Sunday, August 13, 2017

WASIAT SAYYID MUHAMMAD MAULA AIDID (Al Faqih Shahib Aidid)

Sedikit Berbagi kebaikan Buat saudara dan kawan Sayyid Syarifah ...
Oleh : Habib Muksin bin Hud Alhabsyi

Al-Habib Al-Imam Al-Alamah Annahrir, dan yang mengamalkan dengan hal-hal dan teliti yang disepakati atas keutamaannya dan ketaqwaannya Muhammad bin Ali Maula Aidid.
Beliau dilahirkan di Tarim dan wafat di Tarim pada tahun 862 H. setelah menghabiskan hidupnya kira-kira lebih dari 100 tahun sebagaimana biografinya di dalam kitab “Masyro’ Rawi “. Maka sepanjang hidupnya beliau se zaman dengan Al-Imam Al-Habib Muhammad bin Ali Maula Dawilah dan anak-anak dan cucunya, Al-Habib Abdurahman Assegaf, Al-Habib Umar bin Muhdor dan saudara-saudaranya, kemudian Al-habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus dan anak-anaknya yaitu Al-Imam Abubakar Al-Adny bin Abdullah Alaydrus serta saudara-saudaranya.
Dan banyak yang telah lulus menjadi para Ulama di bawah asuhannya dan didikannya diantaranya Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus dan saudaranya Al-Imam Syekh Ali bin Abubakar Assakran.
Beliau Rahimahullah adalah seorang yang giat ibadah dan dermawan dan menjadikan tempat ibadah untuk sambil mengasingkan diri dari manusia, dan membangun Masjid yang masih sampai sekarang dinamakan Masjid Maula Aidid, beliau selalu melazimkan taat kepada Allah Ta’ala secara ihtiyat/ tanpa paksaan. Kemudian teman-temabnya sejawat beliau membangun bangunan di dekat Masjid Maula Aidid sampai menjadi desa yang ramai yang bersambung dengan kota Tarim sekarang dan dinamakan perkampungan tersebut perkampungan Aidid. Dan beliau senantiasa taat kepada Arrahman yang Maha Pengasih sampai berpulang ke rahmatullah dan dikuburkan di Pemakaman Zanbal, semoga Allah merahmatinya dan bermanfaat kepada kami, Amin…..
( Ringkasan dari Kitab “ Masro’ Rawi ).

Wasiat.
Wasiat dan nasehat dari Assyekh Al-Kabir Al-Qutb Assyahir Al-Arif Billah, dzi Al-Ahwali Al-Aliyah wal karomah Al-Khariqah wal Asror Asshodiqoh, Sayyidina Assykeh Abi Abdillah Jamaluddin Muhammad bin Ali Maula Aidid, untuk para ikhwan dan pencinta-pencinta beliau dan untuk yang mengamalkan dan mendengarkannya dan semua para muslimin Wallahu Waliyu Taufik.

Amma Ba’du
Ketahuilah olehmu wahai Saudaraku, jika engkau meminta keselamatan untuk dirimu, maka engkau harus menuntut ilmu yang bermanfaat. Maka sesungguhnya ilmu itu adalah pusat dan sumber setiap sesuatu dan kebaikan semuanya terdapat didalam menuntut ilmu yang bermanfaat dan beramal. Dan ilmu yang bermanfaat terdapat di kitab-kitab karangan Al-Imam Al-Ghozali, maka seyogyanya engkau mentelaahnya khusunya “ Bidayatul Hidayah “ dan “ Ihya Ulumuddin “, maka sesungguhnya kitab-kitab tersebut menjelaskan kepadamu tentang ilmu An-Nafi dan menyelamatkan kepadamu dan menjauhkanmu dari kejahatan. Dan kejahatan semuanya terdapat didalam pergaulan orang-orang yang jelek tingkah lakunya dan bodoh, dan mendengarkan perkataan mereka dan sesungguhnya bergaul kepada orang-orang yang jelek perangainya dan tingkah lakunya itu mewariskan prasangka buruk kepada orang-orang yang baik dan shaleh, dan sesungguhnya bergaul kepada orang-orang yang bodoh itu mewariskan semua kejelekan, Na’uzu billahi min dzalik.
Dan hati-hatilah engkau kemudian hati-hati dari bergaul kepada orang yang meng-ghibahi orang muslim, karena sesungguhnya ghibah lebih besar dosanya dari 33 kali melakukan zina di Agama Islam. Dan kebaikan itu semuanya terdapat didalam menjauhi hawa nafsunya, dan tetapi belajar ilmu yang bermanfaat itu adalah pangkal/asas/pondasi, seandainya orang yang jahil ( bodoh ) beribadah kepada Allah SWT seperti ibadahnya semua penduduk langit dan bumi, maka adanya dia termasuk orang rugi, kabur dan kaburlah engkau dari ucapan manusia, sebagian mereka kepada sebagian yang lain. Hati dan hati-hatilah  engkau dari bergaul kepada orang yang buruk akhlaknya, maka sesungguhnya lidah-lidah mereka manis, dan perbuatan mereka itu buruk dan melanggar, maka hati-hatilah dari mereka.
Dan wajib engkau berbuat tawadhu/rendah hati kepada semua makhluk, dan hatimu sedih atas dosa-dosamu dan lalaimu pada semua perkara yang diperintahkan oleh Allah SWT.
Dan wajib engkau bersedih, karena sesungguhnya bersedih itu tumbuh dengan sifat tawadhu, dan tawadhu itu kebaikan semuanya, dan kesombongan itu kejelekan semua, dan engkau tidak mengetahui tawadhu/rendah hati kecuali dengan ilmu. Dan wajib atasmu mencari ilmu dan mendengarkan kepada ahlinya, dan tekun mendengarkan ilmu, maka sesungguhnya ilmu cahaya semuanya dan kebodohan itu kegelapan semuanya, dan tidak ada sesuatu yang lebih besar daripada kebodohan yaitu mengakunya seseorang berilmu padahal ia bodoh, Nau’dzu billahi mindzalik, dan kami minta ampun pada Allah SWT.
Dan kebaikan tidak dapat bermanfaat beserta kesombongan, dan kesalahan itu membahayakan beserta tawadhu dan barang siapa yang menyembah Allah SWT tanpa ilmu, maka sesuatu yang merusaknya itu lebih banyak daripada memperbaikinya.
Ilmu bermanfaat ialah ilmu yang terdapat/tercantum di kitab karangan Imam Al-Ghozali, karena terdapat pada kitab tersebut kebaikan semuanya, dan barang siapa yang tidak mendapatkannya dan tidak mentelaah kitab-kitab tersebut, maka ia orang yang merugi/tertipu. Dan barang siapa yang tidak minat/enggan mentelaah kitab tersebut, maka ia mencintai dunia ( hubbud dunia ) dan tidak mencintai akhirat, dan barang siapa mencintai Al-Imam Al-Ghozali, semoga Allah meridhoinya, maka ia mencintai akhirat.
Dan wajib engkau berpegang pada kitab “ Bidayatul Hidayah “, bacalah setiap hari, karena sesungguhnya lebih utama dari semua dzikir-dzikir, dan menjadi wajib atasmu, aku berwasiat kepadamu untuk membacanya dan merenunginya. Dan mintalah kepada orang yang membacanya untukmu, apabila engkau tidak bisa membacanya, mintalah kepada orang yang membacanya dari orang-orang yang mencintai kitab tersebut, dan mempunyai roghbah/keinginan padanya, karena yang demikian itu insya Allah menunjukkanmu kepada kebaikan.
Dan wajib atasmu berbakti kepada kedua orang tua ( birrul walidain ) dan tekunlah dalam berbakti kepada keduanya, dan mintalah ridho keduanya, dan lembutkanlah keduanya seperti ayah ibumu, kakekmu, nenekmu dan seterusnya, adapun dzawul arham seperti saudaramu laki dan perempuan, pamanmu, bibimu dari pihak ayahmu dan ibumu dan kerabatmu semuanya maka berbaktilah kepada mereka semampumu, dan istrimu lemah lembutlah dia dan baguskanlah mempergaulinya, dan budakmu perbaguskanlah ia, jika ia lalai, dan sebutkanlah perbuatan-perbuatannya terpuji yang telah lalu, dan berbaiklah perangaimu, budi pekertimu dengan mereka semuanya secara khusus, dan orang banyak secara umum. Sesungguhnya kebaikan semua terdapat pada baiknya akhlak dan kejahatan semua terdapat pada jeleknya akhlak.
 Nasehat ini semuanya, dan yang lainnya, dan yang lebih bagus terdapat pada kitab “ Bidayatul Hidayah “, maka seyogyanya atasmu membacanya dan mendengarkan bacaannya, jadikanlah sebagai ratibmu., lebih utama dari semua dzikir-dzikir, dan janganlah engkau tertipu dengan ucapan orang yang bodoh, karena orang bodoh itu tidak mengetahui dimana keselamatan, dia merusak dirinya dan membinasakan orang lain, dan hati-hati mendengarkan perkataan orang bodoh, karena itu adalah racun yang membunuh lagi membinasakan.
Dan hati-hatilah engkau dari mujalasah ( duduk dan bergaul ) pemerintah-pemerintah yang dzolim, pemerintah pada zaman ini semuanya orang-orang yang dzolim, maka hati-hatilah engkau dari mereka, janganlah engkau tertipu oleh ucapan mereka dan penghadapan/gerak-gerik mereka, karena pada ucapan mereka terdapat racun yang mematikan sekalipun kelihatannya baik, karena sesungguhnya didalamnya ada kejahatan sekalipun datang kepadamu dengan pengetahuan akal dan ilmu, ucapan semua tipuan yang pasti, karena sesungguhnya ucapan mereka dan hati mereka berbeda sekali. Maka janganlah engkau tertipu oleh ucapan mereka dan manisnya lidah mereka, jauhlah engkau dari mereka semampumu, dan larilah engkau dari mereka seperti larimu dari singa, karena mereka membahayakanmu dalam urusan agama dan duniamu, walaupun akan datang, maka hati-hatilah dari mereka, dan teman-teman mereka, dan orang yang berlindung pada mereka, karena dia sebagian dari mereka dan seperti mereka, dan orang yang mencintai mereka dan bergaul kepada golongan mereka.
Dan hati-hatilah engkau dari ahli fiqh zaman ini, mereka yang dekat kepada pemerintah, dan mereka menganggap bahwasanya tujuan dekat itu kebaikan dan maksud mereka itu memberi manfaat kepada manusia, demi Allah mereka telah berdusta, tidaklah maksud mereka kecuali mencari martabat dan kepopuleran dan hasad, ghibah, namimah dan selain itu, maka sangat hati-hatilah engkau dari mereka, karena kejahatan mereka nampak atasmu.
Dan wajib atasmu menolong orang-orang yang lemah lagi tidak berdaya, mereka lari dari pemerintah dan massa mereka karena kezhaliman, sesungguhnya para pemerintah yang dzolim itu musuh-musuh Allah dimuka bumi ini, dan mereka tidak mempunyai pekerjaan melainkan berbuat dzolim dan mengganggu orang-orang Muslim, Na’uzu Billah dari mereka, kami meminta perlindungan kepada Allah dari orang yang dekat kepada mereka, mudah-mudahan Allah melindungi kita dari semua kejahatan, dan Allah memberi taufik kepada kita dan kamu sekalian setiap kebaikan, dengan rahmatnya, karunianya, kedermawanannya, pemaafaannya dan mulianya, Amin.
Dan tekadkanlah kesabaran atas memerangi hawa nafsu, karena mengikutinya itu adalah penyakit yang tertimbun paling besar dan tidak mengikutinya itu kesembuhan dan obat yang terang, tetapi tidaklah dapat untuk melawan hawa nafsu kecuali dengan mengetahuidan ilmu. Dan tanyalah tentang ilmu dan carilah, jangan sombong dan merasa enggan bertanya kepada Ulama Akhirat, dan tekunilah kepada mereka, dan mintalah kepada mereka dimana mereka ( Ulama ) berada, jangan lemah dan malas, karena lemah dalam bertanya itu ke fakiran semua, saya maksudkan lemah dari urusan agama. Kesombongan membawamu pada urusan duniamu dan hawa nafsumu tidak lemah ( bersemangat ), dan urusan agamamu dan akhiratmu dan akhiratmu lemah lagi malas, dan inilah tanda jauh dari Allah SWT, dan kebaikan semuanya.
Dan ketahuilah olehmu wahai saudaraku, sesungguhnya kesenangan dunia itu racun yang mematikan. Ketakutan kepada Allah SWT keluar dari hatimu, dan hilang juga ketakutan akhirat dari hatimu, maka inilah tanda jauh dari Allah SWT dan dari kebaikan semuanya.
Dan ketahuilah olehmu wahai saudaraku, sesungguhnya kesedihan dunia itu lebih baik dari kesenangannya, dan ketahuilah sesungguhnya apabila kamu mati, maka engkau di pertanggung jawabkan dari setiap kalimat, gerakan dan diam dalam urusan agama dan duniamu, maka bagaimanakah engkau tidak menangis atas dirimu dan atas apa-apa yang hilang dari umurmu pada urusan yang tidak berguna dan tertawa dan bercanda, dan sedikit memerangi hawa nafsu pada urusan agama dan duniamu.
Alangkah ruginya sedikit orang yang berdzikir dan sedikit para pencari cinta pada kebaikan, heran sungguh heran tidak ada yang malu kepada Allah. Maka wajib atasmu wahai saudaraku, taubat dan penyesalan, dan mencabut semua dosa ( tidak melakukan dosa lagi ), dan dari sesuatu yang menarik pada dosa-dosa, yaitu bercampur baur kepada manusia kecuali bercampur kepada orang yang melarangmu terhadap dosa, dan mengenalimu akan aib-aib dirimu, maka sesungguhnya bercampur baur terhadap manusia tanpa berhati-hati itu musuhmu yang paling menular atasmu. Jadilah engkau pelawan atasnya, dan jangan engkau butuh terhadapnya, dan hati-hatilah darinya, maka hati-hati engkau darinya karena kejahatan. Semuanya bersambung dari arahnya dan janganlah engkau ridho atasnya selamanya, maka jika engkau ridho terhadap nafsumu, Allah Ta’ala murka kepadamu, dan jika engkau tidak ridho atas nafsumu dan engkau marah kepadanya, Allah Ta’ala ridho terhadapnya.
Dan ketahuilah olehmu sesungguhnya pangkal kelalaian dan dosa semua itu terdapat dalam ridhomu atas dirimu, karena ridho atas nafsumu itu musuh Allah Ta’ala., dan barang siapa yang mencintai Allah ta’ala maka ia harus membenci musuhnya. Dan ketahuilah olehmu sesungguhnya nafsumu itu musuh yang paling menular kepadamu dan kepada Allah Ta’ala, maka wajib atasmu tidak mengikuti hawa nafsumu. Dan aku berwasiat kepadamu dengan setiap sesuatu yang menentang hawa nafsumu, tanyalah kepada orang yang mengetahui dan kepada orang yang lebih ‘alim darimu, dan mintalah petunjuk, dan tekunilah atas permintaanmu, dan janganlah engkau sombong dan jangan beralasan dengan alas an untuk yang bathil lagi dusta, karena sesungguhnya nafsu itu jelek, penipu lagi pembuat tipu daya, dan mintalah perlindungan kepada Allah Ta’ala darinya, dan dari setan yang terkutuk lagi terlaknat, mintalah bantuan dari Allah dan dari Ulama akhirat dan dari semua Muslimin yang kecil maupun yang besar, laki-laki maupun perempuan, yang merdeka maupun yang budak, dan jangan engkau menghina salah satupun dari mereka, dan jangan merasa sombong atasnya, khususnya kepada orang yang membaca kitab-kitab Imam Ghozali, dan kepada orang yang selalu membaca mu’zakarah dan pengetahuan terhadap kitab-kitabnya, maka terus meneruskanlah engkau setiap hari atas sehari berselang seling, tekunilah dan terus meneruskanlah atas demikian itu, karena aku penasehat bagimu dan pencintamu, dan Allah yang mengetahui demikian tersebut, kami meminta kepada Allah Ta’ala agar memotong keserakahan kami dari yang lainnya, dan tidak menggantungkan kami kepada selainnya.
Dan wajib atasmu merasa tidak berdaya, hina dan sangat membutuhkan dihadapan Allah SWT dan tawadhu/rendah hati kesemua makhluk Allah, tanpa ada perasaan hina dan sangat membutuhkan kepada mereka, bersifat mulia tanpa ada kesombongan, dan berkeyakinan bahwasanya semua makhluk itu lebih baik darimu, dan lebih bagus dan lebih berakal darimu, dan barang siapa yang tidak dzuhud ( meninggal sesuatu yang besifat duniawi ) dalam harta dan kedudukan maka haramlah ia menuntut akal ( tidak memikirkan akibatnya ). Dan barang siapa mencintai bergaul kepada manusia, dan mendengarkan ucapan mereka, maka ia adalah orang yang celaka lagi jauh dari kebaikan ini semua ucapan para Ulama yang arifin dan aku menyaksikan yang demikian.
Wajib atasmu membaca kitab “ Bidayatul Hidayah “ karena didalamnya terdapat obat dan penyembuhan dan kebaikan semua terdapat di kitab-kitab Imam Ghozali, tekunilah engkau atas kitab-kitab tersebut, kapan sesungguhnya tekadmu itu dingin tampaknya, maka sampai kapan menunda-nunda perbuatan dan sampai kapan engkau lalai sedangkan kematian itu dekat dan kiamat dekat, tanda kiamat ini sungguh telah dekat sekali………., beramallah sebelum penyeselan yang panjang, dimana tidak seorangpun menolong temannya, berapa banyak yang menyesal, berapa banyak yang rugi, dan tidak bermanfaat penyesalan, giatlah kemudian giatlah, dan tekadlah karena sesungguhnya dunia itu lebih dari setiap sedikit, dan tidaklah bersamamu dari sedikit kecuali sedikit di dalam hidup sedikit.
Dan aku sangat berwasiat untuk bermurah tangan dan bermurah hati didunia, karena sesungguhnya orang dermawan itu dekat kepada rahmat Allah Ta’ala, tetapi sembunyikan dan rahasiakanlah karena sadaqah sir ( tidak kelihatan dimata manusia ) itu lebih baik dari sadaqah yang dzohir ( tampak dimata manusia ) dengan balasan 70 kali apabila berbuat ikhlas karena Allah Ta’ala.
Dan hati-hatilah engkau memperbanyak penekuan terhadap dunia, sedikitkanlah, karena sesungguhnya meninggalkan dunia itu lebih baik dari sadaqah sebesar dunia, dan meninggalkan 1 dirham yang subhat itu lebih baik dari seratus ribu dirham dan seratus ribu dirham sampai enam ratus ribu ini semua terdapat di hadits shahih dari Nabi Muhammad S.A.W.
Kebodohan pangkal semua kecelakaan, dan lebih besar dari kebodohan adalah kebodohan/ketidak tahuan dirinya dengan kebodohan yang ada pada dirinya, dan janganlah engkau ridho kepada nafsumu dengan kemalasan, dan hati-hatilah engkau dari tekad yang dini ( terburu-buru) dan ketahuilah olehmu sesungguhnya mencintai dunia itu pangkal semua kesalahan.
Dan sebagian tanda makruh kepada dunia adalah mengumpukan, dan barang siapa mengumpulkannya itu akan mati dan meninggalkannya, berapa waktu umur manusia di dunia ?. Aku berwasiat kepadamu dalam jiwamu wahai saudaraku, sesungguhnya hartamu itu fitnah atasmu, dan semua makhluk itu fitnah atasmu, dan semua ini fitnah-fitnah atasmu, sedangkan engkau lali dari ke khususanmu ridho Tuhanmu dan engkau menyia-nyiakan waktumu semuanya dari sejak pagi sampai sore.
Dan pergunakanlah sebenar-benarnya dalam menghidupkan amalan diantara Maghrib dan Isya karena waktu itu adalah waktu yang mulia dan tinggalkanlah pembicaraan yang tidak berguna setelah shalat Isya kecuali jika pembicaraan tersebut berkaitan mengenai orang-orang yang shaleh atau berkaitan dengan ilmu yang mana kamu mengambil manfaat, jika tidak maka janganlah engkau menutup amalanmu dengan sesuatu yang dimurkai oleh Allah Ta’ala dan fudul kalam ( mencari sesuatu berita yang bukan haknya ) atau ghibah ( mengumpat ) atau yang lainnya.
Dan bersungguh-sungguhlah engkau bangun tidur sebelum fajar, karena itu sunnah dan terdapat karunia yang besar, dan tekunilah dengan perbanyak amalan setelah subuh, karena itu waktu yang terdapat karunia besar yang tak terhitung dan jangan berbicara sebelum terbit matahari, karena terdapat karunia besar yang tak terhitung.
Aku berwasiat kepadamu untuk merasa takut dan sedih dan inkisar ( merasa tak berdaya ), maka janganlah engkau kosong dari sifat-sifat yang demikian jika engkau ridho Allah SWT dan Rasulnya S.A.W. Kebaikan semuanya berada dalam kehinaan dan inkisar ( merasa tak berdaya ) dihadapan Allah SWT, dan meninggalkan kesenangan duniawi, karena Allah SWT tidak mencintai orang-orang yang senang dengan dunia. Dan kesenangan kepada Selain Allah SWT itu tanda jauh dari Allah Ta’ala.
Aku berwasiat kepada mu kemudian aku berwasiat kepadamu untuk mengatur waktu-waktumu, karena yang demikian itu terdapat simpanan-simpanan yang kekal, dan simpanan-simpanan dunia itu tidak memberi manfaat kepadamu apabila engkau mati, dua raka’at yang engkau shalat pada tengah malam hari itu lebih utama dari dunia dan seisinya, dan ia merupakan simpanan dari simpanan-simpanan surga, dan amal tidak bermanfaat tanpa ilmu, dan antara orang yang berilmu dan orang yang beribadah 100 derajat, dan antara derajat dengan derajat yang lain seperti antara langit dan bumi. Keutamaan orang ‘alim atas orang yang beribadah seperti keutamaan Nabi Muhammad S.A.W. atas semua makhluk. Kebaikan semua ada di Ilmu yaitu Ilmunya Imam Alghozali khususnya yang dititipkannya di kitab “ Ihya Ulumuddin, dan aku menyaksikan yang demikian itu dengan pasti. Ulama dan para Sufi semuanya menyaksikan juga, kecuali Ulama Dunia, Na’udzubillahi minhum. Karena tidur beserta ilmu lebih baik dari beibadah beserta jahil ( bodoh ). Kekenyangan beserta ilmu lebih baik daripada kelaparan beserta kebodohan. Berapa banyak telah datang riwayat yang menerangkan keutamaan orang ‘alim yang tidak bisa dihitung penjelasannya, dan melihat memandang orang ‘alim lebih baik dari ibadah setahun. Berapa banyak penyebutan tentang ilmau tetapi ilmu yang bermanfaat itu seperti kitab “ Ihya Ulumuddin “ dan kitab “ Bidayatul Hidayah “ dan yang lain-lain dari kitab-kitab Imam Al-Ghozali, semoga Allah memberi manfaat kita berkat Imam Al-Ghozali di akhirat. Semoga Allah memberi manfaat kita dengan  ilmu yang kita ajarkan dengan kita amalkan, dan tidak menjadikan bahaya duror atas kita, berkat Nabi Muhammad S.A.W. dan keluarganya dan sahabatnya dan semua hamba-hamba Allah S.W.T. yang Shaleh, Amin Allahumma Amin.
Dan wajib atasmu sedikit berbicara, berdiam dan kabur dari perbincangan manusia pada zaman ini yang sedikit kebaikan. Semoga Allah memutuskan kita dari selainnya dan tidak menggantungkan hati kami dengan selainnya, dan menggampangkan dunia kepada kami, dan jauh-jauh dari manusia, karena kebaikan semua terdapat pada kejauhan dari meraka. Rasulullah S.A.W. bersabda “ Afdholul muslimin man salima annasu min lisanih wayadih “ artinya “ sebaik-baiknya muslimin yaitu seseorang yang selamat manusia dari lidahnya dan tangannya, dan hendaknya tidak berburuk sangka kepada manusia, karena buruk sangka kepada muslimin itu haram “. Jika engkau jauh dari mereka, maka mereka selamat darimu dan engkau selamat dari mereka, dan jika engkau bergaul kepada mereka dan mendengarkan ucapan mereka, maka engkau membinasakan dirimu, dan bersangka kepada pembicara dan yang dibicarakan. Setiap yang bergaul kepada manusia maka banyak maksiatnya sekalipun bertaqwa pada dirinya.
Dan aku berwasiat kepadamu hendaknya engkau tidak keluar dari rumahmu kecuali dalam keadaan darurat, atau keperluan yang penting, dan engkau hendaknya diam ketinggalan dari ucapan manusia dan dari memperhatikan kabar-kabar mereka, hati-hatilah dari pemerintah, dan setiap sesuatu yang dekat kepada mereka, karena mereka pembinasa, melihat kepada mereka itu adalah racun yang mematikan, dan melihat kepada mereka setiap orang yang bodoh itu mengeraskan hati, sebagaimana melihat kepada orang ‘alim mengkhususkan hati dan mengingatkan akhirat.
Dan wajib atasmu wahai saudaraku, menuntut  keselamatan untuk dirimu, dan janganlah engkau mempersulit atas dirimu karena Allah Ta’ala, dialah yang Maha Menolong, Ma’uwnah ( bantuan ) dari Allah Ta’ala. Kemudian dari semua hamba-hambanya yang shaleh lagi arifin, tawadhu, saling berwasiat lagi saling mencintai dijalan Allah dan Rasulnya, semoga Allah memberi manfaat kami berkat semua Muslimin, dan melindungi kami dari kejahatan nafsu kita dan dari tipu daya syaithan. Kami minta ampun kepada Allah dari dua perkara ini dengan tanpa ilmu dan hati yang tidak hadir beserta gangguan khotir ( lintasan hati ).
Terimalah wahai saudaraku nasehat ini, sekalipun kurang dan ditulis dengan terburu-buru, dan tanpa hati yang hadir, jika aku menghendaki akan aku tulis seribu lembar, maka tidak bermanfaat kata-kata lucu ini, dan betapa lucunya engkau mengetahui bahwa kami menulis lembaran ini dengan tergesa-gesa.
Mudah-mudahan Allah memperbaiki hati dan mengampuni dosa dan ridho dan menerima dan memberi taubat, dan sekalipun tidak ada mahabbah ( kecintaan ) niscaya tidak ditulis lembaran-lembaran ini,
Wassalam, Washallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa alihi wa shohbihi wassallam.
Sumber : Maula-Aidid

Asal Mula Surat Al Kautsar


Hadrat Fatimah az-Zahra Ra. lahir menghiasi kebahagiaan Hadrat Khadijah Ra. dan Rasulullah Saw. Sebelum kelahirannya, Nabi Saw memiliki dua putra, Qasim dan Tahir, akan tetapi kedua putra beliau ini meninggal selagi mereka masih belia.
Nabi Saw memulai menyebarkan ajaran Islam dan mendapatkan musuh-musuh akibat dakwah ini. Sebagai hasilnya, beberapa kaum Musyrik memulai melancarkan ejekan kepada beliau akibat kematian putra beliau, dengan memanggilnya sebagai “Abtar“.
Istilah Abtar ini bermakna seekor binatang yang tidak memiliki ekor – betapa kejinya orang-orang mengejek Nabi Saw dengan “Abtar” karena beliau tidak memiliki anak yang akan melanjutkan garis keturunannya.
Kemudian, ketika Hadrat Fatimah Ra. lahir, turunlah surat al-Qur’an berikut ini:
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan Nama Allah Yang Mahakasih dan Mahasayang
اِناّ اَعْطَيْنكَ اَلْكَوْثَر °
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (wahai Muhammad) nikmat yang           
melimpah : kautsar.
فَصَلِّ لِرَِِِبِّكَ وَانْحَرْ °
Oleh karena itu, pujilah Tuhanmu dan berkorbanlah.
اِنَّ شا نئَك هُو البترٌ °
  Sesungguhnya orang yang membencimu dialah yang terputus (tidak akan memiliki 
.(keturunan
Ketika Nabi Saw ditanya tentang apa arti dari kautsar, beliau menjawab bahwa kautsar berarti sebuah sungai di Surga dan seseorang yang akan memberikan air dari sungai tersebut kepada orang-orang Mukmin adalah Imam ‘Ali al-Murtada Ra.
Kemudian Nabi Muhammad Saw berkata bahwa kautsar juga bermakna nikmat yang melimpah, dan kelahiran Sayidah Fatimah menandakan bahwa, melalui dirinya, keturunan Rasulullah Saw akan melimpah ruah.
Janji Allah terbukti karena hari ini, keturunan Nabi Muhammad Saw tidak terhitung banyaknya, (Sayyid), sementara tidak ada orang yang mengklaim dirinya sebagai seorang keturunan dari kaum Musyrik Quraisy. Lalu musuh-musuh Nabilah yang terbukti menjadi Abtar.
Pelajaran yang dapat kita petik dari kisah Sayidah Fatimah Ra. di atas adalah :
Keturunan Nabi Saw seluruhnya berasal dari Sayidah Fatimah Ra., karena hubungan keturunannya dari Nabi Muhamamad Saw. sebagaimana Imam Suyuti dalam kitab Al-Jami’ As-Shoghir juz 2 halaman 92 menerangkan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda :
"Semua Bani Adam (manusia) mempunyai ikatan keturunan dari ayah, kecuali anak-anak Fathimah (keturunan), maka akulah ayah mereka dan akulah Ashabah mereka (ikatan keturunan mereka).” (HR. At Thabrani dan Abu Ya’la).

Wednesday, August 9, 2017

Sekilas Kafa'ah Syarifah dan Hukum Syariah nya.

#mylearnaboutfamily
#sekedar_diingat_kembali 

Assalamualaikum n' Salam kebaikan, bi kheir wal be good ^_^
Kaifa hal atau Apa kabar, saudara sekalian? kali ini ane coba rangkum beberapa dasar hukum kafaah syarifah sehingga hanya menjadi sekilas, tetapi moga sj lebih cepat di fahami bagi yg baru akses website ini, tafadhal, check it out :



Kafaah Syarifah - Dasar Hukum Dalam Pernikahan


Daftar Isi
KAFA'AH SYARIFAH - DASAR HUKUM DALAM PERKAWINAN
Penulis: Aidarus Alwee Almashoor
Bab 1
-Seputar Kafa'ah Dalam Pernikahan
Bab 2
-Kewenangan Wali Dalam Pernikahan
Bab 3
-Dalil-Dalil Yang Mendasari Kafa'ah Syarifah
Bab 4
-Hadits Tentang Keutamaan Bangsa Arab
Bab 5
-Kisah Zaid Bin Haritsah & Zainab Binti Jahsy
Bab 6
-Mengapa Ada Pernikahan Yang Tidak Sekufu'
Bab 7
-Kafa'ah Nasab: Kesombongan Jahiliyah?
Bab 8
-Menjaga Hak Keturunan Rasulullah saw Dalam Perkawinan
Daftar Pusaka
-Daftar Pusaka
#Pembahasan Website blog ini akan lebih bermanfaat lagi bila anda membeli langsung Buku KAFA'AH SYARIFAH - DASAR HUKUM DALAM PERNIKAHAN" di Toko Buku terdekat atau melalui Toko Online.

Monday, August 7, 2017

Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw.


Daftar Isi
FADHA'IL AHLULBAIT RASULULLAH SAW
K.H Abdullah bin Nuh.
Kata Sambutan
-Kata Sambutan
 Pengenalan
 -Pendahuluan
Syair -Sya'ir "Bahtera Keselamatan"
-Sya'ir "Keagungan Ahlulbait Rasulullah s.a.w"
Bahagian Pertama
-Siapakah yang disebut "AHLULBAIT"?
-Berbagai penafsiran para ulama mengenai ayat 33 S. al-Ahzab
Bahagian Kedua
-Hadith Tsaqalain dan kedudukan Ahlulbait
-Tanggapan para ulama tentang Hadith Tsaqalain
-Pandangan Syeikhul-Islam Ibnu Taimiyyah tentang Ahlulbait Rasulullah s.a.w
 -Empat macam penafsiran tentang makna 'aal Muhammad Rasulullah s.a.w
Bahagian Ketiga
-Ahlulbait Rasulullah s.a.w. keselamatan bagi ummatnya
Bahagian Keempat
-Fadha'il (keutamaan) Ahlulbait
 -Hadith-hadith Nabi s.a.w yang mengenai fadha'il (keutamaan) ahlulbait Rasulullah s.a.w
-Beberapa Hadith tentang keutamaan Iman Ali r.a
-Hadith-hadith tentang fadha'il Siti Fatimah Az-Zahra r.a
-Imam al-Hasan dan Imam al-Husein radhiyallahu'anhum
Bahagian Kelima -Pembahasan tentang "ayat Mawaddah"
Bahagian Keenam
-Nas-nas Hadith "al-Kisa"
Bahagian Ketujuh
-Kisah tentang tafsir ayat 32 Fathir
Penutup
-Penutup

#Pembahasan Website blog ini akan lebih bermanfaat lagi bila anda membeli langsung Buku "KEUTAMAAN KELUARGA RASULULLAH SAW" di Toko Buku terdekat atau melalui Toko Online.

KATA SAMBUTAN
Oleh:
H.M.H Alhamid Alhusaini
Bismillahhir-Rahmanir-Rahim,
Alhamdulillah, puji dan syukur saya panjatkan ke hadrat Allah s.w.t. yang telah mengutus Rasul-Nya membawa hidayat dan agama yang benar; dan telah memberi petunjuk kepada hamba-Nya untuk mengikuti wasiat Rasul yang tidak diucapkan menurut hawa nafsunya, melainkan menurut wahyu yang diturunkan kepadanya oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam sejahtera kepada junjungan kita, penghulu semua Nabi dan Rasul, Nabi Besar Muhammad s.a.w. beserta semua ahlulbait dan para sahabatnya.
Sesepuluh Majlis Ta'lim "Al-Ihya" Bogor, Kyai Haji Abdullah bin Nuh menyerahkan kepada saya sebuah naskah tentang keutamaan ahlulbait Rasulullah s.a.w. disertai permintaan agar saya turut menyumbangkan fikiran, menambah atau mengurangi beberapa persoalan yang dianggap perlu. Jika permintaan itu tidak dapat saya penuhi, beliau minta sekurang-kurangnya supaya saya bersedia menulis sepatah dua kata sambutan.
Saya fikir permintaan beliau itu tidak dapat ditujukan kepada saya, kerana betapa pun adanya kekurangan dan kelemahan yang ada pada peribadi saya, saya sendiri termasuk dalam keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. Sukar sekali bagi saya untuk memenuhi permintaan beliau itu, tetapi lebih sukar lagi menolak permintaannya, mengingatkan demikian akrabnya hubungan persaudaraan antara kami berdua. Dengan perasaan seresah itu saya membuka-buka naskah yang ada di tangan saya dan saya baca halaman demi halaman. Tiba-tiba pada bahagian terakhir bab "Pembahasan Tentang Ayat Mawaddah" saya menemukan ungkapan Imam 'Ali bin Abi Talib r.a mengenai sifat-sifat para pengikut ahlulbait Rasulullah s.a.w. Beliau mengakhiri ungkapannya dengan mengatakan "…tidak berbuat kebajikan kerana riya dan tidak meninggalkan kebajikan kerana malu". Kalimat sesingkat itu sungguh menggugah fikiran dan perasaan saya untuk segera berlindung kepada Allah s.w.t. dari segala macam riya dalan berbuat kebajikan sebagaimana yang diminta oleh Buya K.H Abdullah bin Nuh. Dengan tetap berlindung kepada inayah Ilahi saya berusaha memenuhi permintaan beliau. Saya menyedari betapa besar jerih payah yang telah beliau curahkan untuk menulis sebuah naskah tentang keutamaan ahulbait disertai dengan dalil-dalil dan hujah yang berupa nas-nas Kitabullah al-Quran, Sunnah Rasul dan pandangan serta pendapat para Imam Mujtahidin dan para ulama.
Dengan penuh perhatian naskah tersebut saya telaah dan saya pelajari serta saya cocokkan dengan berbagai kitab tentang ahlulbait yang ada pada saya. Saya berpendapat, semua yang dikemukakan oleh Buya K.H Abdullah bin Nuh merupakan sumbangan yang berharga bagi kaum Muslimin Indonesia dalam Islam dan kewajipan-kewajipannya. Dari penelahaan seluruh naskah saya berkesimpulan, tidak ada sesuatu yang perlu ditambahkan atau dikurangi, kerana segala sesuatunya telah disusun demikian baik.
Memang benar apa yang dikatakan oleh K.H Abdullah bin Nuh, bahawa masih banyak di antara kaum Muslimin yang belum memahani sepenuhnya kedudukan aal Muhammad s.a.w. di dalam kehidupan agama Islam. Jelas, hal itu merupakan kekurangan yang perlu dipenuhi, agar mereka memiliki pengertian yang tepat sebagaimana dikehendaki oleh Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.
Buku ini mengemukakan banyak Hadith Rasulullah s.a.w. yang berkenaan dengan ahlulbait beliau. Di antara Hadith-Hadith yang banyak itu ada yang secara langsung mudah difahami maknanya, ada yang memerlukan pemikiran dan penggaliannya lebih dulu dan ada pula yang sukar dicerna akal, tetapi mudah diresapi dengan hati yang beriman. Memang demikian itulah cirri khusus ajaran agama. Kerana itu pemahaman beberapa Hadith yang tercantum di dalam buku ini tidak hanya menuntut kemampuan berfikir, tetapi juga menuntut kearifan dan kesedaran batin yang berlandaskan iman sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan landasan iman semua ajaran sgama tidak sukar difahami, dan dengan iman pula akal tidak hanya berhenti pada alam kenyataan yang dapat dilihat dan diraba saja, tetapi akan terus-menerus mencari pengetahuan tentang soal-soal yang belum deketahui rahsia dan hikmahnya.
Mungkin ada orang yang berkata: Bukankah menganjur-ngajurkan kecintaan kepada ahlubait Rasulullah s.a.w. sejalan dengan ajaran mazhab Syi'ah? Pertanyaan seperti itu sebenarnya timbul dari kekurangan pengertian mengenai ajaran Islam selengkapnya. Yang menganjurkan, yang menyerukan, bahkan yang mewajibkan kecintaan kepada ahlulbait Rasulullah s.a.w. adalah beliau s.a.w. sendiri. Yang menetapkan kesucian ahlubait Rasulullah s.a.w. bukan mazhab dan bukan aliran, melainkan Allah s.w.t. melalui firmannya dalam al-Qur'anul-Karim. Yang meriwayatkan Hadith-Hadith Nabi tentang wasiat mengenai ahlulbaitnya bukan lain adalah para sahabat Rasulullah s.a.w. Dan yang menyampaikan kepada ummat Islam sedunia adalah para Imam ahli Hadith dan para ulama puncak dari semua mazhab. Bahkan Imam Syafi'i r.a sendiri menetapkan keharusan mengucapkan shalawat bagi sayyidina Muhammad dan aal sayyidina Muhammad dalam doa tasyahhud akhir pada tiap sholat fardhu lima kali sehari semalam. Jadi, kalau mazhab Syi'ah mengajarkan kepada para pengikutnya supaya mencintai ahlulbait Rasulullah s.a.w. itu adalah kewajipan mereka, sebagaimana yang telah menjadi kewajipan seluruh kaum Muslimin tanpa memandang perbezaan mazhab yang dianutnya.
Menurut hemat saya, buku tentang ahlulbait Rasulullah s.a.w. yang ditulis oleh K.H Abdullah bin Nuh ini cukup memberikan pokok-pokok pengertian tentang kewajipan kaum Muslimin mencintai Rasulullah s.a.w. dan ahlulbait beliau. Di sana-sini tampak adanya beberapa Hadith semakna yang terulang, tetapi mengingat kelainan sumber riwayat dan perawinya serta mengingat pula perbezaan konteks persoalan yang disajikannya, hal itu bukan merupakan kejanggalan, malah meringankan pembacanya. Sabda Rasulullah s.a.w. tersebut diulang di banyak tempat.
AkhirulKalam saya bersama seluruh warga 'Alawiyyin mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga besarnya kepada Buya K.H Abdullah bin Nuh atas kebajikan yang dengan tulus ikhlas diberikan kepada semua keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. Semoga Allah s.w.t. dan Rasul-Nya berkenan meredhai usaha mulia yang disumbangkan olrh beliau kepada umat Islam Indonesia. Amin.
Sebagai penutup dari kata sambutan ini, saya menyatakan amat prihatin mendengar berita-berita tentang peristiwa yang pernah terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Iaitu adanya sementara kaum muda dari golongan Alawiyyan yang tidak terpelajar dan tidak memperoleh pendidikan agama secara baik, menyalahgunakan salasilahnya sebagai keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. untuk memperoleh keuntungan tertentu. Mereka mendatangi para pencipta ahlulbait dan sambil "mempromosikan" asal-usul keturunannya lalu mereka minta ini dan itu, bahkan adakalanya tidak segan-segan menggunakan cara-cara yang bersifat menekan. Perbuatan seperti itu tentu saja tidak sesuai dengan kedudukan mereka sebagai keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. Namun syukurlah, di antara para pencinta ahlulbait banyak yang tidak menghiraukan mereka dan menolak dengan cara yang tidak menusuk perasaan. Kejadian tersebut di atas sungguh merupakan "musibah" yang mencemarkan martabat kaum Alawiyyan, merosak kehormatan dan kemuliaan Rasulullah s.a.w. serta mendiskreditkan nama baik agama Islam. Sebagai manusia biasa, bukan manusia maksum, mereka memang tidak terhindar dari kemungkinan berbuat kesalahan atau kekeliruan. Kerana itu mereka wajib diingatkan agar tidak berbuat hal-hal yang tidak sesuai dengan kehormatan ahlulbait Rasulullah s.a.w. yang harus mereka pelihara sebaik-baiknya. Kendati perbuatan mereka itu tidak separah yang dilakukan oleh sementara oknum yang mengaku beragama Islam, tetapi bagaimanapun juga perbuatan mereka yang tidak patut itu dapat dihebohkan atau dibesar-besarkan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai ahlulbait Rasulullah s.a.w. dan tidak menyukai agama Islam. Bahkan perbuatan itu dapat ditiru oleh orang lain yang dengan mengaku-ngaku keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. bermaksud hendak mencari keuntungan. Adalah menjadi kewajipan segenap kaum Muslimin untuk menginsyafkan mereka yang telah berbuat salah dan mengembalikan mereka ke jalan yang diredhai Allah dan Rasul-Nya.
Sehubungan dengan Fadhail Ahlulbait saya merasa perlu mengemukakan fatwa dari seorang ulama besar dan Mufti rasmi kerajaan Saudi Arabia dari kalangan mazhab al-Wahhabiyah, iaitu Allamah Almufti Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, yang dimuat dalam majalah "ALMADINAH", halaman 9, nombor 5692, tanggal 7 Muharram 1402 H/24 Oktober 1982 Masihi sebagai berikut:
Seorang saudara dari Iraq mengajukan pertanyaan, bahawa sementara orang di negeri itu terkenal sebagai golongan "Sayyid" atau sebagai anak cucu keturunan Rasulullah s.a.w. Akan tetapi menurut keyakinan saya, demikian kata Saudara tersebut, mereka memperlakukan orang lain dengan perlakuan yang tidak semestinya mereka lakukan. Saya sendiri tidak tahu, apakah keyakinan saya itu benar ataukah salah. Yang saya anggap penting iaitu bahawa mereka itu memungut wang dari orang lain sebagai imbasan atas tulisan dan doa-doa yang mereka berikan untuk orang sakit…dan lain sebagainya. Mereka juga menerima shadaqah baik berupa ternakan sembelihan mahupun wang dan lain-lain. Dengan perbuatan seperti itu mereka membangkitkan keraguan orang banyak…dan seterusnya.
Jawapan atas pertanyaan tersebut ialah:
"Orang-orang seperti mereka itu terdapat di berbagai tempat dan negeri. Mereka terkenal juga dengan gelaran "syarif". Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang mengetahui, mereka itu berasal dari keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. Di antara mereka itu ada yang salasilahnya berasal dari al-Hassan r.a dan ada pula yang berasal dari al-Husein r.a; ada yang dikenali dengan gelaran "sayyid" dan ada juga yang dikenali dengan gelaran "syarif". Itu merupakan kenyataan yang diketahui umum di Yaman dan di negeri-negeri lain.
"Mereka itu sesungguhnya wajib bertaqwa kepada Allah dan harus menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan Allah bagi mereka. Semestinya mereka itu harus menjadi orang-orang yang paling menjauhi segala macam keburukan. Kemuliaan silsilah mereka wajib dihormati dan tidak boleh disalahgunakan oleh orang-orang yang bersangkutan. Jika mereka diberi sesuatu dari Baitul-Mal itu memang telah menjadi hak yang dikurniakan Allah s.w.t. kepada mereka. Pemberian halal lainnya yang bukan zakat, tidak ada salahnya kalau mereka itu mahu menerimanya. Akan tetapi kalau silsilah yang mulia itu disalahgunakan, lalu ia beranggapan bahawa orang yang mempunyai silsilah itu dapat mewajibkan orang lain supaya memberi ini dan itu, sungguh itu merupakan perbuatan yang tidak patut. Keturunan Rasulullah s.a.w. adalah keturunan yang termulia dan Bani Hasyim adalah yang paling afdhal di kalangan orang-orang Arab. Kerananya tidak patut kalau mereka melakukan sesuatu yang mencemarkan kemuliaan martabat mereka sendiri, baik berupa perbuatan, ucapan ataupun perilaku yang rendah.
"Adapun soal menghormati mereka, mengakui keutamaan mereka dan memberikan kepada mereka apa yang telah menjadi hak mereka, atau memberi maaf atas kesalahan mereka terhadap orang lain dan tidak mempersoalkan kekeliruan mereka yang tidak menyentuh soal agama, semuanya itu adalah kebajikan. Dalam sebuah Hadith Rasulullah s.a.w. berulang-ulang mewanti-wanti: "Kalian ku ingatkan kepada Allah akan ahlulbaitku…kalian ku ingatkan kepada Allah akan ahlulbaitku". Jadi, berbuat baik terhadap mereka, memaafkan kekeliruan mereka yang bersifat peribadi, menghargai mereka sesuai dengan darjatnya, dan membantu mereka pada saat-saat membutuhkan; semuanya itu merupakan perbuatan baik dan kebajikan kepada mereka…
Demikianlah fatwa al-mukarram Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengenai kedudukan para keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. di tengah masyarakat. Saya fikir kedudukan seperti itu perlu difahami oleh kaum Muslimin, terutama oleh para keturunan ahlulbait sendiri sebagai pihak yang paling berkewajipan menjaga kemuliaan martabat Rasulullah s.a.w. dan para ahlulbaitnya. Suatu kekeliruan atau kelengahan yang dilakukan oleh seseorang tidak akan setajam disorot oleh masyarakat seperti kekeliruan atau kelengahan yang dilakukan oleh seorang dari keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. Ini wajar kerana mereka itu dipandang oleh masyarakat sekitarnya sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirul-kalam, saya bersama seluruh warga Alawiyyin mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga besarnya kepada Buya K.H Abdullah bin Nuh atas amal kebajikan dengan tulus ikhlas diberikan kepada semua keturunan ahlulbait Rasulullah s.a.w. dengan mencurahkan jerih payahnya untuk menulis buku ini. Semoga Allah dan Rasul-Nya berkenan meridhai usaha mulia yang beliau sumbangkan kepada umat Islam Indonesia, wa billahi attawfig wal hidayah, Amin.
                                                                                                                               -Jakarta, 1986.

PENDAHULUAN
BISMILLAH AR-RAHMAN AR-RAHIM
Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan ke hadrat Allah yang mewajibkan segenap kaum Muslimin menumpahkan kecintaan dan kasih sayang kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad s.a.w. beserta semua ahlulbait dan keluarganya; sebagaimana telah difirmankan-Nya dalam al-Qur'anul-Karim.
("Katakanlah hai Muhammad, aku tidak meminta upah apa pun dari kalian atas seruanku selain kasih sayang di dalam kekeluargaan") [Asy-Syura: 23]
Asyhadu an laa ilaaha illallaah, saya bersaksi bahawa tiada tuhan selain Allah, dengan kesaksian itu semoga Allah s.w.t. berkenan memperdalam kecintaan saya dan lebih mendekatkan saya kepada-Nya…Wa asyhadu anna sayyidanna wa maulaanaa Muhammadan 'abduhu wa Rasulu; dan saya pun bersaksi bahawa junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w. adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, manusia termulia di seluruh jagat raya…
Ya Allah, limpahkanlah shalawat sebanyak-banyaknya dan salam sejahtera kepada Nabi dan Rasul yang mulia itu bersama seluruh ahlulbait dan para sahabatnya yang telah melaksanakan amanat Risalah dengan sempurna.
Ada dua sebab yang mendorong saya menulis buku kecil ini yang saya beri judul "KEUTAMAAN AHLULBAIT RASULULLAH S.A.W."…
Pertama: Lebih kurang lima tahun yang lalu, iaitu pada tahun 1400 H/1980 M, saya pernah menulis sebuah risalah kecil berjudul "Asyura" (10 Muharram), berisi uraian tentang ahlulbait Rasulullah s.a.w., khususnya riwayat singkat Imam al-Husein bin 'Ali bin Abi Thalib r.a. Di saat menulis risalah itu tidak terlintas dalam fikiran saya, bahawa ia akan memperoleh sambutan hangat dari kaum Muslimin. Bahkan banyak di antara mereka yang meminta kepada saya supaya menulis sebuah buku yang lebih lengkap dan jelas tentang kedudukan ahlulbait Rasulullah s.a.w. di dalam agama Islam.
Sesungguhnya saya merasa berat sekali memenuhi permintaan yang baik itu kerana saya bukan seorang penulis. Dalam waktu yang lama hal itu menjadi beban fikiran saya. Kemudian saya berniat hendak mencubanya sambil bertawakkal kepada Allah s.w.t., mohon hidayat dan taufik-Nya, agar niat saya itu dapat terlaksana. Dengan menekuni pembacaan kitab-kitab tentang ahlulbait Rasulullah s.a.w. dan dengan bantuan beberapa orang sahabat, akhirnya saya memberanikan diri menulis buku ini. Betapa besar saya rasa syukur saya kepada Allah s.w.t. yang telah berkenan mengabulkan permohonan saya.
Dalam keadaan usia saya yang telah lanjut, saya hanya mengharapkan semoga usaha saya ini diridhai Allah dan Rasul-Nya serta dinilai sebagai amal kebajikan yang akan membuka pintu maghfirah, agar pada saat saya akan meninggalkan dunia yang fana ini dikurniai husunal-khatimah. Tidak lain hanya itulah yang saya idam-idamkan.
Kecuali itu masih ada satu soal yang ingin saya kemukakan untuk mencegah kemungkinan terjadinya salah faham yang sama sekali tidak saya inginkan. Dalam buku ini terdapat pembahasan tentang "Hadith Tsaqalain". Sehubungan dengan itu saya hendak menekankan dua hal: Pertama, saya sama sekali tidak mengingkari adanya Hadith yang diriwayatkan berasal dari ucapan Rasulullah s.a.w., bahawa beliau meninggalkan dua pegangan yang menjamin keselamatan ummatnya iaitu;
(Kitabullah dan Sunnahku)
Hadith tersebut adalah Hadith yang lain lagi, yakni bukan Hadith Tsaqalain, dan pada umumnya telah banyak diketahui oleh kaum muslimin. Lain halnya dengan Hadith Tsaqalain, sekalipun kebenarannya telah diterima bulat oleh berbagai mazhab Islam, namun belum banyak dikenal oleh kaum Muslimin. Kedua, dengan membahas Hadith Tsaqalain, buku ini sama sekali tidak bermaksud hendak membuka pendebatan atau polemik, saya hanya bermaksud menyampaikan wasiat Rasulullah s.a.w. kepada kaum Muslimin awam yang belum pernah mendengar atau mengenalnya. Dengan mengenal dan mengetahui siapa-siapa dan bagaimana sesungguhnya kedudukan ahlulbait Rasulullah s.a.w. itu, orang akan merasa mantap dalam mengucapkan shalawat bagi "sayyidina Muhammad dan bagi aal sayyidina Muhammad" dalam setiap shalat fardhu yang lima kali sehari semalam.
Tidak diragukan lagi bahawa aal Muhammad Rasulullah s.a.w. yang dalam zaman kita sekarang ini terkenal dengan sebutan kaum 'Alawiyyin, merupakan orang-orang yang memiliki fadhilah dzatiyyah (keutamaan dzat) yang dikurniakan Allah s.w.t. kepada mereka melalui hubungan darah dengan insan pilihan-Nya, Rasulullah s.a.w. Naif sekali anggapan yang menyamakan mereka dengan orang-orang dari keturunan lain, kerana anggapan demikian itu sama ertinya dengan menyamakan peribadi Rasulullah s.a.w. dengan peribadi lain. Anggapan seperti itu tidak sejalan dengan syari'at Islam, kerana Allah s.w.t. menegaskan dalam firmannya:
"Dan dia (Muhammad s.a.w.) tidak mengucapkan sesuatu menurut kemahuan hawa nafsunya, ucapannya bukan lain adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya" [An-Najm: 3-4]
Fadhilah dzatiyyah yang mereka miliki bukan fadhilah yang dibuat-buat dan bukan berdasarkan fadhilah pengamalan baik mereka dan bukan pula atas keinginan mereka, melainkan telah menjadi qudrat dan kehendak Ilahi sejak azal. Kerana itu tidak ada alasan apa pun untuk merasa irihati terhadap keutamaan mereka. Soal inilah justeru yang dipertanyakan Allah s.w.t. dalam firman-Nya:
"Ataukah mereka (orang-orang yang dengki) merasa irihati terhadap orang-orang yang telah diberi kurnia oleh Allah?" [An-Nisa: 54]
Fadhilah dzatiyyah yang dikurniakan Allah s.w.t. kepada para keturunan Rasulullah s.a.w. sama sekali tidak lepas dari rasa tanggungjawap mereka yang lebih berat dan lebih besar daripada yang mesti dipikul orang lain. Mereka mesti selalu menyedari kedudukannya di tengah-tengah ummat Islam. Mereka wajib menjaga diri dari ucapan, perbuatan dan sikap yang dapat mencemarkan kemuliaan aal Muhammad Rasul Allah s.a.w., dan wajib pula menyedari tanggungjawapnya yang lebih besar atas citra Islam dan ummatnya. Dengan demikian maka kewajipan menghormati mereka yang dibebankan oleh syari'at kepada kaum Muslimin dapat diwujudkan dengan sebaik-baiknya. Tidak akan ada kesan bahawa para keturunan Rasulullah s.a.w. menonjol-nonjol diri menuntut penghormatan dari orang lain, dan kaum Muslimin pasti menempatkan mereka pada kedudukan sebagaimana yang telah menjadi ketentuan syari'at.
Dalam buku ini kami paparkan dengan jelas dan gambling kewajipan kaum Muslimin menghormati keturunan Rasulullah s.a.w. sebagaimana yang difatwakan oleh para ulama puncak dan para Iman mujtahidin berdasarkan Kitabullah al-Qur'an dan Sunnah Rasul-Nya. Semoga Allah s.w.t. berkenan melimpahkan hidayat-Nya kepada kita semua agar tetap mencintai ahlulbait dan aal Muhammad s.a.w. demi kecintaan kita kepada Allah s.w.t. dan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad s.a.w. Maha Besar Allah yang telah berfirman:
"Sungguhlah bahawa engkau tidak akan dapat memberi hidayat kepada orang yang kau kasihi, tetapi Allah sajalah yang melimpahkan hidayat kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang hidup menurut hidayat-Nya" [Al-Qashash: 56]
Mudah-mudahan dengan inayah Rabil-'alamin penjelasan saya mengenai ahlulbait Rasulullah s.a.w. akan bermanfaat bagi kaum Muslimin. Semoga Allah s.w.t. dan Rasul-Nya berkenan menerima serta meridhai sekelumit kebajikan yang saya hibahkan kepada seluruh ahlulbait Rasul Allah s.a.w.
Wa maa taufiqi illa billah, 'alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.
Jakarta, 1986
K.H. 'Abdullah bin Nuh.

BAHTERA KESELAMATAN
Ahlulbait Nubuwwah pengemban wasiat sepanjang zaman
Bahtera kehidupan dan bahtera keselamatan
Selagi bintang-bintang belum berguguran
Mereka tempat manusia menumpu harapan
Kesucian mereka terpatri kukuh dalam al-Qur'an
Diuraikan sabda Nabi di dalam Shahihan1
Tentera sebagai amanat dalam Hadith Tsaqalain2
Tiada kalimat meragukan orang beriman
Mereka bahtera penyelamat kemanusiaan
Dari taufan dan badai keduniaan
Mereka bintang-bintang pemandu jalan
Bagi setiap musafir ke alam kelanggengan
Betapa pun dahsyat gelombang kemunafikan
Hendak membenamkan mereka ke dasar lautan…
Betapa pun ganasnya muntahan lahar kedzaliman
Hendak menghanguskan mereka menjadi debu berserakan…
Dengan lindungan Ilahi mereka tegak tak terpunahkan
Dengan kebenaran Rasul-Nya mereka tangguh tak tergoyahkan
Dengan kecintaan ummatnya mereka tak tersingkirkan
Dengan kesucian darahnya mereka tak tercemarkan
Seandainya dahulu ada seribu Karbala dan Dzil Jausyan3
Bahtera ahlulbait tak akan karam dan bintang pun tak suram
Selagi Allah menghendaki kelestarian insan
Pengemban amanat kebenaran dan penentang kebatilan
Kemulian mereka titisan suci darah Rasulur-Rahman
Terpadu dengan kalam Ilahi di setiap dada beriman
Dalam Surah Al-Ahzab dan Aali Imran4
Hingga semua kembali ke Haud di Yaumil-Mizan5
Beruntunglah orang yang melaju dalam bahtera keselamatan
Mengikuti cahaya bintang di tengah samudra kehidupan
Celakalah orang yang enggan berlayar menyeberang laut
Memejamkan mata terhadap beribu bintang taburan

KEAGUNGAN AHLULBAIT RASULULLAH S.A.W.
Syair Farazdaq tentang 'Ali Zainul Abidin
Dialah yang dikenal jejak langkahnya
oleh butiran pasir yang dilaluinya
Rumah Allah Ka'bah pun mengenalinya
dan dataran tanah suci sekelilingnya.
Dialah putera insan termulia
dari hamba Allah seluruhnya
Dialah manusia hidup berhias takwa
kesuciannya ditentukan oleh fitrahnya
Apabila orang Quraishi melihatnya
berkatalah penyambung lidah mereka:
Pada keagungan peribadinya
berpuncak semua sifat yang mulia.
Bernasab setinggi bintang kejora
seanggun langit di cakerawala
tak tersaingi insan mana pun juga
baik Arab mahupun 'Ajam6 di jagat raya
Di saat ia menuju ke Ka'bah
bertawaf mencium Hajar jejak datuknya
Ruknul-Hatim7 enggan melepaskan tangannya
kerana mengenali betapa ia tinggi nilainya
Senantiasa menundukkan kepala
Kerana pemalu menjadi dasar fitrahnya
Orang terpaku kerana kewibawaannya
mengajaknya bicara hanya saat senyumnya
Itulah 'Ali buyut Rasul Allah
buyut pemimpin segenap ummat manusia
dengan agamanya manusia berbahagia keridhaan-Nya
Sinar hidayat memancar di antariksa
dari kecermelangan bulan purnama
penaka mentari terbit diufuk sana
membelah cuaca gelap gelita
Darah, daging dan tulang sumsumnya
berasal dari utusan Allah Yang Maha Esa
sungguh indah semua unsurnya
serba sempurna semua intinya
Jika anda belum mengenal dia
dia itulah putera Fatimah
puteri Nabi utusan Allah
penutup para Rasul dan Anbiya
Sejak azal Allah memuliakan martabatnya
tiada makhluk setara keagungannya
tersurat dalam ilmu Allah Pencipta
di Lauh Mahfudz dengan qalam-Nya
Pertanyaan anda "siapa dia"
Tidak merugikan keharuman namanya
Arab dan 'Ajam mengenal dia
walau anda hendak mengingkarinya
Uluran tangannya bak8 hujan merata
menyebar manfaat ke mana-mana
tangannya tak pernah kosong dan hampa
walaupun dermawan tiada tara
Lembut perangai dan perilakunya
bila marah tak dikhuwatirkan akibatnya
budi luhur dan kedermawanannya
dua hiasan hidupnya yang terutama
Tiap si miskin datang kepadanya
beban derita dipikul olehnya
Dengan wajah cerah ceria
baginya "ya" jawapan yang termesra
Bila berjanji tak kenal cedera
keberkahan menyertai kebajikannya
riang peramah dan lapang dada
sedetik pun hatinya tak pernah lengah
Tak pernah ia berucap "tidak"
Kecuali dalam ucapan syahadatnya9
kalau bukan kerana syahadatnya
"tidak"-nya berubah menjadi "ya"
Kebajikan meluas dan merata
seluas bumi dengan segala isinya
hapuslah semua duka derita
sirnalah semua ratap sengsara
Berasal dari keluarga mulia
mencintainya fardhu wajib dalam agama
membencinya kufur dalam agama
dekat padanya selamat dari merbahaya
Kalau dihitung semua orang bertakwa
merekalah barisan pemimpinnya
bila ditanya siapakah penghuni buni utama
tiada lain kecuali "mereka"-lah jawapnya
Kuda sembrani pun tak terdaya
Menjangkau ketinggian martabat mereka
tiada makhluk lain tolok bandingnya
betapa pun tinggi dan mulianya
Laksana hujan menyiram kemarau
mengikis paceklik menangkal bencana
ibarat singa…singa Syara10
terkenal tangkas dan amat perkasa
Kesukaran hidup bukanlah alasan mereka
untuk menahan uluran tangannya
keadaan mereka senantiasa sama
di saat "kaya" dan di waktu "sengsara"
Betapa berat cubaan dan derita
tersingkirkan oleh cinta kasihnya
dengan cinta kasih dan kebajikannya
nikmat Ilahi melimpah berlipat ganda
Sebutan mereka diucapkan setiap insan
setelah sebutan Allah Yang Maha Rahman
pada tiap awal wicara
dan pada tiap akhir untaian kata11
Kenistaan pantang menyentuh mereka
tiada kehinaan menjamah kehormatannya
keharumannya semerbak merata
dengan tangan mereka melawan durjana
tak ada manusia hina di mata mereka
tak seorang pun menjadi budaknya
tidak! Merekalah justeru pemimpinnya
dan yang pertama: Rasul pembawa nikmat-Nya
yang mengenal Allah pasti mengenal dia
yang mengenal dia mengenal keutamaannya
yang bersumber pada lingkungan keluarganya
tempat manusia bermandikan cahaya12

Sya'ir Farazdaq
Melukiskan kemuliaan anggota ahlulbait Rasulullah s.a.w.:
'Ali Zainal Abidin bin Al-Husein bin 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum.


1) Dua Hadith Shahih Bukhari dan Muslim.
2) Hadith Rasulullah s.a.w. yang mewasiatkan ummatnya supaya tetap berpegang teguh pada dua bekal, iaitu Kitabullah dan ahlulbait beliau.
3) Karbala = Tempat pasukan Bani Umayyah menyerang Al-Husein r.a
Dzil Jausyan = nama orang yang mencincang jenazahnya.
4) Surah Al-Ahzab: 33 dan Surah Aali Imran: 61
5) Haud = Syurga. Yaumil-Mizan = Hari Kiamat.
6) 'Ajam = Sebutan khusus bagi semua bangsa diluar bangsa Arab,atau semua yang tidak berbahasa Arab.
7) Ruknul-Hatim = Sudut Ka'bah, tempat Hajar Aswad diletakkan.
8) Bak = Laksana
9) Kata "tidak" dalam syahadat: "Tidak ada tuhan selain Allah"
10) Singa Syara = Jenis singa terkenal keberaniannya di daerah sekitar Al-Furat.
11) Yang dimaksud ialah doa, khutbah dan lain-lain selalu diawali dan diakhiri dengan ucapan shalawat kepada kepada Rasulullah s.a.w. dan kepada "aal" (keluarga)-nya
12) Agama Islam.


Nasihat

Lembaga Qabilah Ba'alwi Bafagih Sulawesi(LQBBS) berdiri untuk Penjagaan Fiqih, Aqidah, Amalan Shalawat, Nasab Sayyid dan Kafa'ah Syarifah serta Kasih Sayang dalam Keluarga

yuk ngobrol atau say hai, klik tombol buku tamu

Struktur Pengelola(Admin)Website Ini

Randy Ibrahim Bafagih (Alfaqir Bafaqih)_____ Sayyid Muh Zalsabil Bafaqih

Pengunjung Website

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms

adsfeed