenal sebagai golongan "Sayyid" atau sebagai anak cucu keturunan Rasulullah s.a.w. Akan tetapi menurut keyakinan saya, demikian kata Saudara tersebut, mereka memperlakukan orang lain dengan perlakuan yang tidak semestinya mereka lakukan. Saya sendiri tidak tahu, apakah keyakinan saya itu benar ataukah salah. Yang saya anggap penting iaitu bahawa mereka itu memungut wang dari orang lain sebagai imbasan atas tulisan dan doa-doa yang mereka berikan untuk orang sakit…dan lain sebagainya. Mereka juga menerima shadaqah baik berupa ternakan sembelihan mahupun wang dan lain-lain. Dengan perbuatan seperti itu mereka membangkitkan keraguan orang banyak…dan seterusnya.
Jawapan atas pertanyaan tersebut ialah:
"Orang-orang seperti mereka itu terdapat di berbagai tempat dan negeri. Mereka terkenal juga dengan gelaran "syarif". Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang mengetahui, mereka itu berasal dari keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. Di antara mereka itu ada yang salasilahnya berasal dari al-Hassan r.a dan ada pula yang berasal dari al-Husein r.a; ada yang dikenali dengan gelaran "sayyid" dan ada juga yang dikenali dengan gelaran "syarif". Itu merupakan kenyataan yang diketahui umum di Yaman dan di negeri-negeri lain.
"Mereka itu sesungguhnya wajib bertaqwa kepada Allah dan harus menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan Allah bagi mereka. Semestinya mereka itu harus menjadi orang-orang yang paling menjauhi segala macam keburukan. Kemuliaan silsilah mereka wajib dihormati dan tidak boleh disalahgunakan oleh orang-orang yang bersangkutan. Jika mereka diberi sesuatu dari Baitul-Mal itu memang telah menjadi hak yang dikurniakan Allah s.w.t. kepada mereka. Pemberian halal lainnya yang bukan zakat, tidak ada salahnya kalau mereka itu mahu menerimanya. Akan tetapi kalau silsilah yang mulia itu disalahgunakan, lalu ia beranggapan bahawa orang yang mempunyai silsilah itu dapat mewajibkan orang lain supaya memberi ini dan itu, sungguh itu merupakan perbuatan yang tidak patut. Keturunan Rasulullah s.a.w. adalah keturunan yang termulia dan Bani Hasyim adalah yang paling afdhal di kalangan orang-orang Arab. Kerananya tidak patut kalau mereka melakukan sesuatu yang mencemarkan kemuliaan martabat mereka sendiri, baik berupa perbuatan, ucapan ataupun perilaku yang rendah.
"Adapun soal menghormati mereka, mengakui keutamaan mereka dan memberikan kepada mereka apa yang telah menjadi hak mereka, atau memberi maaf atas kesalahan mereka terhadap orang lain dan tidak mempersoalkan kekeliruan mereka yang tidak menyentuh soal agama, semuanya itu adalah kebajikan. Dalam sebuah Hadith Rasulullah s.a.w. berulang-ulang mewanti-wanti: "Kalian ku ingatkan kepada Allah akan ahlulbaitku…kalian ku ingatkan kepada Allah akan ahlulbaitku". Jadi, berbuat baik terhadap mereka, memaafkan kekeliruan mereka yang bersifat peribadi, menghargai mereka sesuai dengan darjatnya, dan membantu mereka pada saat-saat membutuhkan; semuanya itu merupakan perbuatan baik dan kebajikan kepada mereka…
Demikianlah fatwa al-mukarram Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengenai kedudukan para keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. di tengah masyarakat. Saya fikir kedudukan seperti itu perlu difahami oleh kaum Muslimin, terutama oleh para keturunan ahlulbait sendiri sebagai pihak yang paling berkewajipan menjaga kemuliaan martabat Rasulullah s.a.w. dan para ahlulbaitnya. Suatu kekeliruan atau kelengahan yang dilakukan oleh seseorang tidak akan setajam disorot oleh masyarakat seperti kekeliruan atau kelengahan yang dilakukan oleh seorang dari keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. Ini wajar kerana mereka itu dipandang oleh masyarakat sekitarnya sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirul-kalam, saya bersama seluruh warga Alawiyyin mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga besarnya kepada Buya K.H Abdullah bin Nuh atas amal kebajikan dengan tulus ikhlas diberikan kepada semua keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. dengan mencurahkan jerih payahnya untuk menulis buku ini. Semoga Allah dan Rasul-Nya berkenan meridhai usaha mulia yang beliau sumbangkan kepada umat Islam Indonesia, wa billahi attawfig wal hidayah, Amin.
                                                                                                                               -Jakarta, 1986.

PENDAHULUAN
BISMILLAH AR-RAHMAN AR-RAHIM
Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan ke hadrat Allah yang mewajibkan segenap kaum Muslimin menumpahkan kecintaan dan kasih sayang kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad s.a.w. beserta semua ahlulbait dan keluarganya; sebagaimana telah difirmankan-Nya dalam al-Qur'anul-Karim.
("Katakanlah hai Muhammad, aku tidak meminta upah apa pun dari kalian atas seruanku selain kasih sayang di dalam kekeluargaan") [Asy-Syura: 23]
Asyhadu an laa ilaaha illallaah, saya bersaksi bahawa tiada tuhan selain Allah, dengan kesaksian itu semoga Allah s.w.t. berkenan memperdalam kecintaan saya dan lebih mendekatkan saya kepada-Nya…Wa asyhadu anna sayyidanna wa maulaanaa Muhammadan 'abduhu wa Rasulu; dan saya pun bersaksi bahawa junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w. adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, manusia termulia di seluruh jagat raya…
Ya Allah, limpahkanlah shalawat sebanyak-banyaknya dan salam sejahtera kepada Nabi dan Rasul yang mulia itu bersama seluruh ahlulbait dan para sahabatnya yang telah melaksanakan amanat Risalah dengan sempurna.
Ada dua sebab yang mendorong saya menulis buku kecil ini yang saya beri judul "KEUTAMAAN AHLULBAIT RASULULLAH S.A.W."…
Pertama: Lebih kurang lima tahun yang lalu, iaitu pada tahun 1400 H/1980 M, saya pernah menulis sebuah risalah kecil berjudul "Asyura" (10 Muharram), berisi uraian tentang ahlulbait Rasulullah s.a.w., khususnya riwayat singkat Imam al-Husein bin 'Ali bin Abi Thalib r.a. Di saat menulis risalah itu tidak terlintas dalam fikiran saya, bahawa ia akan memperoleh sambutan hangat dari kaum Muslimin. Bahkan banyak di antara mereka yang meminta kepada saya supaya menulis sebuah buku yang lebih lengkap dan jelas tentang kedudukan ahlulbait Rasulullah s.a.w. di dalam agama Islam.
Sesungguhnya saya merasa berat sekali memenuhi permintaan yang baik itu kerana saya bukan seorang penulis. Dalam waktu yang lama hal itu menjadi beban fikiran saya. Kemudian saya berniat hendak mencubanya sambil bertawakkal kepada Allah s.w.t., mohon hidayat dan taufik-Nya, agar niat saya itu dapat terlaksana. Dengan menekuni pembacaan kitab-kitab tentang ahlulbait Rasulullah s.a.w. dan dengan bantuan beberapa orang sahabat, akhirnya saya memberanikan diri menulis buku ini. Betapa besar saya rasa syukur saya kepada Allah s.w.t. yang telah berkenan mengabulkan permohonan saya.
Dalam keadaan usia saya yang telah lanjut, saya hanya mengharapkan semoga usaha saya ini diridhai Allah dan Rasul-Nya serta dinilai sebagai amal kebajikan yang akan membuka pintu maghfirah, agar pada saat saya akan meninggalkan dunia yang fana ini dikurniai husunal-khatimah. Tidak lain hanya itulah yang saya idam-idamkan.
Kecuali itu masih ada satu soal yang ingin saya kemukakan untuk mencegah kemungkinan terjadinya salah faham yang sama sekali tidak saya inginkan. Dalam buku ini terdapat pembahasan tentang "Hadith Tsaqalain". Sehubungan dengan itu saya hendak menekankan dua hal: Pertama, saya sama sekali tidak mengingkari adanya Hadith yang diriwayatkan berasal dari ucapan Rasulullah s.a.w., bahawa beliau meninggalkan dua pegangan yang menjamin keselamatan ummatnya iaitu;
(Kitabullah dan Sunnahku)
Hadith tersebut adalah Hadith yang lain lagi, yakni bukan Hadith Tsaqalain, dan pada umumnya telah banyak diketahui oleh kaum muslimin. Lain halnya dengan Hadith Tsaqalain, sekalipun kebenarannya telah diterima bulat oleh berbagai mazhab Islam, namun belum banyak dikenal oleh kaum Muslimin. Kedua, dengan membahas Hadith Tsaqalain, buku ini sama sekali tidak bermaksud hendak membuka pendebatan atau polemik, saya hanya bermaksud menyampaikan wasiat Rasulullah s.a.w. kepada kaum Muslimin awam yang belum pernah mendengar atau mengenalnya. Dengan mengenal dan mengetahui siapa-siapa dan bagaimana sesungguhnya kedudukan ahlulbait Rasulullah s.a.w. itu, orang akan merasa mantap dalam mengucapkan shalawat bagi "sayyidina Muhammad dan bagi aal sayyidina Muhammad" dalam setiap shalat fardhu yang lima kali sehari semalam.
Tidak diragukan lagi bahawa aal Muhammad Rasulullah s.a.w. yang dalam zaman kita sekarang ini terkenal dengan sebutan kaum 'Alawiyyin, merupakan orang-orang yang memiliki fadhilah dzatiyyah (keutamaan dzat) yang dikurniakan Allah s.w.t. kepada mereka melalui hubungan darah dengan insan pilihan-Nya, Rasulullah s.a.w. Naif sekali anggapan yang menyamakan mereka dengan orang-orang dari keturunan lain, kerana anggapan demikian itu sama ertinya dengan menyamakan peribadi Rasulullah s.a.w. dengan peribadi lain. Anggapan seperti itu tidak sejalan dengan syari'at Islam, kerana Allah s.w.t. menegaskan dalam firmannya:
"Dan dia (Muhammad s.a.w.) tidak mengucapkan sesuatu menurut kemahuan hawa nafsunya, ucapannya bukan lain adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya" [An-Najm: 3-4]
Fadhilah dzatiyyah yang mereka miliki bukan fadhilah yang dibuat-buat dan bukan berdasarkan fadhilah pengamalan baik mereka dan bukan pula atas keinginan mereka, melainkan telah menjadi qudrat dan kehendak Ilahi sejak azal. Kerana itu tidak ada alasan apa pun untuk merasa irihati terhadap keutamaan mereka. Soal inilah justeru yang dipertanyakan Allah s.w.t. dalam firman-Nya:
"Ataukah mereka (orang-orang yang dengki) merasa irihati terhadap orang-orang yang telah diberi kurnia oleh Allah?" [An-Nisa: 54]
Fadhilah dzatiyyah yang dikurniakan Allah s.w.t. kepada para keturunan Rasulullah s.a.w. sama sekali tidak lepas dari rasa tanggungjawap mereka yang lebih berat dan lebih besar daripada yang mesti dipikul orang lain. Mereka mesti selalu menyedari kedudukannya di tengah-tengah ummat Islam. Mereka wajib menjaga diri dari ucapan, perbuatan dan sikap yang dapat mencemarkan kemuliaan aal Muhammad Rasul Allah s.a.w., dan wajib pula menyedari tanggungjawapnya yang lebih besar atas citra Islam dan ummatnya. Dengan demikian maka kewajipan menghormati mereka yang dibebankan oleh syari'at kepada kaum Muslimin dapat diwujudkan dengan sebaik-baiknya. Tidak akan ada kesan bahawa para keturunan Rasulullah s.a.w. menonjol-nonjol diri menuntut penghormatan dari orang lain, dan kaum Muslimin pasti menempatkan mereka pada kedudukan sebagaimana yang telah menjadi ketentuan syari'at.
Dalam buku ini kami paparkan dengan jelas dan gambling kewajipan kaum Muslimin menghormati keturunan Rasulullah s.a.w. sebagaimana yang difatwakan oleh para ulama puncak dan para Iman mujtahidin berdasarkan Kitabullah al-Qur'an dan Sunnah Rasul-Nya. Semoga Allah s.w.t. berkenan melimpahkan hidayat-Nya kepada kita semua agar tetap mencintai ahlulbait dan aal Muhammad s.a.w. demi kecintaan kita kepada Allah s.w.t. dan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad s.a.w. Maha Besar Allah yang telah berfirman:
"Sungguhlah bahawa engkau tidak akan dapat memberi hidayat kepada orang yang kau kasihi, tetapi Allah sajalah yang melimpahkan hidayat kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang hidup menurut hidayat-Nya" [Al-Qashash: 56]
Mudah-mudahan dengan inayah Rabil-'alamin penjelasan saya mengenai ahlulbait Rasulullah s.a.w. akan bermanfaat bagi kaum Muslimin. Semoga Allah s.w.t. dan Rasul-Nya berkenan menerima serta meridhai sekelumit kebajikan yang saya hibahkan kepada seluruh ahlulbait Rasul Allah s.a.w.
Wa maa taufiqi illa billah, 'alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.
Jakarta, 1986
K.H. 'Abdullah bin Nuh.

BAHTERA KESELAMATAN
Ahlulbait Nubuwwah pengemban wasiat sepanjang zaman
Bahtera kehidupan dan bahtera keselamatan
Selagi bintang-bintang belum berguguran
Mereka tempat manusia menumpu harapan
Kesucian mereka terpatri kukuh dalam al-Qur'an
Diuraikan sabda Nabi di dalam Shahihan1
Tentera sebagai amanat dalam Hadith Tsaqalain2
Tiada kalimat meragukan orang beriman
Mereka bahtera penyelamat kemanusiaan
Dari taufan dan badai keduniaan
Mereka bintang-bintang pemandu jalan
Bagi setiap musafir ke alam kelanggengan
Betapa pun dahsyat gelombang kemunafikan
Hendak membenamkan mereka ke dasar lautan…
Betapa pun ganasnya muntahan lahar kedzaliman
Hendak menghanguskan mereka menjadi debu berserakan…
Dengan lindungan Ilahi mereka tegak tak terpunahkan
Dengan kebenaran Rasul-Nya mereka tangguh tak tergoyahkan
Dengan kecintaan ummatnya mereka tak tersingkirkan
Dengan kesucian darahnya mereka tak tercemarkan
Seandainya dahulu ada seribu Karbala dan Dzil Jausyan3
Bahtera ahlulbait tak akan karam dan bintang pun tak suram
Selagi Allah menghendaki kelestarian insan
Pengemban amanat kebenaran dan penentang kebatilan
Kemulian mereka titisan suci darah Rasulur-Rahman
Terpadu dengan kalam Ilahi di setiap dada beriman
Dalam Surah Al-Ahzab dan Aali Imran4
Hingga semua kembali ke Haud di Yaumil-Mizan5
Beruntunglah orang yang melaju dalam bahtera keselamatan
Mengikuti cahaya bintang di tengah samudra kehidupan
Celakalah orang yang enggan berlayar menyeberang laut
Memejamkan mata terhadap beribu bintang taburan

KEAGUNGAN AHLULBAIT RASULULLAH S.A.W.
Syair Farazdaq tentang 'Ali Zainul Abidin
Dialah yang dikenal jejak langkahnya
oleh butiran pasir yang dilaluinya
Rumah Allah Ka'bah pun mengenalinya
dan dataran tanah suci sekelilingnya.
Dialah putera insan termulia
dari hamba Allah seluruhnya
Dialah manusia hidup berhias takwa
kesuciannya ditentukan oleh fitrahnya
Apabila orang Quraishi melihatnya
berkatalah penyambung lidah mereka:
Pada keagungan peribadinya
berpuncak semua sifat yang mulia.
Bernasab setinggi bintang kejora
seanggun langit di cakerawala
tak tersaingi insan mana pun juga
baik Arab mahupun 'Ajam6 di jagat raya
Di saat ia menuju ke Ka'bah
bertawaf mencium Hajar jejak datuknya
Ruknul-Hatim7 enggan melepaskan tangannya
kerana mengenali betapa ia tinggi nilainya
Senantiasa menundukkan kepala
Kerana pemalu menjadi dasar fitrahnya
Orang terpaku kerana kewibawaannya
mengajaknya bicara hanya saat senyumnya
Itulah 'Ali buyut Rasul Allah
buyut pemimpin segenap ummat manusia
dengan agamanya manusia berbahagia keridhaan-Nya
Sinar hidayat memancar di antariksa
dari kecermelangan bulan purnama
penaka mentari terbit diufuk sana
membelah cuaca gelap gelita
Darah, daging dan tulang sumsumnya
berasal dari utusan Allah Yang Maha Esa
sungguh indah semua unsurnya
serba sempurna semua intinya
Jika anda belum mengenal dia
dia itulah putera Fatimah
puteri Nabi utusan Allah
penutup para Rasul dan Anbiya
Sejak azal Allah memuliakan martabatnya
tiada makhluk setara keagungannya
tersurat dalam ilmu Allah Pencipta
di Lauh Mahfudz dengan qalam-Nya
Pertanyaan anda "siapa dia"
Tidak merugikan keharuman namanya
Arab dan 'Ajam mengenal dia
walau anda hendak mengingkarinya
Uluran tangannya bak8 hujan merata
menyebar manfaat ke mana-mana
tangannya tak pernah kosong dan hampa
walaupun dermawan tiada tara
Lembut perangai dan perilakunya
bila marah tak dikhuwatirkan akibatnya
budi luhur dan kedermawanannya
dua hiasan hidupnya yang terutama
Tiap si miskin datang kepadanya
beban derita dipikul olehnya
Dengan wajah cerah ceria
baginya "ya" jawapan yang termesra
Bila berjanji tak kenal cedera
keberkahan menyertai kebajikannya
riang peramah dan lapang dada
sedetik pun hatinya tak pernah lengah
Tak pernah ia berucap "tidak"
Kecuali dalam ucapan syahadatnya9
kalau bukan kerana syahadatnya
"tidak"-nya berubah menjadi "ya"
Kebajikan meluas dan merata
seluas bumi dengan segala isinya
hapuslah semua duka derita
sirnalah semua ratap sengsara
Berasal dari keluarga mulia
mencintainya fardhu wajib dalam agama
membencinya kufur dalam agama
dekat padanya selamat dari merbahaya
Kalau dihitung semua orang bertakwa
merekalah barisan pemimpinnya
bila ditanya siapakah penghuni buni utama
tiada lain kecuali "mereka"-lah jawapnya
Kuda sembrani pun tak terdaya
Menjangkau ketinggian martabat mereka
tiada makhluk lain tolok bandingnya
betapa pun tinggi dan mulianya
Laksana hujan menyiram kemarau
mengikis paceklik menangkal bencana
ibarat singa…singa Syara10
terkenal tangkas dan amat perkasa
Kesukaran hidup bukanlah alasan mereka
untuk menahan uluran tangannya
keadaan mereka senantiasa sama
di saat "kaya" dan di waktu "sengsara"
Betapa berat cubaan dan derita
tersingkirkan oleh cinta kasihnya
dengan cinta kasih dan kebajikannya
nikmat Ilahi melimpah berlipat ganda
Sebutan mereka diucapkan setiap insan
setelah sebutan Allah Yang Maha Rahman
pada tiap awal wicara
dan pada tiap akhir untaian kata11
Kenistaan pantang menyentuh mereka
tiada kehinaan menjamah kehormatannya
keharumannya semerbak merata
dengan tangan mereka melawan durjana
tak ada manusia hina di mata mereka
tak seorang pun menjadi budaknya
tidak! Merekalah justeru pemimpinnya
dan yang pertama: Rasul pembawa nikmat-Nya
yang mengenal Allah pasti mengenal dia
yang mengenal dia mengenal keutamaannya
yang bersumber pada lingkungan keluarganya
tempat manusia bermandikan cahaya12

Sya'ir Farazdaq
Melukiskan kemuliaan anggota ahlulbait Rasulullah s.a.w.:
'Ali Zainal Abidin bin Al-Husein bin 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum.


1) Dua Hadith Shahih Bukhari dan Muslim.
2) Hadith Rasulullah s.a.w. yang mewasiatkan ummatnya supaya tetap berpegang teguh pada dua bekal, iaitu Kitabullah dan ahlulbait beliau.
3) Karbala = Tempat pasukan Bani Umayyah menyerang Al-Husein r.a
Dzil Jausyan = nama orang yang mencincang jenazahnya.
4) Surah Al-Ahzab: 33 dan Surah Aali Imran: 61
5) Haud = Syurga. Yaumil-Mizan = Hari Kiamat.
6) 'Ajam = Sebutan khusus bagi semua bangsa diluar bangsa Arab,atau semua yang tidak berbahasa Arab.
7) Ruknul-Hatim = Sudut Ka'bah, tempat Hajar Aswad diletakkan.
8) Bak = Laksana
9) Kata "tidak" dalam syahadat: "Tidak ada tuhan selain Allah"
10) Singa Syara = Jenis singa terkenal keberaniannya di daerah sekitar Al-Furat.
11) Yang dimaksud ialah doa, khutbah dan lain-lain selalu diawali dan diakhiri dengan ucapan shalawat kepada kepada Rasulullah s.a.w. dan kepada "aal" (keluarga)-nya
12) Agama Islam.


Nasihat

Lembaga Qabilah Ba'alwi Bafagih Sulawesi(LQBBS) berdiri untuk Penjagaan Fiqih, Aqidah, Amalan Shalawat, Nasab Sayyid dan Kafa'ah Syarifah serta Kasih Sayang dalam Keluarga

yuk ngobrol atau say hai, klik tombol buku tamu

Struktur Pengelola(Admin)Website Ini

Randy Ibrahim Bafagih (Alfaqir Bafaqih)_____ Sayyid Muh Zalsabil Bafaqih

Pengunjung Website

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms

adsfeed