Friday, September 22, 2017

BELAJAR DARI KISAH CINTA SEPASANG INSAN MULIA (ALI DAN FATIMAH)

Gambar terkait


   Cinta dalam diam Ali yang tak pernah dikisah kepada siapapun hanya kepada Allah s.w.t saja ..

Fathimah. Puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya, dan juga karib kecilnya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, dan parasnya. cinta yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun expresi. Hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan.

Teramat rahasianya membuat  setan saja tidak tahu urusan cinta diantara keduanya. Sudah lama Ali terpesona dan jatuh hati pada Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar melamar Fatimah Az-Zahra. Sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun, berkat kesabaran yang beliau miliki akhirnya penantian itu berbuah manis, lamaran kedua orang sahabat yang sudah tidak diragukan lagi keshalihannya tersebut ternyata ditolak oleh Rasulullah..

Meski demikian Ali belum berani mengambil sikap, karena beliau sadar dia hanya pemuda miskin , dan harta yang dimiliki hanyalah satu set  baju besi  ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Kepada Abu Bakar As-Siddiq, Ali mengatakan, "Wahai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang sebelumnya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah kerana aku tidak mempunyai apa-apa.". Mendengar pernyataan sahabatnya Abu Bakar terharu dan mengatakan, "Wahai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya, dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu-debu bertaburan belaka!"

Mendengar jawaban Abu Bakar kepercayaan diri Ali kembali muncul untuk melamar gadis pujaannya saat teman-temannya sudah mendorong agar Ali berani melamar Fatimah. Dengan ragu-ragu dia menghadap Rasulullah. Dari hadis riwayat Ummu Salamah diceritakan bagaimana proses lamaran tersebut. "Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri- seri. Sambil tersenyum baginda berkata kepada Ali bin Abi Talib, "Wahai Ali, engkau mempunyai apakah engkau mempunyai suatu mas kawin?" "Demi Allah," jawab Ali dengan terus terang." Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa_apa selain baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."

"Tentang pedangmu itu," kata Rasulullah menanggapi jawaban Ali bin Abi Talib, "Engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga perlu untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira, sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi". Demikianlah riwayat yang diceritakan Ummu Salamah r.a.
Setelah segalanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dan disaksikan oleh para sahabat, Rasulullah mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya, dan sahabatnya tersebut. dengan mas kawin sebesar 400 dirham (senilai dengan baju besi yang dimilikinya). Maka menikahlah mereka dengan penuh kebahagiaan.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa pada suatu hari setelah dia menikah, Fatimah pernah berkatal pada suami tercintanya. "Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”, Ali pun bertanya pada istri tercintanya, "siapakah pemuda yang kau maksud itu wahai istriku?", Fatimah pun menjawab dengan senyum merona pada wajah cantiknya itu, "pemuda itu adalah dirimu wahai suamiku". Sunggu itu adalah pujian yang teramat indah dan bisa membahagiakan suaminya, dari istri kepada suaminya.

Begitulah kisah cinta dalam dian antar Ali dan Fatimah. Semoga kita dapat belajar dari kisah cinta mereka. Bahwa cinta harus menunggu, mempersiapkansegalanya dan memantaskan diri kita untuk bisa bersanding dengan orang yang kita inginkan dan yang diinginkan Allah, karena jodoh adalah cerminan diri kita, karena wanita yang baik adalah untuk laki-lakiyang baik, bagitu pula sebaliknya. 

Sumber;https://www.dakwatuna.com


Nasihat

Lembaga Qabilah Ba'alwi Bafagih Sulawesi(LQBBS) berdiri untuk Penjagaan Fiqih, Aqidah, Amalan Shalawat, Nasab Sayyid dan Kafa'ah Syarifah serta Kasih Sayang dalam Keluarga

yuk ngobrol atau say hai, klik tombol buku tamu

Struktur Pengelola(Admin)Website Ini

Randy Ibrahim Bafagih (Alfaqir Bafaqih)_____ Sayyid Muh Zalsabil Bafaqih

Pengunjung Website

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms

adsfeed