Cinta
dalam diam Ali yang tak pernah dikisah kepada siapapun hanya kepada
Allah s.w.t saja ..
Fathimah. Puteri tersayang dari Sang Nabi yang
adalah sepupunya, dan juga karib kecilnya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya,
kecekatan kerjanya, dan parasnya. cinta yang selalu terjaga
kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun
expresi. Hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan
suci
pernikahan.
Teramat
rahasianya membuat setan saja tidak tahu urusan
cinta diantara keduanya. Sudah lama Ali terpesona dan jatuh hati pada
Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar melamar
Fatimah Az-Zahra. Sementara dirinya belum siap untuk melakukannya.
Namun, berkat kesabaran yang beliau miliki akhirnya penantian itu
berbuah manis, lamaran kedua orang sahabat
yang sudah tidak diragukan lagi keshalihannya tersebut ternyata ditolak
oleh Rasulullah..
Meski
demikian Ali belum berani mengambil sikap, karena beliau sadar dia
hanya pemuda miskin , dan harta yang dimiliki hanyalah satu set baju
besi ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Kepada Abu Bakar As-Siddiq, Ali mengatakan, "Wahai
Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang sebelumnya tenang.
Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku
memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya
bagiku ialah kerana aku tidak mempunyai apa-apa.". Mendengar pernyataan sahabatnya Abu Bakar terharu dan mengatakan, "Wahai Ali, janganlah engkau
berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya, dunia dan seisinya ini
hanyalah ibarat debu-debu bertaburan belaka!"
Mendengar jawaban Abu Bakar kepercayaan diri Ali kembali muncul untuk melamar gadis pujaannya saat teman-temannya sudah mendorong agar Ali berani melamar Fatimah. Dengan ragu-ragu dia menghadap Rasulullah. Dari hadis riwayat Ummu Salamah diceritakan bagaimana proses lamaran tersebut. "Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri- seri. Sambil tersenyum baginda berkata kepada Ali bin Abi Talib, "Wahai Ali, engkau mempunyai apakah engkau mempunyai suatu mas kawin?" "Demi Allah," jawab Ali dengan terus terang." Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa_apa selain baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."
"Tentang pedangmu itu," kata Rasulullah menanggapi jawaban Ali bin Abi Talib, "Engkau
tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan
untamu itu engkau juga perlu untuk keperluan mengambil air bagi
keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh
karena itu, aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin
sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai
Ali, engkau wajib bergembira, sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu
menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi". Demikianlah riwayat yang diceritakan Ummu Salamah r.a.
Setelah segalanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dan disaksikan oleh para sahabat, Rasulullah mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya, dan sahabatnya tersebut. dengan mas kawin sebesar 400 dirham (senilai dengan baju besi yang dimilikinya). Maka menikahlah mereka dengan penuh kebahagiaan.
Setelah segalanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dan disaksikan oleh para sahabat, Rasulullah mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya, dan sahabatnya tersebut. dengan mas kawin sebesar 400 dirham (senilai dengan baju besi yang dimilikinya). Maka menikahlah mereka dengan penuh kebahagiaan.
Begitulah kisah cinta dalam dian antar Ali dan Fatimah. Semoga kita dapat belajar dari kisah cinta mereka. Bahwa cinta harus menunggu, mempersiapkansegalanya dan memantaskan diri kita untuk bisa bersanding dengan orang yang kita inginkan dan yang diinginkan Allah, karena jodoh adalah cerminan diri kita, karena wanita yang baik adalah untuk laki-lakiyang baik, bagitu pula sebaliknya.







