Sunday, December 31, 2017

Kalender 2018 Gratis Download


Assalamualaikum & Salam...
Menyambut Pergantian Tahun 2017 ke 2018, Admin Bafagihaidid.com menyiapkan Kalender 2018 untuk Shahibers (sahabat kita) sekalian, silahkan tinggal Klik Download :




Friday, December 15, 2017

Tentang Sang Pencipta, Kitab Suci dan Nabi-Nabi


DAFTAR ISI

Pengenalan
-Kata Pengantar
-Biografi Profesor David Benjamin Keldani, B.D (wafat 1940)
Bahagian Pertama
Muhammad Dalam Perjanjian Lama
-Bab 1
-Pendahuluan
-Allah dan Atributnya
-"Dan Ahmad Dari Semua Bangsa Akan Datang" (Haggai, Ii.7)
-Bab 2
-Masalah Hak Berdasarkan Kelahiran Dan Perjanjian Tuhan Dengan Nabi Ibrahim
-Bab 3
-Misteri Tentang "Mispa"
-Bab 4
-Nabi Muhammad Saw Adalah "Shiloh"
-Bab 5
-Nabi Muhammad Saw Dan Kaisar Constantine
-Bab 6
-Nabi Muhammad Saw Adalah "Anak Manusia"
-Bab 7
-Raja Daud Menyebutnya: "Tuanku"
-Bab 8
-Tuan Dan Nabi Yang Dijanjikan
-Bab 9
-Nabi-Nabi Sejati Hanya Mengajarkan Islam
-"Nabi Yang Hanya Mengajarkan Islam"
-Bab 10
-Islam Adalah Kerajaan Tuhan Di Muka Bumi
-Bahagian Kedua
-Muhammad Dalam Perjanjian Baru
-Bab 11
-Islam Dan Ahmadiyah Diumumkan Oleh Para Malaikat
-Bab 12
-"Eudokia "Berarti" Ahmadiyeh" (Lukas Ii. 14)
-Bab 13
-Yahya Pembaptis Mengumumkan Tentang Seorang Nabi Yang Sangat Berkuasa
-Bab 14
-Nabi Yang Diramalkan Oleh Pembaptis Pastilah Nabi Muhammad Saw
-Yahya Pembaptis Meramalkan Nabi Muhammad Saw
-Bab 15
-Pembaptisan Yahya Dan Jesus Hanya Sejenis Tanda Keagamaan "Sibghatullah"
-Pembaptisan Jenis Apa Dan Apa Yang Bukan Pembaptisan
-Bab 16
-"Sibghatullah" Atau Pembaptisan Dengan Ruh Suci Dan Api
-Bab 17
-"Paraclete" Bukan Ruh Suci
-Bab 18
-"Periqlytos" Berarti "Achmad"
-Bab 19
-"Anak Manusia," Siapakah Dia?
-Bab 20
-Yang Dimaksud Dengan "Anak Manusia" Dalam Apocalypse (Wahyu) Adalah Nabi Muhammad Saw
-Argumentasi Dari Kitab-Kitab Injil, Dan Dari Apocalypse (Wahyu/Ramalan)
-Bab 21
-Anak Manusia Menurut Versi Wahyu Yahudi
-Bab 22
-Nabi Dari Arabia Sebagaimana Diutarakan Dalam Injil "Beban Atas Arabia" Yesaya Xxi. 13.
.
#Pembahasan Website blog ini akan lebih bermanfaat lagi bila anda membeli langsung Buku "Tentang Sang Pencipta, Kitab Suci dan Nabi-Nabi" di Toko Buku terdekat atau melalui Toko Online.

Wednesday, December 6, 2017

Dalil Maulid Nabi Muhammad Saw. menurut Para Sahabat dan Salafu Shalih


Assalamualaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh..
Peringatan Maulid Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam Merupakan Peringatan atas Rasa Syukur Akan Lahirnya Berkah Seluruh Alam (Penutup Para Nabi) Yang Biasanya Peringatan ini di Isi Dengan Pembacaan Sejarah Nabi (Ratib dan Shalawat, Sirah Nabawiyah) Serta Ceramah Islami.
Apabila Kita Membahas Peringatan Kelahiran Nabi Yang Rahmatan Lil Alamin, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, tentu kita perlu pula memahami Asal Muasal Amalan Peringatan Hari Besar Ummat Islam tersebut. 
Dalam Kajian Kali Ini Kita Akan Membahas Peringatan Maulid Nabi Berdasar Dalil Atau Pegangan Dengan Pendekatan Pemahaman Para Sahabat Nabi dan Ulama Salaf Shalih (ulama terdahulu). 
Silahkan di Baca dan Difahami, dalam kitab “An-Ni’matul Kubra ‘alal ‘Alami fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam” halaman 5-7, yang disusun Imam Ibnu Hajar al-Haitami (909-974 H. / 1503-1566 M.) :
1. Sayyidina Abu Bakar RA. berkata:
من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كان
رفيقي في الجنة
Artinya:
———-
“Barangsiapa membelanjakan satu dirham (uang emas) untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka ia akan menjadi temanku di surga.”

2. Berkata Sayyidina Umar RA.:

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد أحيا الإسلام

Artinya:
———-
“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, maka sesungguhnya ia telah menghidupkan Islam.”

3. Berkata Sayyidina Utsman RA.:

من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم فكأنما شهد غزوة بدر وحنين

Artinya:
———-
“Barangsiapa membelanjakan satu dirham (uang mas) untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka seakan-akan ia ikut-serta menyaksikan perang Badar dan Hunain.”

4. Sayyidina Ali RA. berkata:

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم وكان سببا لقراءته لا يخرج من الدنيا إلا بالإيمان ويدخل الجنة بغير حساب

Artinya:
———-
“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, dan ia menjadi sebab dilaksanakannya pembacaan maulid Nabi, maka tidaklah ia keluar dari dunia melainkan dengan keimanan dan akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.”

5. Imam Jalaluddin as-Suyuthi berkata:

مامن بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا حفت الملائكة ذلك البيت أو المسجد أو المحلة وصلت الملائكة على أهل ذلك المكان وعمهم الله تعالى بالرحمة والرضوان.
وأما المطوفون بالنور يعنى جبريل و ميكائيل و اسرافيل و عزرائيل عليهم الصلاة و السلام فانهم يصلون على من كان سببا لقراءة النبي صلى الله عليه و سلم. و قال أيضا: ما من مسلم قرأ فى بيته مولد النبي صلى الله عليه و سلم الا رفع الله سبحانه و تعالى القحط والوباء والحرق والغرق والأفات والبليات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص من أهل ذلك البيت فاذا مات هون الله عليه جواب منكر ونكير ويكون فى مقعد صدق عند مليك مقتدر. فمن أراد تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم يكفيه هذا القدر. ومن لم يكن عنده تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم لو ملأت له الدنيا فى مدحه لم يحرك قلبه فى المحبة له صلى الله عليه وسلم.

Artinya:
———-
“Tidak ada rumah atau masjid atau tempat yg di dalamnya dibacakan maulid Nabi SAW melainkan malaikat akan mengelilingi rumah atau masjid atau tempat itu, mereka akan memintakan ampunan untuk penghuni tempat itu, dan Allah akan melimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya kepada mereka.”

6. Imam Hasan Bashri RA. berkata:

وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا فأنفقته على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم

Artinya:
———-
“Aku senang sekali seandainya aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, maka aku akan membelanjakannya untuk kepentingan mmperingati Maulid Nabi SAW.”

7. Imam Junaedi al-Baghdadi, berkata:

من حضر مولد النبي صلى الله عليه وسلم وعظم قدره فقد فاز بالإيمان

Artinya:
———-
“Barangsiapa menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW dan mengagungkan derajat beliau, maka sesungguhnya ia akan memperoleh kebahagian dengan penuh keimanan.”

========================================
kesimpulannya,
#Maulid Nabi Muhammad Adalah Amalan Para Sahabat dan Salafu Shalih Sejak Dahulu. Dan kalau ada yg memvonis salah berarti telah menghina atau menyalahkan amalan yang nyata diamalkan para Sahabat dan Salafu Shalih.


Sekilas Sejarah Salaf Al-Alawiyyin


DAFTAR ISI

Pengantar
-Pengantar Penterjemah
-Pengantar Penerbit
-Persembahan
Mukadimah
-Siapa Salaf?
-Permulaan Sejarah Perjalanan Hidup Alawiyyin
-Tahap-Tahap Sejarah Alawiyyin
Bab I
Tahap Pertama
-Ilmu Tokoh-Tokoh Alawiyyin
-Akhlak dan Budi Pekerti Alawiyyin
-Hubungan Alawiyyin dengan Dunia Luar
BAB II
Tahap Kedua (A)
-Tahap Kedua
Tahap Kedua (B)
-Organisasi Alawiyyin "An-Naqabah"
BAB III
-Hijrah Kaum Alawiyyin
-Para Munshib
-Golongan Alawiyyin dan Politik
BAB IV
-Diagnosa dan Pengobatan
Penutup
-Penutup
Daftar Pusaka
-Daftar Pusaka
.

Wednesday, November 29, 2017

Sejarah Perkembangan Islam Di Timur Jauh


DAFTAR ISI

RIWAYAT HIDUP PENGARANG
PENGANTAR
BAB 1

KAUM MUSLIM PENGUASA DARAT DAN LAUTAN
BAB 2

KEKUASAAN KAUM MUSLIM ATAS LAUT PUTIH
BAB 3

PERTEMPURAN PERTAMA
-Makam Ummu Haram
-Kontinuitas Kepahlawanan Islam
-Khairuddin Barbaros dan Saudaranya Aruj
-Cyprus
-Sicilia
-Pulau Creta
-Leon Al-Ifriqi
-Constantin Al-Ifriqi
-Ahmad ash-Shaqili
-Kepulauan Baleares
-Malta
BAB 4

PERDAGANGAN-PERDAGANGAN ARAB SEBELUM ISLAM
-Al-Mas'udi
-Ibnu Bathuthah
-Phoenician
BAB 5

KEKUASAAN MUSLIMIN DALAM PERDAGANGAN DI SAMUDERA HINDIA DAN LAUT CINA
BAB 6

HUBUNGAN NEGERI-NEGERI ARAB DENGAN NEGERI CINA SEBELUM ISLAM 
-Aden
BAB 7

BUKTI-BUKTI YANG MENGUATKAN PERKATAAN AL-MARZUQI AL-ISFAHANI
BAB 8

JAJAHAN-JAJAHAN BANGSA KAN'AN
BAB 9

YAMAN
BAB 10

ULASAN 
-Viking
-Daerah-daerah Timur
BAB 11

PERDAGANGAN DENGAN SAILAN, MADAGASKAR DAN SUMATERA -Perlawatan orang-orang Indonesia
-Srilangka
-Perdagangan-perdagangan
BAB 12

PARA PELAUT 
-Kapal-kapal di Palembang
-Pelayaran dan Perdagangan Umum
BAB 13

PENYELIDIKAN-PENYELIDIKAN BANGSA ARAB 
-Sulaiman al-Bashri
-Para Pelancong Dan Para Pengelana
-Pengetahuan Orang-orang Arab Tentang Perjalanan
-Maladewa
-Hikayat Raja Arab
BAB 14

BEBERAPA TANAH AIR 
-Meluasnya Tanah Air Islam
-Minoritas-minoritas Muslim di Beberapa daerah Indonesia
-Pulau Sumba
-Flores
-Pulau Bali
-Pulau-pulau di Indonesia Bahagian Timur
-Pulau Buru
-Kalimantan
-Kepulauan Melayu
-Malaysia
-Kesultanan Melaka
-Sampainya Portugis ke Melaka
-Agresi Negeri Siam
-Inggris
-Pendudukan Inggris Atas Melaka dan Singapura
-Islam di Singapura Dewasa Ini
-Masjid-masjid dan Madrasah-madrasah Islam di Singapura
-Semenanjung Malaya
-Kedah dan Perlis
-Permulaan Kesultanan Perlis
-Patani
-Muslimin di Thailand
-Penguasa-penguasa Brunei
-Islam di Sarawak
-Ringkasan sejarahnya sejak tahun 1476 sampai tahun 1941
-Awal Pemerintahan Sir James Brooke
-Sabah
BAB 15

MASUKNYA ISLAM KE JAWA 
-Hijrah (Perpindahan)
-Tempat-tempat Hijrah Mereka
-Pembauran
-Gambaran Tentang Orang-orang Arab di Masa Lalu
-Faktor-faktor yang Dihadapi Bahasa dan Huruf Arab
-Hubungan Yang Kuat Antara Arab dengan Indonesia
-Imam Bonjol
-Kaum Padri
-Gelar-gelar dan Keturunan-keturunan
-Al-Attas di Pahang
-Kutipan dari buku Islam di Malaysia halaman 98
-Sayid Hadi bin Ahmad bin Hadi
-Pendidikan
-Masjid-masjid Lama di Jakarta
-Masjid Marunda
-Masjid Angke
-Masjid Tambora
-Masjid Al-Manshur
-Masjid Pekojan
-Masjid al-Anwar
-Masjid Kebon Jeruk
-Masjid al-'Atiq
-Masjid Luar Batang
-Para dai di Afrika Timur
-Angkatan Pertama
-Angkatan Kedua
BAB 16

DI INDO CHINA
NAMA KAMBOJA DAN ASAL-USUL PENDUDUKNYA
ORANG-ORANG ARAB MASUK KE KAMBOJA
ISLAM MASUK KE KAMBOJA
BAB 17

PENGARUH POLITIK
BAB 18

DI ACEH
BAB 19

PENYIAR AGAMA ISLAM DI TIMUR JAUH
BAB 20

SILSILAH PERTAMA
BAB 21

DAFTAR NAMA-NAMA KITAB DAN RISALAH ALLAH
BAB 22

DAFTAR NAMA-NAMA SURAT KABAR DAN MAJALAH ARAB
BAB 23

DAFTAR NAMA-NAMA BUKU DAN SURAT KABAR NON-ARAB
.
#Pembahasan Website blog ini akan lebih bermanfaat lagi bila anda membeli langsung Buku "Sejarah Perkembangan Islam Di Timur Jauh" di Toko Buku terdekat atau melalui Toko Online.

Sebuah Kajian Mengenai Nasab Sadah Bani Alawi


DAFTAR ISI

Mukadimah
-Mukadimah
Prakata Penyusun
-Prakata
Pembahasan Pertama
-Ayat Pertama
-Ayat Kedua
-Ayat Ketiga
Pembahasan Kedua
-Mengenai Aali (Keluarga) Dari Segi Bahasa Dan Istilah
-Pengertian Aali Dalam Istilah Fikah
Pembahasan Ketiga
-Bantahan Dan Penjelasan Terhadap Rencana Tantawi
Pembahasan Keempat
-Nasab Yang Tidak Terputus Di Dunia Mahupun Di Akhirat
-Fasal Pertama
-Fasal Kedua
-Fasal Ketiga
-Fasal Keempat
-Pengajaran
Pembahasan Kelima
-Aali Ba'alawi atau Bani Alawi
-Ketua Nasab Lain Yang Masyhur Dari Bani Alawi
Pembahasan Keenam
Pernyataan Para Ahli Sejarah, Nasab Dan Biografi Tentang Keturunan Al-Muhajir Ahmad bin Isa
-Abul Faraj Al-Asfahani, wafat pada tahun 356H.
-Sheikh As-Syaraf Al-Ubaidili, wafat pada tahun 435H.
-Abul Hasan Al-Umri, wafat pada tahun 443H.
-Abu Abdillah Bahauddin Muhammad Bin Yusuf Bin Ya'kub Al-Jundi, wafat pada tahun 732H.
-Ibnu Anbah, wafat pada tahun 828H.
-Abul Fudhail Al-Kazim, wafat pada penghujung abad ke-9H.
-An-Najafi, wafat pada abad ke-9H.
-As-Sayed Muhammad Sirajuddin, wafat pada tahun 885H.
-Imam As-Sakhawi, wafat pada tahun 902H.
-Abdullah Al-Jurjani, wafat pada tahun 974H
-Ibnu Hajar Al-Haithami, wafat pada tahun 974H.
-Ibnu Syaqdam, wafat pada akhir abad ke-11H.
-Al-Muhibbi, wafat pada tahun 1111H.
-Abu Muhammad Syamsuddin Bin Muhammad Al-Atqa.
Pembahasan Ketujuh
-Kesepakatan Ulama Hadramaut, Yaman Dan Al-Haramain As-Syarifain Tentang Kebenaran Nasab Bani Alawi
-Nama-Nama Penulis Dari Kalangan Ulama Hadramaut, Yaman Dan Al-Haramain As-Syarifain Dan Tarikh Wafat Mereka
Pembahasan Kelapan
-Orang-Orang Yang Menyebut Nasab Ahlul Bait Secara Am
-Keterangan Mengenai Ulama Yang Menyebutkan Nasab Ahlul Bait Secara Am Sesuai Dengan Tarikh Wafat Mereka
Pembahasan Kesembilan
Hukum-Hukum Khas Berkenaan Dengan Ahlul Bait (Mempunyai 15 Bahagian)
-Bahagian Pertama - Pilihan
-Bahagian Kedua - Mencintai Keluarga Muhammad Termasuk Dari Kesempurnaan Iman
-Bahagian Ketiga - Mendahulukan mereka dalam solat ke atas yang lainnya
-Bahagian Kempat - Selawat dan salam ke atas keluarga Nabi di dalam dan luar solat
-Bahagian Kelima - Ahlul Bait haram menerima zakat
-Bahagian Keenam - Ahlul Bait berhak menerima seperlima dari khumus faik dan ghanimah
-Bahagian Ketujuh - Syarat kafaah dalam nikah
-Bahagian Kelapan - Doa Nabi s.a.w. dengan keberkatan pada turunan yang suci ini
-Bahagian Kesembilan - Ahlul Bait penyelamat penghuni bumi
-Bahagian Kesepuluh - Orang yang mahu mendapat tempat di sisi Rasulullah s.a.w. di hari kiamat
-Bahagian Kesebelas - Ketentuan Ahlul Bait masuk syurga
-Bahagian Keduabelas - Boleh melaknat dan mengkafirkan orang yang menodai kesucian Ahlul Bait
-Bahagian Ketigabelas - Larangan membenci Ahli Bait Nabi s.a.w.
-Bahagian Keempatbelas - Larangan mengganggu keluarga Rasulullah s.a.w.
-Bahagian Kelimabelas - Hukum orang yang mencerca Ahlul Bait
Pembahasan Kesepuluh
-Sekilas Mengenai Ilmu Nasab Dan Kedudukannya Dalam Syariah Islamiyah
-Bahagian Pertama - Kedudukan Ilmu Nasab yang penting diketahui dalam syariah Islamiah
-Bahagian Kedua - Usaha orang-orang orientalis dalam melenyapkan Ilmu Nasab
-Bahagian Ketiga - Ilmu Nasab dalam pandangan Ilmu Moden
Tambahan
-Senarai Nama-nama Keluarga Bani Alawi


.

Tuesday, November 28, 2017

Revisi Kafa'ah Syarifah - Tinjauan Atas Buku Derita Putri-Putri Nabi


Daftar Isi

Pengenalan
-Kafa'ah dalam Islam dan masalahnya
Mukadimah
-Mukadimah
Bahagian Pertama
Koreksi atas buku "Derita putri-putri Nabi"
-Bab 1
-Bab 2
-Bab 3
-Bab 4
-Bab 5
Bahagian Kedua
Mengenai Kekecewaan Siti Fatimah ra
-Kekecewaan Siti Fatimah ra
Penutup
-Penutup dan Doa
.
#Pembahasan Website blog ini akan lebih bermanfaat lagi bila anda membeli langsung Buku "Revisi Kafa'ah Syarifah - Tinjauan Atas Buku M. Hashim Assagaf "Derita Putri-Putri Nabi" di Toko Buku terdekat atau melalui Toko Online.

Asyraf Hadhramaut dan Peranan Mereka Dalam Menyebarkan Islam di Asia Tenggara


Daftar Isi
PERSEMBAHAN
PENGANTAR
BAB I
Nasab Para Syarif Di Hadhramaut
BAB II
Hijrahnya Para Syarif Hadramaut Ke Asia Tenggara
BAB III
Sejarah Masuknya Islam Ke Asia Tenggara
BAB IV
Para Syarif Hadramaut Dan Peranan Mereka Dalam Penyebaran Islam Di Asia Tenggara
BAB V
Da'i-Da'i Islam Pertama Di Jawa
BAB VI
Para Syarif Hadhramaut Dan Peranan Mereka Dalam Menyebarkan Islam Di Filipina
PENUTUP
Daftar Pustaka

Bunga Rampai Keutamaan Dzat Ahlul Bait


Daftar Isi
Pengenalan
-Pengenalan
Pengantar
-Pengantar
Bahagian Pertama
Nur Muhammad: Proses Penciptaan Dzat Ahlul Bait
-Pengertian Nur
-Konsep Nur Muhammad
-Nur Muhammad, Makhluq Pertama Yang Diciptakan
-Nur Muhammad saw Dan Penciptaan Adam as
-Allah swt Menciptakan Muhammad Dan Keturunannya Dari Tanah Arasy
-Kekhususan Dan Keistimewaan Keluarga Rasul saw
Bahagian Kedua
Zakat, Halal Atau Haram?: Upaya Menjaga Kesucian Dzat Ahlul Bait
-Makna Zakat
-Pendapat Ulama Tentang Ghanimah Dan Fa'i
-Siapa Keluarga Muhammad saw?
-Bolehkan Keluarga Rasul saw Menerima Sedekah?
-Bolehkan Keluarga Rasul saw Menerima Sedekah, Setelah Khumus Tidak Ada Lagi?
-Batas Diperbolehkan Menerima Sedekah Atau Zakat.
Bahagian Ketiga
Kafa'ah Syarifah: Upaya Menjaga Kemuliaan Dzat Ahlul Bait
-Pengertian Kafa'ah
-Dasar Hukum Kafa'ah
-Ijtihad Ulama Tentang Kafa'ah
-Kafa'ah Nasab Dalam Pernikahan
-Kewenangan Wali Dalam Pernikahan
-Dalil Yang Mendasari Kafa'ah Syarifah
-Penafsiran tentang Makna Dzurriyah
Bahagian Keempat
Cinta Ahlul Bait, Cinta Sahabat! Pujian Imam Ahlul Bait Nabi saw Terhadap Sahabat
-Definisi Sahabat
-Perintah Mencintai Sahabat Nabi saw
-Sikap Imam Ahlul Bait Nabi saw terhadap Sahabat
-Kaum Rafidhah Dan Sahabat
-Dialog Imam Ja'far al-Shaddiq Dengan Kaum Rafidhah


Friday, September 22, 2017

BELAJAR DARI KISAH CINTA SEPASANG INSAN MULIA (ALI DAN FATIMAH)

Gambar terkait


   Cinta dalam diam Ali yang tak pernah dikisah kepada siapapun hanya kepada Allah s.w.t saja ..

Fathimah. Puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya, dan juga karib kecilnya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, dan parasnya. cinta yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun expresi. Hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan.

Teramat rahasianya membuat  setan saja tidak tahu urusan cinta diantara keduanya. Sudah lama Ali terpesona dan jatuh hati pada Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar melamar Fatimah Az-Zahra. Sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun, berkat kesabaran yang beliau miliki akhirnya penantian itu berbuah manis, lamaran kedua orang sahabat yang sudah tidak diragukan lagi keshalihannya tersebut ternyata ditolak oleh Rasulullah..

Meski demikian Ali belum berani mengambil sikap, karena beliau sadar dia hanya pemuda miskin , dan harta yang dimiliki hanyalah satu set  baju besi  ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Kepada Abu Bakar As-Siddiq, Ali mengatakan, "Wahai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang sebelumnya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah kerana aku tidak mempunyai apa-apa.". Mendengar pernyataan sahabatnya Abu Bakar terharu dan mengatakan, "Wahai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya, dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu-debu bertaburan belaka!"

Mendengar jawaban Abu Bakar kepercayaan diri Ali kembali muncul untuk melamar gadis pujaannya saat teman-temannya sudah mendorong agar Ali berani melamar Fatimah. Dengan ragu-ragu dia menghadap Rasulullah. Dari hadis riwayat Ummu Salamah diceritakan bagaimana proses lamaran tersebut. "Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri- seri. Sambil tersenyum baginda berkata kepada Ali bin Abi Talib, "Wahai Ali, engkau mempunyai apakah engkau mempunyai suatu mas kawin?" "Demi Allah," jawab Ali dengan terus terang." Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa_apa selain baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."

"Tentang pedangmu itu," kata Rasulullah menanggapi jawaban Ali bin Abi Talib, "Engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga perlu untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira, sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi". Demikianlah riwayat yang diceritakan Ummu Salamah r.a.
Setelah segalanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dan disaksikan oleh para sahabat, Rasulullah mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya, dan sahabatnya tersebut. dengan mas kawin sebesar 400 dirham (senilai dengan baju besi yang dimilikinya). Maka menikahlah mereka dengan penuh kebahagiaan.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa pada suatu hari setelah dia menikah, Fatimah pernah berkatal pada suami tercintanya. "Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”, Ali pun bertanya pada istri tercintanya, "siapakah pemuda yang kau maksud itu wahai istriku?", Fatimah pun menjawab dengan senyum merona pada wajah cantiknya itu, "pemuda itu adalah dirimu wahai suamiku". Sunggu itu adalah pujian yang teramat indah dan bisa membahagiakan suaminya, dari istri kepada suaminya.

Begitulah kisah cinta dalam dian antar Ali dan Fatimah. Semoga kita dapat belajar dari kisah cinta mereka. Bahwa cinta harus menunggu, mempersiapkansegalanya dan memantaskan diri kita untuk bisa bersanding dengan orang yang kita inginkan dan yang diinginkan Allah, karena jodoh adalah cerminan diri kita, karena wanita yang baik adalah untuk laki-lakiyang baik, bagitu pula sebaliknya. 

Sumber;https://www.dakwatuna.com

Friday, August 25, 2017

Gerakan Menghafal dan Mempelajari Nasab Silsilah




Monday, August 21, 2017

Asimilasi Budaya

foto 

Monday, August 14, 2017

Syeikhah Sulthonah

Silsilah Keturunan Syeikhah Sulthonah

Syeikhah Sulthonah binti Ali Az-Zubaidiyah keturunan dari keluarga Az-Zubaidi, mereka adalah bagian dari kabilah Bani Haritsah Al-Kindiah, ada juga yang mengatakan mereka dari kabilah Bani Madzhij.

Syeikhah Sulthonah dilahirkan di perkampungan Al-Urro, yaitu dataran yang membentang dari sebelah timur kampung "Maryamah" hingga ujung Hauthoh yang sekarang dikenal dengan "Hautoh Sulthonah", sekitar 3 mil dari kota Seiyun, perkampungan tersebut dihuni oleh kabilah "Az-Zubaidi" salah satu dari kabilah-kabilah Al-Kindiyah, yang terkenal dengan senjata, kekuatan serta keberaniannya.
Syeikhah Sulthonah tumbuh besar dikeluarga baduwi yang kesehariannya akrab dengan menggembala hewan, dengan kepribadian yang kuat serta sifat-sifat lainnya yang terdapat pada diri penduduk baduwi, walau demikian Sulthonah tidak seperti kebanyakan anak-anak sebayanya, dia tenang dan lebih senang menyendiri dari keramaian teman-teman sebayanya yang bersifat kekanak-kanakan, sehingga ketika usianya berangsur dewasa dia mulai tidak menyukai tradisi kehidupan baduwi yang diwarnai dengan kekerasan dan kedzaliman, selain itu dia juga mulai menyelusuri jalan fitrahnya yang menuntunya kepada iman dan membawanya kepada ketenangan jiwa. Susana malam yang sunyi serta perkampungan yang tenang serta cerita penduduk setempat tentang para Sholihin adalah hal yang sangat membantu pencaharian Sulthonah.

Sejalan dengan perkembangan usianya yang semakin dewasa, pencaharian itu pun semakin mendalam, dia mulai melihat kenyataan kehidupan sosial di Hadhramaut, juga mendengar tentang para ahli ibadah, ahli zuhud serta para ulama atqia dan shalihin serta karomah-karomahnya yang menjadi bahan obrolan penduduk setempat, mereka yang ditakuti oleh orang-orang bersenjata karena kekuatan jiwa serta imannya yang mantap, mereka yang disegani oleh semua kalangan, bahkan kekuatan batinnya yang luar biasa bisa menghentikan dan melerai perang antara kabilah tanpa senjata atau bala tentara.

Gadis yang brilian itu terus mengikuti informasi tentang kehidupan para shalihin serta kegiatan dakwah mereka didaerah lembah Hadhramaut, bahkan dia berjalan kaki ke masjid-masjid untuk mendengarkan pengajaran dan petuah dari pari dai yang kebetulan singgah di perkampungannya, hal tersebut membuat tekadnya semakin kuat untuk menempuh jalan tasawwuf dan memenuhi panggilan fitrahnya, petuah dan pelajaran yang ia dengar semakin menggugah hati gadis tersebut sehingga bangkitlah jiwanya untuk melakukan amalan tha'at baik berupa shalat, puasa, ataupun membaca dzikir dan sebagainya yang menjadi aktifitas orang-orang shalihin, bahkan dalam usianya yang masih belia itu hampir seluruh waktu dan pikirannya dia gunakan untuk melakukan amal ibadah dan keta'atan lainnya.

Robiah Hadhramaut

Para penulis sejarah menjuluki Syeikhah Sulthonah sebagai Robiahnya Hadhramaut, dan memang gelar tersebut sangat sesuai dengan hal dan makomnya Syeikhah Sulthonah, karena beliau dari mulai kecil sudah mulai menyelusuri jalan tasawuf, dan dari segi itu dia mengungguli Robiah Al-Adawiyah yang disebutkan dalam buku-buku sejarah Islam, hal tersebut sebagaimana disebutkan oleh Sayid Muhammad bin Ahmad As-Syatiri dalam kitabnya "Al-Adwar", "Dia (Syeikhah Sulthonah) mempunyai kelebihan tersendiri karena dari kecil sudah mulai meniti tangga dan makom-makom tasawuf".

Dalam usia dini Sulthonah sudah mulai melangkahkan kaki menyelusuri jalan tasawuf, dan ia menemukan jalan kesana disetiap tempat di lembah Hadhramaut, walaupun dia dan keluarganya serta kabilahnya tinggal di perkampungan baduy urro, namun tidak jarang para ulama dari Tarim, Seyun, Gurfah, Syibam dan lainya datang kesana guna memberikan wejangan dan petunjuk para penduduk setempat kepada ajaran dan adab Islam, keadaan yang seperti semakin memberikan kesempatan bagi Sulthonah untuk dengan secara diam-diam dia selalu mengikuti dan mendengarkan petuah dan pelajaran dari para alim ulama yang sengaja mendatangi perkampungannya untuk menyebarkan dakwah islamiah, hingga ketekunannya dalam mengikuti dan mendengarkan pelajaran dari para ulama serta pilihannya untuk menelusuri jalan tasawuf kemudian Sulthonah terkenal dikalangan penduduk setempat.

Hal tersebut semakin menakjuban kalau dilihat dari lingkungan dan tabiat masyarakat setempat, masyarakat setempat yang merupakan kabilah-kabilah baduy dikenal akan kecintaan dan penghormatan mereka pada "Alulbait" dan ulama yang datang kekampung mereka untuk menyebarkan ilmu dan dakwah islamiyah, namun walaupun mereka menerima baik para ulama yang datang kekampungnya, bukan berarti mereka menerima dan mempunyai keinginan untuk menerima dan mengikuti ajaran tasawuf, begitupula halnya dengan kaum perempuan, mereka hanya mengenal tradisi dan kebiasaan yang diturunkan dari nenek moyangnya, mereka jauh sekali dari dunia keilmuan apalagi sampai mendalami tasawuf.

Keadaan lingkungan masyrakat dan adat baduy yang akrab dengan senjata dan kekerasan dan jauh dari dunia keilmuan tidak membuat Sulthonah patah semangat, bahkan sebaliknya tantangan yang berat tersebut semakin menggugah semangatnya dalam menyelusuri jalan menuju petunjuk Allah, hal tersebut menjadikan kagum para kerabat dan kabilahnya juga para masyayeh zaman itu, hingga para masyayeh memberikan perhatian khusus kepadanya, berkat semua itu, akhirnya nama Sulthonah dikenal dihampir seluruh Lembah Hadhramaut, para masyayehpun menerima dan mengakui makomnya Sulthonah karena memang Sulthonah, para masyayeh tasawuf dan ulama di Lembah Hadhramaut masa itu mempunyai hubungan yang kuat antar satu dengan yang lainnya dan hubungan mereka berdasarkan husnudzon, dengan kaidah istiqomah dan selalu berdekatan dengan para ulama dan masyayeh. Sulthonah telah mampu membuktikan bahwa dia memilik karakter tersebut, Karena dari kecil dia merupakan anak yang baik dan taat serta giat mengerjakan pekerjaan rumahnya, sebagai anak perempuan dalam keluarga dia menenun, menjahit, beternak ayam, memasak untuk keluarganya dan pekerjaan rumah yang baiasa dikerjakan oleh remaja putri sesusianya, dan disamping itu semua Sulthonah adalah seorang putri yang bertakwa, penyabar, sufi, gemar menunjukan kepada orang lain jalan yang benar, dia juga seorang gadis mempunyai nama baik menjaga harga diri, dibesarkan dilingkungan keluarga berakhlak mulia yang merupakan warisan turun temurun dari kabilahnya.

Bagaimana Anggota Kabilah Sulthonah Bisa Menerima Ajaran Tasawuf?

Sudah menjadi kehendak Allah, bersamaan dengan munculnya Syekhah Sulthonah dalam kancah tasawuf dan mulai menyebarkan ajaran tasawuf kepada masyarakat setempat, terjadilah suatu kejadian yang kemudian menjadikan salah satu sebab terbukanya hati mereka untuk kembali ke jalan Allah SWT, peristiwa tersebut sebagaimana disebutkan dalam "Al-Adwar", bahwa pada suatu waktu sekelompok masyarakat setempat mendapatkan seekor unta yang tersesat, dan mereka mengambilnya sebagai barang rampasan, kemudian diketahui bahwa onta itu ternyata milik Syekh As-Sholih Muhammad bin Hakam Baqosir, setelah beliau tau akan kejadian tersebut maka beliau berdoa didepan orang banyak, agar Allah memberikan mereka (orang-orang yang mengambil untanya) petunjuk ke jalan yang benar yang diridloi oleh Allah SWT kalau hal yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut kebutuhan yang mendesak, atau Allah membalas mereka jika mereka melakukan hal tersebut karena anaiya dan zhalim.
Cara dan sikap Syekh Baqosir dalam menyikapi kejadian itu membuat warga baduy yang polos dengan dicampuri sifat keras dan perampas, tergerak hati nuraninya untuk kembali ke jalan Allah SWT.

Peristiwa tersebut jelas sangat mendukung terhadap dakhwah yang mulai dirintis oleh Syeikhah Sulthonah, bahkan menurut riwayat lain pengaruh dari Syeikhah Sulthonah bukan saja menyadarkan para penduduk baduy tersebut kepada jalan yang diridloi Allah SWT, bahkan lebih dari itu banyak dari anggota keluarga dan kabilahnya yang kemudian menyelusuri jejak langkah Seiyakhah Sulthonah diantara mereka adalah Umar dan Muhammad saudara Syeikhah Sulthonah, sehingga kemudian mereka mengambil langsung dari Syekh Muhammad bin Abdullah Al-qodim Baabbaad dan masyayeh Hadhramaut lainnya.
Guru Syekhah Sulthonah

Guru Syekhah Sulthonah
Setelah Syekhah Sulthonah matang dalam memahami tuntutan fitrahnya dalam lingkungan yang sederhana tersebut, maka semakin kuat pula ajakan dalam jiwanya untuk mengambil tasawuf secara langsung dari para masyayeh. Adapun Syeh pertama yang dituju oleh Sulthonah adalah Al-Allamah Muhammad bin Abdullah Al-qodim Baabbad yang tinggal di kampung Gurfah tidak jauh dari kampungnya Syeikhah Sulthonah, dari Syeikh Al-qodim inilah mulai terbukanya anugerah Allah yang berupa ilmu dan amal baik yang melalui kasab ataupun yang merupakan laduni dan wahbi. Dan diantara kelebihan Syeikhah Sulthonah yang menonjol adalah beliau tidak mau menikah dan bahkan tidak menganggap bahwa nikah itu suatu tujuan, Sulthonah mempunyai tujuan yang luhur daripada hal tersebut yaitu tujuan ruhani yang telah ia pupuk semenjak kecil dengan memperbanyak riadloh dan menyerahkan jiwa sepenuhnya kepada Allah SWT. Keinginan rohani tersebut mengalahkan segalanya dan menambatkan ketetapan akhlak dan cita-cita kejiwaan yang tinggi sehingga segala sesautu yang bersifat duniawi dan berhubungan dengan syahwat dianggap suatu yang remeh walaupun itu halal. Buah dari itu semua adalah bersihnya hati dan jiwa sehingga mudah untuk melakukan amal saholeh, sehingga diriwayatkan Syeikhah Sulthonah termasuk orang yang sering melihat Nabi SAW dalam mimpi.

Begitulah selanjutnya Syeikhah meniti tangga dan menimba tasawuf dari para masyayeh di zaman itu, hal tersebut dilakukannya dengan mendatangi langsung rumah, ataupun mendatangi masjid-masjid guna menimba ilmu dari para masyayeh yang selalu mengisi masjid-masjid tersebut dengan wejangan dan pelajaran. Tentang Syeikhah Sulthonah yang gigih dan pengaruhnya dikalangan masyrakat baduy akhirnya sampai juga kepada para masyayekh di sekitar Hadhramaut, hal yang menjadikan Syeikhah Sulthonah semakin dekat dengan para ulama keturunan Rasulullah SAW, oleh karena itu Sulthonah sangat menyadari akan kewajiban yang ia pikul terhadap para keturunan Rasulullah SAW tersebut, oleh krn itu beliau berkata "Demi keagungan zat Allah yang disembah, kalau misalkan dagingku ini bisa bermanfaat bagimu, maka akan aku korbankan", dia juga berkata disela-sela memberi wejangan kepada masyarakat "Sesungguhnya aku melihat bahwa keluarga Baalawi mempunyai kedudukan diatas manusia lainnya", yakni para wali dan masayekh dari Baalawi mempunyai kedudukan yang lebih daripada yang lainnya.

Adapun masyayekh Baalwi yang mempunyai hubungan dekat dengan Syeikhah Sulthonah adalah Syeikh Abdurrahman Assegaff dan keturunanya, tentang kecintaannya dan penghormatannya kepada keturunan Rasulullah SAW bisa dilihat jelas dalam maqolah yang ditulis oleh Syeikhah Sulthonah tentang betapa dia mengagungkan dan menghormati keturunan Rasulullah SAW dengan tulus dan ikhlas bukan suatu hal yang dibuat-buat atau dipaksakan.

Sayyid Abdurrahman Assegaff adalah salah satu masyayeh dari keluarga Baalawi yang sering datang ke perkampungan Sulthonah guna memberi wejangan dan pelajaran kepada masyarakat setempat, kehadiran beliau disana semakin sering setelah menikahi salah satu warga kampung, kehadiran beliau selalu disambut gembira oleh masyarakat disana, mereka selalu memenuhi masjid yang dipake media dakwah oleh para masyayeh, bahkan sebagian masyarakat mendatangi beliau guna menimba ilmu dan barokah, mengenai hal itu Syeikhah Sulthonah berkata : "Apabila Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff akan mengunjungi kita, maka sebelumnya kampung kita menjadi subur seakan-akan habis tersiram hujan deras, kemudian setelah itu aku mendengar suara berkata "datang kepadamu sultan putranya sultan". Dan dia sendiri yang berkata seperti itu pada hakikatnya adalah sultonah ruhani sebagaiaman perkataan syair :

ملوك على التحقيق ليس لغيهم
من الملك إلا إسمه وعقابه

Artinya : mereka adalah para raja yang sesungguhnya, adapun raja-raja yang lainya hanya mempunyai nama dan gelar saja

Dan mengenai mereka Syekh Abu Madyan berkata :

ما لذة العيش إلا صحبة الفقرا
هم السلاطين والسادات والأمرا

Artinya : kelezatan hidup ini hanya dengan berbaur dengan kaum faqir, mereka adalah para raja dan pemimpin

Mahabbah Syeikhah Sulthonah terhadap Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaf yang begitu kuat, menjadikan Syeikhah Sulthonah mampu membedakan antara alamat kedatangn mereka kepadanya, dalam hal itu Syeikhah Sulthonah berkata : "setiap wali yang dating kepadaku aku mengetahuinya, dan kalau sudah tiba maka dia masuk melalui pintu, kecuali Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff kalau dia berkunjung kepadaku maka aku tidak mengetahuinya kecuali dia sidah berdiri dihadapanku".

Tafsir tentang perkataan tersebut tidaklah bertentangan dengan mafhum zahir, karena tidak menutup kemungkinan dialam sirrinya Syeikhah Sulthonah telah merasakan adanya madad dan atsar dari para wali yang datang kepadanya, karena para wali mempunyai sirr yang bisa membedakan suatu perkara dari yang lainya, atau dia melihat sesuatu yang berada disekitarnya dengan "nur" Allah, sebagaimana disebutkan dalam atsar "Takutlah engkau akan firasatnya seorang mukmin, karena dia melihat dengan "nur" Allah". Dan tentang hal tersebut Syeikhah Sulthonah berkata :"Setiap wali Allah aku mengenalnya baik banyak ataupun sedikit", dia juga berkata "Sebagian dari para wali itu aku mengetahu halnya, kecuali Syekh Sayyid Abdurrahman".

Adapun hubungan Syeikhah Sulthonah dengan Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran putra Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff tidak kalah dekat dan kuatnya dengan hubungan Sulthonah dengan sang ayah, Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran menjadi penerus perjuangan dakwah sang ayah, maka beliaupun seringkali berkunjungi ke perkampungan guna menyebarkan ilmu dan menyampaikan dakwah islamiyah, hal tersebut sebagaimana diterangkan oleh penulis "Al-jauhar As-Syaffaf", : Antara Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran dengan Syeikhah Sulthonah mempunyai hubungan yang erat dan mahabbah yang agung, dan ketika Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran akan berkunjung perkampungannya maka dua atau tiga hari sebelumnya Syeikhah Sulthonah memberi tahukan kepada penduduk setempat dan berkata :"Sambutlah kedatangan sultan putranya sultan, karena aku telah mendengar "Syaawusy" (kemungkinan dari bahasa turki- yang artinya pimpinan pengawal atau pemimpin suatu kelompok, dan yang dimaksud disini adalah sautu bisikan kabar gembira), memberi tahukan kedatangannya, aku juga melihat mahkota kewalian dikepalanya, dan kedatangannya diiringi oleh para malaikat". Dia juga berkata "Sesungguhnya aku selalu mendengar suara annaubah dilangit yang mengumandangkan kepemimpinan Syekh Sayyid Abu Bakar".

Syeikhah Sulthonah oleh Allah dikaruniai umur panjang sehingga beliau menzamani putranya Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran, sebagaimana dia menghormati dan mengagungkan kakek dan ayahnya Syeikhah Sulthonahpun menghoramti keturunan Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff tersebut.

Sebagaimana beliau menghormati Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran pada masa hidupnya, bahkan setelah beliau meninggalpun Syeikhah Sulthonah berkata :"ketika Syekh Sayyid Abu Bakar Assakran meninggal dunia Allah memberinya anugerah yang tak terhingga, dan aku tidak mengetahui seorang wali Allah yang dianugerahi seperti itu kecuali dia dari keluarganya terdahulu", Syekh Sayyid Sulthonah pun memberikan penghormatan tersebut kepada keturunan Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaf yang datang setelahnya, seperti Syekh Sayyid Umar Al-Muhdlor dan Syekh Hasan.
Adapun tentang mahabbah dan penghormatan Syeikhah Sulthonah terhadap Sayid Abdullah Alidrus bin Abu Bakar hal tersebut dijelaskan dalam kitab Al-Jauhar As-Syafaf hal 146, "diantara hikayat tersebut adalah tentang seorang laki-laki soleh yang dikenal dengan Bin Abi Abbad dan Sulthonah binti Ali Az-Zubaidi semunya mengagungkan Syekh Sayyid Abdullah dan menghormatinya atas karunia yang telah dilimpahkan oleh Allah kepadanya, telah berkata sebagian orang yang terpercaya, "Suatu hari saya mendatangi Syeikhah Alarifah billah Sulthonah binti Ali Az-Zubaidi, beliau memuji Syekh Sayyid Abdullah bin Abu bakar dan mengagungkannya serta menyebutkan sifat-sifatnya, dan setelah itu dia berkata kepadaku :"aku pesen kepada kamu apabila tiba di Tarim maka ciumlah kepalanya (Syekh Sayyid Abdullah bin Abu Bakar)" ketika aku tiba di Tarim aku menjumpai yang sedang bermain dengan teman sebayanya dan aku melakukan yang dipesankan oleh Syeikhah Sulthonah. Mengenai hal itu penulis Al-Jauhar As-Syafaf mendendangkan sebuah syair :

وبنت الزبيدي كم أشاروا وأفصحوا
بتعظيمه شابا لجزل عطية

Artinya : dan putrinya Az-Zubaidi yang dikatakan bahwa dia mengagungkan seorang pemuda yang dianugerahi karunia yang tak terhingga oleh Allah SWT.

Syeikhah Sulthonah dan Sastra Sufi

Amal taat dan dzikir serta tafakur telah membuahkan suatu ketenangan dalam hati Syeikhah Sulthonah, sejalan dengan firman Allah SWT dalam surat Arra'd ayat 28 yang artinya :"ingatlah tenangnya hati dengan dkrillah", dan setiap sesuatu dalam kehidupan menjadi suatu media untuk mengenal Allah.

وفي كل شيء له آية
تدل على أنه واحد

Artinya : Dalam segala sesuatu tersimpan suatu bukti, yang menunjukan atas keesaan Allah SWT.

Bertolak dari dasar inilah maka dzikir merupakan suatu alat untuk mengasah dzauk dan salah satu untuk memahami kata-kata sastera secara faham sufi. Dan dari dasar ini pula Syeikhah Sultohnah mengungkapkan atas perasaan dan gejolak jiwanya melalui syair sufi, adapun kebanyakan syairnya merupakan sayir mahabbah dan kerinduan kepada Allah SWT, ada juga syairnya yang berupa pujian terhadap guru-gurunya, Syeikhah Sulthonah dalam sayirnya mempunyai ciri khas tersendiri yaitu gaya kesukuan yang memasyarakat serta sayirnya yang berupa sayir nyanyian, dan kebanyakan syair Syekhah Sulthonah tersebut sampai sekarang ini masih selalu didendangkan dalam "Hadlrah Syeikh Assegaff" yang didirkan oleh Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff di Masjid Assegaff Tarim.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab sejarah bahwa Syeikhah Sulthonah seringkali dating ke Tarim dan duduk dipenghujung kumpulan para hadirin yang menghadiri pengajian Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaff, disana dia mengikuti pengajian dan mendengarkan syair-syair sufi, disamping saling bertukar ilmu pengetahuan dengan para masyayeh disana dan terkadang mengumandangkan syair baik karangannya ataupun sayir karangan orang lain. Dikisahkan dalam suatu kesempatan terjadi perbincangan antara Syeikhah Sulthonah dan Syekh Sayyid Hasan bin Abdurrahman Assegaff di hadapan ayahandanya Syekh Sayyid Abdurrahaman Assegaff, ringkasnya dalam pembicaraan tersebut Syekh Hasan mengatakan bahwa tidak sepantasnya unta betina mendahului dan menyamai unta jantan, Syekh Hasan mengungkapkan hal tersebut dengan bentuk sayair

يا ما اسفهش ما بدا بكره تماري جمال

Mendengar perkataan seperti itu Syeikhah Sulthonah meminta izin kepada Syekh Sayyid Abdurrahman Assegaf untuk menjawabnya, dan Syekh Sayyid Abdurrahman pun mengizinkannya, maka Syeikhah Sulthonah dengan tidak berpikir panjang menjawabnya dalam bentuk syair juga yang berbunyi :

الحمل بالحمل والزايد لبن والعيال

Dengan bait itu Syeikhah Sulthonah menjawab perkataan Syekh Hasan, bahwa memang dia seorang perempuan tetapi dia sama seperti laki-laki dalam ahwal dam maqomat, bahkan seorang perempuan memiliki kelebihan daripada laki-laki, karena perempuan memiliki sesuatu yang sangat bermanfaat yaitu air susu yang menjadi lambang pendidikan, dan juga memiliki keturunan yang bisa menjaga kelesatarian manusia, dan kedua hal tersebut tidak dimiliki oleh laki-laki, mendengar jawaban dari Syeikhah Sulthonah seperti Syekh Sayyid Abdurrahman sangat gembira atas jawaban yang tepat dan daya tangkap yang cepat.


Peran Syeikhah Sulthonah dalam Menyebarkan Ilmu Pengetahuan

Salah satu keistimewaan Madrasah Tasawuf di Hadhramaut adalah selain mendidik para pelajar dengan ilmu pengetahuan dan menggemblengnya dengan akhlak alkarimah para masyaye dan ulama disana selalu menyeru para pelajar untuk meyebarkan dakwah ilallah dan mengajari orang-orang awam serta penduduk diperkampungan dengan bersungguh-sungguh seta media seadanya.

Dan merupakan sauatu hal yang menakjubkan bahwa hingga saat ini metode dakwah tersebut masih seperti itu, dan terkadang para pelajar yang baru mulai pun dituntut untuk menyebarkan dan mempraktekan ilmunya kepada masyarakat setempat, hal tersebut dilakukan oleh para masyayeh di Hadhramaut untuk membiasakan para murid menyambungkan ilmu dengan pengamalan dan juga menyebarkannya.

Dalam lingkungan seperti itulah Sulthonah dilahirkan dan tumbuh dewasa, untuk kemudian ikut andil dalam menyebarkan ilmu dan pengetahuan yang ia dapatkan kepada para sanak kerabat dan kabilahnya.

Setelah melihat dan memahami metode dakwah di Hadhramaut, Syeikhah Sulthonah menyadari bahwa ilmu dan pendidikan bagi generasi mudan serta kaum fakir membutuhkan tempat untuk mereka bernaung maka langkah pertama yang dilakukan oleh Syeikhah Sulthonah mengajak masyarakat setempat untuk membangun ribath disepanjang pinggiran perkampungan kabilahnya, adapun peran dia sendiri atas ribat tersebut adalah sebagai pengawas dan donatur maka tidak lama kemudian pembangunan tersebut selesai, hal tersebut disebutkan dalam buku-buku sejarah namun mereka berbeda pendapat tentang fungsi ribat tersebut, ada yang mengatakan bahwa ribat tersebut disediakan untuk tempat belajar dan sebagai tempat tinggal para pelajar, dan sebagian lagi mengatakan bahwa ribat tersebut berfungsi sebagai penampungan orang-orang fakir dan sebagai tempat tinggal sementara para tamu dan orang asing yang singgah disana.

Namun apapun maksud dari pembangunan ribat tersebut baik untuk para pelajar ataupun orang fakir kedua maksud tersebut sama mulianya, selain itu keadaan masyarakat pada zaman itu memang sangat membutuhkan bangunan tersebut baik untuk para pelajar ataupun untuk orang-orang fakir miskin, maka sesuai dengan tujuan dibangunnya ribat tersebut maka begitu rampung dibangun, ribat tersebut sering digunakan oleh para masyayeh yang datang kesana untuk mengumpulkan penduduk setempat guna mendapatkan pelajaran dan wejangan serta mengadakan halakoh zikir, peninggalan Syeikhah Sulthonah tersebut masih tetap terpelihara dan ramai dengan pengajian dan halakoh zikir hingga beberapa waktu lamanya sepeninggal Syeikhah Sulthonah, tempat tersebut terkenal sebagai lokasi yang aman yang menjadi tujuan orang-orang ketika ada kerusuhan ataupun perang, hal tersebut dikarenakan kedudukan dan wibawa Syeikhah Sulthonah semasa hidupnya, dan bahkan kedudukan dan wibawa tersebut masih dimiliki oleh para masayayeh kerabat Syeikhah Sulthonah dari kabilah Az-Zabidi, yang senantiasa menjaga hubungan baik dengan para masyayeh dari keluarga keturunan Nabi SAW di kota Tarim, Seyun dan sekitarnya.

Akhir Hayat Syeikhah Sulthonah

Semasa hidupnya Syeikhah Sulthonah merupakan jelmaan seorang wanita Hadhramuat yang salihah bertaqwa, dalam dirinya menyatu ilmu dan amal disamping perannya dalam kehidupan social masyarakat yang lurus, memenuhi hak-hak sesama terlebih lagi hak-hak Tuhannya Allah SWT.

Namun dengan kelebihan yang berlapis dan ketenaran yang dimiliki Syeikhah Sulthonah, penulis tidak menemukan kitab yang mengupas secara rinci tentang sejarah kehidupan Syeikhah Sulthonah, kami hanya bisa menemukan sekelumit tentang Syeikhah Sulthonah dalam lembaran kitab sejarah yang berbeda, namun demikian mungkin cukup dalam menggambarkan kehidupan Syeikhah Sulthonah dan perannya baik dalam dakwah maupun kehidupan sosial apa yang disebutkan oleh Ustadz As-Syatiri dalam Al-Adwar, bahwasanya Syeikhah Sulthonah mempunyai peran penting dalam memperbaiki kehidupan sosial masyarakat di lingkungannya hingga mampu mengangkat derajat kaum dan negerinya.

Sejalan dengan kata-kata syair :

ولو كان النساء كمن ذكرنا
لفضلت النساء على الرجال

Artinya : jika semua perempuan seperti yang kami sebutkan (seperti Syeikhah Sulthonah) maka semestinya kaum hawa tersebut lebih unggul daripada kaum laki-laki.

Disamping itu semua Syeikhah Sulthonah telah mampu membuktikan bahwa ajaran tasawuf di Hadhramaut, bukanlah ajaran yang mengajak untuk mengucilkan diri serta khumul atau pun menjadikan seorang biksu yang terputus dari kehidupan dunia, tasawuf adalah suatu ajaran yang mengajak manusia menuju kemuliaan dan kesucian serta mengajak manusia untuk berperan aktif dalam menyebarkan ajaran islam dan menegakan syariatnya dalam kehidupan nyata di masyarakat, dan hal tersebut bukan hanya terbuka bagi kaum laki-laki tetapi perempuan punya peran penting dalam hal itu, dan hal itu bukanlah hanya suatu perkataan belaka, karena sepeninggal Syeikhah Sulthonah munculah Sulthonah-Slthonah lainnya di Hadhramaut.

Adapun wafatnya Syeikhah Sulthonah adalah pada tahun 843 H, dan beliau dimakamkan dikampungnya setelah diringi oleh para pelayat yang tak terhingga jumlahnya, dan sampai sekarang makamnya masih terjaga dan ramai di ziarahi.

Penutup

Biografi yang telah kami sebutkan tadi merupakan salah satu contoh tentang kaum perempuan pada zaman itu disamping mewakili ajaran tasawuf yang lurus dalam madrasah yang menyatukan anatara ilmu dan amal, antara iman dan tawakkal serta melakukan usaha.

Dan dalam madrasah salaf perempuan memiliki tempat dan kedudukan sebagaiaman kaum laki-laki, hal mana telah dibuktikan oleh seorang wanita muslimah yang dilahirkan diperkampungan baduy namun melalui madrasah Alulbait wanita itupun menjadi seorang tauladan bagi kaumnya, dan yang menjadi dalam kehidupan wanita sahliah pada zaman itu adalah taqwa dan melakukan kewajiban dunia dan akhirat, bukan khumul yang tercela ataupun mengasingkan diri kecuali dari hal-hal yang jelek dan orang-orang yang berbuat kejelekan, dan dengan semua kaidah kehidupan itulah mereka mampu menciptakan suatu kehidupan bermasyarakat yang pantas untuk dijadikan tauladan.
Sumber : indo.hadhramaut.

Nasihat

Lembaga Qabilah Ba'alwi Bafagih Sulawesi(LQBBS) berdiri untuk Penjagaan Fiqih, Aqidah, Amalan Shalawat, Nasab Sayyid dan Kafa'ah Syarifah serta Kasih Sayang dalam Keluarga

yuk ngobrol atau say hai, klik tombol buku tamu

Struktur Pengelola(Admin)Website Ini

Randy Ibrahim Bafagih (Alfaqir Bafaqih)_____ Sayyid Muh Zalsabil Bafaqih

Pengunjung Website

Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms

adsfeed