DAFTAR ISI
|
#Pembahasan Website blog ini akan lebih bermanfaat lagi bila anda membeli langsung Buku "Sekilas Sejarah Salaf Al-Alawiyyin" di Toko Buku terdekat atau melalui Toko Online.
PENGANTAR
PENERJEMAH
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
Sedikit
sekali di antara putra-putra Alawiyyin yang mengenal sejarah perjalanan hidup
pendahulu-pendahulu mereka yang biasa disebut dengan "Assalaf
Asshaleh"
Sesungguhnya,
perjalanan dan riwayat hidup salaf penuh dengan pelajaran tuntunan dan
keteladanan yang patut menjadi pelita, untuk menerangi perjalanan hidup
generasi demi generasi hingga generasi kita sekarang, karena sumbernya adalah
kitab Allah (Al-Qur'an) dan petunjuk-petunjuk yang termaktub di dalam Sunnah
Nabi Muhammad SAW
Petunjuk,
tuntunan, dan keteladanan itu terasa sangat penting sekali untuk dikaji dan
dipelajari, terutama sekali pada saat-saat seperti sekarang ini, di mana dunia
sedang dilanda berbagai ajaran, faham dan ideologi yang akan membawa manusia ke
arah jalan yang sesat dan sangat berbahaya. Namun, untuk melakukan pembahasan
dan penyelidikan, menimba dari sumber-sumber rujukan berupa kitab-kitab besar,
serta biografi yang kadang berjilid-jilid, baik hasil karya ulama Alawiyyin
sendiri maupun ulama-ulama lain, baik dahulu maupun yang datang kemudian,
adalah cukup berat dan sulit, apalagi menyusunnya secara ringkas, padat, berisi
dan meliputi segala segi. Oleh karena itu, ketika membaca buku kecil berisikan
ceramah yang disampaikan oleh Sayyid Muhammad Ahmad As-Syathiri, kami
merasa terpanggil untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, dengan
harapan semoga akan bermanfaat bagi mereka yang. kurang atau belum mengenal
sejarah perjalanan hidup para salaf (pendahulu-pendahulu kita) seperti din kami
atau yang setingkat dengan kami.
Sebagai
seorang tokoh Alawiyyin yang hidup dewasa ini, terkenal dengan perilakunya yang
baik, ilmunya yang luas, serta pengertian yang mendalam tentang masa di mana
kita semua hidup, Penceramah telah menyampaikan ceramahnya dengan gaya bahasa
yang cemerlang, ringkas, padat dan berisi. Dengan pengamatannya yang cerdas,
telah mampu pula memberikan gambaran umum yang meliputi semua segi, yang pada
akhirnya pembaca akan sampai kepada suatu kesimpulan sehubungan dengan perilaku
salaf Al-Alawiyyin ini, yang akan memberi keteladanan dan dapat diandalkan
untuk menjadi panutan dalam menempuh hidup ini.
Berhubung
ceramah tersebut disampaikan di tengah para pemuda kota Tarim, Hadhramaut, maka
penceramah cukup menyebut nama tokoh-tokoh Alawiyyin yang telah cukup dikenal
oleh para pendengar. Namun demikian, hal itu jauh berbeda dengan keadaan kita,
di mana pengetahuan kita tentang tokoh-tokoh yang disebutkan itu sangat kurang
jika tidak hendak dikatakan kosong sama sekali. Demi melengkapi kekurangan itu,
penerjemah berusaha menambahkan beberapa "catatan kaki" tentang
biografi beberapa tokoh penting yang disebutkan secara ringkas, yang disarikan
dari sumber rujukan yang menghimpun sejarah dan biografi para salaf itu, yaitu
dari kitab Al-Masyra 'Ar-Rawiy fi Managib As-Sadah Al-Kiram Ali Abi
Alawiy, karya Muhammad bin Abubakar As-Syilliy dan
kitab Al-Imam Al-Muhajir, karya Muhammad Dhia bin Ali
bin Ahmad Syahab dan Abdullah bin Nuh
Akhirnya,
penerjemah akan sangat berterima kasih atas segala teguran pembetulan dan
kritik, karena memang tak pernah ada gading yang tak retak, sedang kesempurnaan
hanyalah bagi Allah yang Maha sempurna
Dengan
harapan semoga menjadi usaha yang ikhlas dan diterima oleh yang Maha Kuasa,
kami haturkan buku kecil ini kepada para pembaca budiman
20 Rabiul
Akhir 1406/1 Januari 1986
PENGANTAR
PENERBIT
'ALAM AL-MA'RIFAH JEDDAH
"Perjalanan
Hidup Para Salaf dari Bani Alawi Keturunan Sayyidina Hussein", adalah
judul sebuah ceramah yang disampaikan oleh Sayyid Muhammad Ahmad Assyathiri
di tengah sejumlah pemuda, di rumah Al-Faqih Al-Muqaddam, di kota Tarim, pada
tahun 1367 H./1947 M., sesuai waktu ceramah yang telah ditetapkan.
Meskipun
demikian, ceramah tersebut cukup memberi gambaran umum tentang perilaku para
salaf yang saleh keturunan Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa
Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja'far As-Shadiq bin
Muhammad Al-Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husein putra Imam Ali bin Abi
Thalib, dan putra Sayyidah Fatimah Az-Zahra rah, putri Rasulullah Muhammad SAW.
PERSEMBAHAN
Kepada mereka yang mendambakan untuk mengetahui perjalanan hidup para salaf Alawiyyin keturunan Sayyidina Husein, namun tidak mempunyai cukup waktu, sementara suasana tidak memungkinkan mereka menelusuri kitab-kitab besar yang menyebarluaskan sejarah para salaf tersebut, saya persembahkan ceramah yang telah disampaikan sekitar 37 tahun lalu kepada para pemuda yang telah meminta saya untuk menyampaikan ceramah itu. (56 tahun terhitung hingga saat ini tahun 2003).
Namun menurut pandangan kami, saat sekaranglah saat yang paling tepat untuk menyebar luaskannya lebih dari waktu-waktu yang lampau. Sebab ia menggambarkan kehidupan salaf dari semua segi yang telah dinukil dengan teliti dari sumber-sumber yang dapat dipercaya, sehingga dengan demikian para peminat tidak perlu lagi bersusah payah membahas dalam menyelidiki tentang hakikat perjalanan hidup para salaf melalui kitab-kitab yang membahas tentang mereka, baik kitab-kitab sejarah, biografi atau kumpulan ceramah, yang kini telah tersebar luas melalui percetakan atau foto-copy, yang sebagian besar hanya memusatkan pada segi-segi tasawuf, tanpa memperhatikan bidang-bidang kehidupan yang lain. Hal ini dikhawatirkan akan memberi gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataan hidup mereka.
Kami berharap pembaca akan mengkajinya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, serta membulatkan tekad untuk melaksanakan ajaran yang terkandung di dalamnya, mendidik generasi penerus dengan akhlak dan budi luhur para salaf yang mirip sekali dengan perilaku Nabi dan para Sahabat, sehingga mereka benar-benar menjadi orang yang mengabdi kepada ilmu, keluhuran budi, Islam dan kaum Muslimin.
Itulah tujuan utama ceramah ini. Terutama, apabila mereka benar-benar mencintai para salaf.
"Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku (Rasul) niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu dan Allah adalah maha pengampun maha penyayang"
Muhammad Ahmad Assyathiri
MUKADIMAH
Dengan Nama
Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
Dengan nama
Allah kami mohon pertolongan. Shalawat dan salam sejahtera atas junjungan kita
Nabi Muhammad, keluarga dan para Sahabat.
Pokok
pembahasan ceramah ini adalah perjalanan hidup para salaf pendahulu kita
keturunan Alawiyyin dan Sayyidina Husein, serta siapa-siapa yang mengikuti
jejak mereka. Semoga Allah mencurahkan rahmat atas semua.
Saya pilih
bidang bahasan ini karena disamping mengandung banyak pengetahuan tentang
sejarah kita, iajugamerupakan bidang perselisihan dalam pemahamannya. Berbagai
macam visi telah timbul,disebabkan tidak adanya, di antara kita dewasa ini, orang-orang
yang melakukan penyelidikan secara teliti dengan cara penulisan yang memuaskan,
sampaipun mereka yang merasa dirinya sangat antusias terhadap sejarah
perjalanan hidup para salaf tersebut.
Kendati
demikian, kami tidak menyampaikan kecuali hal-hal yang benar-benar jelas dan
terang laksana matahari di waktu siang, tersurat didalam kitab-kitab Alawiyyin,
baik yang lama maupun yang baru sehingga dapat dimengerti secara jernih dan
mudah dicerna.
Memang,
kesalahpahaman dalam memahami perjalanan hidup salaf tidak ditimbulkan karena
samar dan tidak jelasnya sejarah itu, melainkan karena keengganan kita dan
tidak adanya usaha yang sungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban itu.
Barangkali
kelak akan datang suatu saat, di mana menyatakan pendapat atau membahas
persoalan-persoalan semacam ini, atau fakta-fakta historis yang lain akan
mempunyai arti yang sangat penting di mana orang sangat mendambakan untuk
memperoleh, meskipun hanya sekilas cahaya dari padanya agar dapat menerangi
mereka menuju jalan yang lurus.
1. Siapa
Salaf?
Kata Salaf
mempunyai beberapa penggunaan. Penggunaan secara umum, yaitu sebagai
istilah yang dipakai oleh ahli-ahli ilmu agama sebagai sebutan khusus bagi
mereka yang hidup pada abad-abad pertama, kedua, dan ketiga Hijrah, atau dengan
kata lain sebagai sebutan bagi para sahahat Nabi, tabi'in dan tabi'it-tabi'in.
Namun ulama
Hadhramaut (dari golongan Alawiyyin) menggunakan sebutan itu selain bagi mereka
yang tersebut di atasjuga bagi pendahulu-pendahulu mereka (kaum Alawiyyin) yang
shaleh. Habib Abdullah Al-Haddad(1) membatasi penggunaan
sebutan itu mulai dari Syekh Ali bin Abubakar As-Sakran(2) ke
atas. "Mereka,"kata Al-Haddad, "adalah orang-orang di mana
kita tunduk sepenuhnya (dalam segala hal) yang mereka lakukan. Adapun yang
datang kemudian, mereka "laki-laki" dan kita "laki-laki"
(yakni kita herhak mengikuti atau menolak sesuai dengan dalil)."
Kendati
demikian, ucapan Al Haddad ini tidak menghalangi mereka yang datang sesudah Syekh
Ali Abubakar As-Sakran, bahkan Al-Haddad sendiri dan murid-muridnya, untuk
digolongkan sebagai salaf. Sebab telah menjadi istilah ulama Hadhramaut
terdahulu (sampaipun mereka yang akhir-akhir ini masih bisa kita jumpai)
menggunakan kata salaf bagi pendahulu mereka yang saleh di mana kemudian akan
kami jelaskan tahap-tahapnya.
2. Permulaan
Sejarah Perjalanan Hidup Alawiyyin
Abad ketiga
Hijrah merupakan abad kegoncangan dan kekacauan, khususnya di negeri Irak yang
selalu terjadi pemberontakan dan huru-hara (fitnah). Kerajaan Bani Abbas tidak
mampu lagi mengekang dan mengatasi pemberontakan dan huru-hara yang senantiasa
timbul dan telah membuat seluruh dunia Islam bergolak laksana periuk yang
sedang mendidih, sedang penguasa tak mampu menegakkan keamanan umum yang telah
goyah selama bertahun-tahun.
Semua itu
membuat banyak orang, terutama tokoh-tokoh yang menonjol berhijrah meninggalkan
kampung halamannya mencari kediaman yang aman.
Di antara
orang yang hijrah dari Irak adalah Al-Iman Ahmad Al-Muhajir Ilallah(3)
(berhijrah mencari ridha ALLAH) Sebab Al-Muhajir (seperti tokoh-tokoh ahlul
bait yang lainnya) selalu merasa ketakutan dan senantiasa menjadi sasaran
pembunuhan dan penganiayaan. Hal demikian makin terasa pada saat terjadi
pemberontakan dan huru-hara, di mana musuh-musuh Alawiyyin menggunakannya
sebagai kesempatan untuk menganiaya dan membantai mereka. Hal ini terutama
akibat rasa khawatir bahwa di dalam suasana kacau itu, kaum Alawiyyin akan
menampilkan diri untuk memegang kendali kekuasaan di tengah umat Islam yang
tetap berpendirian bahwa kewajiban mereka adalah menyerahkan tongkat
kepemimpinan kepada Ahlul bait, keturunan Nabi pembawa agama ini serta bernaung
di bawah panjinya, betapapun secara lahir mereka (umat Islam) tunduk kepada
pemimpin yang lain. Atau demikianlah semestinya.
Namun banyak
di antara tokoh Alawiyyin berusaha menahan diri dan menghindar untuk tidak
terjebak ke dalam huru-hara itu serta berupaya untuk tidak terlibat dalam
pergolakan-pergolakan politik, disebabkan pelajaran-pelajaran praktis yang
mereka terima dari berbagai pengalaman dalam bidang ini. Karenaitu, bergerak di
dalam lapangan politik (menurut pandangan mereka) akan selalu berakhir dengan
kegagalan. Demikianlah pendirian segolongan Alawiyyin. Namun ada segolongan
lain berpendirian, bahwa Alawiyyin harus berkorban dalam segalanya untuk
menyelamatkan umat, yang harus terus menerus berjuang sehingga tujuan tercapai,
atau mati bergelimang darah di tengah medan pertempuran.
Imam
Al-Muhajir termasuk golongan pertama, sedang saudaranya Muhammad bin Isa
termasuk golongan kedua, dibuktikan dengan perlawanannya terhadap kekuasaan
Abbasiyah. Dalam hal ini, Al-Muhajir selalu memperingatkan dan memberi nasihat
kepada saudaranya agar tidak melakukan perlawanan. Peringatan dan nasihat
diberikan secara terus menerus, sehingga akhirnya merasa puas dan yakin akan
kebenaran pendirian Al-Muhajir, lalu menghentikan perlawanannya.
Jadi
jelaslah, Al-Muhajir memilih tinggal di Hadhramaut (Yaman Selatan), negeri yang
tandus gersang, hampir terputus hubungannya dengan dunia luar, hanyalah sekadar
dapat hidup aman dan damai bersama keluarganya, serta dapat menunaikan
kewajiban agama dan kegiatan duniawi dalam suasana tenteram dan aman, setelah
menyaksikan segala pengalaman yang terjadi baik di negeri Irak maupun di
daerah-daerah lain, berupa pemberontakan, huru-hara dan peristiwa-peristiwa
lain. Semua itu menyebabkan hilangnya ketenangan dan menyusahkan hati.
Hendaknya
kita tidak terburu untuk berprasangka bahwa Al-Muhajir hanya bermaksud
mengurung diri, serta ber-uzlah tanpa mempedulikan umat dan masyarakat di
sekitarnya. Tidak! Al-Muhajir bertujuan mendirikan suatu masyarakat baru, di
negeri baru ini, sesuai cita-cita dan keyakinannya. Oleh karena itu setibanya
di negeri ini Al-Muhajir tak henti hentinya berjuang melawan kaum Ibadhiah(4)
yang merupakan mayoritas penduduk Hadhramaut. Yaitu setelah gagal berdialog
dengan mereka secara baik, sehingga terpaksa senjata harus berbicara.
Al-Muhajir dan pengikutnya yang berjumlah kecil itu, telah mendapat dukungan
dari penduduk Jubail dari Wadi Dau'an yang bersimpati kepada Ahlulbait.
Cara hidup
Al-Muhajir (mencari kedamaian dan kebenaran) diterima kemudian oleh anak
cucunya dan benar-benar mempengaruhi jiwa mereka, yang akhirnya kehidupan
mereka hampir sama di semua tahap-tahap sejarah, sebagaimana akan dituturkan
kemudian.
3.
Tahap-Tahap Sejarah Alawiyyin
Sesungguhnya
sejarah perkembangan Alawiyyin, mengalami pasang-naik dan pasang-surut, sesuai
dengan kehidupan mereka yang selalu berubah. Bagaimanapun juga, golongan
Alawiyyin selalu memelihara identitasnya, yaitu berpegang teguh dengan KITAB
ALLAH (Al-Qur'an) dan SUNNAH (ajaran-ajaran nabi Muhammad SAW dalam segala
bidang kehidupan) luhur yang padu dan utuh secara Islam.
Adapun
sejarah perkembangan Alawiyyin, menurut pandangan kami dapat dibagi menjadi
empat tahap, sebagai berikut :
TAHAP
|
ABAD
(Hijriah)
|
ZAMAN
|
Pertama
|
Ketiga s/d
ketujuh
|
Ahmad
Al-Muhajir s/d
|
Kedua
|
Ketujuh
s/d Kesebelas
|
M.
Al-Fagih Al-Mugaddam
|
Ketiga
|
Kesebelas
s/d keempatbelas
|
M.
Al-Fagih Al-Mugaddam s/d Abdullah Al-Haddad
|
Keempat
|
Keempatbelas
s/d kini
|
Tahap-tahap
itu diikuti pula dengan perbedaan gelar dan sebutan bagi tokoh tokoh Alawiyyin,
maka sebutan atau gelar setiap tahap berbeda dengan gelar atau sebutan pada
tahap yang lain. Sebagai berikut :
TAHAP
|
GELAR
|
Pertama
|
Al-Imam
|
Kedua
|
As-Syech
|
Ketiga
|
Al-Habib
|
Keempat
|
As-Sayyid
|
Sebutan
demikian itulah yang digunakan orang bagi tokoh-tokoh Alawiyyin pada
masing-masing tahap.
Kendati
demikian, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa sebutan-sebutan dan gelar-gelar
itu khusus bagi tokoh-tokoh Alawiyyin. Hanya saja seperti diketahui sebutan dan
gelar-gelar itu lebih populer penggunaannya bagi mereka.
1) Abdullah
bin Alwi bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad Al-Haddad. Allah telah
menganugerahkan kepada Al-Haddad daya hafal yang luar biasa, sehingga telah
hafal Al-Qur'an seluruhnya dalam usia kecil. Kendati telah mengalami penyakit
sehingga menyebabkannya menjadi seorang tunanetra, namun ketajaman hati dan
kecerdasan fikirannya melebihi mereka yang berpenglihatan sempurna. Al-Haddad
telah mampu menguasai berbagai ilmu yang diajarkan oleh guru-guru kepadanya,
lalu muncul sebagai seorang tokoh besar dalam ilmu-ilmu Syari'at, Tasawuf dan
Bahasa, maka berdatanganlah para murid dari segenap penjuru untuk mereguk
sumber ilmu yang deras ini. Di samping pelajaran yang disampaikan secara
langsung, Al-Haddad telah pula mengarang beberapa buku yang kemudian tersebar
luas. Karya-karya Al Haddad ini antara lain : An-Nasha’ih Ad-Diniyah, Risalah
Al-Mu’awanah, sebuah Diwan (kumpulan syair) dan lain-lain. Wafat di Tarim 1132
H.
2) Ali bin Abubakar As-Sakran bin Abdurrahman As-Sagaf, bergelar As-Sakran (dimabuk cinta Ilahi). Terkenal dalam berbagai bidang ilmu, khususnya tasawuf. Wirid As-Sakran hingga kini masih banyak dibaca orang. Wafat 895 H.
3) Ahmad bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib/Fathimah Az Zahra binti Rasulullah SAW. Al-Muhajir Ila Allah (orang yang berhijrah menuntut ridha Allah) meninggalkan Basrah di Irak pada tahun 317 H. bersama keluarga dan pengikutnya yang berjumlah 70 orang, menuju Hijaz (Saudi Arabia), kemudian ke Yaman (Utara), dan selanjutnya Hadhramaut (Yaman Selatan). Al-Muhajir sampai di Hadhramaut pada tahun 318 H dan untuk pertama kali mendirikan rumah di Hajrain, lalu pindah ke Husayisah tempat beliau menetap hingga wafat pada tahun 345 H.
4) Ibadhiah adalah salah satu golongan Khawarij di bawah pimpinan Abdullah bin Ibadh. Berkali-kali kelompok ini memberontak terhadap kekuasaan Bani Umayyah dan yang paling terkenal adalah pemberontakan mereka dibawah pimpinan Abdullah bin Yahya, sekitar tahun 129 H. Golongan ini kemudian mengembangkan pengaruhnya di Oman, Yaman dan Hadhramaut.
2) Ali bin Abubakar As-Sakran bin Abdurrahman As-Sagaf, bergelar As-Sakran (dimabuk cinta Ilahi). Terkenal dalam berbagai bidang ilmu, khususnya tasawuf. Wirid As-Sakran hingga kini masih banyak dibaca orang. Wafat 895 H.
3) Ahmad bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib/Fathimah Az Zahra binti Rasulullah SAW. Al-Muhajir Ila Allah (orang yang berhijrah menuntut ridha Allah) meninggalkan Basrah di Irak pada tahun 317 H. bersama keluarga dan pengikutnya yang berjumlah 70 orang, menuju Hijaz (Saudi Arabia), kemudian ke Yaman (Utara), dan selanjutnya Hadhramaut (Yaman Selatan). Al-Muhajir sampai di Hadhramaut pada tahun 318 H dan untuk pertama kali mendirikan rumah di Hajrain, lalu pindah ke Husayisah tempat beliau menetap hingga wafat pada tahun 345 H.
4) Ibadhiah adalah salah satu golongan Khawarij di bawah pimpinan Abdullah bin Ibadh. Berkali-kali kelompok ini memberontak terhadap kekuasaan Bani Umayyah dan yang paling terkenal adalah pemberontakan mereka dibawah pimpinan Abdullah bin Yahya, sekitar tahun 129 H. Golongan ini kemudian mengembangkan pengaruhnya di Oman, Yaman dan Hadhramaut.
BAB I
TAHAP PERTAMA
Tahap
pertama sejarah perjalanan hidup Alawiyyin ini memiliki keistimewaan sebagai
tahap pembangunan kehidupan baru dan pembauran dengan masyarakat baru di negeri
baru. Pada tahap ini, tokoh-tokoh Alawiyyin telah berhasil mempengaruhi masyarakat
Hadhramaut serta menyesuaikan diri dengan kehidupan mereka. Tokoh-tokoh
Alawiyyin dalam kehidupan sehari-hari benar-benar mirip dengan kehidupan
tokoh-tokoh sahabat Nabi di kurun Islam pertama, baik dalam ilmu, akhlak maupun
ibadah.
Ketika baru berada
di tengah masyarakat Hadhramaut, Al-Muhajir dihadapkan dengan suasana jihad
yang tak terelakkan. Al-Muhajir ketika itu harus melawan golongan ibadhiah,
baik denganlisan maupun dengan senjata, sehingga Al-Muhajir berhasil menyebar
luas ajaran Ahlus sunnah seperti jelas diuraikan didalam kitab-kitab
sejarah yang menerang riwayat hidup (Biografi) Al-Muhajir. Kemudian,
putra-putranya dan keturunannya meneruskan langkah itu, memimpin masyarakat
Hadhramaut dalam bidang ilmu, budaya dan ekonomi. Bahkan dalam bidang politik
yang bersifat mengawasi dan membimbing (para penguasa) demi tercapainya
kepentingan umum, tanpa berambisi memegang tampuk kekuasaan secara praktis.
Tokoh-tokoh
Alawiyyin pada tahap ini, adalah Imam-Imam mujtahid (dalam arti tidak mengikuti
atau terikat dengan salah satu mazhab) seperti diriwayatkan oleh beberapa
ulama, yang masing-masing tokoh terkenal dengan gelar "Imam"
seperti Imam Al-Muhajir, Imam Alawi bin Ubaidillah dan lain-lain.
Namun,
ijtihad mereka seringkali bersesuaian dengan Imam As Syafi'ie dalam bagian
terbesar madzhabnya. Adapun aspek-aspek aqidah mereka, sama seperti para
leluhur mereka sampai Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
Tokoh-tokoh
Alawiyyin ini telah membawa sebagian kekayaan mereka dari negeri asal, yaitu
Bashrah (Irak). Kekayaan itu amat besar jumlahnya sehingga mereka dapat membeli
tanah-tanah, kebun-kebun, bangunan-bangunan, dan sebagainya di negeriini.
Kekayaan itu juga dikembangkan di dalam bidang pertanian yang menjadi usaha
pokok dan sumber utama Alawiyyin tahap itu.
Dalam
keadaan demikian, mereka senantiasa teringat kampung halaman dan sesekali
timbul kerinduan ketika mengenang masa lampau di negeri Irak, sehingga mereka
membuat lambang-lambang dengan nama taman-taman, kebun dan pesanggrahanyang
telah ditinggalkannya itu.
Dalam tahap
ini setiap Alawi menampilkan pribadi yang mulia dengan beberapa keistimewaan
berupa ilmu, akhlak, ibadah dan wibawa sehingga keluarga ini dikenal dan
dibedakan oleh masyarakat karena ciri-ciri kemuliaan itu.
1.Ilmu
Tokoh-Tokoh Alawiyyin
Ilmu yang
dikuasai tokob-tokoh Alawiyyin tahap ini meliputi : Tafsir Hadits, Fiqih,
Sastra/Bahasa, metode berdebat dan berdiskusi, serta ilmu pengetahuan lain,
yang telah berkembang pesat dewasa itu termasuk tasawuf. Hanya saja ilmu
tasawuf ini memperoleh perhatian lebih dalam dan lebih khusus pada tokoh-tokoh
tahap kemudian. Tokoh-tokoh tahap ini memperhatikan tasawuf sebagai amalan
praktis dan bukan sebagai teori ilmiah semata.
Sifat yang
paling menonjol bagi seorang Alawi tahap ini adalah: kedermawanan, dan
keberanian (sebagai ciri umum keturunan bani Hasyim). Sifat ini diimbangi
dengan tawadhu' (rendah hati), di samping tegas dan tidak kenal kompromi
dalam mempertahankan kebenaran, memperhatikan bidang keperwiraan, menggunakan
alat-alat perang dan menyandangnya dalam kesempatan-kesempatan tertentu.
Sifat
terakhir ini kemudian berubah pada tokoh-tokoh Alawiyyin generasi berikutnya,
yang dalam menggunakan alat-alat perang dan menyandangnya dianggap menyalahi
tradisi dan bertentangan dengan sopan santun. hal ini berlaku sejak Alawiyyin
mengikuti "Tarekat Tasawwuf" pada abad ketujuh ketika Imam Al-Faqih
Al-Muqaddam menerima "Khirqah" (Baju Tasawwuf) dan Syekh Abu
Madyan, tokoh sufi dari negeri Maghrib (Afrika utara). Sejak itu Al-Fagih
Al-Muqaddam menjauhi penggunaan senjata untuk menekuni ilmu dalam suasana
damai.
Adalah
merupakan watak dan tabiat seorang Alawi, tidak pernah merasa tentram di satu
daerah tertentu, untuk kemudian tinggal selama hidup. Hidup bebas dan pergi,
kemana saja untuk mencari daerah-daerah baru merupakan watak dan cirinya. Satu
daerah saja dipandang sempit dan tidak memberi kepuasan untuk mengembangkan
cita-cita dan mencapai tujuannya.
Apalagi di
negeri seperti Hadhramaut, negeri ini akan memaksa penduduknya berhijrah karena
sempitnya bidang kehidupan. di samping terjadinya pergolakan dan pertumpahan
darah antara kabilah-kabilah yang selalu berkecamuk. akibat tidak adanya
pemerintahan yang kuat dan stabil.
Oleh karena
itu, seorang Alawi (seperti halnya penduduk Hadhramaut pada umumnya) mengadakan
perjalanan ke negeri-negeri tetangga, seperti : Yaman, Hijaz, Syam dan. Irak,
baik demi tujuan budaya, ekonomi, maupun agama.
Pada
mulanya, Alawiyyin seringkali hilir mudik mengunjungi Irak (negeri asal mereka)
untuk bertemu kembali dengan sanak keluarga, memeriksa harta kekayaan yang
ditinggalkan, bahkan hingga kini keturunan Imam Muhammad bin Isa Ar-Rumi
(saudara sekandung Al-Muhajir) terus juga berkembang di negeri ini.
Sesuatu yang
patut digarisbawahi di sini, ialah bahwa tokoh tokoh Alawiyyin yang menonjol
pada tahap perkembangan ini terdiri dari keturunan Imam Ubaidillah bin Ahmad
Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi, yakni Bashri, Jadid dan Alawi. Kendali pimpinan
dipegang oleh keturunan kedua orang yang pertama, yaitu Bashri dan Jadid. Namun
keturunan mereka kemudian terhenti dan tidak berkelanjutan, yang pada abad
ketujuh H. tidak ada lagi seorang pun dari keturunan mereka. Sayang ahli-ahli
sejarah tidak menghidangkan untuk kita jasa dan peran yang pernah dimainkan
oleh keturunan Bashri dan Jadid, kecuali nama beberapa tokoh saja yang dicatat,
yang di antaranya adalah Imam Ahli Hadits Imam Abu Hasan Ali bin Muhammad bin
Jadid (wafat 620 H.) dan Imam Salim bin Bashri (wafat 604 H.)
Adapun
tokoh-tokoh sesudah waktu tahap ini hanyalah dari turunan Alawi bin Ahmad bin
Isa Ar-Rumi (dari Alawi inilah datang sebutan Alawiyyin bagi keturunannya).
Meskipun demikian, silsilah keturunan Alawiyyin seluruhnya selalu melalui lima
rangkaian nasab saja, yang menunjukkan bahwa Alawiyyin baru berkembang dan
bercabang setelah abad ke enam H.
Rangkaian
silsilah ke lima orang itu adalah: Muhammad bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin
Alawi (bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir).
Di antara
putra-putri Muhammad bin Ali bin Alawi (terkenal dengan gelar Shahib Mirbath,
wafat 556 H.) yang berketurunan hanyalah dua orang putranya, yakni Imam Alawi,
paman (saudara ayah) Al-Faqih Al-Mugaddam, dan Imam Ali bin Muhammad, ayah
Al-Faqih Al-Muqaddam. Pada kedua orang inilah tercakup seluruh nasab
Al-Alawiyyin, seperti tercakupnya nasab seluruh Al-Husainiyin pada Imam Ali
Zainal Abidin, kemudian pada putranya Muhammad Al-Bagir.
Ubaidillah
adalah putra Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin
Ali Al-Uraidhi bin Ja'far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin
bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, suami Siti Fatimah Az-Zahra', putri Rasul
Allah SAW.
BAB II
TAHAP KEDUA
TAHAP KEDUA (A)
Tahap ini
bermula (seperti telah kami terangkan pada awal ceramah) dari abad ketujuh H
hingga menghampiri abad kesembilan H., yakni dari masa Al-Fagih Al-Muqaddam
hingga mendekati zaman Al-Habib Abdullah Al-Haddad. Tokoh-tokoh tahap ini
terkenal dengan gelar "Syekh". Apabila kita hendak membuat
suatu perbandingan antara tokoh-tokoh masa ini, yang di antara tokoh-tokohnya
adalah para Imam seperti Al-Faqih Al-Mugaddam(5), Assegaf(6),
Al-Muhdhar(7), Al-'Aidarus(8), Zain
Al-Abidin Al-'Aidarus(9). Di sini patut kita kemukakan secara
obyektif, bahwa tokoh-tokoh tahap ini, dalam kenyataannya yang dibuktikan
melalui karya dan hasil tulisan mereka, tidaklah mencapai hasil atau kualitas
puncak, baik dalam penulisan karya-karya ilmiah maupun dalam syair. Bahkan
tidak kita jumpai di antara karya mereka yang menunjukkan kejeniusan dan kehebatan
dalam bidang-bidang ilmu dan kebudayaan yang dapat mengimbangi keunggulan
mereka dalam bidang akhlak dan pengamalan agama.
Hal itu,
tampaknya, disebabkan oleh pengaruh tasawuf yang mendalam, sehingga tokoh-tokoh
tahap ini tidak begitu memperhatikan untuk berkarya, baik dalam lapangan budaya
maupun karya-karya ilmiah (sebab tasawuf hanya memperhatikan segi-segi
keruhanian tanpa memberikan perhatian yang cukup besar terhadap segi-segi
lahiriah -penerj.). Kalaupun ada, hal itu tidak banyak di lakukan. Itu pun
tanpa memperhatikan penggunaan bahasa yang indah, terpilih dan tersusun rapi
dalam penampilan yang kuat. Dalam penulisan, tokoh-tokoh tahap ini sering
menggunakan bahasa sehari-hari (atau dialek setempat) dalam mengungkapkan suatu
hakikat, dan dengan cara apa adanya tanpa mempedulikan susunan atau gaya
bahasa. Adapun dalam bidang ekonomi, maka tahap ini telah mengalami peningkatan
dibanding dengan tahap sebelumnya. Apabila tahap terdahulu kegiatannya terbatas
pada bidang pertanian saja, dengan menginvestasikan kekayaan mereka hanya dalam
bidang ini saja, maka Alawiyyin pada tahap ini di samping pertanian telah juga
berinvestasi di bidang perdagangan. Mereka mendirikan pusat-pusat perdagangan
di pesisir Hadhramaut, Aden dan Yaman. Mereka juga mengadakan perjalanan dagang
ke India dan negara-negara lain, disertai dakwah menyiarkan agama Islam. Adapun
perjalanan ke Timur (negara-negara Asia Tenggara), untuk kedua tujuan tersebut,
maka hal itu baru mereka lakukan kemudian (yakni sekitar abad kesebelas H. -penerj.).
Dengan cara demikian mereka perluas daerah perdagangan serta kegiatannya di
dalam negeri dengan mengalirnya arus barang dan uang, yang sebelumnya kegiatan
mereka hanya terbatas pada bidang pertanian saja.
Perlu
dikemukakan, meskipun tokoh-tokoh Alawiyyin melakukan berbagai kegiatan
ekonomi, namun berkat disiplin ketat, kekuatan iman dan takwa, mereka tetap
tekun dalam menjalankan ibadah, membaca wirid-wirid khusus, dan berdakwah.
Allah telah berkenan memberikan berkah waktu dengan membagi masing-masing
kegiatan secara cermat, sehingga dapat melakukan semua kegiatan itu dengan
sempurna, sesuai keseimbangan yang digariskan oleh syari'at.
Berbicara
mengenai tingkat kesufian Alawiyyin tahap ini, maka seperti telah dikemukakan
pada awal ceramah. bahwa "Tarekat Tasawuf" baru dikenal di Hadhramaut
pada awal abad ketujuh H. ketika Syekh Abu Madyan, tokoh ahli Sufi dari negeri
Magrib (Afrika utara) mengutus muridnya yang terpercaya ke negeri Hadhramaut
untuk menghubungi Al-Fagih Al-Muqaddam secara khusus dan beberapa ulama yang
lain di negeri ini. Dalam pada itu, Syekh Abu Madyan juga mengirim "khirqah"
tasawuf, berupa sehelai baju yang dipakaikan oleh seorang guru (tasawuf) kepada
muridnya, yang dengan demikian seorang guru berhak mengarahkan pendidikan muridnya
itu (secara tasawuf ).
Melalui
seorang muridnya sebagai perantara, Syekh Abu Madyan memakaikan "khirqah"
itu kepada Al-Faqih Al-Muqaddam. Ketika Syekh Abu Marwan, guru Al-Faqih
Al-Muqaddam mengetahui hal itu, ia menjadi marah, demikian juga dengan beberapa
ulama Tarim yang tidak menyukai hal itu, sebab mereka khawatir akan kehilangan
cita-cita dan rencana mereka untuk menokohkan Al-Faqih Al-Muqaddam sebagai
pemimpin dan Imam. Ketika itu Al-Fagih Al-Mugaddam belajar beberapa cabang ilmu
dari Syekh Abu Marwan dengan acapkali menyandang senjata, bahkan kadang-kadang
sambil belajar ia meletakkan pedang menyilang di atas pahanya. Orang-orang yang
kurang senang dengan tindakan Al-Faqih Al-Muqaddam itu, mengira apa yang kelak
akan dilakukan oleh Al-Faqih Al-Muqaddam merupakan salah satu tarekat yang
hanya semata-mata memperhatikan segi-segi keruhanian tanpa menghiraukan urusan
duniawi. Namun sesungguhnya Al-Fagih Al-Mugaddam lebih bijaksana serta
berpandangan jauh dan luas. Ia tidak menginginkan pengikutnya mengenakan gombal
bertambal (muragga'at), mengembara tanpa arah sebagai "darwisy"
(orang "fakir") yang melakukan cara-cara aneh dalam mendekatkan diri
kepada Tuhan, atau menjalankan latihan-latihan ruhani (yang berlebihan).
Al-Faqih Al-Muqaddam melarang pengikutnya bertaklid buta terhadap guru,
khususnya dalam hal-hal yang ada kemungkinan bertentangan dengan Alkitab dan
Sunnah.
Tarekat yang
dianut oleh Al-Fagih Al-Muqaddam dan pengikutnya adalah "At-Thariqah
Al-Alawiyyah" yang dasarnya adalah mengikuti apa yang tersurat di
dalam Al-Kitab (Al-Qur'an) dan As-Sunnah (ajaran Nabi), meneladani tokoh-tokoh
Islam kurun pertama (para sahabat dan tabi'in). Itulah yang dinyatakan di dalam
kitab-kitab mereka, ceramah dan nasihat agama, dan surat menyurat mereka antara
yang satu dengan yang lain, serta dikuatkan pula oleh perilaku dan tindak
tanduk Salaf Al Alawiyyin.
Hal ini
diungkapkan oleh salah seorang tokoh Alawiyyin yaitu Habib Abdullah Al-Haddad
dalam sebuah bait syair sebagai berikut :
Serta
teladanilah para Salaf terdahulu Semoga Allah memberi engkau petunjuk-Nya
Berpegang teguhlah engkau dengan Kitab Allah,ikutilah Sunnah nabi
Berpegang teguhlah engkau dengan Kitab Allah,ikutilah Sunnah nabi
Demikian
pula dinyatakan oleh Al Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi :
Demikian
inilah amalan-amalan murni dari segala campuran
Ditambah ilmu dan keluhuran akhlak serta wirid-wirid yang cukup banyak
Ditambah ilmu dan keluhuran akhlak serta wirid-wirid yang cukup banyak
Dengan
demikian jelaslah, golongan Alawiyyin pengikut tarekat tasawuf, tetapi tasawuf
mereka tidak menghalangi untuk melakukan tugas-tugas kehidupan, baik yang
bersifat kemasyarakatan (sosial), keluarga maupun pribadi. Dalam segi tasawuf
ini, Alawiyyin menyerupai sahabat Nabi dan para tabi'in yang terkenal dengan
kesufiannya namun tidak terhalang untuk berjihad menyebarluaskan ilmu dan
dakwah.
Kaum
Alawiyyin adalah penganut madzhab tasawuf yang berintikan sikap zuhud. Namun
zuhud tidak menghalangi mereka untuk mengumpulkan harta yang amat besar
jumlahnya asal diperoleh melalui jalan yang wajar dan halal, yang kemudian
disalurkan untukkepentingan umum, menjamu tamu, mendirikan masjid dengan mencadangkan
wakaf untuk pembiayaannya, menggali sumur untuk menyediakan air bersih yang
sangat diperlukan, membuka dapur-dapur umur, dan mendirikan pondok pesantren
untuk menyebarluaskan ilmu dan dakwah ke jalan Allah. Mengusahakan perdamaian
dan memperbaiki hubungan antara golongan-golongan yang bersengketa, bersedekah
dan membantu mereka yang memerlukan bantuan.
Kaum
Alawiyyin adalah orang-orang sufi penganut madzhab Syafi'ie, namun mereka tidak
bertaklid kepada Syafi'ie dalam segala hal. Dalam soal-soal tertentu, mereka
meninggalkan pendapat Syafi'ie.
Kaum
Alawiyyin adalah penganut Al-Asy'ari (dalam soal-soal Tauhid), namun mereka
juga meninggalkan faham Al-Asy'ari dalam beberapa hal, seperti mengenai sahnya
taklid dalam soal iman.
Meskipun
tokoh-tokoh Alawiyyin sangat mengagumi karya-karya Al-Ghazali serta falsafahnya
dalam bidang akhlak dan tasawuf, namun mereka tidak mengikutinya secara
bertaklid buta, melainkan memperhatikan kekurangan dan kelemahan Al-Ghazali,
sehingga ada diantara tokoh mereka yang mengatakan. "Di dalam kitab Ihya'
ada beberapa pernyataan seandainya dapat dihapus dengan air mata kami, kami
akan melakukannya"(10) .
Kaum
Alawiyyin adalah orang-orang sufi, sebagian mereka menyukai nyanyi dan lagu
yang sehat tanpa disertai tindakan yang melanggar akhlak, apalagi minum-minuman
yang memabukkan, seperti yang dilakukan oleh beberapa penganut tarekat lainnya.
Kaum
Alawiyyin adalah orang-orang sufi, namun mereka tidak berkhalwat atau melakukan
latihan-latihan rohani secara berlebihan dan melampaui batas. Kalaupun ada,
sangatlah jarang, dan mereka melakukannya dengan cara yang tidak merusak, baik
fisik maupun mental, serta bertujuan semata-mata mendidik jiwa, menghilangkan
sifat-sifat kelemahan dan kekotoran rohani, sebagai usaha untuk menyucikan diri
dari kungkungan nafsu angkara murka dan syahwat.
Kaum
Alawiyyin adalah orang-orang sufi, namun tasawuf mereka tidak melarang
tokoh-tokoh besar dan ulama mereka menduduki jabatan-jabatan penting: sebagai
hakim, pemberi fatwa (Mufti), guru-guru besar, atau usahawan dalam bidang
pertanian, perdagangan atau pertukangan, baik sebagai pimpinan maupun pelaksana
lapangan.
Al-Fagih
Al-Muqaddam misalnya, bapak Alawiyyin dalam tasawuf, mungkin kita tidak pernah
mengira bahwa Al-Fagih bertindak mengurusi perkebunan dan sawah ladangnya
sendiri, mengatur rumah tangga dan keluarga, bahkan kadang-kadang berbelanja
sendiri ke pasar. Kita mungkin tidak pernah membayangkan bahwa perkebunan
Al-Fagih ini terdiri dari ribuan batang pohon kurma dan buah kurma hasil perkebunan
itu (seperti di riwayatkan di dalam Silsilah Al-A’idarusiyah)
adalah sekitar 360 guci (zier). setiap guci berisi sekitar 1800 rathl (kati).
Penulis
kitab Al-Masyra' Ar-Rawiy bercerita tentang kekayaan Al-habib
Abdullah bin Alawi(11). Putera Al-Faqih Al-Muqaddam (wafat 731
H.) Abdullah bin Alawi ini telah mewakafkan untuk masjid Bani Alawi di Tarim
seharga 90.000 dinar. Ia mempunyai daftar tetap yang didalamnya tercatat nama
orang-orang yang memerlukan bantuan, selain hadiah-hadiah yang diberikan kepada
para penyair. Kendati demikian, ditinjau dari segi tasawuf dan ibadahnya,
hampir tidak ada orang yang dapat menandinginya. Sedang dari ilmu, telah
dicatat bahwa dia pernah berguru kepada seribu orang Syekh (guru) terdiri dari
ulama-ulama Yaman, Hadhramaut, Hijaz, Irak dan Maghrib(Afrika Utara).
Demikian
pula dengan Habib ASagaf, betapapun banyak kegiatan dan kesibukannya dalam
mengerjakan wirid, zikir dan mengajar, namun memiliki perkebunan dan sawah
ladang yang luas sekali serta meminta laporan tentang biaya-biaya yang
dikeluarkan oleh, para pekerjanya, pada waktu antara maghrib dan isya', seperti
diriwayatkan oleh Al-Khathib, penulis kitab Al-Jauhar. Pohon-pohon
kurmanya amatlah banyak, tidak sedikit di antara pohon-pohon itu yang ditanam
dengan tangannya sendiri, sambil membaca surat YaSin pada setiap pohon yang
ditanamnya.
Habib
Al-Muhdhar putra As-Saqaf, adalah seorang ulama besar yang diyakini sebagai
seorang wali Allah, namun tergolong seorang yang cukup kaya, yang kekayaannya
di antaranya adalah kapal-kapal, tanah-tanah pertanian, kebun kurma dan
lain-lain, seperti diterangkan semua itu di dalam surat wasiatnya.
Demikian
pula dengan Imam Abubakar Al-Adni, putra Habib Al-'Aidarus (yang makamnya cukup
terkenal di kota Aden) tergolong seorang hartawan di zamannya. Setiap hari
memotong 30 ekor kambing untuk menjamu para tamu dalam berbuka puasa seperti
dicatat oleh penulis biografinya. Al-Adni telah melunasi hutang ayahnya setelah
wafat sebanyak 30 ribu dinar. Al-Adni wafat 914 H. Demikian pula halnya dengan
keturunan Abdullah bin Syekh Al-'Aidarus (keponakan Al-Adni), yang banyak
berhubungan dengan raja-raja India. Kita akan kagum mempelajari riwayat hidup
mereka, sebab di samping hasil karya ilmiah yang mereka cipta dan perbaikan
sosial yang mereka lakukan serta ketekunan mereka di bidang ilmu dan ibadah,
tokoh-tokoh ini mampu memiliki kekayaan yang demikian besar, menandingi para
raja dan pangeran. Sedang sebagian besar kekayaan itu, dinafkahkan untuk
perbaikan sosial dan kepentingan umum(12).
Jadi, faham
tasawuf yang dianut oleh golongan Alawiyyin adalah ajaran tasawuf yang wajar
dan sehat, tidak membawa pengikutnya menjurus kepada fanatisme dan jumud
(kebekuan) atau menjurus kepada ekstrimisme dan ingkar. Ajaran tasawuf mereka
merupakan sikap tengah yang memelihara keseimbangan dalam semua segi.
Perlu
kiranya dicatat disini, bahwa apa yang dihubungkan kepada tokoh-tokoh Alawiyyin
berupa latihan amat banyak secara umum tidak mampu dilakukan manusia biasa
serta bertentangan dengan naluri yang wajar, baik itu berupa tidak tidur siang
malam untuk beberapa tahun lamanya berhenti makan dan minum berpuluh-puluh hari
secara terus menerus, maupun mengkhatamkan pembacaan Al-Qur'an beberapa kali di
waktu siang dan beberapa kali di waktu malam. Hal-hal semacam itu hanyalah
merupakan tindakan-tindakan khusus yang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang
tertentu saja yang memang diberi kemauan dan kemampuan oleh Allah, di samping
adanya kesediaan batin untuk melakukannya. Hal-hal semacam ini memang tidak
dapat dilakukan oleh selain mereka sebab sifatnya yang khusus dan merupakan
pengecualian dan yang umum. Bahkan lingkungan mereka sendiri memandang hal itu
sebagai sesuatu yang aneh, sehingga apabila ada yang menceritakannya, hanyalah
sekadar menyatakan rasa kagum terhadap sesuatu yang luar biasa.
Akan tetapi
hal-hal semacam itu boleh saja digolongkan sebagai "karamah"
yang telah diuraikan oleh ulama (tasawuf) secara jelas. Perlu pula dicatat di
sini, bahwa pernyataan-pernyataan yang kadang-kadang diucapkan oleh beberapa
tokoh Alawiyyin tertentu (seperti dicatat oleh sebagian penulis sejarah
terdahulu) yang pada lahirnya bertentangan dengan prinsip-prinsip syara', dan
yang terkenal dengan sebutan syathahat adalah bukan karena mereka telah
meyakini faham "wahdatul wujud" (panteisme), bukan pula untuk
menyatakan kesombongan dan membanggakan diri, seperti dituduhkan oleh sementara
orang. Sebab kebersihan pribadi dan kejujuran tokoh-tokoh itu cukup dikenal
dalam sejarah. Pada hakikatnya, pernyataan-pernyataan itu dilontarkan pada saat
mereka dalam keadaan ganjil dan luar biasa, di mana mereka berada dalam suasana
tak sadar (keadaan fana), sehingga apa yang diucapkan itu dapatlah dimaafkan,
dan tidak dapat dicatat sebagai pelanggaran yang mengakibatkan dosa, apalagi
kufur.
Betapa pun
juga, tidaklah sepatutnya hal-hal seperti itu disiarkan, mengingat mereka
sendiri pun tidak menyukainya.
1.
Organisasi Alawiyyin "An-Nagabah"
Pada tahap
pertama sejarah perkembangan Alawiyyin, sebelum bercabang-cabang dan
bersuku-suku, kaum Alawiyyin tidak merasa perlu untuk membuat suatu sistem
sosial khusus sebagai pengatur kehidupan mereka. Cukuplah bagi golongan ini
untuk mempunyai seorang atau beberapa orang pemimpin yang secara otomatis
diakui sebagai pemimpin keluarga atau marga.
Baru pada tahap
kedua dalam sejarah perkembangan Alawiyyin, setelah menjadi banyak dan tersebar
ke berbagai daerah, terasalah bagi tokoh Alawiyyin guna membela dan memelihara
kedudukan dan kepentingan mereka, melindungi kehormatan serta memecahkan
problema yang timbul, baik yang bersifat intern maupun ekstern. Sistim ini
dikenal dengan sebutan "Nagabah".
Sistem ini
baru diadakan pada zaman Al-Muhdhar, yakni pada akhir abad kesembilan Hijriah,
di mana Al-Muhdhar sekaligus terpilih sebagai Naqib. Dewan "Nagabah"
ini terdiri dari sepuluh anggota yang dipilih. Setiap anggota mewakili kelompok
keluarga atau suku dan dikukuhkan oleh 5 orang sesepuh suku itu dan menjamin
segala hak dan kewajiban yang dibebankan atas wakil mereka, sebagai tersirat di
dalam teks piagam yang disetujui oleh tokoh-tokoh Alawiyyin dan pernah dimuat
di majalah Al-Jam'iyah, nomor 8, tahun 1357 H.
Dewan yang
terdiri atas 10 anggota ini mengatur segala sesuatu yang dipandang perlu sesuai
kepentingan, dan bersesuaian pula dengan ajaran syari'at Islam serta disetujui
oleh pemimpin umum. Apabila keputusan telah ditetapkan maka diajukanlah kepada
pemimpin umum (atau Nagib) untuk disahkan dan selanjutnya dilaksanakan.
Dengan
demikian jelaslah, sepuluh orang anggota dewan masing-masing merupakan wakil-wakil
atau naqib-naqib dari setiap kelompok atau suku, sedang wakil-wakil itu
dipimpin oleh "Naqib An-Nagabah" (atau Naqib para Naqib) yang
kemudian dikenal pula dengan sebutan "Nagib Al-Asyraf". Setiap
anggota dewan sangat patuh dan taat terhadapnya. Dan kepadanya pula
dikembalikan segala problema, serta pelaksanaan organisasi dan perbaikan, di
samping ia merupakan lambang kekuatan, kesepakatan, wibawa dan pengaruh
Alawiyyin.
Dalam
memecahkan persoalan yang dihadapi, lembaga ini akan menempuh cara damai. Namun
jika tidak berhasil, maka digunakanlah cara boikot, yaitu Nagib
memutuskan hubungan dengan orang-orang yang dianggap melakukan pelanggaran atau
membangkang, dengan cara menolak berjabat tangan (bersalam-salaman) maupun
dengan cara-cara lain. Tindakan Naqib akan diikuti semua Alawiyyin, sehingga
orang itu kembali kepada jalan yang benar.
Apa yang
kami tuturkan ini adalah bersumberkan piagam yang telah kami sebutkan di atas
dan ditetapkan oleh Alawiyyin pada zaman Al-Muhdhar, dan didukung dan dibubuhi
tanda tangan Sultan Tarim ketika itu, yaitu Sultan bin Duais bin Yamani. Sultan
ini berjanji akan membantu terlaksananya ketentuan-ketentuan yang termaktub di
dalam piagam itu, yang diikuti pula oleh tanda tangan seluruh naqib (anggota
dewan) beserta pendukungnya yang jumlah keseluruhan tidak kurang dari 50 orang.
Patut
disayangkan bahwa teks piagam ini tidak menyebutkan tanggal dan tahun
penulisannya dan juga tidak menyebut urut-urutan nama (daftar) para nagib yang
pernah menduduki jabatan itu, namun dengan membaca kembali kitab-kitab biografi
Alawiyyin, seperti kitah Al-Masyra' Ar-Rawiy dan
lain-lain, menerangkan bahwa di antara para Naqib yang terkenal, antara lain
adalah Al-'Aidarus Al-Akbar (wafat 865 H.). Sebab setelah Al-Muhdhar
wafat, tokoh-tokoh Alawiyyin telah sepakat untuk mengangkat Muhammad bin
Hasan bin Asad Allah, yang terkenal dengan gelar Jamalullail untuk
diangkat sebagai Nagib, namun ia menolak dan menunjuk Al-'Aidarus sebagai
gantinya, yang waktu itu masih berusia muda, tetapi telah menunjukkan kemampuan
untuk memangku jabatan tersebut. Akhirnya (setelah pertamanya menolak juga)
Al-'Aidarus menerima. Pengganti Al-'Aidarus adalah Ahmad bin Alawi Bajahdab
yang wafat tahun 973 H. Berikutnya Abdullah bin Syekh bin Abubakar
Al-'Aidarus (wafat 1019 H.), kemudian putranya bernama Zainal Abidin
(wafat 1041 H.).
Adapun pada
masa-masa selanjutnya saya tidak menemukan catatan sejarah yang menegaskan
adanya seorang Naqib yang dipilih, meskipun kadang-kadang terjadi kepemimpinan
seorang tokoh Alawiyyin semata-mata karena daya tarik kharisma dan kekuatan
pribadinya di samping memang memenuhi persyaratan untuk jabatan sebagai Naqib.
Pada
masa-masa selanjutnya telah timbul pula sistem "Manshabah", yang
tersebar luas di beberapa daerah Hadhramaut. Tugas "Munshib"
pada dasarnya adalah mendamaikan sengketa yang terjadi antara suku-suku yang
memanggul senjata, menyebar luaskan ilmu dan dakwah, menjamu para tamu yang
datang berkunjung. Soal ini akan dibicarakan lebih luas lagi kemudian.
Pernah pada
masa akhir-akhir ini muncul seorang tokoh yang mengungguli tokoh-tokoh
Alawiyyin yang lain dalam ilmu, pengaruh dan kedermawanannya, yaitu pribadi Habib
Muhammad bin Thahir Al-Haddad (wafat 1316 H.) sehingga sepakatlah
tokoh-tokoh Alawiyyin untuk mengangkatnya sebagai Nagib. Mereka telah
menandatangani piagam untuk pengangkatannya itu. namun ada seorang tokoh yang
cukup terkenal dan berpengaruh, tidak menyetujui pengangkatan itu, yaitu Habib
Husein bin Hamid Al-Muhdhar, sehingga rencana itu akhirnya gagal .
Ada pula
riwayat yarg menerangkan, selain Habib Husein tersebut ada dua tokoh lain yang
tidak menyetujui. Dengan demikian maka yang bersikap oposisi terhadap
pengangkatan itu hanya tiga orang saja, namun mereka orang-orang yang cukup
kuat, sehingga golongan oposisi yang kecil itu dapat mengalahkan mayoritas yang
menyetujui.
Barangkali,
seandainya pengangkatan Al-Haddad sebagai Nagib ini terlaksana, tokoh ini akan
mampu menarik Alawiyyin kembali kepada cara hidup pendahulu-pendahulunya, serta
menghidupkan tradisi-tradisi mulia yang hampir hilang.
5) Muhammad
bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah
bin Ahmad Al-Muhajir. Al-Fagih Al-Muqaddam adalah tokoh Alawiyin pertama yang
menyebarluaskan ajaran tasawuf, setelah mengenakan "khirgah" (baju
tasawuf) dari seorang tokoh ahli sufi, yaitu Syekh Abu Madyan. Al-Faqih
Al-Muqaddam menerima "khirgah" itu melalui seorang perantara, Syekh
Abdurrahman bin Muhammad Al-Muq'ad, seorang murid Syekh Abu Madyan. Syekh
Abdurrahman diutus oleh gurunya khusus untuk tugas itu, tapi ia telah wafat di
Makkah sebelum sempat menemui Al-Fagih Al-Muqaddam. Meski demikian, sebelum
wafat ia telah melimpahkan misi itu kepada kawan yang dapat dipercaya yaitu
Syekh Abdullah Al-Maghribi untuk menyampaikan "khirgah" kepada
Al-Fagih Al-Muqaddam di Tarim, Menurut kitab Al-Masyra 'Ar-Rawiy, Al-Fagih
Al-Mugaddam telah mencapai derajat Al-Mujtahid Al-Muthlaq di dalam ilmu
Syari'at, maqam Al Quthbiyah di dalam bidang tasawuf. Gurunya, Syech Muhammad
Bamarwan mengatakan Al-Faqih Al-Muqaddam telah memenuhi syarat untuk menduduki
jabatan AI-Imamah, Wafat 653 H.
6) Abdurrahman bin Muhammad (Maula Ad-Dawilah) bin Ali bin Alawiy bin Muhammad Al-Fagih Al-Muqaddam. Ulama besar yang telah mencetak berpuluh ulama, termasuk di antara mereka adalah putra-putranya sendiri, saudaranya Al-Imam Alawi bin Muhammad, Imam Sa'ad bin Ali Madzhij, Syekh Ali bin Muhammad Al-Khathib dan banyak lagi. Bergelar As-Sagaf karena kedudukannya sebagai "pengayom", serta tingginya derajat ulama ini baik dalam ilmu maupun tasawuf. Sangat terkenal sebagai dermawan. As-Sagaf telah mendirikan 10 mesjid disertai wakaf untuk mencukupi kebutuhan mesjid-mesjid itu, Memiliki banyak kebun-kebun kurma, namun segala kekayaan itu tidak sedikit pun memberatkan atau merisaukan hatinya, apalagi merintangi ketekunannya dalam ibadah. "Sehingga kalau seandainya dikatakan kepadaku," kata As-Sagaf, "kebun-kebun itu tidak ada yang berbuah, aku akan menari kegirangan“. Di antara kata mutiara As-Sagaf adalah sebagai berikut : "Manusia semua membutuhkan ilmu, ilmu membutuhkan amal, amal membutuhkan akal dan akal membutuhkan taufik. Semua ilmu tanpa amal tidak berguna. Ilmu dan amal tanpa niat adalah sia-sia. Ilmu, amal dan niat tanpa mengikuti sunnah adalah tidak diterima. Ilmu, amal, niat dan sunnah tanpa wara' (sangat hati-hati dalam menjalankan yang halal) adalah kerugian". As-Saqaf wafat pada tahun 819 H.
7) Umar Al-Muhdhar bin Abdurrahman As-Sagaf. Imam zamannya dalam ilmu, tokoh dalam tasawuf. Terkenal dengan kemurahan hatinya. Rumahnya tidak pernah sunyi dari para tamu yang datang berkunjung baik untuk kepentingan agama maupun kepentingan duniawi, Menjamin nafkah beberapa keluarga yang tak mampu dan mendirikan tiga buah mesjid. Umar Al Muhdhar terkenal dengan doanya yang amat mustajab. Wafat 833 H.
8) Abdullah bin Abubakar bin Abdurrahman As-Sagaf, terkenal dengan gelar A1-‘Aidarus (Alaydrus), Ia berusia 10 tahun, ketika ayahnya wafat dan langsung diasuh oleh pamannya, Umar Al-Muhdhar, yang sekaligus bertindak sebagai gurunya. Ia telah mempelajari ilmu-ilmu Syari'at, Tasawuf dan Bahasa. Ketika Al-Muhdhar wafat, ia berusia 25 tahun. Tokoh-tokoh Alawiyin telah sepakat untuk mengangkat Imam Muhammad bin Hasan. Jamal Al-Lail sebagai Naqib, namun menolak dan menyarankan agar mengangkat Abdullah Al-A'idarus ini untuk menggantikan pamannya. Ulama besar yang bertindak menyebarluaskan ilmu dan dakwah, tekun dan mengisi waktunya dengan ibadah, menyalurkan hartanya untuk kepentingan umum. Di dalam kitab Al-Masyra' dinyatakan: "Dalam kedermawanan bagaikan seorang amir, namun dalam tawadhu' bagaikan seorang fakir". Sangat senang menampakkan nikmat Allah atas dirinya dengan mengenakan pakaian-pakaian indah, kendaraan yang megah dan rumah yang bagus. Wafat 865 H.
9) Ali Zain Al-Abidin bin Abdullah bin Syekh Al-‘Aidarus, adalah seorang Imam yang terkenal dalam berbagai ilmu. Guru utamanya adalah ayahnya sendiri. Ia bertindak sebagai murid dan pelayan ayahnya, tidak pernah berpisah selama ayahnya hidup. Setelah ayahnya wafat, Zainal Abidin menggantikan ayahnya itu sebagai Naqib, mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran demi kepentingan masyarakat umumnya, dan Alawiyyin khususnya. Zain Al-Abidin sangat dihormati dan disegani oleh Sultan, di mana Sultan tidak memutuskan sesuatu sebelum terlebih dahulu meminta pendapat Imam ini, bahkan tidak jarang Sultan datang ke rumahnya untuk sesuatu kepentingan, baik yang bersifat pribadi maupun umum. Akibat kedudukan yang tinggi ini, Zain Al-Abidin menghadapi banyak lawan, namun selalu menghadapi mereka dengan cara yang bijaksana. sehingga akhirnya lawan berubah menjadi kawan. di samping sebagai guru besar dalam ilmu-ilmu Syariat, Tasawuf dan Bahasa, ia menguasai soal pertanian dan bidang -bidang profesi lain; memberi petunjuk kepada mereka yang memerlukan petunjuk, bahkan di penghujung hayatnya ia sering mengobati mereka yang menderita penyakit, sebagai tabib. Wafat 1041 H.
10) Ulama telah merasa puas dengan karya-karya Al-Ghazali dan An-Nawawi sehingga tidak merasa perlu untuk menyusun kitab-kitab sendiri baik dalam ilmu Syari'at, Tasawuf maupun Akhlak. Mereka mencurahkan tenaga dan fikiran untuk mengamalkan dan menyebarluaskan ajaran-ajaran yang terkandung di dalam kitab-kitab itu.
11) Abdullah bin Alawi bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam. Setelah menyelesaikan pendidikan pada ayah dan datuknya, Al-Faqih Al-Mugaddam, ia meneruskan pendidikannya ke Yaman dan Hijaz untuk berguru kepada ulama-ulama besar di kedua negeri itu Kemudian bermukim di tanah suci untuk menyebarluaskan ilmu dan mengajarkanya. Karena mengajar dikedua kota suci Makkah dan Madinah ia digelari Imam Al-Haramain dan Mujaddid abad kedelapan Hijriah. Ketika itu datang berita wafatnya Imam Ali bin Alwi (saudara kandungnya) dimana tokoh-tokoh Hadhramaut telah menulis sepucuk surat ta’ziah dan sekaligus memintanya kembali pulang ke kampung halaman untuk memimpin umat dan menggantikan kedudukan Almarhum sebagai da’i dan mengajarkan berbagai ilmu kepada mereka yang menuntutnya. Berpuluh murid telah dicetak menjadi ulama besar termasuk di antara mereka adalah putra-putranya sendiri, Ali, Ahmad dan Muhammad. Wafat di Tarim, pada tahun 731 H
12) Alawiyyin telah berjuang-bersama seluruh rakyat melawan portugis yang datang menyerang pesisir Hadhramaut dengan tujuan menduduki negeri itu pada tahun 1097 H. Berkat kegigihan mereka telah berhasil mengusir kaum kolonial, Kendati telah gugur para syuhada dalam peristiwa ini.
6) Abdurrahman bin Muhammad (Maula Ad-Dawilah) bin Ali bin Alawiy bin Muhammad Al-Fagih Al-Muqaddam. Ulama besar yang telah mencetak berpuluh ulama, termasuk di antara mereka adalah putra-putranya sendiri, saudaranya Al-Imam Alawi bin Muhammad, Imam Sa'ad bin Ali Madzhij, Syekh Ali bin Muhammad Al-Khathib dan banyak lagi. Bergelar As-Sagaf karena kedudukannya sebagai "pengayom", serta tingginya derajat ulama ini baik dalam ilmu maupun tasawuf. Sangat terkenal sebagai dermawan. As-Sagaf telah mendirikan 10 mesjid disertai wakaf untuk mencukupi kebutuhan mesjid-mesjid itu, Memiliki banyak kebun-kebun kurma, namun segala kekayaan itu tidak sedikit pun memberatkan atau merisaukan hatinya, apalagi merintangi ketekunannya dalam ibadah. "Sehingga kalau seandainya dikatakan kepadaku," kata As-Sagaf, "kebun-kebun itu tidak ada yang berbuah, aku akan menari kegirangan“. Di antara kata mutiara As-Sagaf adalah sebagai berikut : "Manusia semua membutuhkan ilmu, ilmu membutuhkan amal, amal membutuhkan akal dan akal membutuhkan taufik. Semua ilmu tanpa amal tidak berguna. Ilmu dan amal tanpa niat adalah sia-sia. Ilmu, amal dan niat tanpa mengikuti sunnah adalah tidak diterima. Ilmu, amal, niat dan sunnah tanpa wara' (sangat hati-hati dalam menjalankan yang halal) adalah kerugian". As-Saqaf wafat pada tahun 819 H.
7) Umar Al-Muhdhar bin Abdurrahman As-Sagaf. Imam zamannya dalam ilmu, tokoh dalam tasawuf. Terkenal dengan kemurahan hatinya. Rumahnya tidak pernah sunyi dari para tamu yang datang berkunjung baik untuk kepentingan agama maupun kepentingan duniawi, Menjamin nafkah beberapa keluarga yang tak mampu dan mendirikan tiga buah mesjid. Umar Al Muhdhar terkenal dengan doanya yang amat mustajab. Wafat 833 H.
8) Abdullah bin Abubakar bin Abdurrahman As-Sagaf, terkenal dengan gelar A1-‘Aidarus (Alaydrus), Ia berusia 10 tahun, ketika ayahnya wafat dan langsung diasuh oleh pamannya, Umar Al-Muhdhar, yang sekaligus bertindak sebagai gurunya. Ia telah mempelajari ilmu-ilmu Syari'at, Tasawuf dan Bahasa. Ketika Al-Muhdhar wafat, ia berusia 25 tahun. Tokoh-tokoh Alawiyin telah sepakat untuk mengangkat Imam Muhammad bin Hasan. Jamal Al-Lail sebagai Naqib, namun menolak dan menyarankan agar mengangkat Abdullah Al-A'idarus ini untuk menggantikan pamannya. Ulama besar yang bertindak menyebarluaskan ilmu dan dakwah, tekun dan mengisi waktunya dengan ibadah, menyalurkan hartanya untuk kepentingan umum. Di dalam kitab Al-Masyra' dinyatakan: "Dalam kedermawanan bagaikan seorang amir, namun dalam tawadhu' bagaikan seorang fakir". Sangat senang menampakkan nikmat Allah atas dirinya dengan mengenakan pakaian-pakaian indah, kendaraan yang megah dan rumah yang bagus. Wafat 865 H.
9) Ali Zain Al-Abidin bin Abdullah bin Syekh Al-‘Aidarus, adalah seorang Imam yang terkenal dalam berbagai ilmu. Guru utamanya adalah ayahnya sendiri. Ia bertindak sebagai murid dan pelayan ayahnya, tidak pernah berpisah selama ayahnya hidup. Setelah ayahnya wafat, Zainal Abidin menggantikan ayahnya itu sebagai Naqib, mencurahkan seluruh tenaga dan pikiran demi kepentingan masyarakat umumnya, dan Alawiyyin khususnya. Zain Al-Abidin sangat dihormati dan disegani oleh Sultan, di mana Sultan tidak memutuskan sesuatu sebelum terlebih dahulu meminta pendapat Imam ini, bahkan tidak jarang Sultan datang ke rumahnya untuk sesuatu kepentingan, baik yang bersifat pribadi maupun umum. Akibat kedudukan yang tinggi ini, Zain Al-Abidin menghadapi banyak lawan, namun selalu menghadapi mereka dengan cara yang bijaksana. sehingga akhirnya lawan berubah menjadi kawan. di samping sebagai guru besar dalam ilmu-ilmu Syariat, Tasawuf dan Bahasa, ia menguasai soal pertanian dan bidang -bidang profesi lain; memberi petunjuk kepada mereka yang memerlukan petunjuk, bahkan di penghujung hayatnya ia sering mengobati mereka yang menderita penyakit, sebagai tabib. Wafat 1041 H.
10) Ulama telah merasa puas dengan karya-karya Al-Ghazali dan An-Nawawi sehingga tidak merasa perlu untuk menyusun kitab-kitab sendiri baik dalam ilmu Syari'at, Tasawuf maupun Akhlak. Mereka mencurahkan tenaga dan fikiran untuk mengamalkan dan menyebarluaskan ajaran-ajaran yang terkandung di dalam kitab-kitab itu.
11) Abdullah bin Alawi bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam. Setelah menyelesaikan pendidikan pada ayah dan datuknya, Al-Faqih Al-Mugaddam, ia meneruskan pendidikannya ke Yaman dan Hijaz untuk berguru kepada ulama-ulama besar di kedua negeri itu Kemudian bermukim di tanah suci untuk menyebarluaskan ilmu dan mengajarkanya. Karena mengajar dikedua kota suci Makkah dan Madinah ia digelari Imam Al-Haramain dan Mujaddid abad kedelapan Hijriah. Ketika itu datang berita wafatnya Imam Ali bin Alwi (saudara kandungnya) dimana tokoh-tokoh Hadhramaut telah menulis sepucuk surat ta’ziah dan sekaligus memintanya kembali pulang ke kampung halaman untuk memimpin umat dan menggantikan kedudukan Almarhum sebagai da’i dan mengajarkan berbagai ilmu kepada mereka yang menuntutnya. Berpuluh murid telah dicetak menjadi ulama besar termasuk di antara mereka adalah putra-putranya sendiri, Ali, Ahmad dan Muhammad. Wafat di Tarim, pada tahun 731 H
12) Alawiyyin telah berjuang-bersama seluruh rakyat melawan portugis yang datang menyerang pesisir Hadhramaut dengan tujuan menduduki negeri itu pada tahun 1097 H. Berkat kegigihan mereka telah berhasil mengusir kaum kolonial, Kendati telah gugur para syuhada dalam peristiwa ini.
BAB III
TAHAP KETIGA
Tahap ini
bermula dan abad kesebelas H. hingga abad keempat belas H. Tokoh-tokoh abad ini
dikenal dengan gelar "Habib", seperti Habib Abdullah
Al-Haddad, Habib Ahmad bin Zen Al-Habsyi, Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahr
Al-Jufrie dan lain lain.
Tingkat
ilmiah dan tasawuf tahap ini secara umum berada di bawah tingkat sebelumnya.
Kendati demikian, telah muncul di atas pentas tokoh-tokoh yang cukup menonjol
serta pribadi-pribadi istimewa yang tidak kurang peranannya dari tokoh-tokoh
kedua tahap sebelumnya. Tokoh utama tahap ini adalah Habib Abdullah
Al-Haddad (wafat 1132 H.) (sebagai tokoh puncak golongan Alawiyyin masa
itu), dan Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfagih (wafat 1163 H.).
1. Hijrah
Kaum Alawiyyin
Tahap ini
ditandai dengan derasnya arus hijrah (melebihi masa-masa sebelumnya) ke India,
pada abad kesebelas dan keduabelas H. yang kemudian berlanjut dengan hijrah ke
negara-negara Asia Tenggara (Indonesia dan Malaysia) pada abad-abad berikutnya.
Adapun
faktor yang mendorong Alawiyyin melakukan hijrah adalah seperti telah
disinggung pada pembahasan perkembangan Alawiyyin pada masa tahap pertama
ditambah pula dengan perkembangan Alawiyyin di Hadhramaut melebihi masa-masa
sebelumnya. Sedemikian sehingga mereka yang berada di luar lebih besar dari
mereka yang berada di tanah air sendiri, di mana di negeri mereka (Hadhramaut)
kemungkinan yang tersedia tidak mampu memberi kepuasan bagi perwujudan
cita-cita mereka.
Oleh karena
itu, wajarlah kiranya apabila mereka berhijrah, lalu menjadikan daerah baru itu
sebagai tanah airnya. Dan tidak aneh pula apabila mereka kemudian menonjol,
serta menunjukkan kemampuan-kemampuan luar biasa sehingga dapat menduduki
posisi-posisi penting, memegang kendali perekonomian, kegiatan keagamaan bahkan
kadang-kadang juga kekuasaan eksekutif. Kaum Alawiyyin dalam hal ini juga
diikuti oleh golongan-golongan lain yang hijrah dari Hadhramaut, baik mereka
yang hijrah ke Timur Jauh, Afrika Timur, Hijaz (Saudi Arabia) dan lain-lain.
Bahkan ada di antara mereka yang kemudian mendirikan kerajaan atau kesultanan
yang peninggalannya masih dapat disaksikan hingga kini. Seperti kerajaan
Al-'Aidarus di Surrat (India), Kesultanan Al-Qadri dan Al-Syekh Abubakar di
Kepulauan Komoro (Comores), Al-Syahab di Siak, Al-Qadri di Pontianak dan Al-Bafagih
di Philipina.
Kerajaan-kerajaan
tersebut mempunyai sejarah terinci, sebagian di antaranya dimuat oleh majalah Ar-Rabithah
Al-Alawiyah dan majalah An-Nahdhah Al-Hadhramiyah. Kedua
sumber ini bisa dijadikan bahan penelitian bagi mereka yang berminat untuk
mengkajinya. Melalui kaum Alawiyyin, Islam tersebar luas di Indonesia, Malaysia
dan Philipina.
Hijrah kaum
Alawiyyin (dan saudara-saudara mereka lainnya dari Hadhramaut) ke negara-negara
tetangga (negara-negara Arab di Timur Tengah), tidak banyak mempengaruhi
tradisi, juga bahasa mereka, yakni di negara-negara yang berbahasa Arab,
seperti Hijaz (Saudi Arabia), negara-negara Teluk, Mesir, Syam (Suria) dan
Sudan, kendati di tiga negeri terakhir ini jumlah mereka tidak banyak.
Adapun di
perantauan luar Arabia, seperti negara-negara Islam tersebut di atas, maka
dengan sendirinya mereka telah mengadakan hubungan kekeluargaan melalui
pernikahan untuk mempererat hubungan dengan penduduk setempat, karena memang
sulit bagi mereka memboyong keluarga bersama mereka. Seandainya yang demikian
terjadi (yakni membawa isteri-isteri dan anak-anak mereka) maka bahasa Arab
akan lebih cepat dan lebih luas tersiar, sebagai bahasa Al-Qur'an yang
dimuliakan oleh kaum Muslimin.
Akan tetapi,
meskipun telah melakukan pembauran di daerah-daerah yang amat jauh itu, namun
hingga waktu yang lama mereka masih memelihara tradisi dan mengenang tanah air,
terutama Tarim, sebagai pusat ilmu dan pusat Alawiyyin. Sekali-sekali mereka
berkunjung ke negeri itu untuk berziarah. Baru beberapa abad kemudian hubungan
mereka dengan negeri asal berkurang, sehingga dengan mudah dipengaruhi oleh
lingkungan di mana mereka hidup, untuk lanjutnya terlebur di dalam periuk
acuannya, walaupun agama dan adat istiadat yang hak tetap terpelihara.
Bahkan pada
masa sementara Alawiyyin masih mengunjungi negeri asal, mereka telah membawa
kebudayaan dan tradisi India, Jawa (Indonesia), dan daerah atau negara lain di
mana mereka hidup. Hal ini tampak jelas pada awal abad ketigabelas H.
Adalah
sangat aneh jika ada sementara tokoh Alawiyyin yang menentang hijrahnya
Alawiyyin ke luar dan menganjurkan dengan gigih agar mereka tetap tinggal di
negerinya (Hadhramaut), terutama pada ketiga abad terakhir ini, namun tidak ada
di antara para pemikir atau sesepuh yang berusaha secara sungguh-sungguh
memberi jalan yang dapat menghalangi laju arus hijrah ini, yaitu dengan
menyebarluaskan kesadaran, menggalakkan pertanian, membuat mereka merasa puas
untuk hidup sederhana serta meninggalkan tradisi-tradisi yang merugikan. Kalau pun
ada, orang-orang yang cukup memperingatkan hal demikian itu, amatlah sedikit.
Di antara mereka adalah Habib Muhsin bin Alawi As-Saqaf (wafat 1293 H.)
Adapun untuk
tidak melakukan hijrah sama sekali dari Hadhramaut (baik bagi Alawiyyin maupun
penduduk Hadhramaut secara keseluruhan) memanglah merupakan hal yang tidak
dimungkinkan oleh keadaan negeri itu sendiri sejak dahulu kala.
Pada tahap
perkembangan ini, lahirlah jabatan "Munshib". Jabatan itu
sendiri dikenal sebagai "Manshabah". Sebagian besar Munshib
Alawiyyin muncul pada abad kesebelas dan abad keduabelas H. Seperti Munshib
Al-Attas, Munshib Al-'Aidarus, Munshib Al-Syekh Abubakar bin Salim, Munshib
Al-Habsyi, Munshib Al-Haddad, Al-Jufri, Al-Alawi bin Ali, Al-Syathiri, Al-Abu
Numay dan lain-lain.
Tugas yang
dilakukan oleh lembaga ini adalah tugas yang mulia dan bermanfaat, baik bagi
agama maupun bagi sesama manusia. Pemangku jabatan ini (yang menerimanya secara
turun temurun) selalu berusaha mendamaikan suku-suku yang bersengketa (khususnya
sengketa antara suku-suku yang bersenjata), menjamu tamu yang datang
berkunjung, menolong orang-orang lemah, memberi petunjuk kepada mereka yang
memerlukan petunjuk dan bantuan bagi yang memerlukan bantuan.
Lembaga ini
senantiasa memainkan perannya hingga kini (1948 M), sesuai dengan tujuan "Manshabah"
yang didirikan untuknya. Para Munshib tidak jarang mengorbankan harta dan
kepentingan pribadi demi tugas dan jabatannya. Hanya saja generasi yang
kemudian biasanya makin lemah bila dibanding dengan pendahulunya, baik di
bidang keahlian, kemampuan, maupun kewibawaan, sehingga secara berangsur,
lembaga ini makin lama makin berkurang peranannya. Hal ini terutama disebabkan
kurangnya perhatian terhadap pendidikan, baik ilmu maupun keahlian, sesuai
dangan apa yang dahulu dikuasai oleh bapak-bapak mereka.
Pada
pasal-pasal lampau telah dibicarakan sejarah perkembangan Alawiyyin dalam
berbagai bidang kehidupan pada ketiga tahap terdahulu. Kini hanya tinggal
bidang politik.
Adalah
merupakan prinsip yang menjadi pegangan tokoh-tokoh Alawiyyin, mereka
senantiasa menjauhkan diri dan tidak hendak mencampuri urusan politik, kecuali
dalam hal-hal yang erat hubungannya dengan kepentingan dan maslahat umum, yaitu
dengan menggunakan pengaruh spiritual mereka, dan hanya pada batas-batas
tertentu.
Disebutkan
dalam biografi bahwa Al-Muhdhar, Al-'Aidarus, Al-Adni, Zain Al-Abidin
Al-'Aidarus, Al-Haddad dan lain-lain, adakalanya mereka bergaul dengan para
raja dan penguasa negeri serta mengadakan surat menyurat dengan mereka. Para
penguasa itu pun sering meminta nasihat dan petunjuk dari tokoh-tokoh tersebut
serta mengharap doa mereka. Namun, bila diteliti hubungan mereka dengan para
penguasa nyatalah bahwa hubungan mereka tidak lebih daripada mengarahkan para
penguasa agar melakukan kebijaksanaan yang sesuai dengan keadilan dan
kepentingan umum.
Meskipun
tokoh-tokoh Alawiyyin mempunyai pengaruh spiritual yang cukup besar di kalangan
suku-suku bersenjata, namun mereka tak pernah mengeksploitasi pengaruh itu
untuk tujuan-tujuan yang tidak layak.
Jika
sekiranya mereka mengarahkan minat, demi kepentingan pribadi, atau berambisi
meraih kekuasaan politis, dengan mudah mereka akan mencapai apa yang
dinginkannya. Pada masa-masa itu seringkali peluang terbuka dan kesempatan ada,
namun mereka tidak pernah memanfaatkannya, seperti dapat diketahui oleh mereka
yang mengikuti dan mengkaji sejarah Hadhramaut. Seperti pada peristiwa yang
terjadi di antara Zain Al-Abidin Al-'Aidarus dengan Hasan bin Al-Qasim, Imam
golongan Zaidiyah dari Yaman, peristiwa Husein bin Sahl dengan Syekh Awadh
Gharamah, semua itu merupakan bukti-bukti nyata bagi apa yang dikemukakan tadi(13).
Dalam hal
ini, dapatkah kiranya dikemukakan alasan seperti telah disebutkan sebelum ini,
tentang langkanya karya-karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, dan budaya,
yaitu akibat sangat dalamnya pengaruh ajaran tasawuf dalam jiwa mereka? Atau
mungkin juga ada alasan-alasan lain yang hingga kini belum terungkap mengingat
apa yang terjadi dalam praktek seringkali jauh berbeda dengan dasar-dasar teori
semata?
Bagaimana
pun juga, jelaslah, bahwa Alawiyyin tidak pernah berusaha, apalagi
berpetualang, untuk mencapai keberhasilan dalam bidang politik baik untuk
mendirikan kerajaan atau kesultanan, seperti dilakukan oleh saudara-saudara
sepupu mereka yaitu Syarif-Syarif Mekkah, para Sultan di negeri Maghrib (Afrika
Utara) dan para Imam di Yaman.
Adanya
pribadi-pribadi tertentu dari kaum Alawiyyin yang pernah berhasil mendirikan
kerajaan atau kesultanan, seperti disebutkan sebelum ini, tidak dapat dijadikan
dasar umum bagi cara hidup salaf dan tokoh Alawiyyin. Kadang-kadang pengaruh
situasi dan kondisi begitu kuat untuk menentukan sikap. Suasana demikian itulah
yang membuat sementara Alawiyyin memegang tampuk pimpinan dan tidak dapat
mengelak untuk menghindar dari jabatan.
13) Salah
satu bukti yang menguatkan hal di atas adalah peristiwa di mana Sultan Badr bin
Thuwairiq berniat mengundurkan diri dari jabatannya dan menyerahkannya kepada
Al-Imam Husein bin Syekh Abubakar bin Salim (wafat 1044 H.). Namun Imam Husein
menolak dan menekankan kepada Sultan ini untuk tetap memangku jabatannya, serta
dia pun akan selalu membantu dan mendampinginya.
BAB IV
TAHAP KE EMPAT
Tahap ini
bermula dari abad ke-empatbelas H. hingga kini. Yakni, di dalam pasal ini kita
akan berbicara tentang keadaan kita sekarang, agar dapat membuat perbandingan
antara kita sendiri dengan perilaku dan sejarah salaf kita yang terdahulu.
Adalah
sangat disayangkan bahwa tahap ini (dibanding dengan tahap-tahap sebelumnya)
merupakan masa kemunduran dan kemerosotan di hampir semua bidang kehidupan.
Bahkan kemunduran dan kemerosotan ini merupakan gejala umum yang menimpa
seluruh dunia Islam.
Meskipun
demikian, adanya perbedaan antara tahap pertama dengan tahap-tahap berikutnya
memang benar-benar terasa. Makin jauh kereta sejarah berjalan, makin jauh
kemunduran dan kemerosotan itu terasa, makin surut sinar keagungan Alawiyyin
dan makin tenggelam ke dasar.
Keadaan
demikian ini merupakan kebalikan bagi bangsa-bangsa yang "hidup",
yang makin lama makin maju(14).
1. Diagnosa
dan Pengobatan
Faktor utama
yang menyebabkan kemunduran itu adalah tidak adanya pendidikan yang benar
dan tepat. Salaf kita dahulu adalah orang-orang yang amat ahli dalam bidang
ini. Melalui jalur itu, mereka mengarahkan putra-putra mereka sesuai dengan apa
yang mereka rencanakan dan mereka kehendaki, untuk memuaskan hati mereka.
Perguruan tinggi dan fakultas kaum Alawiyyin adalah alam terbuka dan lingkungan
hidup itu sendiri.
Adalah
keliru apabila kita beranggapan bahwa lingkungan kita, sekolah-sekolah kita,
majlis-majlis ta'lim kita sekarang merupakan sarana pendidikan yang di dalamnya
disalurkan ajaran-ajaran seperti yang dahulu diajarkan oleh salaf kepada
putra-putra mereka. Bahkan kenyataan yang kita lihat adalah kebalikan dari apa
yang dahulu dikerjakan oleh para salaf itu.
Kemerosotan
akhlak di kalangan sementara Alawiyyin telah mencapai derajat terendah, demikian
pula surutnya ilmu pengetahuan, di samping tersebarnya penyakit-penyakit
sosial.
Alhasil,
kini kita sedang mengalami kemunduran yang mengerikan, padahal jalan untuk
mengatasi semua itu adalah jelas, yaitu, kembali mengikuti cara hidup para
salaf dalam ilmu, akhlak dan amal, sehingga semua tindakan yang kita
lakukan sesuai dengan status kita di tengah masyarakat. Demikian pula halnya
dengan kaum Muslimin secara keseluruhan. Sebab, "akhir umat ini
tidak akan menjadi baik melainkan dengan cara-cara yang dahulu memperbaiki
pendahulunya", demikian ditegaskan oleh pemimpin besar umat ini,
Rasul Allah SAW. Marilah kita usahakan. Dan Allah akan senantiasa menolong
mereka yang membela dan menegakkan ajaran-Nya.
14) Kendati
suasana umum amat suram -pada tahap ini- namun ada juga tokoh-tokoh yang sangat
menonjol dalam ilmu dakwah dan perbaikan sosial seperti Al-Imam Ali bin
Muhammad Al-Habsyi Shohibul Maulid Simtud Dhuror (wafat 1333 H.), Al-Imam Ahmad
bin Hasan Al-Atthas (wafat 1334 H.), Allamah Abubakar bin Abdurrahman Syahab
(wafat 1341 H.), Habib Muhammad bin Thahir Al-Haddad (wafat 1319 H.), Habib
Husein bin Hamid Al-Muhdhar (wafat 1341 H.), dan banyak lagi tokoh yang lain.
Kendati demikian hal ini sangat kurang memadai bila dibanding dengan banyaknya
Alawiyyin secara keseluruhan yang memang cukup besar jumlahnya dan tersebar di
berbagai penjuru.
PENUTUP
Demikianlah ceramah yang kami sampaikan
di tempat yang penuh berkah, yaitu rumah kediaman Al-Faqih Al-Muqaddam di
Tarim, pada saat yang penuh berkah, yaitu dasawarsa ke-tujuh dari abad
ke-empatbelas Hijrah, dengan susunan yang diberkahi. Insya-Allah. Kami haturkan
kepada siapa yang bersedia menerbitkannya dengan beberapa catatan tambahan
seperlunya.
Hanya kepada Allah kami bersandar dan
berserah diri, serta mohon taufik demi mencapai kebenaran.
DAFTAR PUSTAKA
Nama Kitab /
Pengarang
- Al-Jauhar
As-Syaffaf fi Managib As-Sadah Al-Asyraf (Manuskrip):Abdurrahman
Al-Khatib
- Ghurar
Al-Baha Ad-Dhawi fi Manaqib As-Sadah Bani Alawi(Manuskrip):Muhammad
Ali Kherid
- At-Thiraz
Al-Mu'lam As-Silsilah Al-A'idarusiyah (Manuskrip):Syekh
bin Abdullah Al-A'idarus
- Catatan-Catatan
Penceramah (Manuskrip):Muhammad Ahmad As-Syathiri
- Al-Masyra'
Ar-Rawiy fi Manaqib As-Sadah Al-Kiram Bani Alawiy:Muhammad
Abubakar Syilliy
- Syarhul
Ainiyah :Ahmad bin Zen Al-Habsyi
- MajalahAr-Rabithah Al-Alawiyah:Ahmad Abdullah Assaqaf








