Daftar Isi
PERSEMBAHAN
PENGANTAR
PENGANTAR
BAB I
Nasab Para Syarif Di Hadhramaut
BAB II
Hijrahnya Para Syarif Hadramaut Ke Asia Tenggara
BAB III
Sejarah Masuknya Islam Ke Asia Tenggara
BAB IV
Para Syarif Hadramaut Dan Peranan Mereka Dalam
Penyebaran Islam Di Asia Tenggara
BAB V
Da'i-Da'i Islam Pertama Di Jawa
BAB VI
Para Syarif Hadhramaut Dan Peranan Mereka Dalam
Menyebarkan Islam Di Filipina
PENUTUPDaftar Pustaka
#Pembahasan Website blog ini akan lebih bermanfaat lagi bila anda membeli langsung Buku "Asyraf Hadhramaut dan peranan mereka dalam menyebarkan islam di Asia Tenggara " di Toko Buku terdekat atau melalui Toko Online.
-
Asyraf Hadhramaut
dan peranan mereka dalam menyebarkan islam di Asia
Tenggara
Dr. Muhammad Hasan Al-Aydrus
( pengajar Sejarah Modern di Universitas Uni Emirat
Arab )
Diketik
ulang oleh
Abdullah bin
Gasim Al-Aydrus
Bogor
17 september
2005
Diterjemahkan
dari Asyraf Hadhramaut,
karya Dr.
Muhammad Hasan Al-Aydrus Terbitan Darul Mutanabbi, Abu Dhabi – UAE
Penerjemah :
Ali Yahya
Diterjemahkan
atas biaya Alwi bin Shaleh Al-Aydrus
Diterbitkan
oleh Abdullah bin Ahmad Assegaf bekerja sama dengan Penerbit Lentera, Jl.
Melati Bakhti No.7 Jakarta 13430
Desain
Sampul : Eja Ass.
Cetakan
pertama, Sya'ban 1416 H/ Januari 1996
Persembahan
untuk ayahku tercinta
Hasan Ahmad Alwi Alaydrus
yang telah berjasa sejak awal adanya naskah ilmiah ini
tanpanya risalah ini tidak akan ada
cinta dan penghargaanku hanya untuk beliau
Pengantar
Asia
Tenggara dianggap sebagai wilayah yang paling banyak pemeluk agama Islamnya.
Yang termasuk wilayah ini adalah pulau-pulau yang terletak di sebelah Timur
India sampai Lautan Cina dan mencakup Indonesia, Malaysia dan Filipina.
Islam masuk
ke Asia Tenggara pada umumnya dan Indonesia pada khususnya dengan dakwah yang damai
dan bukan dengan ketajaman mata pedang. Ia masuk dengan perantaraan orang-orang
Arab Hadhramaut, dalam hal ini para syarif ( gelar untuk
keturunan Rasul, Penj) dari keturunan Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa. Beliau
diberi laqob (gelar) Al-Muhajir karena hijrah dari Bashrah
setelah kota itu menghadapi serangan umum Khawarij dan pemberontakan
orang-orang kulit hitam. Ketika itu ia memutuskan berngakat ke Hijaz dan
menetap setahun di Madinah Al-Munawwarah ketika Makkah Menghadapi serangan
orang-orang Qaramithah. Kemudian beliau melaksanakan haji dan thawaf
mengelilingi ka'bah tanpa ada Hajar Aswad yang ketika itu bawa ke Hijr sehingga
tempat batu itu menjadi kosong.
Kemudian
Imam Ahmad bin Isa memutuskan hijrah ke Hadhramaut. Disana ia menghadapi
orang-orang Khawarij, sehingga ia dan anak cucunya dapat menghapus mazhab
Ibadhiy dan menyebarkan mazhab Syafi'i. Setelah itu salah satu cucunya Muhammad
Shohib Marbath menyempurnakan perjalanannya dan menyebarkan mazhab Syafi'i di
daerah Zhufar.
Para syarif
hadhramaut juga hijrah ke Afrika Timur, India, dan Asia Tenggara untuk
menyebarkan dakwah Islamiyah dan mengajarkan para penduduknya pokok-pokok ajrab
agama yang hanif (lurus) ini.
Kita nanti
akan sampai pada para da'i yang pertama dari kalangan syarif Hadhramaut yang
memainkan peran pening dalam menyebarkan Islam di Asia Tenggara khususnya di
Indonesia. Yang paling penting diantara mereka adalah para da'i pertama yang
berjumlah 9 orang dan dikenal dengan nama 'Sunan' yang artinya "wali"
dan sebagian besar dari mereka adalah para syarif hadhramaut dari keturunan
Ahmad bin Isa.
BAB I
Nasab Para Syarif di Hadhramaut
Nasab para syarif / sayid di Hadramaut berpangkal pada Imam Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhy bin Ja’far Ash-Shadiq, cucu imam Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah dan pemimpin pemuda ahli surga.
Imam Husein
bin Ali
Dari Ya’la
bin Murrah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah SAW:1
“Husein dari
aku dan aku dari Husein, Allah mencintai orang yang mencintai Husein, Husein
adalah cucu dari para cucu”
Berkata
Al-Imam Al-Akbar Dr.Abdul Halim Mahmud Syeikhul-Azhar:2
“Sesungguhnya
nasab Sayidina Husein R.A. hampir saja terputus seandainya bukan karena
anugerah Allah. Anugerah Allah inilah yang mengekalkan keturunannya. Pada
nereka terdapat keharuman Rasulullah SAW. Pada mereka juga terdapat orang-orang
yang akhlaknya pemurah, pemberani, dan hati yang penuh dengan keimanan serta ruh
yang selalu memandang ke atas, tidak disibukkan oleh dunia dengan segala
perhiasannya yang membuatnya menjadi ingin kekal di dunia dan menuruti hawa
nafsunya. Tidak , sekali-kali tidak sesungguhnya jiwa mereka dihiasi teladan
yang tinggi dan kekal disertai kepahlawanan dalam bentuknya yang terbaik dan
bersama kebenaran dimanapun berada. Sesungguhnya jiwa mereka seumpama orang
yang membantu orang yang berjuang di jalan kebaikan, yaitu di jalan Allah”
Sayidina
Husein sungguh telah memasuki suatu pertempuran menentang orang yang bathil dan
mendapatkan syahidnya di sana. Pertempuran ini banyak mengalirkan darah
orang-orang yang bersamanya, sedang sisanya ditawan. Ahlul bait telah digiring
sebagai tawanan. Tidak tersisa keturunan Husein yang laki-laki setelah pertempuran
ini kecuali Ali bin Al-Husein R.A. yag diberi lagob (gelar) ‘Zainal Abidin’
(hiasan para ahli ibadah)
Al-Imam
Zainal Abidin Ali bin Al-Husein
Imam Ali
Zainal Abidin diberi gelar ‘Zainal Abidin’ dan As-Sajjad’ (yang banyak sujud)
dan nama serta gelar-gelar yang lain. Ia tumbuh dari kedua orang tua yang
mulia. Salah satunya Al-Imam Husein bin Ali R.A., anak dari puterinya
Rasulullah SAW dan penyejuk matanya di dunia. Ia (Imam Ali Zainal Abidin) juga
putera dari Sulafah binti Yazdajird, raja persi.
Dr. Abdul
Halim Halim Mahmud, seorang Imam besar dan Syeikhul-Azhar, berkata:3
“Zainal
Abidin tumbuh dengan jiwa yang kenyang dengan ruhaniyah datuknya (s.a.w),
dengan ketaqwaan ayahnya dan ketinggian pribadi ibunya yang merupakan keturunan
para raja dan didikan para kaisar.”
Ath-Thohir
bin Abdullah Al-Lahyawi4 mengatakan bahwa Zainal Abidin
hidup bersama kakeknya Ali bin Abi Thalib selama 2 tahun, bersama pamannya
Al-Hasan 10 tahun, bersama ayahnya Al-Husein 11 tahun dan sesudah itu hidup
selama 34 tahun. Ia meninggal diracun oleh Al-Walid bin Abdul Malik.
Penyair
Farazdaq dalam qashidahnya yang masyhur mengatakan tentang Ali Zainal Abidin:
Inilah orang
yang dikenal jejak langkahnya
Oleh butiran
pasir yang dilaluinya
Baitullah
pun mengenalnya
Dan dataran
tanah suci sekelilingnya
Dialah
putera insan terbaik
Dari hamba
Allah seluruhnya
Dialah
manusia yang bertaqwa
Yang bersih
lagi suci
Apabila
orang Quraisy melihatnya
Berkatalah
penyambung lidah mereka
Kepada
kemuliaan pribadinya
Berpuncaklah
segala kemuliaan
Ia bernasab
setinggi bintang kejota
Seanggun
langit di cakrawala
Yang sulit
untuk mencapainya
Baik orang
Arab maupun selainnya
Disaat ia
menuju Ka’bah
Untuk
mencium hajar yang mulia
Ruknul-Hatim
enggan melepaskannya
Karena tahu
betapa ia tinggi nilainya
Imam
Muhammad Al-Bagir
Beliau
adalah anak Ali Zainal Abidin yang tertua dan salah satu dari Imam Dua Belas
menurut mazhab Imamiyah. Ia dilahirkan pada tahun 59 H di Madinah pada masa
kehidupan kakenya al-Husein. Masa kehidupannya penuh dengan pekerjaan-pekerjaan
besar, di antaranya dibukanya lembaga-lembaga keilmuan, pembahasaan ilmiah dan
sastra. Pelajaran yang diberikannya di Madinah Al-Munawwarah dihadiri oleh para
ulama dan fuqaha besar. Para utusan berdatangan kepadanya untuk mengambil
manfaat darinya.
Ia terlibat
dalam gerakan pemikiran, keilmuan, dan kemasyarakatan dan banyak yang dituju
oleh para penuntut kebenaran. Muhammad Al-baqir semasa dengan para raja-raja
dari mulai Muawiyah sampai Yazid bin Abdul Malik. Ia wafat pada tahun 113 H di
masa Hisyam bin Abdul Malik. Puteranya empat orang, tetapi keturunannya setelah
itu hanya melalui Ja’far Ash-Shadiq menurut ijma’ Bukhari dan Muslim. Maka
orang yang mengaku bernasab kepada Muhammad Al-Baqir tanpa melalui ja’far
Ash-Shadiq adalah seorang pengaku yang dusta.5
Imam Ja'far
Ash-Shadiq
Asy-Syarif
Ahmad bin Muhammad Sholih Al-Baradighi mengatakan bahwa nasab para sayid/syarif
di Hadramaut berpangkal pada nasab Imam Ja’far Ash-Shadiq melalui anaknya
Muhammad bin Ali Al-Uraidhi. Nasab para syarif Alawiyin Hadramaut bermuara pada
Syarif Alwi bin Ubaidillah bin Al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali
Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shidiq.6 Ia diberi gelar ‘Ash-Shidiq’ karena
kebenarannya dalam kata-katanya. Ia juga diberi nama ‘Amudusy-Syaraf’ (Tiang
Kemuliaan).7 Ia adalah seorang imam yang
utama, mempunyai ilmu, keutamaan, dan kemurahan.
Imam
Muhammad bin Ali Al-Uraidhi dan Hijrahnya dari Madinah ke Iraq
Ia adalah
Abu Isa Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja’far Ash-Shidiq. Ia tinggal di
Bashrah, demikian juga anaknya Isa. Disana pula Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa
dilahirakan dan dibesarkan.8
Imam
Muhammad bin Ali Al-Uraidhi adalah anak tertua dilahirkan di Madinah. Kemudian
pindah bersama ayahnya ke Bashrah. Ia wafat pada tahun 203 H pada usia 59
tahun.
Ayahnya
dinamai dengan Al-Uraidhi sebagai nisbah kepada ‘Al-Uraidh’
yaitu nama suatu begeri yang terletak pada jarak 4 mil dari kota Madinah
Al-Munawwarah. Ayahnya ini adalah putera terkecil dari Imam Ja’far Ash-Shadiq
yang wafat ketika ia masih kecil. Kemudian bersama saudaranya Muhammad bin
Ja’far Ash-Shadiq ia pergi ke Makkah dimana ia mengadakan pergerakan disana.9
Disebutkan
dalam kitab “Tarikh Baghdad” karangan Ibn Al-Khatib bahwa:
“ Muhammad
bin Ja’far Ash-Shadiq pergi ke Makkah pada masa pemerintahan Al-Ma’mun. Ia
mengajak orang untuk memba’atnya. Maka penduduk Hijaz membai’atnya sebagai
khalifah. Ia adalah keturunan Ali bin Abi Thalib yang pertama dibai’at oleh
mereka. Hal itu terjadi pad tahun 200 H.”
Serelah itu
Abu Ishaq Al-Muaqqim melaksanakan haji dan mengutus orang yang memeranginya.
Kemudian ia menangkapnya dan membawanya ke Baghdad dalam pengawalannya. Pada
saat itu Al-Ma’mun berada di Khurasan. Maka ia (Muhammad bin Ja’far Ash-Shadiq)
dihadapkan kepadanya. Tetapi kemudian Al-Ma’mun memaafkannya. Ia hanya tinggal
sebentar sampai ia wafat di Jurjan pada tahun 203 H.10
Imam Ahmad
bin Isa dan Hijrahnya dari Iraq ke Hadhramaut
Imam Ahmad
bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shidiq hidup di masa
yang penuh dengan kebudayaan dan nama-nama yang masyhur seperti Abu Hanifah,
Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Al-Ashma’i, Ibnu Ishaq, Muhammad bin Jarir
Ath-Thobari, dan para imam ahlul bait. Sedang di Bashrah ada Ibnu Al-Qazzaz,
Ash-Shan’ani, Al-Haratsi, dan Muhammad bin Ahmad Al-Bishri seorang alim dari
kalangan syiah yang wafat pada tahun 327 H. Lalu datang juga ke Bashrah
Al-Mas’udi dan Ath-Thobari.
Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir (karena hijrah
dari Iraq ke Hadramaut) hidup dalam suasana yang penuh dengan hal-hal yang
saling bertentangan. Ilmu, sastra, dan filsafat di satu sisi dan di sisi
lainnya kejadian-kejadian berdarah, ketakutan, dan kekhawatiran. Ia menyaksikan
apa yang disaksikan oleh saudaranya Muhammad bin Isa. Ia mengepalai suatu
gerakan, lalu maju dengan pasukannya dan menguasai satu wilayah.11
Ibnul-Khatib
dalam kitabnya “Tarikh Bagdad” mengatakan:
“Telah
memberi kabar kepada kami Abul-Ala’ Muhammad bin Ali Al-Wasithi, berkata ia,
telah memberi kabar kepada kami Zahl bin Ahmad Ad-Dibaji, berkata ia, Abu
Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thobari berkata kepada kami:
Ahmad bin
Isa Al-Alawiy mengatakan kepadaku dalam tulisannya dari Bashrah:12
Ketahuilah
bahwa saudara-saudara kita
Yang dapat
dipercaya itu sedikit
Dan apakah
ada kesempatan untukku
Menuju yang
sedikit itu ?
Bertanyalah
pada orang-orang
Niscaya kau
kan tahu
Orang yang
kurus di antara yang gemuk
Tiap sesuatu
itu ada bukti dan petunjuknya
Berkata Abu
Ja’far Ath-Thobari:
Lalu aku
menjawabnya:
Pemimpinku
mempunyai persangkaan yang buruk
Tentang
perjuangan orang yang berjuang
Maka masih
adakah kesempatan untukku
Untuk
berbaik sangka ?
Perhatikanlah
wahai pemimpinku
Apa yang aku
sangka dan aku katakan
Sesungguhnya
persangkaan yang baik darimu
Itulah yang
baik bagiku.
Apa yang
dikatakan oleh Ath-Thobari di atas menunjukkan kedudukan Imam Ahmad bin Isa di
sisinya. Jika ia (Imam Ahmad bin Isa) lebih tua, maka itu sudah semestinya dan
merupakan penghormatan baginya. Padahal kenyataannya sebaliknya, karena
Ath-Thobari lebih tua darinya.13
Hijrahnya
Imam Ahmad bin Isa dari Hijaz ke Hadhramaut
Imam Ahmad
bin Isa melihat terpecah-pecahnya keturunan Ali bin Abi Thalib, keadaan yang
memburuk, adanya kerusakan dan kejadian berdarah yang dialaminya sehingga tidak
ada lagi keamanan dan tempat untuk menetap. Juga fitnah orang-orang kulit kitam
telah meninggalkan bekas yang buruk dalam kehidupan, ditambah lagi
pemberontakan orang-orang Qaramithah dan serangan mereka ats Bashrah (310 H)
membuat orang-orang yang sabar pun tidak dapat lagi untuk bersabar. Ketika
mereka memasuki Bashrah, Imam Ahmad bin Isa sedang berada di tengah-tengah
keluarga dan penduduk Bashrah berada dalam kegelisahan dan kekhawatiran
sebagaimana yang disampaikan oleh sahabatnya Muhammad bin Jarir Ath-Thobari.
Karena keadaan tidak memungkinkan untuk tetap tinggal disana dan ia yakin bahwa
berangkat pada saat itu sesuatu yang tidak dapat dihindari lagi, maka ia memutuskan
untuk meninggalkan Iraq, dimana ia meninggalkan harta dan sebagian
anak-anaknya.14
Yang
demikian itu ia lakukan meskipun ia menikmati berbagai keistimewaan,
diantaranya ia adalah pemimpin keluarga Al-Uraidhiyah ( yang dinisbahkan kepada
Imam Ali Al-Uraidhi), kemudian ia dan ayahnya adalah naqib para syarif
Alawiyin, mereka berdua juga adalah imam dan pemuka besar orang-orang Bashrah
serta merupakan bintang-bintang kejora mereka. Walau demikian ia memutuskan
hijrah dari itu semua.
Pada tahun
317 H berangkatlah suatu kafilah besar dari Bashrah pada masa pemerintahan
Al-Muqtadirbillah (290-320 H) melewati padang pasir membawa Imam Ahmad bin Isa
dan istrinya Zainab binti Abdullah bin Al-Hasan bin Ali Al-Uraidhy, anaknya
Ubaidillah dan istrinya Ummul Banin binti Muhammad bin Isa bin Muhammad, serta
cucunya Ismail yang diberi gelar ‘Ibn Ubaidillah’ serta para pengikut mereka
yang berjumlah sekitar 70 orang. Kafilah ini melalui jalan Syam yang panjangnya
mencapai 712 mil.
Ikut
bersamanya juga lima orang yang bukan pengiringnya. Di antara mereka dua orang
adalah anak-anak pamannya. Mereka adalah kakek dari “Bani Qadim” dan “Bani
Al-Mahadilah”. Mereka adalah sahabat-sahabat Al-Muhajir sebagaimana tiga orang
lainnya Ja’far bin Abdullah Al-Azadi kakek dari Al-Masyaikh Al-Makhdum, Mukthar
bin Abdullah bin Sa’d kakek Al-Masyaikh Al-Mukhtar, dan Syuwayyah bin Faraj
Al-Ashbihaniy.15
Sa’id
Bawazir, seorang ahli sejarah dari Hadramaut, mengatakan bahwa keputusan Imam
Ahmad bin Isa hijrah dari Bashrah, berangkat bersama keluarga dan para
pengikutnya yang berjumlah lebih dari 70 orang adalah pada masa sulitnya
perjalanan karena tidak ada kapal laut dan kendaraan selain kafilah onta yang
melewati pdang tandus yang luas dengan langkah-langkahnya yang berat pada perjalanan
yang sulit dan berbahaya.16 Ia meninggalkan sebagian
anak-anaknya bersama keluarga mereka di Bashrah. Mereka adalah Muhammad, Ali,
dan Hasan.17
Kemudian
Imam Al-Muhajir sampai di Madinah dan menetap disana selama setahun. Ketika ia
berada di Madinah, masuklah orang-orang Qaramithah ke Makkah di bawah pimpinan
Abu Thohir bin Abi Sa’id pada tanggal 17 Dzulhijah tahun 317 H. Mereka mencabut
Hajar Aswad dan membawanya ke Hijr sehingga tempatnya menjadi kosong. Pada
tempat yang kosong itu orang-orang meletakkan tangannya untuk bertabarruk
selama 22 tahun.
Pada tahun
berikutnya (318 H) Imam Ahmad bin Isa menuju Makkah diikuti keluarga dan para
pengikutnya. Ia melakukan ibadah haji dan di tempat Hajar Aswad hanya
menyentuhnya saja. Disana ia mendengar apa yang dilakukan oleh orang-orang
Qaramithah ketika memasuki Makkah dan mendengar tentang berkembangnya
orang-orang Khawarij di Arab Selatan.
Kemudian ia
memutuskan berangkat ke Yaman, menembus segala penjuru Hijaz, ‘Asir, dan Yaman.
Lalu ia berbelok ke timur ke arah Hadramaut.18
Mengapa Imam
Al-Muhajir Hijrah ke Hadhramaut ?
Mengapa Imam
Al-Muhajir memilih Hadramaut dan tidak pergi ke Khurasan yang hijau atau tidak
tinggal di Hijaz atau Yaman sebagaimana anak-anak pamannya tinggal? Mengapa
tidak berangkat ke Mesir dimana hati penduduknya selalu beserta ahlul bait
sejak permulaan Islam? Mengapa pula tidak pergi ke Sind, India padahal disana
banyak terdapat keluarga Abu Thalib dan para pengikut mereka? Atau mengapa
tidak pergi ke tempat lain dan hanya bermaksud ke Hadramaut, mengapa?
Apakah ia
pergi untuk menghadapi orang Khawarij dan menjadi benteng terhadap orang-orang
Qaramithah yang telah maju dan menguasai kota Amman? Kalau tidak mengapa ia
berangkat ke suatu negeri yang tidak terdapat disana suatu kekayaan atau
sesuatu yang memikat hatinya dan tidak pula terdapat seorang pun dari
putera-putera pamannya?19
Maka
masuklah Imam Al-Muhajir ke Hadramaut. Ia bersikap lemah lembut dalam da’wahnya
dan menempuh cara yang halus dan mengeluarkan hartanya. Maka banyak orang-orang
Khawarij yag datang kepadanya dan taubat di tangannya setelah mereka berusaha
menentang dan mencacinya.
Ia jug
menolong qabilah Al-Masyaikh Al-Afif. Dan bergabung juga dengannya qabilah
‘Kandah’ dan ‘Madij’. Mereka meninggalkan mazhab Ibadhiy dan bercampur dengan
orang-orang yang datang dari Iraq. Minoritas Sunnah dan Syiah sekitar Al-Washil
Al-Jadid juga berpaling kepadanya. Hanya orang-orang Khawarij yang lainnya
menentangnya dan menyalakan api peperangan terhadapnya. Tetapi ia dan
orang-orang yang besertanya walaupun dalam jumlah yang sedikit dapat menang
pada pertempuran “Bahran”.
Sampai saat
ini masih tetap dikatakan orang suatu perumpaan: “ Dimana engkau wahai
orang yang lari dari Bahran?” kemenangan itu adalah suatu kemenangan bersama
bagi orang Sunni dan Syiah dalam melawan orang Khawarij,20 karena seperti diketahui Imam
Al-Muhajir adalah Sunni dan bermazhab Syafi’i.
Sejarawan
Hadramau Sa’id Bawazir mangatakan bahwa orang-orang Ibadhiyin memerangi
Al-Muhajir karena mereka tersingkir dari tinggal di Hadramaut dan orang-orang
Sunni maupun Syiah di Hadramaut dan Yaman bersatu untuk menolongnya. Maka
berkecamuklah peperangan diantara kedua pihak. Pada peperangan ini orang-orang
Ibadhiyun mendapatkan bantuan dari orag-orang sekaumnya dari Amman dan daerah
lainnya, sedangkan Al-Muhajir mendapatkan bala bantuan dan keuangan yang dibawa
oleh qafilah-qafilah di darat dan kapal-kapal laut yang dikirim oleh anaknya
Muhammad yang ia tinggalkan ditempat lamanya sebagai wakil dirinya dalam
menjaga segala miliknya, kurmanya, dn perdagangannya yang luas.
Ketika
terjadi peperangan yang menentukan diantara keduanya di daerah Bahran yaitu
saat Al-Muhajir tinggal di Bahrain terpecahlah keberanian orang-orang
Ibadhiyun. Setelah itu Al-Muhajir pindah ke bukit Bani Jasyir.
Karena itu
jelaslah bahwa Imam Al-Muhajir menyatakan dengan terang-terangan mazhab dan
aqidahnya dan mengajal orang kepada aqidahnya itu yang membuat orang-orang
Ibadhiyun berpikir mencari siasat menghadapinya dan menghadapi perkembangan
mazhab dan aqidahnya dengan segala cara. Dan sesungguhnya orang-orang Alawiyin
menutupi diri mereka dengan membawa senjata sebagaimana metode para sahabat
dalam ilmu dan pengalamannya. Tetapi setelah berakhir mazhab Ibadhiy dan tampil
kemukanya mazhab Syafi’i mereka mulai dengan mazhab shufi sejak zaman Al-Imam
Al-Faqih Al-Muqaddam.21
Ahli sejarah
dari Hadramaut Muhammad Asy-Syathiri mengatakan bahwa mazhab Ibadhiyah adalah
mazhab yang dominan disan dimana mereka mempunyai pengaruh dalam pelaksanaan
berbagai hal dihadapan mereka. Tetapi Imam Al-Muhajir dengan ilmunya, kekuatan
pribadinya, dan keberaniannya mampu menyebarkan mazhab Sunni Syafi’i di
Hadramaut sehingga akhirnya setahap demi setahap dapat menempati tempat mazhab
Ibadhiy sesuai dengan cara perkembangan mazhab. Berkata ia dan murid-muridnya
dari kalangan ahlussunnah berubahlah tanah Hadramaut menjadi negeri Sunni
Syafi’i. Dan sebelum berakhir abad ke tujuh mazhab Ibadhiy telah lenyap sama
sekali dari Hadramaut dan merata mazhab Sunni disana.22
Imam Alwi
bin Ubaidillah bin Imam Al-Muhajir
Imam
Al-Muhajir mempunyi empat orang putera, yaitu Ali, Al-Husein, Ubaidillah, dan
Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke hadramaut dan mendapat seorang
anak yang bernama Alwi. Ia adalah anak pertama dari cucu Imam Al-Muhajir yang
dilahirkan di Hadramaut. Karena itu para sayid / syarif di sana disebut
dengan Al-Alawiyin atau qabilah ‘Ba alawi’.
Sejarawan
Hadramaut Muhammad Bamuthrif23 mengatakan bahwa Alawiyin
dianggap qabilah yang terbesar jumlahnya di Hadramaut dan yang paling hijrah ke
Asia dan Afrika. Qabilah Alawiyin di Hadramut dianggap orang Yaman karena
mereka tidak berkumpul kecuali di Yaman dan sebelumnya tidak terkenal di luar
Yaman.
Datuk
pertama yang orang Hadramaut bagi qabilah ini adalah Alwi bin Ubaidillah. Ia
adalah kelahiran Hadramaut. Anak cucunya tersebar di kota-kota Hadramaut dan
Zhufar, khususnya di kota Tarim yang disebutkan oleh Amir Syakib Arsalan ketika
mentelaah kitab “Al-Masyra’ Al-Rawi” ketika menceritakan pribadi-pribadinya
yang pada umumnya dilahirkan di Tarim dan hafal Al-Quran. Maka Amir Syakib
Arsalan mengatakan aku ingin mengarang suatu kitab yang bernama “Alhajar
al-Karim fi man wulida bi Tarim.”
Nasywan
Al-Hamiri (wafat tahun 573 H) ketika mengunjungi Tarim dan mendapatkannya
bagikan seorang pengantin dan disana terdapat para syarif Hadramaut mengatakan:24
“Semoga Allah memelihara saudara-saudaraku yang semasa
denganku yang didalam negeri Tarim bagaikan bintang-bintang yang bersinar.”
Al-Imam
Shohib Marbath Muhammad bin Ali dan keturunannya (573-653)
Ia adalah
Imam Muhammad Shohib Marbath bin Ali Kholi’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin
Ubaidillah bin Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa. Ayahnya diberi laqob “Kholi’
Qasam” sebagai nisbah kepada negeri al-Qasam yang merupakan tempat mereka di
negeri Bashrah,25 dimana dari tempat itu ia
mendapat harta dan membeli tanah didekat kota Tarim di Hadramaut dengan harga
20.000 dinar dan ditanaminya pohon kurma untuk mengenang kota Qasam di Bashrah
yang tadinya dimiliki oleh kakeknya Al-Imam Al-Muhajir yang merupakan tanah
yang luas disana didekat teluk Arab dan penuh kurma pada masa itu.26
Imam
Muhammad Shohib Marbat dilahirkan di kota Tarim dan ia hafal al-Quran.27 Ia dinamai dengan Shohib
Marbah karena ia tinggal disana. Ia sering pergi ke berbagai penjuru
sehingga sampai di Marbath di daerah Zhufar dan menetap disana ia mendapatkan
sambutan dan penghormatan dari penduduknya, dan bertambah tersebar keharuman
namanya. Ia tinggal disana sampai wafat dan kuburnya di Marbath terkenal.28
Keutamaan
yang besar bagi Imam Muhammad Shohib Marbath karena ia memasukkan mazhab Imam
Syafi’i dan Aqidah Ahlussunnah ke Zhufar setelah tadinya penduduknya adalah
orang Khawarij dari sekte Ibadhiyah. Ia berhasil dengan kemampuannya yang hebat
merubah aqidah mereka menjadi aqidah ahlussunnah dan bermazhab Syafi’i.
Ia telah
melakukan peranan seperti peranan yang telah dilakukan oleh kakeknya Al-Imam
Al-Muhajir dalam memasukkan mazhab Syafi’i di Hadramaut. Dan sebagaimana
kakeknya hijrah dari Bashrah ke Hadramaut, ia hijrah ke Zhufar.29 Demikian pula cucu-cucunya dan
keturunannya hijrah ke Asia dan Afrika setelah itu.
Kakek dari
semua Syarif Alawiyin di Hadramaut dan ditempat hijrah yang lain adalah
Syeikhul Imam Muhammad Shohib Marbath.30 Dan kepada kedua orang anaknya
bernasablah semua sayid/syarif di dalam dan di luar hadramaut.
Mereka
berdua adalah Alwi yang bergelar ‘Ammul-Faqih’ dimana bernasab kepadanya keluarga
Abdul Malik yang dikenal dengan keluarga “Azhmat Khan” di India. Demikian pula
para da’i pertama yang menyebarkan Islam di Asia Tenggara yang akan kita
kemukakan nanti. Sedangkan anak yang kedua adalah Ali dan keturunannya melalui
anaknya Muhammad yang bergelar ‘al-Faqih Al-Muqaddam’. Ia mempunyai 3 orang
anak yaitu Ahmad, Ali, dan Alwi.
Lalu Alwi
menurunkan Al-Imam Muhammad Maula Ad-Dawilah yang menurunkan Al-Imam
Abdurrahman As-Saqqaf. Kemudian dibawahnya anaknya Syeikhul-Imam Abubakar
As-Sakran.
Abubakar
As-Sakran mempunyai seorang anak yang terkenal dengan nama Al-Aydrus, yaitu
Al-Imam Abdullah Al-Aydrus bin Abubakar As-Sakran bin Abdurrahman As-Saqqaf bin
Muhammad Maula Ad-Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam
bin Ali bin Muhammad Shohib Marbath.
Al-Imam
Abdullah Al-Aydrus (811-865 H) diberi gelar oleh kakeknya Abdurrahman As-Saqqaf
dengan gelar Al-Aydrus yang dikatakan berasal dari kata
“Al-Aytarus”. Kakeknya wafat ketika ia berusia 8 tahun, sedang ketika ayahnya
wafat ia berusia 10 tahun. Lalu ia diasuh oleh pamannya Asy-Syeikh Umar
Al-Muhdar. Ia memperoleh ilmu dari pamannya ini dan dari sejumlah ulama besar
di Hadramaut, Yaman, Makkah Al-Mukaramah, dan Madinah Al-Munawwarah.
Pamannya
yaitu Al-Muhdar wafat ketika ia (Al-Aydrus) berusia 25 tahun. Lalu orang-orang
bersepakat untuk mengajukannya untuk memegang kepemimpinan para Sayid/Syarif
Alawiyin setelah pamannya Umar Al-Muhdhar dan banyak menghasilkan ulama.
Sejarawan
Muhammad Dhiya’Syahab, seorang pentahqiq nasab para Syarif Hadramaut mengatakan
bahwa qabilah Al-Aydrus adalah suatu keluarga yang terkenal dalam bidang
keilmuan, politik, dan kemasyarakatan. Mereka banyak memiliki orang-orang besar
(istimewa) yang berkhidmat pada ilmu dan masyarakat. Mereka juga terlibat dalam
urusan-urusan umum.
Pada masa
sekarang mereka banyak tersebar di Hadramaut, Jazirah Arab sebelah Selatan,
Zhufar, Hijaz, Ahsa’, daerah-daerah lain di Jazirah Arab, Iraq, Mesir, India,
Afrika Timur, dan Asia Tenggara.
Di daerah
rengat, Sumatera terdapat sejumlah besar dari mereka, yaitu yang bernasab
kepada Syarif Zein bin Alwi “Shohib Taribah” bin Ahmad bin Abdullah “ Shohib
Ath-Thoqoh”. Yang pertama kali masuk ke Rengat adalah Ali bin Abdullah bin
Hasan bin Umar bin Zein Al-Aydrus pada masa Sultan Hasan Shalih.
Di daerah
Trengganu, Malaysia terdapat beberapa keluarga ini. Jam’iyyah Al-Rabithah
Al-Alawiyah di Indonesia telah menghitung jumlah mereka di jawa, di beberapa
bagian pulau Sumatera, dan pulau-pulau di Indonesia bagian Timur, yaitu
berjumlah 1057 orang pada tahun 1358 H. Perhitungan ini belum mencakup seluruh
pelosok Indonesia, Malaysia, dan Filipina.31
Keluarga
syarif di Hadramaut mempunyai cabang-cabang yang banyak. Yang paling terkenal
diantaranya: Al-Habsyi, Al-Aththas, Al-Hamid.
BAB II
Hijrahnya Para Syarif Hadramaut Ke
Asia Tenggara
Para syarif
dan hijrah
Sejarah
telah mencatat macam-macam hijrah yang berbeda-beda. Di antaranya hijrah karena
lari dari kerasnya kehidupan dan kezaliman penguasa. Sebagian lagi karena
mencari keselamatan dari peperangan. Seringkali orang yang hijrah menemui
penderitaan dalam perjalanan. Terkadang mereka tidak mendapatkan tempat yang
cocok untuk hidup, sehingga mereka melanjutkan perjalanannya di padang tandus
atau di lautan sampai mereka menemui orang yang mengasihani dan menghormati
mereka, sehingga mereka dapat tinggal di antara masyarakat yang baru dan
memberi keamanan.
Terlepas
dari sebab-sebabnya, hijrah mempunyai pengaruh yang besar dalam penyebaran Islam.
Setelah menetap di daerah-daerah yan baru, mulailah da’wah Islamiyah di antara
ummat yag tadinya tidak mempunyai hubungan dengan Islam atau mempunyai
pengetahuan tentangnya. Maka mereka menerima Islam dengan hati yang terbuka.
Setelah mereka mngenal Allah dan pindah ke peradaban Islam yang tinggi, mereka
mengakui kebaikan para da’inya dan mengenang nama-namanya di hati mereka.32 Inilah yag kita temukan di
daerah-daerah dan pada ummat-ummat yang memeluk agam Islam dan kemudian menjadi
pembela-pembelanya.
Kita banyak
menemukan anak cucu dan keturunan Imam Ja’far Ash-Shadiq yang hijrah dan
tersebar di berbagai daerah baik atas kehendak mereka ataupun karena masalah
politik. Pada mulanya mereka tersebar di daerah-daerah yang bertetangga dengan
Iraq dan Jazirah Arab. Mereka hijrah ke Syiraz, Qum, dan Khurasan.
Kita
saksikan sekarang anak cucu dan keturunan mereka di berbagai pelosok Hadramaut
dan di daerah pesisir lautan Hindia, seperti Asia Tenggara, India, dan Afrika
Timur. Para da’i dan ulama-ulama mereka mempunyai peranan yang besar di tanah
air mereka yang baru. Karena itu para penguasa, sultan, dan
penduduk-penduduknya memuliakan mereka karena karya mereka yang baik dan agung.
Setelah
berakhir hijrah ini ke tempat tinggal mereka di daerah-daerah yang baru, mereka
biasanya berbaur dalam masyarakat dimana mereka tinggal, sebagaimana yang
terjadi pada diri Imam Muhammad bin Ali Al-Uraidhi dan anak-anaknya hijrah dari
Madinah ke Bashrah. Juga cucunya Ahmad bin Isa yang hijrah dari Bashrah ke
Hijaz kemudian ke Hadramaut, lalu menetap disana. Anak cucunya juga berbaur
dalam masyarakat yang baru. Setelah itu hijrah mereka yang pertama adalah ke
India. Dari sana ke Asia Selatan dan juga ke Afrika Timur.
Kita
menemukan juga pada sebagian orang di Afrika Selatan, dan juga para muslimin
Filipina pengaruh darah Arab yang banyak. Khususnya anak-anak para penguasa dan
pemimpin yang selalu menyebutkan kakek-kakek mereka yang orang Arab. Sebagian
mereka, jika tidak kebanyakan dari mereka, mengaku bernasab pada keturunan para
syarif Hadramaut. Demikian juga dengan sebagian anak-anak penguasa di
kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia sebelum kemerdekaan. Demikian juga di
Malaysia dan Brunei.
Dr. C.
Snouck Hurgronye seorang orientalis Belanda mengatakan sesungguhnya “Tuanku
Kota Karang” yang nerupakan seorang musuh yang terbesar bagi Belanda meyakini
dan membela kepercayaannya bahwa pada darah penduduk Aceh mengalir darah Arab.
Ia menyatakan hal ini dalam khutbah-khutbahnya yang keras melawan Belanda. Nama
orang alim ini sebenarnya adalah Tuanku Abbas yang merupakan Qadhi pada
kesultanan Aceh ketika berjuang melawan penjajahan Belanda dan juga penasehat
Syeikh Sulaiman pemimpin pasukan jihad Islami.
Karena ini
dapat dikatakan bahwa pembauran terjadi secara bertahap. Seandainya orang-orang
yang hijrah itu tidak melebur dalam masyarakat setempat, niscaya keturunan Arab
akan tetap jelas setelah melalui masa yang panjang. Padahal keadaannya tidak
demikian.33
Dapat
dikatakan bahwa para Syarif Hadramaut menyebarkan da’wah Islamiyah di Asia
Tenggara melalui dua hijrah:
Yang
pertama, hijrah para syarif yang datang pada masa Bani Umayah karena lari dari
Iraq, setalah penindasan Bani Umayah terhadap Alawiyn. Tujuan mereka pada
hijrah ini adalah pulau-pulau di Filipina.
Syamsuddin
Abu Abdillah Muhammad Al-Anshari dalam kitabnya “Nukhbatud-dahri fi ajaibil
barri wal bahri” menerangkan tentang kedatang mereka. Ia mengatakan34 suatu kaum dari Alawiyin masuk
pada enam pulau sebelah Timur yang dinamai Sila (Sili), lalu mereka menetap dan
mempunyai anak keturunan di sana. Mereka memiliki tempat-tempat itu dan wafat
di sana. Demikian yang dikatakan para ahli. Dan sebagian di antara pulau-pulau
Sila adalah sebagian pulau-pulau Filipina sekarang. Penyebaran isalam pada masa
ini terbatas dan tidak melewati daerah-daerah dan masa tertentu.
Adapun
hijrah kedua mempunyai pengaruh yang besar dalam penyebaran Islam ke sebagian
besar Asia Tenggara. Demikian pula masa sampai sekarang ini. Hijrah ini adalah
setelah menetapnya anak cucu Imam Al-Muhajir.
Hijrah ini
sampai ke Asia Tenggara melalui dua tahap, yaitu: Tahap pertama hijrah ke
India. Kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung
dari Hadramaut ke Asia Tenggara melalui pesisir India.
Sejarawan
Hadramaut Sholah Al-Bakri dalam kitabnya “Tarikh Hadramaut”35 tahun 1936 mengatakan tidak
diragukan lagi bahwa hijrahnya orang Arab Hadramaut ke Jawa dan ke pulau-pulau
sekitarnya adalah hijrah terbesar dalam sejarah mereka. Mereka memasuki Timur
jauh pada masa lautan penuh dengan bahaya. Lalu mereka turun di pulau-pulau
yang subur itu. Diantara hasil terbesar hijrah ini adalah lenyapnya agama Budha
dan tegaknya agam Islam
Hijrahnya
para syarif hadramaut ke India lalu dari sana ke Asia Tenggara
Hijrahnya
para syarif Hadramaut ke India dan dari sana ke Asia Tenggara, merupakan sebab
dari ketidakpahaman sebagian besar sejarawan khususnya sejarawan Eropa.
Kesalahan mereka adalah bahwa mereka menganggap para da’i yang datang ke Asia
Tenggara adalah dari India.
Sebagian
mereka membandingkannya dengan orang-orang terdahulu yang datang dari India,
dimana mereka datang ke Indonesia dengan membawa agama Hindu dan Budha,
sebagaimana dikatakan oleh Brian May dalam bukunya tentang Indonesia bahwa
agama Islam menyerupai agama Hindu karena ia datang ke Indonesia dari India,
menetap di sebagian Sumatera pada abad ke 13 Masehi sebelum berkembang ke
berbagai pelosok Indonesia pada abad ke 15.36
Da’i
Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab ketika memberikan catatan atas kitab
“Hadhir Al-Alam Al-Islami” karya Amir Syakib Arsalan37 mengatakan:
Dari segi
ini para sejarawan Eropa menerangkan secara serampangan tentang para da’i yang
di tangan mereka orang-orang Jawa masuk Islam. Satu ketika mereka mengatakan
bahwa para da’i ini berasal dari Gujarat. Sedang pada kesempatan lain mereka
mengatakan bahwa para da’i ini adalah orang-orang Persi. Dalam masalah ini
mereka hanya berputar-putar dan tidak lepas dari kebodohan.
Mereka
berpendapat bahwa para da’i tersebut datang dari negeri-negeri itu tanpa
mengetahui hakekat mereka yang sebenarnya. Sesungguhnya orang-orang Arab
Hadramaut dengan dipimpin oleh para syarif Alawiyin sering pulang pergi ke
Malabar, Gujarat, Kalikut, dan negeri-negeri lain di India. Di sana mereka
mempunyai pusat-pusat perdagangan dan keagamaan. Dan banyak orang Alawiyin yang
mempunyai asram-asrama yang terbuka untuk para penuntut ilmu. Banyak juga
kapal-kapal yang pergi ke pesisir Hadramaut menuju Malabar kemudian ke pesisir
India di sebelah Timur. Dari sana menuju Sumatera dan Aceh, kemudian ke
Palembang lalu ke Jawa.38
Kita dapat
membantah pendapat orang-orang Eropa itu karena berbagai sebab, yaitu:
Pertama, masalah
hijrahnya para syarif Hadramaut dan menetapnya mereka di India.
Para syarif
Hadramaut hijrah ke pesisir India dan menetap disana pada abad X Masehi atau
sebelum itu, seperti keluarga Bani Abdul Malik bin Alwi “Ammul-Faqih
Al-Muqaddam” bin Muhammad Shohib Marbath yang wafat pada tahun 613 H.
Keturunannya tersebar di India dan mereka mempunyai keistimewaan dalam
keberanian dan kekuatan. Mereka mendirikan kerajaan di sana yang terkenal
dengan nama “Azhmat Khan”.
Di antara
yang hijrah ke India adalah seorang alim Syarif Abdullah bin Husein bin
Muhammad Bafaqih ke kota “Kanur” dan menikahi anak menteri Abdul Wahab dan
menjadi pembantunya sampai ia wafat. Lalu Syarif Muhammad bin Abdullah
Al-Aydrus yang terkenal di kota Ahmadabad dan Surat. Ia hijrah atas permintaan
kakeknya Syarif Syeikh bin Abdullah Al-Aydrus. Ketika kakeknya tersebut wafat
pada tahun 990 M ia menempati kedudukannya sampai tahun 1003 M ketika wafat di
Surat.
Sultan Kharm
berhubungan dengan Syarif Abubakar bin Husein Al-Aydrus yang wafat di kerajaan
Abad pada tahun 1048 M. Juga raja Anbar berhubungan dengan Syarif Abubakar bin
Husein bin Abdurrahman dari keluarga Ahmad bin Al-Faqih Al-Muqaddam. Sultan
Bijapur yaitu Sultan Mahmud Syah bin Sultan ‘Aidil Syah juga berhubungan dengan
syarif ini dan menjadikannya teman khususnya. Syarif ini adalah seorang yang
pemurah kepada orang-orang yang datang kepadanya. Adapun Syarif Ali bin Alwi
bin Muhammad Al-Haddad adalah seorang penasehat dari raja Anbar yang juga
berhubungan dengan Syarif Ja’far Ash-Shadiq bin Zainal Abidin Al-Aydrus
(997-1064 M) di kerajaan Abad. Syarif ini datang mengajar di daerah Deccan dan
mengajar bahasa Persi dan menterjemahkan kitab “Al-Aqd Al-Nabawi” ke dalam
bahasa tersebut. Sultan Burhan Nizham Syah juga berhubungan dengannya. Mereka
semua mempunyai kedudukan di sisi sultan Haidarabad dan lainnya.
Al-Allamah
Syarif Baqir bin Umar bin Aqil Bahsan Jamalullail pulang pergi ke India sampai
wafat pada tahun 1076 M sesudah ia kembali ke Hadramaut di kota Tarim.
Buku-buku
biografi penuh dengan orang-orang yang hijrah ke berbagai daerah dan menetap di
daerah-daerah itu. Sebagian keluarga-keluarga Arab itu telah melebur dalam
masyarakat itu sedangkan yang lainnya masih dikenal di India dan di Asia
Tenggara. Di antara mereka adalah:39 Keluarga Al-Qadri, Al-Muthahhar,
Al-Haddad, Al-Basyaiban, Khaneman, Al-Aydrus, bin Syahab, bin Syeikh Abubakar,
As-Saqqaf, Bafaqih, Jamalullail, Al-Habsyi, Asy-Syatiri, Al-Baidh, Aidid,
Al-Jufri. Keluarga ini semua keturunan dari Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa.
Yang kedua,
sulitnya mengarungi lautan dari Hadramaut ke Asia Tenggara tanpa melalui India.
Sungguh
merupakan suatu hal yang sangat sulit jika tidak mustahil mengarungi lautan
langsung dari Hadramaut ke Asia Tenggara, khususnya karena kiata mengetahui
bahwa kapal-kapal perniagaan yang sederhana yang menuju ke India dan dari sana
ke Asia Tenggara.
Bahkan
kapal-kapal modern pada masa kita sekarang pun harus melalui pelabuhan India
untuk mengambil perbekalan bahan bakar, makanan, air, dan persiapan-persiapan
lainnya sebelum menuju ke Asia Tenggara karena jarak dari Hadramaut ke Asia
Tenggara sangat jauh.
Da’i
Muhammad Abdurrahman bin Syahab mengatakan:40
“yang
dimaksudkan adalah mungkin orang-orang Eropa yang mengatakan tentang hal ini
telah mempunyai persangkaan yang salah dikarenakan para da’i itu datang melalui
jalan India.”
Hal tersebut
diatas memang benar karena tidak seorang pun yang mengarungi lautan dari
Hadramaut ke Jawa, melainkan mereka menuju kesana melalui India. Dan disana
terdapat markas mereka, bahkan disana telah berdiri kerajaan-kerajaan dimana
para pekerja yang mendirikannya adalah sebagian syarif Hadramaut, seperti
kerajaan Anbar.
Sebagian di
antara pekerja dalam mendirikannya adalah berdasarkan petunjuk-petunjuk Syarif
Ali bin Alwi bin Muhammad Al-Haddad. Karena itu terdapat kisah yang aneh yang
disebutkan dalam kitab “Aqdul jawahir wad-durar” dan dinukilkan oleh pengarang
Khulashoh Al-Atsar. Silahkan anda membacanya. Sedangkan Amir Jauhar Saharti
tidak lain adalah murid dari Al-Imam Syeikh bin Abdullah Al-Aydrus.
Di antara
penyebab timbulnya persangkaan yang salah dari para sejarawan Eropa tersebut
adalah pakaian yang dikenakan oleh orang-orang Alawiyin mirip dengan yang
dikenakan oleh para ulama Persi. Dalam perkataan-perkataan mereka terdapat
persangkaan-persangkaan yang dapat diketahui oleh setiap pengamat.
Perlu
disebutkan bahwa memang ulama-ulama Hadramaut mengenakan pakaian dan sorban
hijau mirip dengan yang dikenakan oleh ulama-ulama Persi. Keserupaan ini
disebabkan karena keduanya berasal dari asa yang sama. Sesungguhnya yang mengenakan
sorban hijau biasanya adalah para ahlul bait. Di sana (Persi) terdapat sebagian
cabang dari keturunan Imam Ja’far Ash-Shadiq. Sedangkan pada masa yang sama
terdapat cabang lain yang hijrah ke Hadramaut yaitu keturunan Imam Al-Muhajir
bin Isa.
Yang ketiga,
perbedaan mazhab antara orang India dan para syarif Hadramaut.
Seandainya
kita kembali ke India, kita akan dapati diantara mereka sejumlah besar orang
syiah dan firqah-firqah lainnya. Orang-orag sunninya bermazhab Hanafi.
Sedangkan para da’i yang menyebarkan agama Islam di Asia Tenggara adalah
bermazhab Syafi’i yang merupakan mazhab para syarif Hadramaut. Adanya perbedaan
ini adalah bukti terbaik bahwa mereka yang datang dari India atau melalui India
dan menyebarkan agama Islam di Asia Tenggara adalah para syarif Hadramaut yang
menetap di India atau datang dari Hadramaut melalui jalur India.
Ada orang
yang menggunakan kata ‘Al-Magharibah’ terhadap satu cabang keluarga
Al-Basyaiban yang termasuk syarif Hadramaut dan menghubungkan nasab mereka
dengan para da’i dari Maghrib. Mungkin mereka menggunakan nama itu untuk
keluarga Al-Basyaiban ini karena mereka datang dari sebelah Barat pulau Jawa
dan letak semenanjung Arab dimana Hadramaut terletak di sebelah Selatannya
adalah di sebelah Barat jika dilihat dari Jawa.
Kubur-kubur
yang terdapat di Mojoagung merupakan suatu contoh dari nasab mereka. Diantara
mereka adalah Kyai Al-Allamah Mansur bin Thoha bin Muhammad bin Baqir bin
Mujahid bin Ali Asghor bin Ali Akbar bin Sulaiman bin Abdurrahman bin Umar bin
Muhammad bin Ahmad Abibakar Asy-Syaibani yang dikuburkan didaerah Mojoagung.
Terdapat
sejumlah besar Al-Basyaiban di Cirebon, Pekalongan, Balikpapan, dan sebagainya.
Dan Abdurrahman dimana nasab mereka (keluarga Al-Basyaiban) kembali kepadanya,
wafat pada tahun 973 H dan anaknya Abdullah wafat di Aceh dan mempunyai
keturunan di India, di Balqam, dan di Deccan.41
BAB III
Sejarah Masuknya Islam Ke Asia
Tenggara
Ada beberapa
pendapat tentang masuknya Islam ke Asia Tenggara. Kami akan membatasi pada dua
pendapat saja. Yang pertama pendapat orang-orang Eropa dan yang kedua pendapat
sejarawan Arab dan muslim.
Pendapat
orang-orang Eropa Barat
Orang-orang
Eropa menghubungkan temuan-temuan geografi kepada penyelidikan bangsa mereka.
Bahkan masuknya Islam ke Asia Tenggara pun mereka kembalikan kepada temuan
seorang bangsa mereka yaitu seorang pengembara Italia yang bernama Marcopolo.
Hal ini
adalah sesuatu yang tidak kita sukai dan tidak menggambarkan kenyataan yang
sebenarnya. Seolah-olah sejarah masuknya Islam ke daerah tersebut tidak
diketahui oleh dunia pada umunya dan oleh orang-orang Islam dan Arab pada
khususnya, kecuali ketika orang Eropa ini (Marcopolo) datang ke Sumatera dan
menemukan orang Islam disan dan mengungkapkannya. Seolah-olah juga orang Islam
tidak mengetahui hal itu kecuali melalui orang Eropa ini.
Dari
kenyataan ini maka kita wajib untuk tidak menghubungkan tiap sesuatu kepada
orang Kristen Barat, melainkan kepada kenyataan ilmiah. Sejarah masuknya Islam
ke Asia Tenggara dan peran yang dimainkan oleh para Syarif Hadramaut tidak
diketahui oleh orang Barat atau mereka sengaja tidak menunjukkan hal itu.
Walau
demikian kami akan mengemukakan apa yang disebutkan oleh orang-orang Barat,
lalu apa yang dikatakan oleh orang Arab dna muslimin. Pendapat sebagian besar
sejarawan Eropa secara mutlak berpegang pada apa yang disebutkan oleh
pengembara Italia Marcoplo bahwa masuknya Islam ke Asia Tenggara adalah pada
abad ke 13 Masehi di sebelah Utara pulau Sumatera dan mereka membatasi pendapat
mereka pada perjalanan Marcopolo ini ke daerah tersebut pada 1292 M dengan
perkataannya seperti yang termuat didalan buku “Ensiklopedia Dunia Islam”.42
“
sesungguhnya semua penduduk negeri ini adalah penyembah berhala kecuali di
kerajaan kecil Perlak yang terletak di Timur Laut Sumatera dimana penduduk
kotanya adalah orang-orang Islam. Sedangkan penduduk yang tinggal di
bukit-bukit mereka semuanya adalah penyembah berhala atau orang-orang biadab
yang memakan daging manusia”
M. C.
Ricklefs dalam bukunya tentang sejarah Indonesia modern mengatakan:
“Penetapan
pertama tentang Islam dan orang-orang muslim di Indonesia adalah bahwa pertama
mereka berada di bagian Utara Sumatera ketika Marcopolo melihat mereka sewaktu
ia kembali dari perjalanannya dari negeri China tahun 1292 M ketika itu ia
mendapati Perlak sebagai kota orang-orang Islam sedangkan dua daerah yang
terdekat dengannya yaitu Basma dan Samara bukan Islam. Keduanya biasanya
disebut bersama-sama dengan daerah Islam Pasai.
Karena
penamaan ini sebelum kedatangan Marcopolo, maka hal ini menimbulkan tanda
tanya. Mungkin saja daerah Samara buka Samudra itu sendiri. Tetapi jika ya
demikian, maka Marcopolo salah ketika mengatakan kota itu bukan kota Islam.
Karena sesungguhnya di sana terdapat beberapa batu bertulis dan merupakan
pemerintahan Islam pertama di Samudra. Sultan Malaka yaitu Shaleh berada di
sana tahun 696 H (1297 M). Dengan demikian itulah masa pertama yang jelas
tentang adanya masyarakat Islam yang pertama di Indonesia dan Malaysia.”43
Dari
pembahasan tadi jelaslah bahwa Islam benar-benar ada dan tersebar diantara para
penduduk Sumatera bagian Utara dan daerah Malaka di Malaysia sebelum kedatangan
Marcopolo. Hanya kita belum bisa memastikan secara tepat sejarah masuknya Islam
di daerah ini dan kapan penduduknya memeluk agama yang hanif (lurus) ini.
Karena itu dapat dikatakan bahwa Islam telah tersebar sebelum kedatangan
Marcopolo ke daerah itu. Kalau tidak bagaimana penduduk daerah itu memeluk
agama Islam ketika ia datang ?
Karena itu
kita yakin bahwa merupakan suatu kesalahan menghubungkan masuknya Islam dengan
kunjungan Marcopolo ke Sumatera. Untuk itu kami akan kemukakan pendapat
sejarawan Arab dan Muslim yang paling dekat dengan kebenaran karena kedekatan
mereka dengan tempat-tempat kejadian dan mereka juga penduduk daerah itu serta
mengalir darah Arab di dalam diri sebagian mereka.
Pendapat
Sejarawan Arab dan Muslim
Kami akan
kemukakan beberapa pendapat sejarawan Arab dan Muslim tentang sejarah Asia
Tenggara sebagai berikut:
- Muhammad
Dhiya ‘Syahab dan Abdullah bin Nuh dari Indonesia mengatakan:44
“ Banyak
buku-buku sejarah dari Barat dan orang-orang yang mengikutinya yang mengira
bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13 M, tetapi saya berkeyakinan
bahwa masuknya Islam ke Asia Tenggara jauh sebelum masa yang diduga oleh
orang-orang asing itu dan para pengikut mereka,”
- Mufti
kesultanan Johor, Malaysia Syarif Alwi bin Thohir Al-Haddad mengatakan:45
“Pendapat-pendapat
para sejarawan tentang masuknya Islam ke Asia Tenggara adalah tidak tepat.
Terutama pendapat sejarawan Eropa yang menetapkan masuknya Islam ke Jawa pada
tahun 800-1300 H, di Sumatera dan Malaysia pada abad ke 7 Hijriah. Kenyataan
yang benar bertentangan dengan apa yang mereka katakan. Karena sesungguhnya Islam
telah mempunyai raja-raja di Sumatera pada abad ke 6 bahkan ke 5 Hijriah.”
Kemudian
ahli sejarah dan mufti ini mengatakan:
“Kami telah
menyebutkan kesalahan yang terjadi tentang masuknya Islam ke Sumatera,
negeri-negeri Melayu, Kepulauan Sulu dan Mindanao. Islam telah masuk ke
daerah-daerah tersebut sebelum waktu yang disebutkan oleh orang-orang Eropa.
Bukti-bukti telah menunjukkan hal tersebut. Demikian juga yang terjadi tentang
masuknya Islam ke Jawa dan China.
Rahasia
(kunci) kesalahan ini sebagaimana dikatakan adalah, bahwasanya orang-orang Jawa
tidak mempunyai penanggalan tahunan yang tepat sebelum masuknya Islam dan
sesungguhnya hal itu terjadi jauh setelah itu dan dimasukkan pada
kejadian-kejadian dalam sejarah.
Orang-orang
yang mengatakan demikian mempunyai beberapa bukti, di antaranya bahwasanya
mereka (orang-orang Jawa) menyebutkan kelahiran Sunan Muhammad Ainul Yaqin
(Sunan Giri) bin Maulana Uluwwul Islam Makhdum Ishaq pada tahun 1355 tahun
jawa, dan ayahnya masuk ke Jawa setelah masuknya Syarif Al-Husainy Raja Carmen
yang masuk pada tahun 1313 tahun Jawa. Setelah itu masuk raden Rahmat, seorang
penyebar Islam di Jawa Timur,tahun 1316 tahun Jawa. Bibinya yang merupakan anak
Raja Campa yang menjadi istri raja Majapahit menerimanya dengan penerimaan yang
baik.
Mereka
menyebutkan tentang menetapnya bibinya ini dalam masa kehidupan yang panjang
sampai jatuhnya ibukota Majapahit di tangan orang-orang Islam. Para peneliti
menemukan makamnya yang masih terpelihara di pekuburan Majapahit yang bergaya Islam
dan dituliskan di atasnya tahun wafatnya pada tahun 1320 tahun Jawa.
Keterangan-keterangan
di atas ditambah lagi dengan apa yang disebutkan oleh sejarah-sejarah Sulu dan
Mindanao, bahwasanya Makhdum datang ke daerah-daerah tersebut sebagai da’i pada
tahun 1380 M yaitu tahun 782 H bertepatan dengan 1308 tahun Jawa. Maka antara
masuknya Makhdum Ishaq ke Jawa dan tahun ini terdapat perbedaan yang tak kurang
dari 47 tahun.
Mereka juga
mengatakan bahwa Raden Fatah (Abdul Fatah) dilahirkan kurang lebih pada tahun
1313 tahun Jawa dan mengalahkan ayahnya yang memerintah Majapahit dan
menyingkirkannya pada tahun 1402 tahun Jawa. Maka usia Raden Fatah ketika itu
89 tahun, maka berapa usia ayahnya ketika itu?
Kesemuanya
itu dan lain-lainnya yang tidak kami sebutkan, membuktikan bahwa penanggalan
tersebut dibuat-buat, dimasukkan atau ditambahkan begitu saja pada
peristiwa-peristiwa sejarah.
Cara-cara
yang tepat dapat membawa kepada hakekat permasalahan ini yang sebenarnya adalah
mengambil tahun kejadian-kejadian masuknya Islam ke Jawa dengan sejarah
nasuknya Islam ke Sumatera, Sulu, Mindanao, Brunei, Campa, dan Carmen.
Sesungguhnya para da’i Islam telah berhasil di daerah-daerah tersebut sebelum
berhasilnya da’i-da’i Islam di Jawa. Dan sesungguhnya Islam dapat berkuasa di
Jawa Timur dan dan Jawa Barat sesudah atau semasa dengan berkuasanya di tempat
lain, sehingga dapat menyamai Sumatera dalam hal itu. Tahun-tahun kejadiannya
adalah tepat dengan dituliskannya tahun-tahun wafat raja-raja Islam pada
batu-batu diatas kubur dengan penanggalan Hijriah. Sebagian dari hal itu telah
disebutkan sebelum ini.
Dan diantara
kuburan-kuburan dan tulisan-tulisan diatas batu-batu kubur dari marmer adalah
yang terdapat di Brunei, sebagaimana juga terdapat di Sumatera dan Gresik, di
Jawa”
Pada bagian
lain berkata mufti Alwi bin Thohir Al-Haddad ini:46
“Sesungguhnya
sebagian sejarawan yang dapat dipercaya mengatakan bahwa tegaknya da’wah
Islamiyah di daerah-daerah pulau Jawa bagian Timur pada tahun 648 H. Yang
demikian itu didapat dari perjanjian antara kerajaan-kerajaan Islam tersebut
dengan Ratu dari Pasundan yang terdapat pada catatan-catatan sejarah.
Ahli sejarah
ini dapat dipercaya dan dikenal karena ia telah mengumpulkan data-data dari
sumber-sumber sejarah Indonesia yang tidak oernah dikumpulkan oleh seorangpun
sebelumnya. Kebanyakan orang yakin bahwa Islam telah masuk ke Sumatera sekitar
tahun 1270-1275 M atau tahun 670-675 H. Sebenarnya Islam telah tersebar disana
sejak tahun 1100 M atau tahun 597 H sebagaimana ditunjukkan oleh sebagian
tulisan-tulisan yang merupakan bukti-buktinya. Yang demikian itu adalah hasil
dari penelitian yang dilakukan oleh seorang alim Syarif Muhammad bin Ahmad bin
Semith Al-Alawy Al-Husainy Al-Hadhramy yang disebarluaskan pada tanggal 22
Jumadil Akhir 1352 H bertepatan dengan 8 Oktober 1933 M.”
- Adapun
Dr. Muhammad Zaitun47 mengatakan:
“Walaupun
para sejarawan menyebutkan masuknya Islam ke Malaysia pada abad ke-6 H (abad ke
12 M), pendapat yang lebih kuat adalah Islam telah mask kesana jauh sebelum itu.
Mungkin tahun yang disebutkan oleh mereka hanya menjelaskan catatan-catatan
sejarah (prasasti) yang sampai kepadanya sesudah pemerintah wilayah-wilayah
tersebut memeluk agama Islam dan terbentuk kesultanan-kesultanan Islam di
daerah tersebut. Di Malaysia, wilayah kedah adalah wilayah yang paling cepat
memeluk Islam.”
BAB IV
Para Syarif Hadramaut Dan Peranan
Mereka Dalam Penyebaran Islam
Di Asia Tenggara
Para Syarif Hadramaut memainkan peranan yangn besar dalam da’wah
Islamiyah di Asia Tenggara. Baik sejarawan Arab maupun Barat telah
menyebutkan tebtang mereka dan peranan mereka. Sesungguhnya hijrahnya
mereka dari Hadramaut di Arab ke tempat yang jaraknya ribuan mil melalui
laut tidak ditujukan kecuali untuk menyebarkan Islam di daerah-daerah
yang jauh dari negeri mereka, dan bukan untuk mencari keuntungan
material maupun moral.
Sejarawan Yaman Muhammad Abdul Qadir Bamuthrif mengatakan:48
“Orang-orang Alawiyin memulai hijrah mereka dari hadramaut, lalu mereka
melalui benua Asia dan Afrika. Di sana sampai kini terdapat
keluarga-keluarga mereka yang sebagiannya mempunyai peran yang diingat
dalam berbagai segi aktifitas kemanusiaan. Secara khusus sebagian
orang-orang Alawiyin yang hijrah mempunyai peran yang penting dalam
menyebarkan da’wah Islamiyah di Afrika Timur, di pulau-pulau di lautan
Hindia, di India, kepulauan Melayu, Indonesia, dan Filipina.”
Alwi bin Thohir Al-Haddad mengatakan:49
“Pembahasan ini tidak jauh dengan apa yang telah kami sebutkan tentang
pembicaraan mengenai silsilah para syarif Alawy, puncak kemunculan dan
tersebarnya mereka, peranannya dalam menyebarkan Islam di pulau-pulau
dan wilayah-wilayah yang jauhnya dari negeri mereka sampai lima ribu
mil, dan juga apa yang mereka sebarkan dan jelaskan dari ajaran-ajaran
agama. Mereka mengajak umat yang berbeda-beda dan banyak jumlahnya ke
dalam agama Islam sehingga puluhan juta orang masuk Islam. Mereka
mendirikan kerajaan-kerajaan Islam berdasarkan hukum-hukum syariah
sehingga sampai ke kepulauan Halmahera, dan yang berdekatan dengan pulau
Papua (Irian), dan yang disebutkan sebelumnya sebagai kepulauan
‘Wak-wak’ pada masa dahulu sebelum wilayah itu dikuasai oleh orang
Barat.”
Mereka melakukan hal itu tanpa pasukan kecuali keinginan yang kuat,
tanpa kekuatan kecuali keyakinan dan keimanan, tanpa bekal kecuali
tawakal, dan juga tanpa kapal-kapal laut ataupun peralatan perang. Tidak
ada pada mereka kecuali keimanan dan Al-Qur’an. Mereka dapat mencapai
apa yang tidak dapat dicapai oleh beribu-ribu orang yang mempunyai
jumlah dan perbekalan yang banyak.
Sesungguhnya kenanganku kepada sejarah para da’i yang baik ini yang
mengarungi lautan dan menghadapi daerah-daerah yang menakutkan adalah
suatu hak mereka yang wajib atas diri kita, bahkan termasuk hak-hak
agama Islam dan hak Nabi kita Muhammad SAW yang memerintahkan kita
menyampaikan ajarannya dan berda’wah.
William Langer mengatakan:50
“Kerajaan Majapahit pada abad ke 14 M mendirikan kerajaan perdagangan
yang kekuasaannya meluas sampai ke Brunei, Sumatera, pulau-pulau di
Filipina, dan Semenanjung Melayu tetapi antara tahun 1405-1407 M dengan
cepat kesultanan Islam Arab dapat menempati tempat Majapahit pada abad
ke-15 M. Perjuangan Islam meluas dari kedudukannya yang utama di Malaka
ke seluruh pulau-pulau di Asia Tenggara. Secara resmi sekitar 20
kerajaan-kerajaan kecil memeluk Islam.”
Gustav Le Bon mengatakan:51
“Kita tidak pernah menyaksikan dalam sejarah suatu umat yang mempunyai
pengaruh yang nyata seperti orang Arab. Semua umat yang berhubungan
dengan orang-orang Arab akan mengikuti peradaban mereka walaupun
sebentar. Ketika orang-orang Arab hilang dari pentas sejarah,
penakluk-penakluk mereka seperti Turki dan Mongol mengikuti tradisi
mereka”
Ya, memang peradaban Arab telah mati sejakk beberapa abad yang lalu,
tetapi dunia tidak mengenal di negeri-negeri yang membentang dari pantai
lautan Atlantik sampai ke India dan dari laut Tengah sampai ke padang
pasir, selain pengikut-pengikut Nabi Muhammad SAW dan bahasa mereka.
Itulah yang dikatakan oleh Gustav Le Bon tentang peran orang-orang Arab
dalam menyebarkan Islam. Seandainya kita tahu bahwasanya para Syarif
Hadramaut dari keturunan Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa adalah yang
menyebarkan da’wah Islamiyahm dan bahwa cita-cita mereka yang pertama,
yang terakhir dan satu-satunya adalah menyampaikan risalah Islam tanpa
niat lain dari nafsu duniawiyah maka itulah di antara sebab-sebab yang
terpenting yang membantu cepatnya penyebaran Islam sehingga penduduk
Asia Tenggara memeluknya, dan juga menjadi dekat dan menghormati mereka
karena akhlak mereka dan perjuangan mereka dalam menyebarkan da’wah
Islamiyah yang ikhlas karena Allah SWT.
Van Den Berg mengatakan:52
“Sesungguhnya pengaruh yang besar dlm penyebaran Islam adalah dari para
Sayid/Syarif. Ditangan mereka tersebarlah Islam diantara para
sultan-sultan Hindu di Jawa dan lainnya. Seandainya ada orang-orang Arab
Hadramaut selain mereka, mereka tidak mempunyai pengaruh seperti tu.
Sebab dari kenyataan ini adalah karena mereka keturunan dari pembawa
risalah yang membawa ajaran Islam”
Adapun Muhammad bin Abdurrahman bin Syihab telah menyebutkan dalam kitab “Hadhir Al-‘Alam Al-Islami” karangan Syakib Arsalan:53
“ Datuk-datuk kita mempunyai keahlian dalam menetapkan nasab sehingga
mereka menjadikan sebuha sejarah yang khusus untuk gelar-gelar, demikian
juga sejarah yang khusus mengenai ibu-ibu mereka, demikian selanjutnya.
Tetapi mereka tidak mengharap pujian karena karya-karya mereka di
negeri-negeri dimana mereka pergi dan menyebarkan da’wah Islamiyah
disana karena mereka cenderung untuk tawadhu’, menaklukkan hawa nafsu,
dan tidak rela menurutinya. Tetapi kita perlu menyebutkan dan
menyebarkannya sekarang, karena orang-orang yang sadar telah
mengetahuinya. Sebuah ungkapan menyatakan jika seorang tidak
menghiraukan isyarat burung balam pada malam hari, niscaya ia akan tidur
(tanpa mengetahui bahaya yang mengancam).
Berikut ini kami akan menyebutkan beberapa bukti dan sejarah penyebaran
da’wah serta para da’i pertama yang menyebarkan di Asia Tenggara.
Hasil seminar masuknya islam di Indonesia
Dari tanggal l7 sampai dengan 20 maret 1963 di kota Medan telah diadakan
seminar tentang masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia yang
dihadiri oleh sejumlah besar budayawan dan sejarawan Indonesia. Mereka
membicarakan tentang masuknya Islam di Indonesia, cara-cara
berkembangnya, dan orang-orang yang membawanya.
Setelah dilakukan pembahasan dan diskusi maka seminar memutuskan:54
- Dari sumber-sumber yang kami telaah maka kami mengerti bahwa Islam masuk ke Indonesia pertama kali pada abad pertama Hijriah (antara abad ke-8 dan ke-9 Masehi).
- Daerah pertama yang dimasuki Islam adalah pantai Sumatera bagian Utara. Setelah terbentuknya masyarakat Islam dn setelah mendapatkan kebebasan dalam bidang politik maka raja Muslim pertama adalah di daerah Aceh.
- Orang-orang Indonesia setelah itu mempunyai peran dalam da’wah Islamiyah.
- Sbagian da’i-da’i pertama adalah para pedagang.
- Da’wah Islamiyah berlangsung secara damai.
- Islam mendatangkan kebudayaan dan peradaban yang tinggi bagi Indonesia yang merupakan unsur-unsur pembentuk kepribadian Bangsa Indonesia.
- Merupakan suatu hal yang penting adanya suatu badan yang melakukan suatu penelitian dan penyusunan tentang sejarah Islam di Indonesia dalam bentuk yang lebih luas dan tetap. Kami berpendapat badan ini sebaiknya berada di Medan dengan mendirikan cabang-cabangnya di berbagai tempat yang penting, terutama di Jakarta.
Ketetapan Majlis Musyawarah
Masjlis Musyawarah berkumpul untuk membahas masuknya Islam ke Indonesia
dan dihadiri oleh 165 orang ulama. Keputusannya dalam bentuk sebuah
risalah dikirimkan kepada:
Menteri Agama di Jakarta
Menteri Penghubug Alim Ulama di Jakarta
Kepala Kantor Penerangan Agama di Surabaya
Kepala Kantor Penerangan Agama di Pasuruan
Inilah keputusannya:55
Majlis Musyawarah, Tuan Wagiri Pasuruan.
No.63
Hal: Masuknya Islam Ke Indonesia
Pasuruan 12 Mei 1962
Yth. Sdr. Ketua Seminar Masuknya Islam ke Indonesia
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Dengan hormat.
Kami atas nama Majlis Musyawarah menyampaikan bahwa Mjlis Musyawarah
dalam pertemuannya yang ketiga pada 8 Dzulhijjah 1382 H bertepatan
dengan 20 April 1962 yang dihadiri oleh sekitar 165 ulama setelah
mendengarkan, membahas, dan mencari bukti-bukti tentang hal tersebut di
atas memutuskan bahwa yang pertama memasukkan Islam ke Indonesia adalah
para Syarif Alawiyin dari Hadramaut yang bermazhab Syafi’i.
Demikianlah, semoga dapat dimaklumi dan dapat diamalkan sebagaimana mestinya. Terima kasih.
Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Ketua, H. Ahmad Khalil Nawawi
Wakil Sekretaris Abdul Ghani Ali
Atas nama Majlis Musyawarah Tuan Wagiri Pasuruan
Masuknya Para Syarif Hadhramaut ke Aceh, Sumatera
Seperti diketahui daerah pertama yang dimasuki Islam terletak di Pulau
Sumatera, khususnya di bagian Utara. Yang demikian itu dapat kita
perhatikan pada bab dua hasil seminar di kota Medan bahwa Aceh adalah
daerah pertama di Indonesia yang dimasuki Islam. Kitab-kitab Melayu
menyebutkan bahwa raja muslim pertama yang memerintah Aceh adalah Jenan
Syah pada tahun 1205 M. Ia bukan penduduk asli negeri tersebut,
melainkan datang dari luar dan menikah dengan penduduk asli. Lalu mereka
menerimanya sebagai raja.56
Syarif Hadramaut yang termasuk pertama datang ke Aceh adalah Syarif
Ahmad bin Muhammad bin Abubakar Asy-Syili. Kerajaan Aceh memuliakannya
pada masa itu dan salah seorang menterinya menikahkannya dengan seorang
anak gadisnya. Lalu ia tinggal dan mempunyai keturunan disana. Sebelum
itu telah ada beberapa orang syarif Hadramaut yang telah memasuki Aceh.
Di antara mereka adalah Syarif Abubakar bin Husein yang wafat tahun 1000
M. Juga Syarif Abubakar bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Umar
bin Alwi Asy-Syathiri. Pada masanya banyak yang masuk ke Aceh dan
tersebar di sana pada awal abad ke 11. kurang lebih pada masa yang sama
Syarif Ali bin Umar bin Ali Ba’mar masuk ke pulau Jawa, lalu menyebarkan
da’wah Islamiyah disana.57
Mengenai hal tersebut Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab mengatakan:58
“Seandainya hal seperti ini dibentangkan kita akan melihat kesalahan
para sejarawan Eropa dalam menerangkan orang pertama yang masuk ke
negeri-negeri Jawa dan mengislamkan penduduknya.”
Apakah Sayid Ibrahim yang dikuburkan di Gresik dan yang ditangannya
penduduk Jawa memeluk Islam bukan dari kalangan Alawiyin? Sekali-kali
tidak.
Seandainya pangkal pertama dari sejarah nasab Alawiyin dibentangkan pada
kita, niscaya kita akan dapat memperoleh bukti-bukti mengenai banyak
hal. Tetapi sangat disayangkan mereka (sejarawan Barat) mereka cukup
dengan sejarah nasab yang ada pada mereka yang menukil dari pangkal
pertama itu, tanpat menggabungkannya dengan apa yang disebutkan oleh
orang-orang yang tidak berhubungan dengan mereka di tempat-tempat yang
jauh.
Dimana pangkal sejarah nasab yang dikarang oleh Abul Hasan Ali bin
Abubakar bin Syeikh As-Saqqaf yang ternama “Al-Jawahir As-Saniyyah fi
nasabah Al-‘Itrah Al-Huseniyyah”, yang dikumpulkan dan diperbaiki
setelah itu oleh Sayid Ali bin Ahmad bin Ali bin Hasan Abu Jabhat, dan
yang kemudian dikumpulkan dan diterbitkan oleh Tajul-Arifin Zainal
Abidin Al-Aydrus?
Memang sejarah nasab yang sebelumnya diterbitkan oleh Syeikh bin
Abdullah Al-Aydrus disangka hilang. Tetapi kemudian didapatkan oleh
Sayid Abdurrahman bin Syeikh Al-Kaff. Selain itu terdapat pula satu
naskah yang berharga yang didapatkannya pada koleksi Syarif Alawiyin
dari kalangan Al-Aydrus di India. Di dalamnya disebutkan tentang banyak
orang yang pindah dari Hadramaut dari kalangan para syarif.
Disamping itu dalam kitab “Al-Masyra’ Al-Rawi” sejumlah nama ulama
syarif Alawiyin Hadramaut yang masuk ke Indonesia beberapa abad sebelum
kedatangan Belanda, khususnya ke daerah Aceh.
Diantara orang-orang yang terkenal disana adalah Syarif Hasyim yang
memainkan peranan yang penting dalam peperangan yang terkenal dengan
perang Bugis sebelum penjajah Belanda dan yang lainnya menduduki
Indonesia. Keluarga Hasyim adalah termasuk dari kalangan Syarif Alawiyin
“Aal Ammul Faqih Al-Muqaddam” bin Shohib Mirbath dari Zhufar. Banyak
terdapat dari mereka di daerah Banjar, pulau Kalimantan dan di Ceylon
(Srilangka).
Nasab mereka berpangkal kepada Syarif Hasyim bin Ahmad bin Alwi bin
Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi yang dikenal dengan ‘Ammul Faqih’. Ada
orang yang lebih dahulu dari mereka masuk ke Aceh yaitu Sayid Hasyim bin
Muhammad, yang wafat pada tahun 678 H, bin Abdullah bin Mubarak bin
Abdullah yang wafat pada tahun 884 H bin Muhammad bin Abdullah Ba
‘Alawi,
Didaerah Aceh ada beberapa pemakaman yang terdiri dari banyak makam
Syarif Alawiyin. Ada sejumlah sultan dari kalangan Syarif yang memegang
pemerintahan di daerah itu yang dikenal oleh penduduknya sampai sekarang
dengan sebutan ‘Habib’, yang merupakan kata yang digunakan untuk setiap
orang dari Arab dari kalangan Syarif.59
Di daerah itu kita dapati kuburan beberap sultan dan raja, diantaranya
kubur Al-Malik Al-Kamil yang memerintah Aceh. Kemudian setelah itu
Al-Malik Ash-Sholih yang menggantikannya di kampung Blang Mey dengan
kuburan-kuburan lain yang banyak. Pada batu nisan sebagian kubur itu
terdapat tulisan-tulisan yang dipahat, sebagiannya dari marmer, sebagian
lagi dari batu granit.
Diatas kubur Al-Malik Al-Kamil tertulis keterangan bahwa ia wafat pada
hari Ahad tanggal 7 Jumadil Ula thun 607 H bertepatan dengan 1210 M.
Juga terdapat kubur sepupunya seorang panglima dimana penduduk daerah
Kayu dan daerah-daerah yang terletak di sebelah Barat Sumatera masuk
Islam melalui perantaraannya, yaitu Al-Malik ash-Sholih yang wafat pada
tanggal 8 Ramadhan tahun 696 H bertepatan dengan 1296 M. Diantara yang
tertulis diatas kuburnya adalah kalimat-kalimat berikut ini:60
Sesungguhnya dunia itu fana, tidak ada yag tetap didunia
Sesungguhnya dunia itu bagaikan rumah, yang dibuat laba-laba
Cukuplah bagimu wahai penuntut ilmu, makanan darinya
Yang sedikit saja, karena setiap yang berada didunia akan mati
Setelah ia wafat yang memegang pemerintahan adalah anaknya, Sultan
Muhammad Azh-Zhahir yang wafat pada malam ahad tanggal 12 Dzulhijjah 726
H yang bertepatan dengan 1325 M. Setelah ia wafat yang memerintah
Sultan Ahmad bin Sultan Muhammad Azh-Zhahir, ia wafat pada hari jumat
tanggal 4 Jumadil Akhir tahun 809 H bertepatan dengan 1407 M. Setelah
itu yang memegang pemerintahan adalah Ali Zainal Abidin, kemudian
saudara kandungnya Shalahudding, kemudian Abdullah bin Shalahudin dan
istrinya yaitu Ratu Bahiyyah binti Zainal Abidin yang wafat tahun 811 H
bertepatan dengan 1408 M, kemudian saudaranya Johan Parabu yang wafat
pada tahun 848 H (1444 M) dan lain-lain.
Dari keluarga-keluarga inilah berasal orang-orang tua dari raja-raja
Brunei, Carmen, Serawak, Sulu, Sebu, Mindanao, Kanawi yang disebutAl-Alawiyah sebagaimana
yang disebutkan oleh Dr. Najeeb Shaliby pada fasal yang menerangkan
tentang kumpulan pulau-pulau yang jumlahnya mencapai 1700 pulau dan juga
menyebutkan perbatasan-perbatasan negeri.61
Sembilan Da'i islam (Wali Sanga)
Para da’i yang menyebarkan Islam dalam sejarah Jawa dikenal dengan nama Sunan Auliya atau Syarif Auliyai.
Kebanyakan dari mereka adalah keturunan dari Syarif Ahmad bin Abdullah
bin Abdul Malik bin Alwi “Ammul Faqih Al-Muqaddam” salah satu cucu dari
Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa. Dr. Najeeb Shaliby telah menyebutkan
tentang mereka. Begitu juga para sejarawan Indonesia dan Sejarawan
Barat.
K.H. Abdullah bin Nuh, ketua Badan Pembahasan Keislaman di Indonesia
telah mengajukan bahasan (makalah) di kota Medan pada Seminar Masuk dan
Berkembangnya Islam di Indonesia pada tanggal 17-20 Maret 1963. mengenai
keluarga Abdul Malik ia mengatakan:62
“ Disini terdapat keluarga syarif yang telah benar-benar melebur dalam
masyarakat muslim Indonesia, yaitu keluarga Abdul Malik di India dan di
Pakistan dikenal dengan nama Al’Azhmar Khan. Kita telah
mengetahui bahwa Syarif Abdul Malik ini adalah termasuk keturunan
Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin
Ja’far Ash-Shadiq.”
Diantara keluarga Abdul Malik ini adalah para da’i terdahulu yang
dikenal denga nama “Sunan”. Diantara mereka adalah Sunan Ampel, Sunan
Giri, dan yang lainnya. Raja-Raja dan para pemimpin di Banten,
Palembang, Cirebon, Sumedang, Cianjur, dan Sebagainya juga berasal dari
keluarga ini. Dari keluarga ini juga terdapat banyak para ulama dan
zhuama pada masa sekarang di Indonesia. Dr. Ahmad Syalabi mengatakan
bahwa pada perkembangan Islam menjadi jelas pada abad ke 13 melalui para
da’i yang terkenal dengan gelar Wali Sanga. Kebanyakan dari mereka berasal dari keturunan Arab, 63 khususnya dari kalangan syarif Hadramaut.
Perkembangan Islam di Jawa dihubungkan dengan masa Wali Sanga, karena
terikatnya sejarah da’wah Islamiyah dengan mereka ini. Mereka ini
adalah:
- Maulana Malik Ibrahim
- Sunan Ampel
- Sunan Bonang
- Sunan Giri
- Sunan Drajat
- Sunan Kalijaga
- Sunan Kudus
- Sunan Muria
- Sunan Gunung Jati
Mereka dinisbahkan kepada tempat-tempat dimana mereka tinggal atau
dimakamkan. Dan lafazh “sunan” adalah gelar kehormatan yang digunakan
untuk sebagian raja-raja dan da’i-da’i besar di Jawa dan mereka terkenal
dengan sebutan Wali Sanga.64 Berikut ini adalah silsilah keturunan mereka.
BAB V
Da'i-Da'i Islam Pertama Di Jawa
Dr.Najeeb
Shaliby dalam kitabnya “Dirasat Fi Tarikh Moro wa Dienihim” menyebutkan bahwa
da’i-da’i Islam di pulau-pulau Filipina adalah para syarif Hadramaut dari
keturunan Syarif Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Imam Al-Muhajir
Ahmad bin Isa dan dari keturunan para da’i Islam di Malaysia dan Indonesia.
Kami akan menyebutkan da’i-da’i pertama ini yang menyebarkan Islam di Jawa pada
masa pertama.
Syarif
Jamaluddin Al-Husein Al-Akbar
Ia dianggap
keturunan Imam Al-Muhajir yang pertama yang hijrah ke Indonesia dan menetap
disana sampai wafat di daerah Bugis. Ia dilahirkan di kamboja (Indo China) dan
ia anak dari Ahmad Jalal Syah yang dilahirkan di Nasrabad di India. Kakeknya
adalah keturunan para sultan di India yang terkenal dengan keluarga Al-Azhmat
Khanyang nasabnya berpangkal kepada Abdukl Malik bin Alwi bin Shohib
Mirbath sebagaimana yang disebutkan dalam pembahasan sejarawan Indonesia
Abdullah bin Nuh, ketua Lembaga Pembahasan Keislaman dan diajukan pada seminar
masuknya Islam ke Indonesia di kota Medan pada tanggal 20 Maret 1962.
Hijrahnya
Syarif Jamaluddin Al-Husein dari Kamboja ke Indonesia dengan disertai keluarga
dan kerabatnya dan meninggalkan anaknya Ibrahim Az-Zein Al-Akbar di daerah
Aceh, Sumatera bagian Utara untuk menyebarkan da’wah Islamiyah dan mengajarkan
ilmu-ilmu agama. Kemudian Ibrahim bin Jamaluddin pindah ke kota Surabaya di
Jawa dan terkenal dengan nama Ibrahim Asmoro, mungkin asalnya Ibrahim Al-Asmar
dan diberi gelar ‘Sunan Anpasik Tuban’.
Kemudian ia
menuju ke Majapahit dan dari sana terus ke daerah Bugis. Disana ia berjuang
untuk menyebarkan da’wah Islamiyah dengan cara-cara damai, sehingga memperoleh
keberhasilan yang besar dan menetap di sana sampai wafat di kampung Tuwajo.
Setelah ia wafat terjadi peperankgan di pulau Jawa dan berakhir dengan jatuhnya
kerajaan Hindu Majapahit dan tersebarnya agama Islam.
Anak-anaknya
dan cucu-cucunya juga berpisah-pisah di berbagai tempat di pulau Jawa dan
sekitarnya, sehingga mereka berpencar di banyak tempat yang jauh untuk
menyebarkan da’wah Islamiyah. Sebagian mereka lalu kembali ke semenanjung
Melayu, Kamboja, dan Thailand di daerah Indo China. Dan diantara
anggota-anggota keluarga ini adalah para sultan Palembang yang berasal dari
keturunan Syarif Jamaluddin Al-Akbar Al-Husein. Tersebut dalam silsilah nasab
yang ditulis oleh Tuan Faqih jalal dalam bahasa Melayu tulisan Arab keterangan
yang ringkasanny sebagai berikut:65
“ ini adalah
suatu fasal tentang Tuan Faqih Jalaluddin yang tinggal di Talang Sura yang
wafat pada tanggal 20 Jumadil-Ula tahun 1161 H hari selasa jam 9.00. pada masa
hidupnya ia tinggal di istana kerajaan Sultan Muhammad Manshur, dimana ia
mengajar ilmu Ushuluddin, Al-Quran dan sebagainya.”
Didalamnya
juga disebutkan nasab para sultan Palembang dan hubungan orang-orang tua mereka
dengan Syarif Jamaluddin Agung sampai ke Imam Husein bin Fathimah, Putri
Rasulullah S.A.W.
Diantara
mereka yang bernasab kepada keluarga ini adalah:66
- K.H.
Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah. Nasabnya kembali ke
Muhammad Ainul Yaqin.
- K.H.Kholil,
seorang alim besar di pulau Madura. Nasabnya juga kembali kepada ke
Muhammad Ainul Yaqin bin Ishaq.
- R.H.
Muhammad Thohir, seorang alim yang sholeh, yang wafat di Bogor pada tahun
1849 M. Puteranya, seorang yang sholeh dan taqwa, bernama R.Surya Winata
adalah seorang hakim di wilayah Bogor dan wafat pada tahun 1879 M.
- Raden
Haji Ma’mun dan Raden Haji Muhammad Nuh yang lahir tahun 1296 H bertepatan
dengan tahun 1879 M, seorang alim yang mempunyai murid pribadi-pribadi
yang besar.
- Satu
keluarga “Al-Basyaiban”, Syarif Raden Hasan Datuningrat. Ia merupakan
pembesar dari keluarga Al-Basyaiban yang terakhir di Jawa Tengah. Diantara
anak-anaknya adalah Ir.Abdul Muthalib dan Dr. Muhammad Said dan lain-lain.
- K.H.
Muhammad Dahlan, mantan Rois Jam’iyyah Nadhlatul Ulama dan mantan menteri
Agama R.I.
Syarif Malik
Ibrahim
Ia adalah
Malik Ibrahim bin Barkat Zainal Alim bin Jamaluddin Al-Husein bin Ahmad Syah
Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad bin Ali bin Alwi bin
Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa. Ia dianggap
wali sanga yang pertama. Ia datang ke pulau Jawa bersama keponakannya raja
Carmen, dan merupakan orang yang mengajak raja Majapahit memasuki agama Islam
pada tahun 801 H bertepatan dengan tahun 1398 M.67 Carmen adalah sebuah pulau yang
terletak di sebelah utara pantai Serawak, Malaysia, dimana terletak kota Kucing
dan kerajan Brunei yang ibukotanya Darussalam, juga kota Baru, negeri kebahagiaan.
Malik
Ibrahim tinggal di Leran dekat Gresik sekitar 20 tahun untuk mengajak orang
masuk kedalam agama Islam, sampai ia wafat pada tahun 822 H bertepatan dengan
tahun 1419 M dan dimakamkan di Gresik. Diatas nisan kuburnya yang terbuat dari
marmer tertulis kalimat sebagai berikut:
“ Ini adalah
kubur Almarhum Almaghfur ila rahmatillah, seorankg kebanggaan para pemimpin,
tiang para sultan dan para menteri, penolong orang-orang fakr miskin, orang
yang berbahagiak, seorang syahid, cermin keelokkan kerajaan dan agama, Malik
Ibrahim yang terkenal dengan nama Kakek Bantal, semoga Allah
melimpahkan rahmat kepadanya dan menempatkannya di surga-NYA. Ia wafat pada
hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal 822 H.68
Keturunan
Syarif Ibrahim Asmoro
Al-Makhdum
Ishaq dan saudaranya Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel) adalah termasuk anak-anak
Ibrahim Asmoro bin Jamaluddin Al-Akbar Al-Husein, yang nasabnya terus sampai ke
Imam Al-Muhajir.
Berikut ini
kami akan bicarakan keduanya dan anak-anak mereka yang dianggap para da’i pertama
atau sebagaimana disebut di Indonesia sebagai Sunan Auliya’.
- Al-Makhdum
Ishaq
Al-Makhdum
Ishaq bin Ibrahim Asmoro yankg diberi gelar “Uluwwul Islam” mempunyai peranan
yang menonjol dalam sejarah Islam. Ia telah menghabiskan sebagian besar masa
kehidupannya dalam menyebarkan da’wah Islamiyah. Ia memiliki kapal perniagaan
dimana ia menjelajah dari satu pulau ke pulau lain dengan tujuan untuk
menyebarkan agama Islam diantara para penduduknya.
Jika para
muridnya telah menyelesaikan pelajarannya di kota Malaka, ia mengatur
perjalanan mereka dan menentukan arah (tujuan) masing-masing diberbagai tempat,
untuk melakukan da’wah Islamiyah disana.
Kehidupannya
sangat sederhana, tetapi keilmuannya bagaikan lautan dalam kedalaman dan
keluasannya. Pada awal abad ke 8 H ia datang ke Pulau Jawa dan tinggal bersama
saudaranya Ahmad Rahmatullah Sunan Ampel.69
Alwi bin
Thohir Al-Haddad 70 mengatakan bahwa Syarif Makhdum
menghabiskan umurnya untuk berda’wah. Ia memiliki sebuah kapal dimana ia
berkeliling diatas kapal itu diantara pulau-pulau di Asia Tenggara, mengajak
penduduknya untuk masuk ke dalam agama Islam. Setelah para muridnya
menyelesaikan pelajaran ilmu-ilmu agama darinya ia mengatur perjalanan mereka
dan menentukan arah mereka yankg berbeda-beda dalam menyebarkan da’wah
Islamiyah.
Ia mempunyai
kedudukan yangk tinggi dalam ha zuhud dan kesederhanaan baik dalam makanan
maupun pakaian. Ia masuk ke Pulau Jawa pada tahun 804 H bertepatan dengan 1401
M yaitu 3 tahun setelah masuknya Raja Carmen tahun 1398 M (801 H). Ia tinggakl
selama beberapa waktu bersama saudaranya yang juga seorang da’i, Syarif Ahmad
Rahmatullah Sunan Ampel.
Ia tela
memberikan pertolongan yang besar dalam perdebatan yang terjadi antara
saudaranya dan para pemimpin agama lain sepertik Hindu dan Budha dan dapat
mengalahkan mereka dengan suatu kemenangan yankg nyata dan juga dapat memberi
pemahaman pada mereka.
Ia adalah
seorangn yang diterima doanya apabila berdoa. Tentang beliau, Dr. Najeeb
Shaliby mengatakan bahwa ia mempunyai pengaruh yang kuat dan tidak biasa
terhadap penduduk Malaka. Ia pula yang memasukkan Sultan Mahmud Syah bin Sultan
Iskandar Syah kedalam agama Islam. Keduanya termasuk raja-raja Malaka dan
Johor.
·
Muhammad Ainul yaqin (Sunan Giri)
Ia adalah
anak Al-Makhdum Ishaq, dinamakan Sunan Giri dan diberi gelar ‘Raden Paku’.
Lafazh “Raden” adalah suatu gelar kehormatan di Jawa yang diberikan pada setiap
orang yang bernasab kepada para raja. Ia dinamai Raden Paku karena termasuk
para Syarif yang teguh. Adapun laqobnya Sunan Giri timbul karena ia tinggal di
sebuah rumah diatas bukit yang tinggi yaitu Bukit Giri. Ia membangun
masjid-masjid, madrasah-madrasah, dan pesantren-pesantrn untuk mengajarkan
ilmu-ilmu agama. Maka mulailah murid-murid berdatangan kepadanya dari berbagai
tempat karena memandang kemasyhurannya yang luas. Mereka bangga menjadi
muridnya. Tempat-tempat terpenting darimana mereka berdatangan adalah Madura,
Lombok, Makasar, Hitu, dan Ternate.
Setelah
gurunya Sunan Ampel wafat, Ainul Yaqin (Sunan Giri) menempati kedudukan gurunya
di Gresik dan Ampel. Maka ia adalah sebaik-baik pengganti bagi sebaik-baik
pendahulu. Ia menjadikan tempat tinggalnya di Giri sebagai pusat da’wah
IsIamiyah. Raja Majapahit pun tidak dapat menghentikan da’wah Islamiyah.71
Kemudian
Ainul Yaqin mulai mengutus para muridnya dan para pedagang muslim untuk
menyebarkan da’wah Islamiyah di berbagai tempat di Asia Tenggara. Mereka sampai
ke Pulau Ternate dan Pulau Maluku pada saat Islam tersebar disekitar Giri
seperti Gresik dan Tuban sebelum berdirinya kerajaan Islam Demak dalam masa
yang panjang. Mereka menyempurnakan perjalanan yang telah dimulai oleh
ayah-ayah mereka. Mereka berjuang di jalan Islam di Giri dan membantu Demak agar
menjadi kerajaan Islam yang resmi dengan bantuan Giri, untuk bersama-sama
menghadapi kerajaan Hindu Majapahit apabila Majapahit berusaha menentang cara
kehidupan orang-orang muslim.72
- Ahmad
Rahmatullah (Sunan Ampel)
Ahmad
Rahmatullah bin Ibrahim Asmoro bin Jamaluddin Al-Akbar Al-Husien adalah anak
paman (sepupu) dari Malik Ibrahim yang dimakamkan di Gresik, Jawa Timur. Ahmad
Rahmatullah adalah termasuk da’i pertama di pulau Jawa.
Ia membuka
pesantren untuk para pelajar di Ampel, Surabaya, untuk mendidik para pemuda dan
agar mereka menjadi para da’i yangn ahli dan terdidik untuk menyebarkan agama
Islam di berbagai tempat di pulau Jawa. Di antara murid-murid terpentingnya
adalah Muhammad Ainul Yaqi (Sunan Giri) anak saudaranya Al-Makhdum Ishaq.
Demikian juga Raden Fatah yang kemudian menjadi raja pertama dari kerajaan
Islam Demak.73
Ahmad
Rahmatullah (Sunan Ampel) berasal dari ayah seorang arab yaitu Syarif Ibrahim
Asmoro bin Jamaluddin Al-Akbar Al-Husein dan dari ibu puteri raja Campa yang
terkenal dengan nama ‘Puteri Campa’. Kakaknya bernama Puteri Darwati menikah
dengan raja Hindu Majapahit yang bernama Anggawijaya yang memerintah kerajaan
itu di pulau Jawa.
Ketika Sunan
Ampel beranjak dewasa ia menikah dengan Manila, anak salah satu penguasa muslim
di Tuban.74 Darinya ia mendapatkan sejumlah
anak yang memainkan peranan yang penting dalam menyebarkan Islam di Indonesia.
Berikut ini
kami sebutkan mereka satu persatu:
·
Syarif Ibrahim bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Bonang)
Prof.Wijisakono
telah menulis suatu makalah dalam bahasa Indonesia di majalah Al-Jamiah pada
nomor 4 dan 5 bulan April dan Mei, tahun pertama 1963 dengan judul: Islam
menurut pengajaran Wali sanga. Diantara hal terpenting dalam makalah
tersebut adalah sebagai berikut:75
“ Tidak ada
sesuatu yang lebih jelas dan lebih kuat dari peninggalan wali sanga seperti
warisan ilmu yang ditinggalkan oleh Sunan Bonang bin Ahmad Rahmatullah yang ia
tinggalkan dalam mazhab Syafi’i yang memuat ilmu ushul, fiqih, dan tashawwuf.
Dan ini cukup bagi kita. Al-Imam Sunan Bonang sangat dipercaya karena hal-hal
berikut:
- Sunan Bonang adalah orang yang telah mencapai
gelar ‘Mayangkarawati’ yang berarti pemimpin para ulama, ia menempati
kedudukan mufti dan Syeikhul-Islam.
- Ia adalah anak dan murid dari Ahmad Rahmatullah
(Sunan Ampel) bersama saudaranya Hasyim (Sunan Drajat). Maka pengajaran
keduanya berpegang pada pengajaran, aqidah, dan mazhab ayah mereka.
- Ia adalah teman dari Muhammad Ainul Yaqin (Sunan
Giri) dan Syarif Hidayatullah dalam mengambil ilmu dari Maulana Ishaq di
Pasai, Sumatera bagian Utara.
- Dikatakan juga bahwa ia adalah guru sunan
Kalijaga yang pertama yang dianggap sebagai salah satu pembentuk
kebudayaan dan kehidupan ruhaniyah di Jawa Tengah.
Jika kita pelajari
primbon yang berupa kumpulan ilmu dan rahasia-rahasia dari
pengajaran-pengajaran Sunan Bonang, kita akan dapati disana nama-nama ulama dan
kitab-kitab yang menjadi sandaran dari pengajaran-pengajaran Islam yang dibawa
oleh Wali Sanga. Primbon itu juga mencakup ilmu ushul, fiqih, dan tashawwuf
yang disusun menurut ushul Ahlussunnah wal jamaah berdasarkan mazhab syafi’i.
Sunan Bonang
selalu memperhatikan untuk menjauhkan darik perbuatan syirik, dan menjelaskan
kesesatan sebagian i’tiqad seperti aliran –aliran kebathilan dan lain-lainnya
dari kekufuran dan kemaksiatan. Ia selalu menekankan penjelasan bahwa Allah-lah
satu-satunya Yang Maha Pencipta, Yang Maha Hidup, Yang Berdiri Sendiri, Yang
mempunyai Kekuatan dan Kehendak. Dan bahwasannya manusia memiliki usaha dan
pilihan. Ini adalah dasar dari apa yang dibawa dan diserunya. Primbon ini
diakhiri dengan ucapannya:
Agar perilakumu lahir dan batim sesuai dengan
hukum-hukum syariah dan mencintai Rasulullah serta mengikuti sunahnya.
·
Syarif Hasyim bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Drajat)
Syarif
Hasyim bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Drajat) dianggap sebagai orang yang
mempunyai peranan dalam mendirikan kerajaan Islam Demak dan orang yang paling
setia kepadanya. Di antara kegiatannya adalah menyebarkan da’wah Islamiyah di
Jawa Timur, memberi pertolongan yang besar terhadap para faqir, anak-anak
yatim, orang-orang yang membutuhkan , orang-orang sakit dan sebagainya. Ia
wafat pada tahun 995 H bertepatan dengan 1586 M didekat Sedayu (dekat Gresik).
·
Ja'far Ash-Shadiq bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Kudus)
Ja'far
Ash-Shadiq bin Ahmad Rahmatullah diberi gelar ‘Sunan Kudus’ karena ia pendiri
kota Kudus di Jawa Tengah dan juga membangun masjidnya yang dinamai dengan
Masjid Al-Aqsha sebagai tabarruk (untuk mengambil barokah) kepada masjid
Al-Aqsha l-Mubarok. Ia wafat pada tahun 1012 H bertepatan dengan 1603 M.
Namanya disebut dengan tulisan Arab di masjid kudus sebagaimana dikatakan oleh
Solihin Salam dalam bukunya tentang kota Kudus.
·
Ahmad Hisamuddin bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Lamongan)
Ia diberi
gelar ‘Sunan Lamongan’ dan termasuk anak Ahmad Rahmatullah. Ia wafat pada tahun
1014 H bertepatan dengan 1605 M dan juga menyebarkan Islam di Indonesia.
·
Zainal Abidin bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Demak)
Zainal
Abidin bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Demak) menduduki ‘Daar Al-Qadha wa Al-Ifta’
di kerajaan Islam Demak pada masa Sultan Abdul Fatah yang dianggap sultan
pertama dari kerajaan Islam di Jawa ini.
·
Abdul Jalil bin Ahmad Rahmatullah (Raden Asmoro)
Abdul Jalil
bin Ahmad Rahmatullah diberi gelar Raden Asmoro dan memainkan peranan yang
penting dalam da’wah Islamiyah. Ia wafat pada tahun 1022 H bertepatan dengan
1613 M.
Syarif
'Umdatuddin Abdullah
Ia adalah
‘Umdatuddin Abdullah yang tinggal di IndoChina bin Nurul Alim Ali bin
Jamaluddin saudara Ibrahim Asmoro yang telah disebutkan dalam pembahasaan
sebelumnya mengenai dirinya dan anak-anaknya.
Diantara
anak-anak ‘Umdatuddin Abdullah yang terkenal adalah Syarif Hidayatullah, Syarif
Abu Al-Muzhaffar Ahmad, Syarif Babullah di Ternate. Berikut ini kita akan
berbicara tentang mereka:
- Syarif
Hidayatullah
Syarif
Hidayatullah dianggap sebagai seorang penyebar da’wah Islamiyah yang terpenting
di Jawa Barat. Ia diberi gelar “Sunan Gunung Jati”yaitu penguasa Gunung Jati
yang wafat disana di dekat kota Cirebon, Jawa Barat pada tahun 1570 M. Para
sultan yang memerintah Banten dan Cirebon adalah keturunannya. Di dalam
Makhthuthah Al-Ustaz Asy-Syarif Ahmad bin Abdullah As-Saggaf terdapat satu
fasal khusus dimana didalamnya disebutkan nasab Syarif Hidayatullah berdasarkan
sumber dari Banten sebagai berikut:76
Maulana
Hasanuddin Sultan Banten pertama bin Syarif Hidayatullah di Cirebon bin
‘Umdatuddin di Campa (Indo China) bin Ali Nurul Alim bin Jamaluddin Al-Akbar
Al-Husein di Bugis bin Ahmad Syah Jalaluddin di India bin Abdullah bin Abdul
Malik di India bin Syarif Alwi di Tarim bin Muhammad Shohib Marbath bin Ali
Kholi’Qosam bin Alwi di Bait Jubeir bin Muhammad di Beit Jubeir bin Alwi di
Sumul bin Abdullah di Bur bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad di Al-Hissiyah bin Isa
An-Naqib di Bashrah bin Ali Al-Uraidhi di Madinah Al-Muwwarah bin Al-Imam
Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husein bin
Ali bin Abi Thalib dan bin Fathimah binti Sayidina Muhammad SAW.
Sejarawan
Eropa L.W.C. Van Den Berg didalam bukunya yang berbahasa perancis yang judulnya
“Hadramaut dan Orang-orang Arab yang Hijrah ke Indonesia”77 mengatakan:
“Dengan
demikian jelaslah bahwa anak cucu Maulana Jamaluddin Al-Akbar Al-Husein adalah
orang-orang yang menyebarkan agama islam di Jawa dan sekitarnya di abad 15 M.
Diantara mereka adalah Syarif Hidayatullah, sunan Ampel, Sunan Giri, dan
sebagainya,.”
Jika kita
membandingkan keterangan tersebut dengan apa yang disebutkan oeh Dr.Najeeb
Shaliby dalam kitabnya “Dirasat fi Tarikh Moro” tentang kaitan nasab, kita akan
mendapatkan bahwa sultan-sultan Islam di Filipina bertemu dengan nasabnya
dengan Syarif Hidayatullah dan anak cucu Jamaluddin Al-Amir Al-Husein bin Ahmad
Syah Jalal bin Abdullah bin Abdullah bin Abdul Malik dari keturunan Al-Imam
Al-Muhajir.
- Syarif
Abu Al-Muzhaffar Ahmad
Ia adalah
Abu Al-Muzhaffar Ahmad bin ‘Umdatuddin Abdullah bin Nurul Alim Ali bin
Jamaluddin Al-Akbar Al-Husein yang bersambung nasabnya ke Al-Imam A-Muhajir. Ia
saudara dari Syarif Hidayatullah dan Syarif Babullah di Ternate. Syarif Abu
Al-Muzhaffar wafat di Thailand tahun 960 H bertepatan dengan 1552 M dan
mendapatkan beberapa orang anak yang merupakan para da’i yang menonjol di Indo
China dan Asia Tenggara. Diantara mereka:78
- Syamsuddin Ismail yang menyerukan jihad terhadap
penjajah Portugis di Rangoon, Burma (Myanmar) tahun 998 H
bertepatandengan 1589 M.
- Fathul-Arifin Abdul Maula yang bergelar
Shalahuddin, wafat di Thailand 999 H yang bertepatan dengan 1590 M.
- Syarif Jadid yang bergelar Al-Mu’tashim billah,
syahid pada peperangan di China tahun 989 H (1581 M).
- Bishri yang bergelar Najmuddin, wafat di dekat
Pulau Sulu, Filipina.
- Syarif Damari Isa yang bergelar Qutbuddin, wafat
di kota Canton, China.
- Syarif Taufiquddin Alwi, wafat di China.
- Syarif Badruddin Muhammad Ali, wafat di Thailand
tahun 993 H (1585 M)
- Syarif Saniruddin Alwi Al-Akbar, wafat di
Thailand tahun 1001 H bertepatan dengan 1592 M.
- Syarif Nashruddin Yunus, wafat di Sumatera tahun 995 H bertepatan dengan 1586 M, termasuk orang yang memerangi penjajah Portugis di Jawa.
BAB VI
Para Syarif Hadhramaut Dan Peranan
Mereka Dalam Menyebarkan Islam Di Filipina
Dr.Najeeb Shaliby dalam kitabnya “Tarikh Moro” yang dikarangnya atas permintaan pemerintah Amerika di Filipina dan dalam pengawasan orang-orangnya, sebagai tambahan dari apa yang ditulis oleh para pengelana Barat, yang terdiri dari 2 jilid dan dicetak di Manila tahun 1323 H bertepatan dengan 1905 M menyebutkan bahwa kata ‘Syarif’ adalah gelar yang diberikan kepada keturunan Nabi S.A.W. Gelar yang lengkap adalah Sayid Syarif. Orang Arab hanya menggunakan kata ‘Sayid’ saja sedangkan orang Moro menyebutnya Sayid Syarif sebagai penghormatan mereka yang besar terhadap keturunan Nabi S.A.W.
Dalam kitab ”Tarik Serawak” ( A history of Serawak) disebutkan bahwa Sultan
Barkat adlah termasuk keturunan dari Al-Imam Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib.
Ia mempunyai kendaraan perang yang terkenal. Nasabnya adalah Barkat bin Thohir
bin Ismail yang dikenal dengan gelarnya ‘Bashri’ bin Ubaidillah bin Ahmad
Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin
Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Al-Husein bin Al-Imam Ali
bin Abi Thalib.
Dalam sejarah muslimin di Filipina dan sejarah Sulu ada satu keterangan
yang menjelaskan bahwa nasabnya berpangkal pada Abdullah bin Alwi bin Muhammad
Shohib Marbath bin Ali Kholi’ Qosam, keturunan Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin
Isa.
Ia keturunan para syarif Alawiyin dari Hadramaut yang mengarungi lautan
menuju Filipina. Dr.Najeeb Shaliby dalam sejarah Mindanao menyebutkan:79
“Tidak ada sesuatu sejarah yang pasti sebelum sampainya Islam. Tidak ada
juga hikayat-hikayat yang dipelihara dalam ingatan. Ketika Islam datang,
tersebarlah ilmu, peradaban, dan kegiatan-kegiatan, muncul undangk-undang baru
bagi kerajaan. Huku-hukum ditetapkan dalam sebuah buku. Silsilah nasb ditulis
dan cabang-cabang dari keturunan yang bernasab kepada para pembesar dipelihara
dengan bantuan semua sultan dan para pemimpin sampai sekarang.”
Silisilah atau syajarah yang dinamai Tarsila atau silsilah merupakan
keterangan dasar-dasar tertulis mengenai keturunan-keturunan pertama dari
muslimin pertama di Filipina.
Dr. Hajeeb Shaliby telah mengungkapkan silsilah pertama dan diikuti dengan
silsilah-silsilah berikutnya yang banyak. Kami akan menyebutkan disini silsilah
pertama dari penduduk pulau-pulau itu. Berikut ini yang dikatakannya:
“ Alhamdulillah, sesungguhnya aku yakin Allah menjadi saksi atas diriku,
kitab ini memuat keturunan Rasulullah SAW. Yang sampai ke Magindanao. Seperti
diketahui Rasulullah mempunyai anak Fathimah Az-Zahra yang melahirkan Al-Hasan
dan Al-Husein. Al-Husein mempunyai anak Zainal Abidin, dan seterusnya. Berikut ini
adalah nasab dari Muhammad bin Zainal Abidin:80
“Muhammad Zainal Abidin, yang datang dari Johor, bin Ahmad bin Abdullah bin
Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Alwi Ammul Faqih Al-Muqaddam bin Muhammad
Shohib Marbath bin Ali Kholi’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi yang
merupakan orang pertama yang yang dinamai Alwi dan kepadanya bernasab
Sayid/Syarif Alawiyin di Hadramaut bin Ubaidillah bin Al-Muhajir Ahmad bin Isa
dan seterusnya.
Didalamnya disebutkan empat silsilah. Sedangkan pembicaraan tentang masuknya
para Syarif Alawiyin dari Hadramaut ke pulau-pulau di Hindia Timur telah lewat.
Enam da'i pertama yang menyebarkan Islam di Filipina
Sesungguhnya para da’i pertama yang menyebarkan Islam di pulau-pulau
Filipina, Sulu, Mindanao, dan sebagainya adalah kalangan Syarif Hadramaut. Kami
menganggap mereka adalah enam dari pertama selain Raja Baginda yang berkuasa
atas Kepulauan Sulu dan Saldung atau Luzon, karena ia tersebut dalam bilangan
para Syarif kerajaan Brunei, Carmen, dan Serawak, juga Borneo dan Saldung.
Setiap tahun diberikan kepadanya Jizyah sebesar satu gantang emas. ‘gantang’
adalah ukuran yang kadang-kadang setara dengan 5 mud, dan kadang-kadang 8 mud
menurut daerah yang berbeda-beda.
Demikian juga tidak termasuk kedua orang Syarif, Tabunawi dan Mamalo,
keduanya anak dari Syarif Maraja Mahraj, yang datang setelah Syarif Auliya’.
Berikut ini adalah enam orang da’i pertama yang mempunyai peranan paling
besar dalam menyebarkan Islam di Filipina dan sekitarnya:81
- Syarif
'Auliya
Syarif Auliya’ dipandang sebagai salah satu da’i Islam pertama yang datang
ke Magindanao dan daerah lainnya dimana ia menyebarkan Islam dan menikah
disana. Dari istrinya ia mendapatkan seorang putri yang diberi gelar
‘Paraisuli’. Kemudian ia kembali ke tempat dimana ia datang dari Melayu.
Ada dikatakan sesungguhnya ia adalah Syarif Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin
Jamaluddin Al-Husein bin Ahmad Syah bin Abdullah bin Abdullah bin Alwi bin
Muhammad Marbath, keturunan dari Al-Imam Al-Muhajir dan seterusnya. Tersebut
juga nasabnya di sejarah Palembang.
- Syarif
Maraja (Mahraj)
Syarif Maraja Mahraj datang setelah berangkatnya Syarif Auliya’ dan menikah
dengan putrinya Paraisuli dan darinya mendapatkan dua orang putera yaitu
Tabunawi dan Mamalo yang keduanya dijumpai oleh Syarif Muhammad bin Ali Zainal
Abidin.
- Syarif
Makhdum Ishaq
Syarif Ishaq yang bergelar ‘Uluwwul Islam’ bin Ibrahim Asmoro dianggap
sebagai salah satu dari enam da’i pertama yang menyebarkan Islam di Filipina
dan juga dianggap sebagai salah satu dari Wali Sanga yang menyebarkan Islam di
Jawa yang telah kami sebutkan sebelumnya.
- Syarif
Zainal Abidin
Syarif Zainal Abidin dipandang sebagai salah satu raja pertama di kepulauan
Sulu. Mengenai beliau, Dr.Najeeb Shaliby mengatakan:
“Di pantai Utara Magindanao pada daerah yang subur dan makmur didekat
tempat yang bernama ‘Pulangi’ Islam tumbuh berkembang, bunganya merekah,
dahannya menjulang ke atas, masjid-masjid didirikan untuk menyembah Allah,
diatas menara-menaranya diserukan kalimat Laa ilaaha illallah Muhammadur
Rasulullah. Syarif Ahmad bin Ali Zainal Abidin diumumkan sebagai penguasa
Magindanao berdasarkan kesepakatan, kesenangan, dan keputusan yang tetap dari
penduduknya.”
Dr.Najeeb dalam kitabnya menyebutkan tarjamah silsilah nasabnya, dan
menyebutkan keterangannya dari Adam ke Ibrahim lalu ke Ismail dan terus sampai
ke Abdu Manaf, Hasyim, Abdul Muthalib, Abdullah, Muhammad Rasulullah SAW., lalu
puterinya Fatimah Az-Zahra yang melahirkan Al-Husein, lalu Ali Zainal Abidin,
Syarif Muhammad Al-Baqir, Syarif Ja’far Ash-Shadiq, Syarif Ali, Syarif
Muhammad, Syarif Isa, Syarif Ahmad, Syarif Ubaidillah, Syarif Alwi, Syarif
Abdurrahman, Syarif Ahmad, Syarif Abdullah, Syarif Ali, Syarif Muhammad,
Syarif Husein, Syarif Ali Al-Baqir, Syarif Ali Zainal Abidin, yang datang dari
Johor dan menikah dengan saudara sultannya. Syarif Muhammad Kabungsuan
mempunyai anak yang dilahirkan di Johor yang diberi gelar ‘Sambakan’ dan anak
perempuan yang bernama Muzadniq (mungkin diambil dari kata muznah, menurut
kebiasaan orang Melayu dalam merubah nama-nama, seperti Khadijah menjadi
Khatijahm dsb). Lalu ia datang bersama kedua anaknya ini ke Magindanao dan
disana ia mendapat anak juga.82
- Syarif
Muhammad bin Ali (Kabungsuan)
Terdapat dalam silsilah yang telah disebutkan tadi.
- Syarif
Abubakar
Syarif Abubakar termasuk salah satu da’i-da’i besar. Ia pergi ke Makkah
untuk memperoleh ilmu-ilmu keislaman disana. Setelah kembali ia mulai
menyebarkan Islam sebagaimana yang dipelajarinya dari Makhdum Ishaq. Ia
mengarang kitab yang bernama “Addurul Manzhur”. Kemudian ia menjadi sultan
Kepulauan Sulu setelah Raja Baginda.
Penutup
Dari
pembahasan yang telah lalu jelaslah bahwa para Syarif Hadramaut dari keturunan
Al-Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir memainkan peranan yang penting dalam
menyebarkan Islam menurut mazhab Imam Syafi’i. Sedangkan orang-orang Indonesia
yang terdahulu adalah penyembah berhala kemudian setelah itu datang agama Hindu
dan Budha, lalu tersebar diantara mereka. Setelah itu barulah datang agama
Islam.
Islam
tersebar berkat pra da’i pertama dari keturunan Hadramaut. Cara mereka dalam
menyebarkan Islam mempunyai pengaruh di dalam jiwa para penduduknya, sehingga
tidak tersisa agama Hindu dan Budha di kepulauan Indonesia kecuali sedikit
saja, sebagian besar terdapat di pulau Bali.
Setelah para
da’i pertama, datang para murid mereka dari berbagai tempat di Indonesia, yang
memainkan peranan yang pening dalam menyampaikan Risalah Islam dan
menyebarkannya di seluruh pelosok kerajaan, dengan cara-cara damai dan dengan
kecepatan yang tak ada bandingnya.
Ketika
Indonesia berada dalam kekuasaan penjajah Belanda, para Syarif mendirikan
organisasi pertama yang dikenal di Indonesia yang bernama ‘Syarikat Islam’ yang
masih ada sampai sekarang.
Kemudian
mereka menentang penjajahan Belanda, Jepang, dan Inggris. Tetapi sebagian
mereka tidak melebur secara total dalam masyarakat Indonesia walau dalam masa
yang panjang, karena masih memakai adat dan tradisi Arab. Mereka ini generasi
terdahulu. Namun sebagian besar telah berbaur dalam masyarakat Indonesia, hanya
merka tidak melupakan asal dan nasab mereka, walaupun mereka jauh dari
Hadramaut dan menetap ditempat hijrah yaitu Indonesia. Bersama rakyat mereka
menghadapi setiap musuh asing sebagaimana mereka memerangi musuh-musuh Islam
dari dalam yaitu kaum komunis di akhir pemerintahan Ahmad Sukarno.
Tetapi
sekarang, setelah berlalunya beberapa abad sejak masuk dan berkembangnya Islam
di Indonesia, dan gagalnya penjajah Belanda menyebarkan agama Kristen,
orang-orang Indonesia mulai menghadapi suatu rencana besar yang bukan saja
datang dari kekuataan Barat dan dari Majelis Gereja Sedunia untuk gerakan
Kristenisasi, tetapi juga dari sebagaian orang Indonesia yang hanya memakai
nama Islam sebagai nama saja, tetapi hati mereka bersama kekuatan Kristen Barat
yang memerangi Islam dengan bantuan mereka ini yang terpengaruh dengan
peradaban Kristen Barat.
Di samping
hal tersebut diatas juga tidak adanya perhatian dari negara-negara Islam,
khususnya negara-negara Arab, terutama perhatian terhadap bahayanya gerakan
Kristenisasi. Merupakan kewajiban bagi negara tersebut memberikan bantuan yang
semestinya dalam rangka menghentikan gerakan Kristenisasi penjajah baru ini.
Kita
berharap kepada Allah semoga muslimin didunia bersama bangsa Indonesia,
Malaysia, Filipina, dan yang lainnya mampu menghentikan gerakan Kristenisasi
dari penjajah Kristen Barat ini.
Kami
meanggap bukan suatu hal yang mustahil bangkitnya kaum muslimin Indonesia dan
kembali ke lapangan politik, untuk menggagalkan gerakan Kristenisasi dan
menghapuskannya dari Indonesia. Sebagaimana yang terjadi ketika gerakan komunis
melakukan tindakan makarnya dipuncak perlawanan mereka terhadap partai Islam
Masyumi, kaum muslimin dapat menghancurkannya dengnan keras sehingga tidak
terdapat lagi seorang komunis pun di Indonesia.
Sebagai
penutup, saya berharap semoga saya diberi taufiq dalam memberikan gambaran yang
jelas tentang da’i-da’i Islam pertama dari kalangan orang Arab Syarif
Hadramaut, keturunan Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa.
Daftar
Pustaka
- Ahmad bin Muhammad Shalih Al-Baradighi
Al-Huseiny: Ad-durar As-Saniyyah fi Al-Ansab La Hasaniyyah wala
Huseiniyyah,cetakan kedua, Beirut, 1394 H.
- Ahmad Syalaby, Dr.: Mausu’ah
At-Tarikh Al-Islamy,Maktabah An-Nahdhah Al-Mishriyyah, Kairo, 1983.
- Al-Hafizh Abubakar Ahmad bin
Ali Al-Khatib Al-Baghdady:Tarikh Baghdad, Daar Al-Kutub Al-Araby,
Beirut.
- Ath-Thohir bin Abdullah
Al-Lahyawi: Hishnus-Salam Baina Yaday Maulaya Abdis-Salam, Daar
Al-Baidha’, 1978.
- Ruqayyah Asy-Syadzili: Min
A’lam Al-Islam fi Indonesia,Mathbu’ath Asy-Sya’b, Mesir, 1976.
- Said Awadh Bawazir: Shafahat
Min Tarikh hadramaut, Maktabah Al-Irsyad, Jeddah, 1378 H.
- Sholah Al-Bakry
Al-Yafi’i: Tarikh Hadramaut As-Siyasy,Mathbaah Mushthafa
Al-Bab Al-Halaby, Mesir, 1936.
- Shalih Al-Hamid
Al-Alawiy: Tarikh Hadramaut, Maktabah Al-Irsyad, Jeddah, 1968.
- Abdurrahman bin Muhammad bin
Husein Al-Masyhur:Syams Azh-Zhahirah, ‘Alam Al-Ma’rifah,
Jeddah, 1984.
- Alwi bin Thohir bin Abdullah
Al-Hadar Al-Haddad: Al-Madkhal ila Tarikh Al-Islam bi Asy-Syarq
Al-Aqsha, Muassasah Al-Muhdar, Mesir, 1971.
- Alwi bin Thohir
Al-Haddad: Al-Madkhal ila Tarikh Al-Islam fi Asy-Syarq Al-Aqsha,
‘Alam Al-Ma’rifah, Jeddah, 1985.
- Abdul Halim Mahmud, Dr.
Syeikhul-Azhar: Sayyiduna Zainul Abidin, Daar Al-Islam, Mesir.
- Lothrop Stoddard-Syakib
Arsalan:Hadhir Al-‘Alam Al-Islamy,Daar Al-Fikr, Beirut, 1973.
- Muhammad Dhiya’ Syahab-
Abdullah bin Nuh: Al-Islam fi Indonesia, Addaar
As-Su’udiyyah li An-Nasyr wa At-Tauzi’, Jeddah, 1977.
- Muhammad Dhiya’ Syahab-
Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, Daar
Asy-Syuruq, Jeddah, 1980.
- Muhammad bin Ahmad bin Umar
Asy-Syathiry: Al-Mu’jam Al-Lathif li Asbab Al-Alqab wa
Al-Kuna fi An-nasab Asy-Syarif li Qabail wa Buthun As-Sadah Bani
Alawiy, ‘Alam Al-Ma’rifah, Jeddah, 1986.
- Muhammad bin Ali bin Alwi Khird
Ba’Alawiy: Al-Azr Mathabi’ Al-Maktab Al-Mishriy Al-Hadits,
Kairo, 1985.
- Muhammad Muhammad Zaitun: Al-Muslimin
fi Asy-Syarq Al-Aqsha’, Daar Al-Wafa’, Kairo, 1985.
- Muhammad Abdul Qadir
Bamathraf: Jami’ Syaml A’lam Al-Muhajirin Al-Muntasibin ila
Al-Yaman wa Qabailihim, Daar Al-Hamadaniy, ‘Adn, 1984.
- Muhammad Abdul Qadir Ahmad,
Dr: Al-Muslimin fi Al-Filipin, Maktabah An-Nadhah
Al-Mishriyyah, Kairo, 1983.
- Mausu’ah Al-‘Alam Al-Islamy, Daar Ar-ra’y Al-‘Am, Mesir,
1979.
- William Langer: Mausu’ah
Tarikh Al-‘alam, Maktabah An-Nadhah Al-Mishriyyah, Mesir, 1962.
- Brian May: The
Indonesian Tragedy, Graham Brash, P.T.E. LTD, Singapore, 1984.
- M.C. Ricklefs: A
History of Modern Indonesia, Mac Millan Education LTD, London.
6 Ahmad
Muhammad Sholeh Al-Baradighi: Ad-Durar As-Saniyah fi Al-Ansab
Al-Hasaniyah wa Al-Huseiniyah, hal. 81.
8 Muhammad
bin Abibakar Asy-Syili ba Alawi: Al-Masyra’ Al-Rawi fi manaqib As-Sadah
Al-Kiram Ali Abi Alawi, jiild 1, hal. 239.
23 Muhammad
Abdul Qadir Bamuthrif: Jami’ Syaml A’lam Al-Muhajirin Al-Muntasibin ila
Al-Yaman wa Qabailihim, jilid 3, hal. 57.
27 Muhammad
bin Abibakar Asy-Syili ba Alawi: Al-Masyra’ Al-Rawi fi manaqib As-Sadah
Al-Kiram Ali Abi Alawi, jiild 2, hal. 8.
30 Muhammad
Abdul Qadir Bamuthrif: Jami’ Syaml A’lam Al-Muhajirin Al-Muntasibin ila
Al-Yaman wa Qabailihim, jilid 3, hal. 57.
48 Muhammad
Abdul Qadir Bamuthrif: Jami’ Syaml A’lam Al-Muhajirin Al-Muntasibin ila
Al-Yaman wa Qabailihim, jilid 3, hal. 57.








