Sebagai peringatan,
Maulid telah menjadi Pro & Kontra dikalangan Muslim, padahal memperingati Maulid
Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam ada Dalilnya.
Mari kita bahas
satu-persatu.
Maulid
Nabi Muhammad adalah sebagai
Shalawat maka telah melaksanakan perintah ALLAH SWT dalam firmannya :
Bismillahirrahmanirrahim
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ
يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
"Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai
orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu
untuk Nabi dan
ucapkanlah
salam penghormatan kepadanya". (Qs.Al-Ahzab 33:56)
I.
Perayaan Maulid Nabi
membahas sejarah, Raja Al-Mudhaffar
Abu Sa`id Kaukabri ibn Zainuddin Ali bin Baktakin(l. 549 H. w.630 H.) seorang
raja berfaham Ahlu Sunnah wal Jama’ah, menurut Imam Jalaluddin Al-Suyuthi dalam
Kitabnya Al-Hawi lil Fatawa, bahwa raja tersebut tercatat sebagai raja pertama
yang memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW ini dengan perayaan yang meriah
luar biasa.
Dalam hal ini beliaulah raja
pertama yang merayakan bukanlah berarti sebelumnya tidak ada yang merayakan,
akan tetapi sebelumnya dilaksanakan juga, hanya saja tidak besar-besaran
sebagaimana perayaan Maulid Nabi secara besar-besaran yang dilaksanakan dizaman
Raja Al-Mudhaffar.
II.
Penjelasan Ulama
Ahli Hadits dari Ahlu Sunnah Wal Jama’ah
Kemudian Imam Jalaluddin AsSuyuti berkata dalam kitab Al-Hawi : "Menurut saya asal perayaan maulid Nabi
SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur'an dan kisah-kisah teladan Nabi
SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan
yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan,
tidak lebih. Semua itu tergolong bid'ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi
pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan
kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad SAW yang mulia"
III.
Sahabat Khulafaur
Rasyidin Memperingati Maulid Nabi
Dan telah berkata Sahabat Nabi Muhammad Shalallahu
Alaihi Wassalam yaitu sumber dari Kitab anni’matul
kubro ‘alaaal-’aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin
Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii, sebagai berikut :
·
Telah berkata Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq RA. :
قَالَ أَبُوْ بَكْرِ نِالصِّدِّيْقَ :«نْ اَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلٰى
قِرَاۤءَةِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ كَانَ رَفِقِيْ فِي الْجَنَّةِ»
Artinya:
“Barangsiapa
yang menafkahkan satu dirham bagi menggalakkan bacaan Maulid Nabi saw., maka
ia akan menjadi temanku di dalam syurga.”
·
Telah berkata Sayyidina‘ Umar bin Khattab
al-Furqan RA. :
قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ : مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدَ النَّبِيِّ قَدْ
أَحْيَا اْلإِسْلاَمَ»
Artinya:
“Siapa
yang membesarkan (memuliakan) majlis maulid Nabi saw. maka sesungguhnya ia
telahmenghidupkan Islam.”
·
Telah berkata Sayyidina Utsman bin ‘Affan
Dzun-Nuraini RA. :
قَالَ عُثْمَانُ ابْنُ عَفَّانَ مَنْ اَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلٰى قِرَاۤءَةِ
مَوْلِدِ النَّبِيِّ فَكَأَنَّمَا شَهِدَ غَزْوَةَ بَدْرٍ وَ حُنَيْنٍ»
Artinya:
“Siapa yang menafkahkan satu dirham untuk majlis membaca maulid Nabi saw.
maka seolah-olah ia menyaksikan peperangan Badar dan Hunain”
·
Dan telah berkata Sahabat sekaligus menantu Rasulullah,
yaitu Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib RA. :
قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طَالِبٍ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ: «مَنْ عَظَّمَ
مَوْلِدَ النَّبِيِّ وَكَانَ سَبَابًا لِقِرَاۤءَتِهِ لاَ يَخْرُجُ مِنَ
الدُّنْيَا إِلاَّ بِاْلإِيْمَانِ وَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ»
Artinya:
“Siapa yang
membesarkan majelis maulid Nabi
Saw. dan karenanya diadakan
majelis membaca maulid,
maka dia tidak
akan keluar dari dunia melainkan dengan
keimanan dan akan
masuk ke dalam
syurga tanpa hisab”.
(kitab fiqih anni’matul kubra
‘alal-’alam fii maulid
sayyidi waladi adam karya
Imam Syihabuddin Ahmad
ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii).
IV.
Israa Mi’raj menjelaskan
mengenai Shalawat dalam Maulid
“Rasulullah SAW bersabda :
Ketika aku diperjalankan
pada malam hari untuk mikraj ke langit, aku melihat ada malaikat yang memiliki
seribu tangan dan di setiap tangannya terdapat seribu jari jemari. Ketika ia
sedang menghitung setiap tetesan hujan yang diturunkan dari langit ke bumi, aku
bertanya kepadanya, "Apakah kamu mengetahui jumlah tetesan hujan yang
diturunkan dari langit ke bumi sejak Allah SWT menciptakan dunia? "Ya
Rasulullah, demi Allah SWT yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran
kepada makhluk-Nya, aku tidak hanya mengetahui setiap tetesan hujan yang turun
dari langit ke bumi, tetapi aku juga mengetahui secara rinci berapa jumlah
tetesan hujan yang jatuh di lautan, di daratan, di bangunan, di perkebunan, di
daratan yang bergaram, dan di pekuburan.
Rasulullah SAW bersabda kembali, "Aku sangat kagum akan kemampuan hafalan
dan ingatanmu dalam perhitungan."Malaikat berkata kembali, "Ya
Rasulullah, ketahuilah bahwa ada yang tak sanggup aku hafal dan mengingatnya melalui perhitungan tangan dan
jari jemariku ini.
"Rasulullah SAW
bertanya,"Perhitungan apakah itu?
"Malaikat menjawab,
"Aku tidak sanggup menghitung jumlah pahala shalawat yang disampaikan oleh sekelompok umatmu ketika namamu
disebut di suatu majelis."
(kitab hadist minhajul
abidin, kasyful gummah, kasyful ghaibiyah & daqa' iqul akhbar.)
V.
Lebih menguatkan lagi Dalil-dalil
lainnya yang memperbolehkan melakukan perayaan Maulid Nabi s.a.w.
1. Anjuran bergembira atas rahmat dan karunia Allah kepada kita. Allah SWT
berfirman:
Bismillahirrahmanirrahim
قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ
خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan
itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari
apa yang mereka kumpulkan.
(QS.Yunus 10:58)
Sesungguhnya
memperingati Maulid adalah bergembira karena lahirnya Nabi Muhammad.
2. Rasulullah SAW sendiri mensyukuri atas
kelahirannya. Dalam sebuah Hadits dinyatakan:
عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ
الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ
أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم
"Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya
mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku
dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku". (H.R. Muslim, Abud Dawud,
Tirmidzi, Nasa'I, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi
Syaibah dan Baghawi).
Kita pun mensyukurinya
dengan memperingati Maulid Nabi. Sesungguhnya memperingati
Maulid adalah sebab lahirnya Nabi Muhammad.
3. Diriwayatkan dari Imam Bukhari bahwa Abu Lahab setiap hari senin
diringankan siksanya dengan sebab memerdekakan budak Tsuwaybah sebagai ungkapan
kegembiraannya atas kelahiran Rasulullah SAW. Jika Abu Lahab yang non-muslim
dan al-Qur'an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan
kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang
beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW.
4. dalam maulid dibacakan Shalawat dan kisah Nabi Muhammad, sebagaimana ayat
ini
Bismillahirrahmanirrahim.
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ
ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
Artinya :
Dan
semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang
dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu
kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.
(Qs.Hud 11:120)
5. Sahabat Abbas Ra. memuliakan hari
kelahiran Nabi Saw dengan membaca syair Maulid dihadapan Nabi Saw, dalam suatu
riwayat Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra :
“Izinkan
aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab:
“silahkan..,maka
ALLAH akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang,
diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka
terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan
cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan
(Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)
6. Abu Lahab yang ternyata kafir saja diringankan siksanya karena dahulu
pernah bergembira memperingati lahirnya Nabi Muhammad,
“Diriwayatkan
bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas
bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka,
Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah
karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw”
(Shahih
Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul
iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431).
Abu lahab yang kafir saja
diringankan siksanyadi Neraka, apalagi bagi Muslim yang nyata sudah Islam.
7. Rasulullah saw memperbolehkan
Syair pujian Maulid di masjid.
Hassan
bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra,
lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg
lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada
Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku
dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra
berkata : “betul”
(shahih
Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)
8.
dibangkitkannya Rasul(Maulid) dikalangan orang-orang mukmin, Berkata
Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy
rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku
dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg
berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata
:
“hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan
Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah
swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”,
maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada
suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dengan
pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka
nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman ALLAH SWT :
Bismillahirrahmanirrahim.
لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ
إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ
وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ
لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
Artinya :
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada
orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul
dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah,
membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al
Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah
benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
(Qs.Ali Imran 3:164)
9. Mengenai tatacara pelaksanaanya
berbeda-beda ditiap muslim, ada yang melalui pembacaan maulid hingga bersedekah,
Maulid diwajibkan karena merupakan Shalawat, sementara tatacara pelaksanaannya yang
berbeda-beda ini termasuk Bid’ah Hasanah atau hal baru yang baik dizaman ini, (penjelasan
dari blog salafytobat) Pendapat
Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini
adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw
dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya
menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada
beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi Saw. Dan sebagaimana
penjelasan
Al-Imam al-Hujjah al-Hafiz Jalaluddin
as-Suyuthi:
Di dalam kitab beliau,
al-Hawi lil Fatawa, beliau telah meletakkan satu bab yang dinamakan Husnul
Maqsad fi ‘Amalil Maulid, halaman 189, beliau mengatakan: Telah ditanya tentang
amalan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم pada bulan Rabiul Awal, apakah hukumnya
dari sudut syara’? Adakah ia dipuji atau dicela? Adakah pelakunya diberikan pahala
atau tidak?
Dan jawabannya di sisiku: Bahawasanya asal kepada perbuatan maulid, yaitu mengadakan perhimpunan orang ramai, membaca al-Quran, sirah Nabi dan kisah-kisah yang berlaku pada saat kelahiran baginda dari tanda-tanda kenabian, dan dihidangkan jamuan, dan bersurai tanpa apa-apa tambahan daripadanya, ia merupakan bid’ah yang hasanah yang diberikan pahala siapa yang melakukannya karena padanya mengagungkan kemuliaan Nabi صلى الله عليه وسلم dan menzahirkan rasa kegembiraan dengan kelahiran baginda yang mulia.
Sekian
pembahasan kami, semoga bermanfaat.
Amin
(penulis :
randy ibrahim bafagih -LQBBS : www.baalwibafagih.org)






















