Syeikhah
Sulthonah binti Ali Az-Zubaidiyah keturunan dari keluarga Az-Zubaidi,
mereka adalah bagian dari kabilah Bani Haritsah Al-Kindiah, ada juga
yang mengatakan mereka dari kabilah Bani Madzhij.
Syeikhah
Sulthonah dilahirkan di perkampungan Al-Urro, yaitu dataran yang
membentang dari sebelah timur kampung "Maryamah" hingga ujung Hauthoh
yang sekarang dikenal dengan "Hautoh Sulthonah", sekitar 3 mil dari kota
Seiyun, perkampungan tersebut dihuni oleh kabilah "Az-Zubaidi" salah
satu dari kabilah-kabilah Al-Kindiyah, yang terkenal dengan senjata,
kekuatan serta keberaniannya.
Syeikhah Sulthonah tumbuh besar
dikeluarga baduwi yang kesehariannya akrab dengan menggembala hewan,
dengan kepribadian yang kuat serta sifat-sifat lainnya yang terdapat
pada diri penduduk baduwi, walau demikian Sulthonah tidak seperti
kebanyakan anak-anak sebayanya, dia tenang dan lebih senang menyendiri
dari keramaian teman-teman sebayanya yang bersifat kekanak-kanakan,
sehingga ketika usianya berangsur dewasa dia mulai tidak menyukai
tradisi kehidupan baduwi yang diwarnai dengan kekerasan dan kedzaliman,
selain itu dia juga mulai menyelusuri jalan fitrahnya yang menuntunya
kepada iman dan membawanya kepada ketenangan jiwa. Susana malam yang
sunyi serta perkampungan yang tenang serta cerita penduduk setempat
tentang para Sholihin adalah hal yang sangat membantu pencaharian
Sulthonah.
Sejalan dengan perkembangan usianya yang semakin
dewasa, pencaharian itu pun semakin mendalam, dia mulai melihat
kenyataan kehidupan sosial di Hadhramaut, juga mendengar tentang para
ahli ibadah, ahli zuhud serta para ulama atqia dan shalihin serta
karomah-karomahnya yang menjadi bahan obrolan penduduk setempat, mereka
yang ditakuti oleh orang-orang bersenjata karena kekuatan jiwa serta
imannya yang mantap, mereka yang disegani oleh semua kalangan, bahkan
kekuatan batinnya yang luar biasa bisa menghentikan dan melerai perang
antara kabilah tanpa senjata atau bala tentara.
Gadis yang
brilian itu terus mengikuti informasi tentang kehidupan para shalihin
serta kegiatan dakwah mereka didaerah lembah Hadhramaut, bahkan dia
berjalan kaki ke masjid-masjid untuk mendengarkan pengajaran dan petuah
dari pari dai yang kebetulan singgah di perkampungannya, hal tersebut
membuat tekadnya semakin kuat untuk menempuh jalan tasawwuf dan memenuhi
panggilan fitrahnya, petuah dan pelajaran yang ia dengar semakin
menggugah hati gadis tersebut sehingga bangkitlah jiwanya untuk
melakukan amalan tha'at baik berupa shalat, puasa, ataupun membaca
dzikir dan sebagainya yang menjadi aktifitas orang-orang shalihin,
bahkan dalam usianya yang masih belia itu hampir seluruh waktu dan
pikirannya dia gunakan untuk melakukan amal ibadah dan keta'atan
lainnya.
Robiah Hadhramaut
Para penulis sejarah
menjuluki Syeikhah Sulthonah sebagai Robiahnya Hadhramaut, dan memang
gelar tersebut sangat sesuai dengan hal dan makomnya Syeikhah Sulthonah,
karena beliau dari mulai kecil sudah mulai menyelusuri jalan tasawuf,
dan dari segi itu dia mengungguli Robiah Al-Adawiyah yang disebutkan
dalam buku-buku sejarah Islam, hal tersebut sebagaimana disebutkan oleh
Sayid Muhammad bin Ahmad As-Syatiri dalam kitabnya "Al-Adwar", "Dia
(Syeikhah Sulthonah) mempunyai kelebihan tersendiri karena dari kecil
sudah mulai meniti tangga dan makom-makom tasawuf".
Dalam usia
dini Sulthonah sudah mulai melangkahkan kaki menyelusuri jalan tasawuf,
dan ia menemukan jalan kesana disetiap tempat di lembah Hadhramaut,
walaupun dia dan keluarganya serta kabilahnya tinggal di perkampungan
baduy urro, namun tidak jarang para ulama dari Tarim, Seyun, Gurfah,
Syibam dan lainya datang kesana guna memberikan wejangan dan petunjuk
para penduduk setempat kepada ajaran dan adab Islam, keadaan yang
seperti semakin memberikan kesempatan bagi Sulthonah untuk dengan secara
diam-diam dia selalu mengikuti dan mendengarkan petuah dan pelajaran
dari para alim ulama yang sengaja mendatangi perkampungannya untuk
menyebarkan dakwah islamiah, hingga ketekunannya dalam mengikuti dan
mendengarkan pelajaran dari para ulama serta pilihannya untuk menelusuri
jalan tasawuf kemudian Sulthonah terkenal dikalangan penduduk setempat.
Hal
tersebut semakin menakjuban kalau dilihat dari lingkungan dan tabiat
masyarakat setempat, masyarakat setempat yang merupakan kabilah-kabilah
baduy dikenal akan kecintaan dan penghormatan mereka pada "Alulbait" dan
ulama yang datang kekampung mereka untuk menyebarkan ilmu dan dakwah
islamiyah, namun walaupun mereka menerima baik para ulama yang datang
kekampungnya, bukan berarti mereka menerima dan mempunyai keinginan
untuk menerima dan mengikuti ajaran tasawuf, begitupula halnya dengan
kaum perempuan, mereka hanya mengenal tradisi dan kebiasaan yang
diturunkan dari nenek moyangnya, mereka jauh sekali dari dunia keilmuan
apalagi sampai mendalami tasawuf.
Keadaan lingkungan masyrakat
dan adat baduy yang akrab dengan senjata dan kekerasan dan jauh dari
dunia keilmuan tidak membuat Sulthonah patah semangat, bahkan sebaliknya
tantangan yang berat tersebut semakin menggugah semangatnya dalam
menyelusuri jalan menuju petunjuk Allah, hal tersebut menjadikan kagum
para kerabat dan kabilahnya juga para masyayeh zaman itu, hingga para
masyayeh memberikan perhatian khusus kepadanya, berkat semua itu,
akhirnya nama Sulthonah dikenal dihampir seluruh Lembah Hadhramaut, para
masyayehpun menerima dan mengakui makomnya Sulthonah karena memang
Sulthonah, para masyayeh tasawuf dan ulama di Lembah Hadhramaut masa itu
mempunyai hubungan yang kuat antar satu dengan yang lainnya dan
hubungan mereka berdasarkan husnudzon, dengan kaidah istiqomah dan
selalu berdekatan dengan para ulama dan masyayeh. Sulthonah telah mampu
membuktikan bahwa dia memilik karakter tersebut, Karena dari kecil dia
merupakan anak yang baik dan taat serta giat mengerjakan pekerjaan
rumahnya, sebagai anak perempuan dalam keluarga dia menenun, menjahit,
beternak ayam, memasak untuk keluarganya dan pekerjaan rumah yang baiasa
dikerjakan oleh remaja putri sesusianya, dan disamping itu semua
Sulthonah adalah seorang putri yang bertakwa, penyabar, sufi, gemar
menunjukan kepada orang lain jalan yang benar, dia juga seorang gadis
mempunyai nama baik menjaga harga diri, dibesarkan dilingkungan keluarga
berakhlak mulia yang merupakan warisan turun temurun dari kabilahnya.
Bagaimana Anggota Kabilah Sulthonah Bisa Menerima Ajaran Tasawuf?
Sudah
menjadi kehendak Allah, bersamaan dengan munculnya Syekhah Sulthonah
dalam kancah tasawuf dan mulai menyebarkan ajaran tasawuf kepada
masyarakat setempat, terjadilah suatu kejadian yang kemudian menjadikan
salah satu sebab terbukanya hati mereka untuk kembali ke jalan Allah
SWT, peristiwa tersebut sebagaimana disebutkan dalam "Al-Adwar", bahwa
pada suatu waktu sekelompok masyarakat setempat mendapatkan seekor unta
yang tersesat, dan mereka mengambilnya sebagai barang rampasan, kemudian
diketahui bahwa onta itu ternyata milik Syekh As-Sholih Muhammad bin
Hakam Baqosir, setelah beliau tau akan kejadian tersebut maka beliau
berdoa didepan orang banyak, agar Allah memberikan mereka (orang-orang
yang mengambil untanya) petunjuk ke jalan yang benar yang diridloi oleh
Allah SWT kalau hal yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut
kebutuhan yang mendesak, atau Allah membalas mereka jika mereka
melakukan hal tersebut karena anaiya dan zhalim.
Cara dan sikap Syekh
Baqosir dalam menyikapi kejadian itu membuat warga baduy yang polos
dengan dicampuri sifat keras dan perampas, tergerak hati nuraninya untuk
kembali ke jalan Allah SWT.
Peristiwa tersebut jelas sangat
mendukung terhadap dakhwah yang mulai dirintis oleh Syeikhah Sulthonah,
bahkan menurut riwayat lain pengaruh dari Syeikhah Sulthonah bukan saja
menyadarkan para penduduk baduy tersebut kepada jalan yang diridloi
Allah SWT, bahkan lebih dari itu banyak dari anggota keluarga dan
kabilahnya yang kemudian menyelusuri jejak langkah Seiyakhah Sulthonah
diantara mereka adalah Umar dan Muhammad saudara Syeikhah Sulthonah,
sehingga kemudian mereka mengambil langsung dari Syekh Muhammad bin
Abdullah Al-qodim Baabbaad dan masyayeh Hadhramaut lainnya.
Guru Syekhah Sulthonah
Guru Syekhah Sulthonah
Setelah
Syekhah Sulthonah matang dalam memahami tuntutan fitrahnya dalam
lingkungan yang sederhana tersebut, maka semakin kuat pula ajakan dalam
jiwanya untuk mengambil tasawuf secara langsung dari para masyayeh.
Adapun Syeh pertama yang dituju oleh Sulthonah adalah Al-Allamah
Muhammad bin Abdullah Al-qodim Baabbad yang tinggal di kampung Gurfah
tidak jauh dari kampungnya Syeikhah Sulthonah, dari Syeikh Al-qodim
inilah mulai terbukanya anugerah Allah yang berupa ilmu dan amal baik
yang melalui kasab ataupun yang merupakan laduni dan wahbi. Dan diantara
kelebihan Syeikhah Sulthonah yang menonjol adalah beliau tidak mau
menikah dan bahkan tidak menganggap bahwa nikah itu suatu tujuan,
Sulthonah mempunyai tujuan yang luhur daripada hal tersebut yaitu tujuan
ruhani yang telah ia pupuk semenjak kecil dengan memperbanyak riadloh
dan menyerahkan jiwa sepenuhnya kepada Allah SWT. Keinginan rohani
tersebut mengalahkan segalanya dan menambatkan ketetapan akhlak dan
cita-cita kejiwaan yang tinggi sehingga segala sesautu yang bersifat
duniawi dan berhubungan dengan syahwat dianggap suatu yang remeh
walaupun itu halal. Buah dari itu semua adalah bersihnya hati dan jiwa
sehingga mudah untuk melakukan amal saholeh, sehingga diriwayatkan
Syeikhah Sulthonah termasuk orang yang sering melihat Nabi SAW dalam
mimpi.
Begitulah selanjutnya Syeikhah meniti tangga dan menimba
tasawuf dari para masyayeh di zaman itu, hal tersebut dilakukannya
dengan mendatangi langsung rumah, ataupun mendatangi masjid-masjid guna
menimba ilmu dari para masyayeh yang selalu mengisi masjid-masjid
tersebut dengan wejangan dan pelajaran. Tentang Syeikhah Sulthonah yang
gigih dan pengaruhnya dikalangan masyrakat baduy akhirnya sampai juga
kepada para masyayekh di sekitar Hadhramaut, hal yang menjadikan
Syeikhah Sulthonah semakin dekat dengan para ulama keturunan Rasulullah
SAW, oleh karena itu Sulthonah sangat menyadari akan kewajiban yang ia
pikul terhadap para keturunan Rasulullah SAW tersebut, oleh krn itu
beliau berkata "Demi keagungan zat Allah yang disembah, kalau misalkan
dagingku ini bisa bermanfaat bagimu, maka akan aku korbankan", dia juga
berkata disela-sela memberi wejangan kepada masyarakat "Sesungguhnya aku
melihat bahwa keluarga Baalawi mempunyai kedudukan diatas manusia
lainnya", yakni para wali dan masayekh dari Baalawi mempunyai kedudukan
yang lebih daripada yang lainnya.
Adapun masyayekh Baalwi yang
mempunyai hubungan dekat dengan Syeikhah Sulthonah adalah Syeikh
Abdurrahman Assegaff dan keturunanya, tentang kecintaannya dan
penghormatannya kepada keturunan Rasulullah SAW bisa dilihat jelas dalam
maqolah yang ditulis oleh Syeikhah Sulthonah tentang betapa dia
mengagungkan dan menghormati keturunan Rasulullah SAW dengan tulus dan
ikhlas bukan suatu hal yang dibuat-buat atau dipaksakan.
Sayyid Abdurrahman Assegaff adalah salah satu masyayeh dari keluarga Baalawi
yang sering datang ke perkampungan Sulthonah guna memberi wejangan dan
pelajaran kepada masyarakat setempat, kehadiran beliau disana semakin
sering setelah menikahi salah satu warga kampung, kehadiran beliau
selalu disambut gembira oleh masyarakat disana, mereka selalu memenuhi
masjid yang dipake media dakwah oleh para masyayeh, bahkan sebagian
masyarakat mendatangi beliau guna menimba ilmu dan barokah, mengenai hal
itu Syeikhah Sulthonah berkata : "Apabila Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff
akan mengunjungi kita, maka sebelumnya kampung kita menjadi subur
seakan-akan habis tersiram hujan deras, kemudian setelah itu aku
mendengar suara berkata "datang kepadamu sultan putranya sultan". Dan
dia sendiri yang berkata seperti itu pada hakikatnya adalah sultonah
ruhani sebagaiaman perkataan syair :
ملوك على التحقيق ليس لغيهم
من الملك إلا إسمه وعقابه
Artinya : mereka adalah para raja yang sesungguhnya, adapun raja-raja yang lainya hanya mempunyai nama dan gelar saja
Dan mengenai mereka Syekh Abu Madyan berkata :
ما لذة العيش إلا صحبة الفقرا
هم السلاطين والسادات والأمرا
Artinya : kelezatan hidup ini hanya dengan berbaur dengan kaum faqir, mereka adalah para raja dan pemimpin
Mahabbah
Syeikhah Sulthonah terhadap Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaf yang begitu kuat,
menjadikan Syeikhah Sulthonah mampu membedakan antara alamat kedatangn
mereka kepadanya, dalam hal itu Syeikhah Sulthonah berkata : "setiap
wali yang dating kepadaku aku mengetahuinya, dan kalau sudah tiba maka
dia masuk melalui pintu, kecuali Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff kalau dia
berkunjung kepadaku maka aku tidak mengetahuinya kecuali dia sidah
berdiri dihadapanku".
Tafsir tentang perkataan tersebut tidaklah
bertentangan dengan mafhum zahir, karena tidak menutup kemungkinan
dialam sirrinya Syeikhah Sulthonah telah merasakan adanya madad dan
atsar dari para wali yang datang kepadanya, karena para wali mempunyai
sirr yang bisa membedakan suatu perkara dari yang lainya, atau dia
melihat sesuatu yang berada disekitarnya dengan "nur" Allah, sebagaimana
disebutkan dalam atsar "Takutlah engkau akan firasatnya seorang mukmin,
karena dia melihat dengan "nur" Allah". Dan tentang hal tersebut
Syeikhah Sulthonah berkata :"Setiap wali Allah aku mengenalnya baik
banyak ataupun sedikit", dia juga berkata "Sebagian dari para wali itu
aku mengetahu halnya, kecuali Syekh Sayyid Abdurrahman".
Adapun hubungan
Syeikhah Sulthonah dengan Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran putra Syekh Sayyid Abdurrahman
Assegaff tidak kalah dekat dan kuatnya dengan hubungan Sulthonah dengan
sang ayah, Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran menjadi penerus perjuangan dakwah
sang ayah, maka beliaupun seringkali berkunjungi ke perkampungan guna
menyebarkan ilmu dan menyampaikan dakwah islamiyah, hal tersebut
sebagaimana diterangkan oleh penulis "Al-jauhar As-Syaffaf", : Antara Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran dengan Syeikhah Sulthonah mempunyai hubungan
yang erat dan mahabbah yang agung, dan ketika Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran
akan berkunjung perkampungannya maka dua atau tiga hari sebelumnya
Syeikhah Sulthonah memberi tahukan kepada penduduk setempat dan berkata
:"Sambutlah kedatangan sultan putranya sultan, karena aku telah
mendengar "Syaawusy" (kemungkinan dari bahasa turki- yang artinya
pimpinan pengawal atau pemimpin suatu kelompok, dan yang dimaksud disini
adalah sautu bisikan kabar gembira), memberi tahukan kedatangannya, aku
juga melihat mahkota kewalian dikepalanya, dan kedatangannya diiringi
oleh para malaikat". Dia juga berkata "Sesungguhnya aku selalu mendengar
suara annaubah dilangit yang mengumandangkan kepemimpinan Syekh Sayyid Abu
Bakar".
Syeikhah Sulthonah oleh Allah dikaruniai umur panjang
sehingga beliau menzamani putranya Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran, sebagaimana
dia menghormati dan mengagungkan kakek dan ayahnya Syeikhah Sulthonahpun
menghoramti keturunan Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff tersebut.
Sebagaimana
beliau menghormati Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran pada masa hidupnya, bahkan
setelah beliau meninggalpun Syeikhah Sulthonah berkata :"ketika Syekh Sayyid Abu
Bakar Assakran meninggal dunia Allah memberinya anugerah yang tak
terhingga, dan aku tidak mengetahui seorang wali Allah yang dianugerahi
seperti itu kecuali dia dari keluarganya terdahulu", Syekh Sayyid Sulthonah pun
memberikan penghormatan tersebut kepada keturunan Syekh Sayyid Abdurrahman
Assegaf yang datang setelahnya, seperti Syekh Sayyid Umar Al-Muhdlor dan Syekh Hasan.
Adapun tentang mahabbah dan penghormatan Syeikhah Sulthonah
terhadap Sayid Abdullah Alidrus bin Abu Bakar hal tersebut dijelaskan
dalam kitab Al-Jauhar As-Syafaf hal 146, "diantara hikayat tersebut
adalah tentang seorang laki-laki soleh yang dikenal dengan Bin Abi Abbad
dan Sulthonah binti Ali Az-Zubaidi semunya mengagungkan Syekh Sayyid Abdullah
dan menghormatinya atas karunia yang telah dilimpahkan oleh Allah
kepadanya, telah berkata sebagian orang yang terpercaya, "Suatu hari
saya mendatangi Syeikhah Alarifah billah Sulthonah binti Ali Az-Zubaidi,
beliau memuji Syekh Sayyid Abdullah bin Abu bakar dan mengagungkannya serta
menyebutkan sifat-sifatnya, dan setelah itu dia berkata kepadaku :"aku
pesen kepada kamu apabila tiba di Tarim maka ciumlah kepalanya (Syekh Sayyid Abdullah bin Abu Bakar)" ketika aku tiba di Tarim aku menjumpai yang
sedang bermain dengan teman sebayanya dan aku melakukan yang dipesankan
oleh Syeikhah Sulthonah. Mengenai hal itu penulis Al-Jauhar As-Syafaf
mendendangkan sebuah syair :
وبنت الزبيدي كم أشاروا وأفصحوا
بتعظيمه شابا لجزل عطية
Artinya
: dan putrinya Az-Zubaidi yang dikatakan bahwa dia mengagungkan seorang
pemuda yang dianugerahi karunia yang tak terhingga oleh Allah SWT.
Syeikhah Sulthonah dan Sastra Sufi
Amal
taat dan dzikir serta tafakur telah membuahkan suatu ketenangan dalam
hati Syeikhah Sulthonah, sejalan dengan firman Allah SWT dalam surat
Arra'd ayat 28 yang artinya :"ingatlah tenangnya hati dengan dkrillah",
dan setiap sesuatu dalam kehidupan menjadi suatu media untuk mengenal
Allah.
وفي كل شيء له آية
تدل على أنه واحد
Artinya : Dalam segala sesuatu tersimpan suatu bukti, yang menunjukan atas keesaan Allah SWT.
Bertolak
dari dasar inilah maka dzikir merupakan suatu alat untuk mengasah dzauk
dan salah satu untuk memahami kata-kata sastera secara faham sufi. Dan
dari dasar ini pula Syeikhah Sultohnah mengungkapkan atas perasaan dan
gejolak jiwanya melalui syair sufi, adapun kebanyakan syairnya merupakan
sayir mahabbah dan kerinduan kepada Allah SWT, ada juga syairnya yang
berupa pujian terhadap guru-gurunya, Syeikhah Sulthonah dalam sayirnya
mempunyai ciri khas tersendiri yaitu gaya kesukuan yang memasyarakat
serta sayirnya yang berupa sayir nyanyian, dan kebanyakan syair Syekhah
Sulthonah tersebut sampai sekarang ini masih selalu didendangkan dalam
"Hadlrah Syeikh Assegaff" yang didirkan oleh Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff
di Masjid Assegaff Tarim.
Sebagaimana disebutkan dalam
kitab-kitab sejarah bahwa Syeikhah Sulthonah seringkali dating ke Tarim
dan duduk dipenghujung kumpulan para hadirin yang menghadiri pengajian Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff, disana dia mengikuti pengajian dan
mendengarkan syair-syair sufi, disamping saling bertukar ilmu
pengetahuan dengan para masyayeh disana dan terkadang mengumandangkan
syair baik karangannya ataupun sayir karangan orang lain. Dikisahkan
dalam suatu kesempatan terjadi perbincangan antara Syeikhah Sulthonah
dan Syekh Sayyid Hasan bin Abdurrahman Assegaff di hadapan ayahandanya Syekh Sayyid Abdurrahaman Assegaff, ringkasnya dalam pembicaraan tersebut Syekh Hasan
mengatakan bahwa tidak sepantasnya unta betina mendahului dan menyamai
unta jantan, Syekh Hasan mengungkapkan hal tersebut dengan bentuk sayair
يا ما اسفهش ما بدا بكره تماري جمال
Mendengar
perkataan seperti itu Syeikhah Sulthonah meminta izin kepada Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaf untuk menjawabnya, dan Syekh Sayyid Abdurrahman pun
mengizinkannya, maka Syeikhah Sulthonah dengan tidak berpikir panjang
menjawabnya dalam bentuk syair juga yang berbunyi :
الحمل بالحمل والزايد لبن والعيال
Dengan
bait itu Syeikhah Sulthonah menjawab perkataan Syekh Hasan, bahwa memang
dia seorang perempuan tetapi dia sama seperti laki-laki dalam ahwal dam
maqomat, bahkan seorang perempuan memiliki kelebihan daripada
laki-laki, karena perempuan memiliki sesuatu yang sangat bermanfaat
yaitu air susu yang menjadi lambang pendidikan, dan juga memiliki
keturunan yang bisa menjaga kelesatarian manusia, dan kedua hal tersebut
tidak dimiliki oleh laki-laki, mendengar jawaban dari Syeikhah
Sulthonah seperti Syekh Sayyid Abdurrahman sangat gembira atas jawaban yang
tepat dan daya tangkap yang cepat.
Peran Syeikhah Sulthonah dalam Menyebarkan Ilmu Pengetahuan
Salah
satu keistimewaan Madrasah Tasawuf di Hadhramaut adalah selain mendidik
para pelajar dengan ilmu pengetahuan dan menggemblengnya dengan akhlak
alkarimah para masyaye dan ulama disana selalu menyeru para pelajar
untuk meyebarkan dakwah ilallah dan mengajari orang-orang awam serta
penduduk diperkampungan dengan bersungguh-sungguh seta media seadanya.
Dan
merupakan sauatu hal yang menakjubkan bahwa hingga saat ini metode
dakwah tersebut masih seperti itu, dan terkadang para pelajar yang baru
mulai pun dituntut untuk menyebarkan dan mempraktekan ilmunya kepada
masyarakat setempat, hal tersebut dilakukan oleh para masyayeh di
Hadhramaut untuk membiasakan para murid menyambungkan ilmu dengan
pengamalan dan juga menyebarkannya.
Dalam lingkungan seperti
itulah Sulthonah dilahirkan dan tumbuh dewasa, untuk kemudian ikut andil
dalam menyebarkan ilmu dan pengetahuan yang ia dapatkan kepada para
sanak kerabat dan kabilahnya.
Setelah melihat dan memahami metode
dakwah di Hadhramaut, Syeikhah Sulthonah menyadari bahwa ilmu dan
pendidikan bagi generasi mudan serta kaum fakir membutuhkan tempat untuk
mereka bernaung maka langkah pertama yang dilakukan oleh Syeikhah
Sulthonah mengajak masyarakat setempat untuk membangun ribath
disepanjang pinggiran perkampungan kabilahnya, adapun peran dia sendiri
atas ribat tersebut adalah sebagai pengawas dan donatur maka tidak lama
kemudian pembangunan tersebut selesai, hal tersebut disebutkan dalam
buku-buku sejarah namun mereka berbeda pendapat tentang fungsi ribat
tersebut, ada yang mengatakan bahwa ribat tersebut disediakan untuk
tempat belajar dan sebagai tempat tinggal para pelajar, dan sebagian
lagi mengatakan bahwa ribat tersebut berfungsi sebagai penampungan
orang-orang fakir dan sebagai tempat tinggal sementara para tamu dan
orang asing yang singgah disana.
Namun apapun maksud dari
pembangunan ribat tersebut baik untuk para pelajar ataupun orang fakir
kedua maksud tersebut sama mulianya, selain itu keadaan masyarakat pada
zaman itu memang sangat membutuhkan bangunan tersebut baik untuk para
pelajar ataupun untuk orang-orang fakir miskin, maka sesuai dengan
tujuan dibangunnya ribat tersebut maka begitu rampung dibangun, ribat
tersebut sering digunakan oleh para masyayeh yang datang kesana untuk
mengumpulkan penduduk setempat guna mendapatkan pelajaran dan wejangan
serta mengadakan halakoh zikir, peninggalan Syeikhah Sulthonah tersebut
masih tetap terpelihara dan ramai dengan pengajian dan halakoh zikir
hingga beberapa waktu lamanya sepeninggal Syeikhah Sulthonah, tempat
tersebut terkenal sebagai lokasi yang aman yang menjadi tujuan
orang-orang ketika ada kerusuhan ataupun perang, hal tersebut
dikarenakan kedudukan dan wibawa Syeikhah Sulthonah semasa hidupnya, dan
bahkan kedudukan dan wibawa tersebut masih dimiliki oleh para masayayeh
kerabat Syeikhah Sulthonah dari kabilah Az-Zabidi, yang senantiasa
menjaga hubungan baik dengan para masyayeh dari keluarga keturunan Nabi
SAW di kota Tarim, Seyun dan sekitarnya.
Akhir Hayat Syeikhah Sulthonah
Semasa
hidupnya Syeikhah Sulthonah merupakan jelmaan seorang wanita Hadhramuat
yang salihah bertaqwa, dalam dirinya menyatu ilmu dan amal disamping
perannya dalam kehidupan social masyarakat yang lurus, memenuhi hak-hak
sesama terlebih lagi hak-hak Tuhannya Allah SWT.
Namun dengan
kelebihan yang berlapis dan ketenaran yang dimiliki Syeikhah Sulthonah,
penulis tidak menemukan kitab yang mengupas secara rinci tentang sejarah
kehidupan Syeikhah Sulthonah, kami hanya bisa menemukan sekelumit
tentang Syeikhah Sulthonah dalam lembaran kitab sejarah yang berbeda,
namun demikian mungkin cukup dalam menggambarkan kehidupan Syeikhah
Sulthonah dan perannya baik dalam dakwah maupun kehidupan sosial apa
yang disebutkan oleh Ustadz As-Syatiri dalam Al-Adwar, bahwasanya
Syeikhah Sulthonah mempunyai peran penting dalam memperbaiki kehidupan
sosial masyarakat di lingkungannya hingga mampu mengangkat derajat kaum
dan negerinya.
Sejalan dengan kata-kata syair :
ولو كان النساء كمن ذكرنا
لفضلت النساء على الرجال
Artinya
: jika semua perempuan seperti yang kami sebutkan (seperti Syeikhah
Sulthonah) maka semestinya kaum hawa tersebut lebih unggul daripada kaum
laki-laki.
Disamping itu semua Syeikhah Sulthonah telah mampu
membuktikan bahwa ajaran tasawuf di Hadhramaut, bukanlah ajaran yang
mengajak untuk mengucilkan diri serta khumul atau pun menjadikan seorang
biksu yang terputus dari kehidupan dunia, tasawuf adalah suatu ajaran
yang mengajak manusia menuju kemuliaan dan kesucian serta mengajak
manusia untuk berperan aktif dalam menyebarkan ajaran islam dan
menegakan syariatnya dalam kehidupan nyata di masyarakat, dan hal
tersebut bukan hanya terbuka bagi kaum laki-laki tetapi perempuan punya
peran penting dalam hal itu, dan hal itu bukanlah hanya suatu perkataan
belaka, karena sepeninggal Syeikhah Sulthonah munculah
Sulthonah-Slthonah lainnya di Hadhramaut.
Adapun wafatnya
Syeikhah Sulthonah adalah pada tahun 843 H, dan beliau dimakamkan
dikampungnya setelah diringi oleh para pelayat yang tak terhingga
jumlahnya, dan sampai sekarang makamnya masih terjaga dan ramai di
ziarahi.
Penutup
Biografi yang telah kami sebutkan
tadi merupakan salah satu contoh tentang kaum perempuan pada zaman itu
disamping mewakili ajaran tasawuf yang lurus dalam madrasah yang
menyatukan anatara ilmu dan amal, antara iman dan tawakkal serta
melakukan usaha.
Dan dalam madrasah salaf perempuan memiliki
tempat dan kedudukan sebagaiaman kaum laki-laki, hal mana telah
dibuktikan oleh seorang wanita muslimah yang dilahirkan diperkampungan
baduy namun melalui madrasah Alulbait wanita itupun menjadi seorang
tauladan bagi kaumnya, dan yang menjadi dalam kehidupan wanita sahliah
pada zaman itu adalah taqwa dan melakukan kewajiban dunia dan akhirat,
bukan khumul yang tercela ataupun mengasingkan diri kecuali dari hal-hal
yang jelek dan orang-orang yang berbuat kejelekan, dan dengan semua
kaidah kehidupan itulah mereka mampu menciptakan suatu kehidupan
bermasyarakat yang pantas untuk dijadikan tauladan.